Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME Rachmat Kriyantono, Ph.D.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME Rachmat Kriyantono, Ph.D."— Transcript presentasi:

1 PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME Rachmat Kriyantono, Ph.D

2 Pendidikan Multikultural juga merupakan sebuah pendekatan yang menggunakan sudut pandang multikultural. Pendidikan Multikultural merupakan seperangkat materi khusus yang digunakan untuk pembelajaran. Pendidikan Multikultural berarti mempelajai tentang budaya yang berbeda, atau belajar untuk menjadi bikultural. mencakup dimensi : Gerakan persamaan (yang dalam konsep Banks disebut gerakan reformasi pendidikan), Pendekatan multikultural, Proses menjadi multikultural Komitmen memerangi prasangka dann diskrimiasi. Pendidikan Multikultural juga merupakan sebuah pendekatan yang menggunakan sudut pandang multikultural. Pendidikan Multikultural merupakan seperangkat materi khusus yang digunakan untuk pembelajaran. Pendidikan Multikultural berarti mempelajai tentang budaya yang berbeda, atau belajar untuk menjadi bikultural.

3 SIAPA AKTORNYA?  Pemerintah  Media Massa, PR & Praktisi Komunikasi lainnya  Tokoh Masyarakat, Dosen, Guru, Ustadz

4 TUJUAN PENDIDIKAN MULTIKULTU- RALISME  Membentuk manusia yang bersifat multikulturalisme, yaitu individu yang secara terbuka memahami, menghargai serta mengkaji budaya orang lain yang dilandasi oleh semangat menghormati dalam kebersamaan.  Menjadi pengambil kebijakan yang mencakup upaya-upaya menghargai kesetaraan dari pluralitas budaya di masyarakat, kesetaraan dalam perumusan kebijakan untuk penanganan perbedaan budaya, etnis, dan agama, penghargaan akan kesetaraan gender, penegakan hukum, membuka kesempatan pendidikan dan berusaha, HAM, hak budaya komunitas dan minoritas.

5 MEDIA MASSA & MULTIKULTU- RALISME  Menyediakan tayangan-tayangan yang mengedepankan nilai-nilai multikultural: (tayangan yang mewujudkan kesadaran, toleransi, pemahaman, dan pengetahuan tentang perbedaan kultural, perbedaan budaya termasuk perbedaan cara pandang)

6 Kesadaran pekerja media  Membangun kesadaran pekerja media sebagai agen multikultural (agar tidak bias multikultural). Masih ada tayangan yg bias tsb: (1)Lebih menonjolkan budaya mayoritas (istilahnya masih belum menonjolkan diversity of content). Dalam konteks Indonesia, mayoritas berarti Jawa, lebih spesifik adalah Jakarta-sentris, sementara budaya-budaya minoritas sering diabaikan; (2) Terjerumus pada pelabelan negatif suatu kelompok (stereotype) dan cenderung sebagai bahan olok-olokan, seperti orang Batak identik dengan sopir angkot dan degenderisasi; (3)Melakukan fragmentasi atau isolasi peran pada kelompok tertentu, misalnya perempuan lebih digambarkan sebagai pelaku sektor domestik. (4)Olok mengolok kekurangan fisik juga menjadi menu sehari-hari tayangan media, seperti memperolok wajah, badan yang gemuk, badan yang pendek, atau memperolok dengan meniru perilaku tertentu, seperti kebanci-bancian

7 Kesadaran pekerja media  Menjauhkan isi media yang masih mengandung distorsi. (1)Distorsi kekuasaan. Distorsi ini berasal dari birokrasi pemerintahan, baik berupa regulasi formal dan perilaku birokrat, sipil atau militer. Distorsi ini terutama sering terjadi pada era Orde Baru. Misalnya, Peraturan Menteri Penerangan no 1/1984 yang mengatur pencabutan SIUPP, padahal UU Pokok Pers waktu itu (no 22/1982) dengan tegas mengatakan “terhadap pers nasional tidak dikenal pembredelan (penghentian penyiaran/penerbitan/peredaran secara paksa)”. Logika nalar mengatakan pencabutan SIUPP ya sama dengan bredel, sama-sama tidak dapat beroperasi lagi. (2)Distorsi pemilik bisnis. Distorsi ini terjadi, jika pemilik modal maupun kekuatan ekonomi lainnya mampu memengaruhi proses produksi informasi. (3)Distorsi masyarakat, yaitu ketika aksi-aksi masyarakat mengancam kebebasan media, seperti aksi anarkis menyerbu kantor-kantor surat kabar karena tidak setuju dengan pemberitaan media tersebut. (4)Distorsi pekerja media, yaitu ketika pekerja media tidak dapat menjaga profesionalitasnya dalam menulis berita, sehingga menghasilkan distorsi informasi.

