Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Page 1 SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (E-SUPPLY) Pertemuan 10.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Page 1 SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (E-SUPPLY) Pertemuan 10."— Transcript presentasi:

1 Page 1 SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (E-SUPPLY) Pertemuan 10

2 Page 2 Definisi SCM Menurut Oliver dan Weber (1982), SCM merupakan metode, alat, atau pendekatan pengelolaan supply chain. Supply chain adalah jaringan fisik yaitu perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi barang, maupun mengirimkannya ke pemakai akhir. Menurut Fortune Magazine (Artikel Henkoff, 1994), SCM merupakan proses dimana perusahaan memindahkan material, komponen dan produk ke pelanggan. Proses pemindahan barang dilakukan dalam jumlah yang tepat, lokasi tepat, dan tepat waktu. Stanford Supply Chain Forum (1999) yang dicetuskan oleh Kepala Forum Hau Lee mengatakan bahwa SCM berhubungan erat dengan aliran manajemen material, informasi dan finansial dalam suatu jaringan yang terdiri dari supplier, perusahaan, distributor, dan pelanggan.

3 Page 3 Ilustrasi Supply Chain Konsep SCM merupakan mekanisme untuk meningkatkan produktivitas total perusahaan dalam rantai suplai melalui optimalisasi waktu, lokasi, dan aliran bahan. Berikut adalah ilustrasi supply chain sederhana :

4 Page 4 Fungsi SCM Berikut adalah fungsi dari SCM : SCM secara fisik mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi dan menghantarkannya ke pemakai akhir SCM sebagai mediasi pasar, yakni memastikan bahwa apa yang disuplai oleh rantai supply mencerminkan aspirasi pelanggan atau pemakai akhir tersebut

5 Page 5 7 Prinsip dalam SCM Segmentasi pelanggan berdasarkan kebutuhannya Sesuaikan jaringan logistik untuk melayani kebutuhan pelanggan yang berbeda Dengarkan signal pasar Deferensiasi produk pada titik yang lebih dekat dengan konsumen Kelola sumber-sumber suplai secara strategis Kembangkan strategi teknologi untuk keseluruhan rantai supply chain Adopsi pengukuran kinerja untuk sebuah supply chain secara keseluruhan

6 Page 6 Keuntungan Menerapkan Supply Chain Management Mengurangi inventori barang. Inventori merupakan aset perusahaan yang berkisar antara 30%-40% sedangkan biaya penyimpanan barang berkisar 20%-40% dari nilai barang yang disimpan. Menjamin kelancaran arus barang. Rangkaian perjalanan dari bahan baku sampai menjadi barang jadi dan diterima oleh pemakai/pelanggan merupakan suatu mata rantai yang panjang (chain) yang perlu dikelola dengan baik. Menjamin mutu. Jaminan mutu juga merupakan serangkaian mata rantai panjang yang harus dikelola dengan baik karena mutu barang jadi ditentukan tidak hanya oleh proses produksi tetapi juga oleh mutu bahan mentahnya dan mutu keamanan dalam pengirimannya.

7 Page 7 Tahapan Supply Chain Management 1.Baseline (Dasar). Posisi dari kebebasan fungsional yang lengkap di mana masing-masing fungsi bisnis seperti produksi dan pembelian melakukan aktivitas mereka secara sendiri-sendiri dan terpisah dari fungsi bisnis yang lain. 2.Integrasi Fungsional. Perusahaan telah menyadari perlu sekurang-kurangnya ada penggabungan antara fungsi-fungsi yang melakukan aktivitas hampir sama, misalnya antara bagian distribusi dan manajemen persediaan atau pembelian dengan pengendalian material. 3.Integrasi secara internal. Diperlukan pengadaan dan pelaksanaan perencanaan kerangka kerja end- to-end. 4.Integrasi secara eksternal. Integrasi supply chain yang sebenarnya dengan konsep menghubungkan dan koordinasi yang dicapai pada Tahap3, yang diperluas dengan bagian supplier dan pelanggan.

