Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

SAJIAN DATA 2012 & 2013. ANGKET UMAT KATEDRAL 2013: “Langkah Berkarya Berbasis Data”

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "SAJIAN DATA 2012 & 2013. ANGKET UMAT KATEDRAL 2013: “Langkah Berkarya Berbasis Data”"— Transcript presentasi:

1 SAJIAN DATA 2012 & 2013

2

3 ANGKET UMAT KATEDRAL 2013: “Langkah Berkarya Berbasis Data”

4 Gambar 1. Distribusi kelompok usia Proporsi Usia Umat: Potensinya Bagi Katedral

5 Tabel 1. Perbandingan jumlah umat per kelompok usia pada setiap Misa Misa-Misa di Gereja Randusari Katedral Balita (0-5 th) Anak (6-12 th) Muda Remaja (13-17 th) Muda Dewasa (18-35 th) Dewasa (36-65 th) Lansia (>65 th) Misa Sabtu sore Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Total

6 Gambar 2. Distribusi jenis kelamin dan status marital ♂ 44% ♀ 56% Peluang Kegiatan Paska Misa

7 Tabel 2. Perbandingan jumlah umat per jenis kelamin dan status marital pada setiap Misa Misa-Misa di Gereja Randusari Katedral Pria blm/ tak nikah Pria sudah menikah Wanita blm/ tak nikah Wanita sudah menikah Misa Sabtu Sore Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Total

8 Sumber Daya Manusia yang Luarbiasa Gambar 3. Distribusi tingkat pendidikan terakhir/terkini 77%

9 Tabel 3. Perbandingan jumlah umat per tingkat pendidikan terakhir/terkini pada setiap Misa Misa-Misa di Gereja Randusari Katedral Sarjana/ Paskasarjana DiplomaSMU/SMKSMPTK/SD Pra/blm sekolah Misa Sabtu Sore Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Total

10 Gambar 4. Distribusi asal domisili dan tercatat sebagai warga paroki Gereja Bukan Hanya Milik Paroki 59%

11 Gambar 5. Distribusi asal domisili & tercatat sebagai warga paroki pada setiap Misa

12 Gambar 6. Distribusi kelompok usia umat yang tinggal di Paroki Randusari Katedral Separo umat di Paroki Randusari Katedral, usia tahun, tidak misa di Gereja Randusari Katedral

13 Tabel 4. Perbandingan umat yang tinggal di Paroki Katedral & di Luar Paroki Katedral berdasarkan kelompok usia Misa-Misa di Gereja Randusari Katedral Balita (0-5 th) Anak (6-12 th) Muda Remaja (13-17 th) Muda Dewasa (18-35 th) Dewasa (36-65 th) Lansia (>65 th) Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Misa Sabtu sore Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Total

14 Tabel 5. Perbandingan umat yang tinggal di Paroki Katedral dan di Luar Paroki Katedral berdasarkan jenis kelamin & status marital Misa-Misa di Gereja Randusari Katedral Pria blm/ tak nikah Pria sudah menikah Wanita blm/ tak nikah Wanita sudah menikah Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Misa Sabtu sore Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Total

15 Tabel 6. Perbandingan umat yang tinggal di Paroki Katedral dan di Luar Paroki Katedral berdasarkan tingkat pendidikan terakhir/terkini Misa-Misa di Gereja Randusari Katedral Sarjana/ Paska-sarjana DiplomaSMU/SMKSMPTK/SD Pra/blm sekolah Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Umat Katedral Luar Katedral Misa Sabtu sore Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Misa Minggu ke Total

16 Kegiatan Pra dan Paska Misa: Peluang Reksa Pastoral Kegiatan pra Misa diperlukan untuk memberikan kehangatan umat ; tatib yang ramah, tidak kaku Paska Misa Sabtu Sore, Misa Minggu ke-4 dan ke-5 (Minggu Sore/Malam); lebih diperuntukkan bagi kelompok usia muda dewasa Paska Misa Minggu Pagi; lebih ditujukan bagi kelompok umat berusia dewasa (36-65 tahun), ‘gathering’ bagi keluarga-keluarga