8 Kesadaran pekerja media  Hindari 7 deadly sins: (1)Distorsi Informasi (menambah atau mengurangi informasi); (2)Dramatisasi Fakta Palsu (bertujuan membangun suatu citra negatif dan sterotipe); (3)Mengganggu “privacy” (Praktik ini banyak dilakukan dalam kehidupan selebritis dan kaum elit, utamanya yang diduga terlibat dalam suatu skandal); (4)Pembunuhan Karakter (meskipun sebenarnya masih banyak sisi baik dari narasumber, namun yang digambarkan “sisi buruk”nya); (5)Eksploitasi Seks (hanya menjual popularitas dan bombastis); (6)Meracuni Anak-anak; (7)Penyalahgunaan Kekuasaan/abuse of power (pihak redaksional, melalui interpretasi dan ilustrasi faktual subyektif, dapat mengidentifikasikan suatu persoalan sesuai kepentingannya).

9 TAYANGAN VERSI ISLAM  (1) Qaulan sadidan, yaitu prinsip kejujuran untuk mengatakan kebenaran sesuai fakta, akurasi, objektif, dan tidak manipulatif yang membohongi khalayak (Q.S. 4:9;33;70).  (2) Qaulan balighan, yaitu prinsip kesesuaian pesan dengan kebutuhan khalayak dan dapat menyentuh kalbu/berbekas pada jiwa untuk mendekatkan diri kepadaNya (Q.S. 4:63).  (3) Qaulan maysuran, yaitu menyajikan tayangan-tayangan yang sesuai/pantas dengan aqidah Islam (Q.S.17:28).  (4) Qaulan layyinan, yaitu prinsip berkata-kata yang lemah lembut, tidak provokatif, tidak menjatuhkan martabat orang lain (Q.S.20:44).  (5) Qaulan kariman, yaitu prinsip menjalin relasi yang baik dan membangun tata krama (Q.S. 17:23).  (6) Qaulan ma’rufan, yaitu prinsip mensosialisasikan dan mengajak kepada kebaikan (Q.S. 4:5).

10 PENDIDIKAN MULTIKULTU- RALISME VERSI JAWA  Orang Jawa pada umumnya menekankan keselarasan antara makrokosmos (jagad gedhe) dan mikrokosmos (jagad cilik).  Agama berperan sebagai sarana mencapai keselaran tersebut, seperti ungkapan dalam Serat Wedhatama yaitu agama ageming aji, bahwa agama merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki.  seimbang antara kebutuhan individu dan masyarakat, seimbang sebagai makhluk yang mandiri dan sebagai makhluk Tuhan (loro- loroninng atunggal) atau monodualisme  unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa dan jugar genturing tapa. Ungkapan yang menghendaki keselarasan hidup lahir batin, jasmani rohani dan material Spiritual”  Karena itu, perilaku komunikasi yang berpotensi menggangu keselarasan (mengganggu manunggaling kawulo-gusti) mesti dihindari.

11 PENDIDIKAN MULTIKULTU- RALISME VERSI JAWA  ajining diri soko lathi, ajining awak soko tumindak, ajining sariro soko busono (kehormatan diri berasal dari tutur kata yang baik (lathi), dari perbuatan baik yang kita lakukan (tumindak) dan dari pakaian yang kita sandang (busono), ngundhuh wohing pakarti (menuai buah dari yang ditanam = hukum sebab akibat),  senajan mung sedumuk ning bathuk senajan mung senyari ning bumi, dibelani tohing pati (walaupun hanya satu sentuhan jari tapi dahi, walaupun sejengkal namun tanah, akan diperjuangkan dengan pertaruhan nyawa = harga diri),  alon-alon waton kelakon (biar lambat asal selamat/bisa terjadi = yang merupakan pedoman yang lebih mengutamakan keselamatan),  menang tanpa ngasorake (mengalahkan musuh tanpa merendahkan harga diri musuh), digdaya tanpa aji (sakti tanpa memiliki aji-aji kesaktian = seseorang yang dapat menjaga kewibawaan).

12 PENDIDIKAN MULTIKULTU- RAL VERSI JAWA  musyawarah mufakat  wani ngalah, luhur wekasane (terkadang mengalah itu lebih baik, untuk kepentingan bersama)  yen ana rembug dirembug, nanging olehe ngrembug kanthi ati sing sareh, yaitu menyelesaikan permasalahan melalui rembugan/musyawarah dengan kepala dingin, hati yang tenang, dan pikiran yang jernih  runtut raut sauyunan”, yaitu hidup rukun bersama; dalam masyarakat Jawa dikenal “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah” (jika hidup saling rukun maka akan sejahtera, jika hidup saling berselisih maka akan membuat rusak)  ojo adigang, adigung, adiguna/ Aja dumeh wong gedhe” (jangan mengandalkan kekuasaan, keluhuran, dan kepandaiannya)  ojo rumongso biso, kudu biso rumongso


Download ppt "PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME Rachmat Kriyantono, Ph.D."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google