8 Page 8 Peralatan fungsional yang dimiliki sistem SCM  Demand management/forecasting Perangkat peralatan dengan menggunakan teknik- teknik peramalan secara statistik. Perangkat ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil peramalan yang lebih akurat.  Advanced planning and scheduling Suatu peralatan dalam rangka menciptakan taktik perencanaan, jangka menengah dan panjang berikut keputusan-keputusan menyangkut sumber yang harus diambil dalam rangka melengkapi jaringan supply

9 Page 9 Peralatan fungsional yang dimiliki sistem SCM (Lanjutan…)  Transportation management Suatu fungsi yang berkaitan dengan proses pendistribusian produk dalam supply chain.  Distribution and deployment Suatu alat perencanaan yang menyeimbangkan dan mengoptimalkan jaringan distribusi pada waktu yang diperlukan. Dalam hal ini, Vendor Managed Invetory dijadikan pertimbangan dalam rangka optimalisasi.  Production planning Perencanaan produksi dan jadwal penjualan menggunakan taraf yang dinamis dan teknik yang optimal.

10 Page 10 Peralatan fungsional yang dimiliki sistem SCM (Lanjutan…)  Available to-promise Tanggapan yang cepat dengan mempertimbangkan alokasi, produksi dan kapasitas transportasi serta biaya dalam keseluruhan rantai supply.  Supply chain modeler Perangkat dalam bentuk model yang dapat digunakan secara mudah guna mengarahkan serta mengontrol rantai supply. Melalui model ini, mekanisme kerja dari konsep supply chain dapat diamati.

11 Page 11 Peralatan fungsional yang dimiliki sistem SCM (Lanjutan…)  Optimizer Optimizer ibarat jantung dari sistem supply chain management. Di dalamnya terkandung: linear & integer programming, non-linear programming, heuristics and genetic algorithm. Genetic algorithm adalah suatu computing technology yang mampu mencari serta menghasilkan solusi terbaik atas jutaan kemungkinan kombinasi atas setiap parameter yang digunakan.

12 Page 12 Area Cakupan SCM Kegiatan-kegiatan utama dalam SCM pada sebuah perusahaan manufaktur :  Kegiatan merancang produk baru (product development)  Cakupan kegiatan dalam pengembangan produk ini antara lain melakukan riset pasar, merancang produk baru, melibatkan supplier dalam perancangan produk baru.  Kegiatan mendapatkan bahan baku (procurement)  Cakupan kegiatan dalam proses pengadaan ini adalah memilih supplier, mengevaluasi kinerja supplier, melakukan pembelian bahan baku dan komponen, memonitor supply risk, membina dan memelihara hubungan dengan supplier.

13 Page 13  Kegiatan merencanakan produksi dan persediaan (planning and control)  Cakupan kegiatan dalam proses perencanaan dan pengendalian antara lain demand planning, peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, perencanaan produksi dan persediaan.  Kegiatan melakukan produksi (production)  Cakupan pada kegiatan produksi ini meliputi eksekusi produksi dan pengendalian kualitas. Bagian ini bertugas secara fisik melakukan transformasi dari bahan baku, bahan setengan jadi atau komponen menjadi produk jadi. Kegiatan melakukan pengiriman (distribution) –Cakupan kegiatan pada proses distribusi ini antara lain perencanaan jaringan distribusi, penjadwalan pengiriman, mencari dan memelihara hubungan dengan perusahaan jasa pengiriman serta memonitor service level di riap pusat distribusi.

14 Page 14 Pemain utama dalam supply chain management Supplier (chain 1) –Bahan pertama disini dapat berbentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong suku cadang atau barang dagang. Supplier-Manufacturer (Chain 1-2) –Rantai pertama tadi dilanjutkan dengan rantai kedua, yaitu manufacturer yang merupakan tempat mengkonversi ataupun menyelesaikan barang (finishing). Supplier-Manufacturer-Distribution (Chain 1-2-3) –Dalam tahap ini, barang jadi yang dihasilkan disalurkan kepada pelanggan, dimana biasanya menggunakan jasa distributor atau wholesaler yang merupakan pedagang dalam jumlah besar.