17 ARDAS INDIVIDUAL: “Umat Allah yang Beriman Tangguh”

18 Gambar 12. Pengetahuan Pokok Iman: credo/sahabat, sakramen, dan kitab suci

19 Gambar 13. Penghayatan: rasa berdosa, semangat kekatolikan dalam tindakan, inspirasi iman & rasa keterlibatan Allah dalam hidup

20 Gambar 14. Pengungkapan: perayaan sakramen (terutama Ekaristi dan Pengakuan Dosa), doa pribadi (personal) dan kelompok (komunal)

21 Gambar 15. Perwujudan: keterlibatan dalam kegiatan menggereja, tindakan pelayanan, dan kesaksian

22 Gambar 16. Kesadaran, kesediaan dan mentalitas umat untuk mau terlibat dalam kegiatan sosial – politik dan kemasyarakatan

23 Gambar 17. Persepsi masyarakat tentang pejabat/tokoh/kader katolik

24 SIMPULAN Pengetahuan iman Ungkapan iman Perwujudan iman 60-70% Penghayatan iman 30-40%

25 PERTANYAAN Apakah pengetahuan iman yang dimiliki umat hanya berhenti pada pengetahuan saja tetapi tidak dihayati dengan sungguh-sungguh? Apakah ungkapan iman yang dilakukan hanya sekedar iman warisan yang turun temurun, melakukan tetapi tidak tahu maknanya, atau justru apa yang dilakukan hanya sekedar rutinitas atau kewajiban belaka? Dalam hal perwujudan iman, sudahkah yang dilakukan benar dihayati dengan sungguh- sungguh atau justru hanya sekedar alat untuk meraih popularitas, agar dikenal dan diakui oleh banyak orang?

26 PEWARTAAN

27 PERSPEKTIF PEWARTAAN KE DEPAN HJ. Suhardiyanto, SJ. Pusat Kateketik, Yogyakarta Persiapan Menerima Komuni Pertama Persiapan Menerima Sakramen Penguatan Pendampingan Iman Remaja Katolik Usia Tanggung Pendampingan Keluarga Muda

28 Persiapan Menerima Komuni Pertama HJ. Suhardiyanto, SJ. Pusat Kateketik, Yogyakarta Peluang pendampingan iman yang paling strategis Mereka tidak disiapkan untuk beriman kepada Kristus dan menjadi pengikut atau murid Kristus, lebih banyak disiapkan untuk menyadari, menghormati dan menikmati perjamuan Tuhan = produknya ialah orang-orang katolik yang menganggap penting ritual. Pendidikan iman berkualitas yang diberikan kepada mereka, bisa menjadi bekal yang berarti bagi usia dewasanya

29 Persiapan Menerima Sakramen Penguatan HJ. Suhardiyanto, SJ. Pusat Kateketik, Yogyakarta Semua urusan gerejawi adalah urusan semua warga Gereja, alias urusan umat secara keseluruhan. Kemajuan Gereja tergantung pada keterlibatan umat. Kurang memadainya pelayanan kursus bagi calon penerima Krisma. Pope says there are no part-time Christians; faith is a full-time job. Pada penerima Krisma, tidak cukup bahwa ia mengikuti melainkan terlibat ikut mengelola.

30 Pendampingan Iman Remaja Katolik Usia Tanggung HJ. Suhardiyanto, SJ. Pusat Kateketik, Yogyakarta Salah satu hal yang tidak cukup disadari dan dilalaikan oleh pihak Gereja ialah pendampingan iman remaja tanggung. Mudah ”terlepas” dari komunitas Gereja atau komunitas muda Gereja. Bila mereka sampai ”terlepas” dan ”berkembang” dalam situasinya itu amat sulit ”menangkap” mereka kembali. Haus sapaan, arahan dan bimbingan. Karena energi para remaja umumnya melimpah, maka mereka kurang suka bila hanya disuruh duduk mendengarkan---BERI KEPERCAYAAN & TANGGUNGJAWAB (PUTRA & PUTRI)

31 Pendampingan Keluarga Muda HJ. Suhardiyanto, SJ. Pusat Kateketik, Yogyakarta Keluarga BALITA: penyesuaian diri, belajar berkeluarga, pengelolaan ekonomi, caranya mendidik anak, dll. Pendampingan dari yang lebih senior (mentoring)

32 Menggagas Pewartaan di Era Millenia Catatan Perspektif Tren Pewartaan Iman 25 tahun mendatang Purwono Nugroho Adhi Staf Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang Tantangan zaman dan Karya Pewartaan Mewarta di tengah hiruk pikuk dunia digital Sekedar Refleksi Penutup

33 Tantangan zaman dan Karya Pewartaan Purwono Nugroho Adhi Staf Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang Dinamika kemajuan pemikiran, budaya dan informasi Situasi itu terkait dengan perubahan, yaitu: [1] Berkembangnya pengaruh media informasi yang menjadi tiang penyangga kehidupan dan sekaligus menjadi ciri khas setiap orang bersosialisasi dengan sesamanya, [2] Berubahnya situasi dunia dan cara pandang yang begitu kompleks akan tata nilai dan tata norma. Tantangan karya pewartaan gereja semakin memerlukan kreatifitas, inovasi dan kontekstualitas yang mampu menyapa orang-orang zaman ini.

34 Mewarta di tengah hiruk pikuk dunia digital Purwono Nugroho Adhi Staf Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang Gereja dapat bersifat “virtual”, “cyber church” atau “gereja- tanpa tembok”? Tantangan ke depan, “religion online” atau “online religion”? Bukan semata-mata pada konten (isi), melainkan pada cara, media dan pengelolaannya. Pemanfaatan teknologi telekomunikasi. Jejaring sosial menjadi alun-alun publik untuk berbagi gagasan, informasi dan pendapat, akan terwujud relasi-relasi dan bentuk-bentuk komunitas baru. Cara lama atau cara tradisional bukan sesuatu yang ditinggalkan, melainkan haruslah mendapatkan kebaruannya. Tidak hanya dengan “mengajar”, melainkan lebih kepada memelihara dan menjadi teman bagi semua orang.

35 Sekedar Refleksi Penutup Purwono Nugroho Adhi Staf Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang Situasi zaman memberikan kita pemikiran, 3 pertimbangan; 1)Begitu luar biasanya dan berpengaruhnya media/teknologi informasi, yang menjadi tiang penyangga kehidupan dan ciri khas setiap orang bersosialisasi dengan sesamanya. 2)Berubahnya budaya, awalnya budaya lisan berubah menjadi budaya tulis yang mentransformasi menjadi budaya media. Bahasa media: bersifat membujuk, menggetarkan hati, dan penuh dengan resonansi, irama, cerita, gambar yang tervisualisasikan. Bahasa media tersebut lebih berpusat pada getaran hati. 3)Isi karya pewartaan tidak dapat dilepaskan pula dari pentingnya untuk mencari cara-cara dan sarana-sarana yang cocok untuk menyampaikannya.

36 LITURGI

37 Gambaran Gereja Katolik pada tahun 2030-an Emanuel Martasudjita, Pr Antropologi teologis: kedalaman pengalaman akan Allah dalam hidup beriman Kristosentris: Yesus Kristus tetap selalu menjadi pusat hidup Gereja Eklesiologis: Gereja yang selalu bersama dan membela kaum miskin dan lemah Strategi pastoral: ekopastoral sebagai gerak bersama seluruh masyarakat Misioner: evangelisasi dalam zaman kemajuan teknologi informasi