15 Page 15 Supplier-Manufacturer-Distribution-Retail Outlet (Chain ) –Dari pedagang besar tadi, barang disalurkan ke toko pengecer (retail outlets). Supplier-Manufacturer-Distribution-Retail Outlet- Customer (Chain ) –Customer merupakan rantai terakhir yang dilalui oleh rantai pasok yang dalam konteks ini merupakan end-user.

16 Page 16 Metode dalam supply chain management Fixed Order Quantity (FOQ) –Metode ini menggunakan konsep jumlah pemesanan tetap karena keterbatasan akan fasilitas, misalnya : kemampuan gudang, transportasi, kemampuansupplier dan pabrik. EOQ (Economic Order Quantity) –Metode ini menggunakan konsep minimasi biaya penyimpanan dan biaya pemesanan. Ukuran lot tetap berdasarkan hitungan minimasi tersebut, namun dalam periode pemesanan yang berbeda. POQ (Period Order Quantity) –Pendekatan menggunakan konsep jumlah pemesanan ekonomis agar dapat dipakai pada periode bersifat permintaan diskrit, teknik ini dilandasi oleh metode EOQ. FPR (Fix Period Requirement) –Pendekatan menggunakan konsep ukuran lot dengan periode tetap, dimana pesanan dilakukan berdasarkan periode waktu tertentu saja. L4L (Lot for Lot) –Pada penghitungan Lot for Lot, pembelian bahan baku dilakukan sesuai dengan jumlah kebutuhan bahan baku tiap periode. Biaya yang timbul pada metode ini hanya biaya pemesanan, karena bahan baku tidak sampai pada tahap penyimpanan.

17 Page 17 Lanjutan… LTC (Least Total Cost) –Pendekatan ini menggunakan konsep biaya total akan di minimalisasikan apabila untuk setiap lot dalam suatu horison perencanaan hampir sama besarnya. LUC (Least Unit Cost) –Pendekatan ini menggunakan konsep pemesanan dengan biaya per unit terkecil, dimana jumlah pemesanan ataupun interval pemesanan dapat bervariasi. PPB (Part Period Balancing) –Pendekatan ini menggunakan konsep ukuran lot ditetapkan bila biaya simpannya sama atau mendekati biaya pesannya. JELS (Joint Economic Lot Size) –Model ini mengasumsikan bahwa pembeli menginginkan pengiriman dari produsen terjadi dalam n pengiriman untuk satu kali pemesanan yang dilakukan. SM (Silver Meal) –Metode ini dikembangkan oleh Edward Silver dan Harlan Meal berdasarkan biaya periode terkecil. Besar order tergantung dari rata-rata biaya tiap periode, bila biaya rata-rata naik maka “replenishment order” diinitiasasi ulang. Algoritma Wagner Within –Pendekatan ini menggunakan konsep ukuran lot dengan prosedur optimasi program linear, bersifat matematis.

18 Page 18 Tantangan dalam SCM Tantangan dalam mengelola Supply Chain : Kompleksitas struktur Supply Chain Ketidakpastian –ketidakpastian pembeli, –ketidakpastian dari supplier terkait dengan pengiriman, harga, kualitas maupun kuantitas, –ketidakpastian internal yang bisa disebabkan kerusakan mesin, kinerja mesin yang tidak sempurna, tenaga kerja serta waktu maupun kualitas produksi

19 Page 19 Hambatan dalam Supply Chain Management Increasing Variety of Products –Saat ini, konsumen seakan dimanjakan oleh produsen. Hal ini dapat dilihat dari bervariasinya produk yang beredar di pasaran. Decreasing Product Life Cycles –Menurunnya daur hidup sebuah produk membuat produsen kewalahan dalam mengatur strategi pasokan barang karena untuk mengatur pasokan barang tertentu, perusahaan membutuhkan waktu yang tertentu juga. Increasingly Demand Customer –SCM berusaha mengatur peningkatan permintaan secara cepat karena sekarang konsumen semakin menuntut pemenuhan permintaan secara cepat, walaupun permintaan itu secara mendadak dan bukan produk yang standar. Fragmentation of Supply Chain Ownership –SCM melibatkan banyak pihak yang mempunyai kepentingan masing- masing sehingga membuat SCM semakin rumit dan kompleks. Globalization –Globalisasi membuat rantai pasok semakin rumit dan kompleks karena pihak yang terlibat dalam rantai pasok tersebut bukan hanya antar perusahaan tetapi antar jaringan rantai pasok satu dengan jaringan lainnya.

20 Page 20 Supply Chain Manaement dan Teknologi Informasi Peranan TI di dalam manajemen supply chain dapat dilihat dari dua perspektif besar, yaitu perspektif teknis dan perspektif manajerial : Perspektif Teknis –Ada dua fungsi dari teknologi informasi yang harus dipenuhi, yaitu: Fungsi penciptaan aspek-aspek Fungsi penyebaranTerhadap entitas fakta, data, informasi, knowledge Perspektif Manajerial –Ada tiga peranan yang diharapkan oleh perusahaan dari implementasi efektif sebuah TI, yaitu : Mengurangi resiko (minimize risks) Mengurangi biaya (minimize costs) Menambah nilai (add value)

21 Page 21 Keterkaitan SCM dengan CRM, PLM, dan SRM Keterkaitan SCM dengan CRM –Merancang jaringan distribusi yang baik, sehingga penyaluran barang kepada pelanggan dapat dilakukan dengan tepat waktu dan tempatnya. Keterkaitan SCM dengan PLM (Product Life Cycle Management) –Perencanaan dan pelaksanaan dalam pemilihan produk yang akan dibangun sehingga dapat memberikan gambaran kinerja jangka panjang perusahaan –Memulai dan perbaikan tindakan pencegahan untuk menyelesaikan masalah yang memepengaruhi pemesanan produk serta mengatur pengembangan dan perubahan proses pada semua tahap siklus hidup. –Memberikan status pesanan produk, pengukuran memproduksi suatu produksi –Mengembangkan dan melaksanakan pembelian produk dan kontrak untuk setiap layanan yang diperlukan diperusahaan. –Memanfaatkan efektif distribusi produk secara luas Keterkaitan SCM dengan SRM (SUPPLIER RELATIONSHIP MANAGEMENT) –Supply Chain Managemen menyediakan bisnis dengan mencari dan mengembangkan kemampuan pemasok terbaik –Membangun hubungan strategis dengan mereka, dan terus-menerus meningkatkan fungsi hubungan ini –Untuk kontrol baru/alternatif sumber pasokan gabungan secara berkala kinerja pemasok yang ada untuk dipantau.

22 Page 22 Gambar Rantai Persediaan Sederhana (Simple Supply Chain) 2 nd tier Supplier 2 nd tier Supplier 2 nd tier Supplier 1 st tier Supplier 1 st tier Supplier Assembly/ Manufacturing And packaging Distribution Centers Retailers Customers UpstreamInternalDownstream Oil Refinery Sheet Metal Lumber Company Pulp Company Plastic Components Manufacturer Paper Company Box Makers, Printers Toy Assembler/ Manufacturer Toy Packaging Retailers Customers Distribution Shipping Contoh: Toys Manufacturer Process

23 Page 23 Manajemen E-Supply (e-SCM) Merupakan penggunaan teknologi untuk meningkatkan proses B2B dan peningkatan kecepatan, ketahanan, kontrol langsung, serta kepuasan pelanggan Teknologi dimanfaatkan untuk peningkatan kegiatan operasi dari rantai persediaan (Supply Chain) Selain teknologi, juga melibatkan perubahan² pada kebijakan manajemen, budaya organisasi, proses bisnis, dan struktur organisasi Kesuksesan E-supply chain bergantung pada: 1.Kemampuan dari semua partner pada Supply Chain untuk memandang kolaborasi ini sebagai sebuah aset strategi 2.Kemampuan untuk melihat informasi yang ada pada semua partner Supply Chain 3.Kecepatan, biaya, kualitas, dan layanan pelanggan 4.Pengintegrasian rantai persediaan yang lebih erat

24 Page 24 Manajemen E-Supply (e-SCM) Aktivitas/proses yang ada pada E-SCM: Pengisian ulang persediaan E-procurement (pemesanan) Kolaborasi Perencanaan Kolaborasi desain dan pengembangan produk E-logistics Perdagangan dengan B2B dan Supply Web

25 Page 25 Permasalahan dalam Supply Chain  Supply Chain dapat menjadi sangat lama karena melibatkan partner internet dan eksternal yang berada di banyak tempat berbeda  Masalah kualitas material, yang bisa terjadi karena kesalahan pengiriman jenis material  Tidak adanya infrastruktur logistik (sistem)  Order yang tidak menentu baik dari pemasok maupun distributor

26 Page 26 Solusi E-commerce untuk Supply Chain 1.Order melalui internet, EDI, ekstranet secara otomatis Cth: pada B2B, order transmisikan secara otomatis ke pemasok ketika level inventori sudah mencapai titik tertentu 2.Memenuhi order secara langsung 3.Pembayaran Elektronik dapat mempercepat pemenuhan order dan jangka waktu pembayaran 4.Persediaan dapat diperkecil dengan melakukan pemesanan bila akan ada produksi dan dengan memberikan informasi yang cepat dan akurat kepada pemasok 5.Kolaborasi perdagangan antara anggota Supply Chain dapat dilakukan di banyak area sehingga dapat mengurangi keterlambatan, gangguan pada pekerjaan, biaya administrasi dan inventori

27 Page 27 Kolaborasi Perdagangan Penggunaan teknologi digital yang memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk secara bersama- sama merencanakan, merancang, mengatur, dan meneliti produk, servis, dan aplikasi EC yang inovatif Kegiatan ini dibedakan dari penjualan dan pembelian. Cth: sebuah perusahaan yang berkolaborasi secara elektronik dengan pemasoknya yang mendesain produk atau bagian-bagiannya untuk perusahaan tersebut Keuntungan : pengurangan biaya, peningkatan pendapatan, dan hubungan yg lebih baik dengan customer

28 Page 28 Kolaborasi Perdagangan 1.Kolaborasi Tradisional terjadi di antara anggota-anggota Supply Chain, biasanya yang dekat satu dengan yg lainnya seperti manufaktur dan distributornya atau distributor dan pedagang. Bahkan bila ada lebih banyak partner yang terlibat, fokusnya adalah peningkatan informasi dan aliran produk di antara mereka. 2.Kolaborasi Jaringan Setiap partner dapat berinteraksi dengan semua unsur dalam Supply Chain. Interaksinya dapat terjadi diantara beberapa manufaktur atau distributor. Kolaborasi jaringan dapat berbeda-beda bentuk, tergantung pada industri yang dijalankan, produk/servis, volume arus informasi, dan lainnya

29 Page 29 Kolaborasi Tradisional Suppliers Manufacturers, Assemblers Distributors, Warehousing RetailersCustomers CPFR Contract Manufacturing CPFR VMI Logistic Services Demand Aggregators Financial Services Supply Aggregators VMI

30 Page 30 Kolaborasi Jaringan Sub Suppliers Component Suppliers Raw Material Suppliers Manufacturers Assemblers Distributor Reseller Distributor Contract Manufacturers Consumer Retailer Business Customer Logistics VMI E-marketplace Financial Services Financial Services Financial Services E-marketplace Demand Aggregator

31 Page 31 Contoh E-Collaboration (E-Kolaborasi) Berbagi informasi antara Pedagang dan Pemasok barang Kolaborasi Pedagang-Pemasok (mengumpulkan partner sebanyak mungkin) Pengurangan waktu perencanaan pemesanan bahan baku Pengurangan waktu untuk pengembangan produk

32 Page 32 Tugas Indikator Supply Chain yang efektif adalah: Dalam faktor perencanaan (Planning) Dalam faktor system informasi Dalam faktor Goods Dalam Faktor Organisasi Dalam faktor strategic partnering Dalam faktor Supply Chain process audit dan Continuous Improvemen Jelaskan!


Download ppt "Page 1 SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (E-SUPPLY) Pertemuan 10."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google