38 Tantangan dan prospek liturgi Gereja di masa mendatang Pendidikan liturgi Inkulturasi liturgi Arus globalisasi (era digitalisasi) - sekularisasi Ekumenisme dan dialog Liturgi dan gerakan bagi perjuangan keadilan dan pelestarian alam lingkungan

39 Merayakan Liturgi dengan baik dan berdaya ubah di tengah tantangan arus jaman Ign. Sukawalyana, Pr Liturgi Bersifat Universal namun Tetap Terbuka untuk Inovasi, Kreatifitas, Inkulturasi dan Kontekstual Merayakan Ekaristi dengan Baik dan Benar Peran Komisi Liturgi Gereja Katedral sebagai Caput et Magistra

40 Harapan bagi Gereja Katedral Pelibatan umat untuk menjadi petugas liturgi Pelibatan kelompok-kelompok di luar Katedral Pembuatan & penataan 3 pusat di panti imam, yaitu sedilia, mimbar dan altar Kunjungan keluarga oleh Imam Pemberdayaan lingkungan untuk koor

41 Merayakan Ekaristi dengan Baik dan Benar Pertama, disposisi batin umat Kedua, sarana-prasarana Ketiga, katekese yaitu pembelajaran secara terus menerus baik untuk petugas liturgi dan umat

42 Yukk, Berliturgi Secara Benar! Silvester Sunaryo Keterlibatan anak dalam Misa secara penuh Pemberdayaan fungsi tatib Pertemuan dengan KomLit Misa olahan (perarakan, doa umat) Lagu yang mengajak umat bernyanyi Layar dan LCD disesuaikan (konsekrasi dimatikan) Keseragaman tata gerak

43 KONSERVASI GEREJA

44 P.A. Heuken SJ Gereja Randusari : persegi empat, ditambah panti imam dan gedung pintu masuk gereja Unsur gaya bangunan Jawa Bagian bawah tembok: batu kali hitam; dinding luar kontras dengan bagian atas tembok (putih) Permainan warna hitam (batu, jendela) dan putih (tembok bagian atas dan ‘salib putih upside down’ di beberapa jendela) menghidupkan tampak luar gereja, apalagi atap merah yang melengkapi simfoni tiga warna kuat. Kalau lingkungan sekitar gereja agak hijau, suasana terasa nyaman

45 P.A. Heuken SJ Unsur yang pantas diperhatikan: Kolom bulat kekar pendek di panti imam yang menyokong lingkungan luas dan tinggi. Hiasan lengkung di kedua altar Keluarga Kudus dan Hati Kudus Jesus di samping panti imam merujuk pada stupa. Ruang dalam yang luas & terang didominasi oleh lengkungan di atas pintu imam. Sayang, langit-langit panti itu tidak bisa berbentuk setengah kubah yang bundar, karena terbuat dari konstruksi lempengan eternit.

46 Han Awal …..Mengenai sikap setiap pemain di bidang pelestarian, kita harus punya sikap yang baik dan positif terhadap pelestarian dan pemugaran. Ini merupakan sebuah isu penting. Sikap yang total terhadap bangunan itu sendiri. Sikap sabar, untuk menyampaikannya kepada semua pihak dari berbagai bidang adalah suatu keharusan. Bagian-bagian antar-fase teknis ini harus dikelola dengan baik, dan pemahaman besar tentang tugas pelestarian dibutuhkan, bahkan oleh pekerja dengan kemampuan terendah sekalipun…..(Han Awal)

47 Han Awal Salah satu upaya untuk menjaga eksistensi dari keberadaan bangunan tua tersebut adalah dengan konservasi; melestarikan bangunan bersejarah, dengan; mencegah kerusakan bangunan dan sekaligus memperpanjang usia bangunan. Tidak boleh menyebabkan kerusakan baru, harus tetap terpelihara dengan baik serta disiapkan untuk dapat hidup dan tumbuh bersama masyarakat menuju masa depan.

48 Han Awal Teknik dan tahapan yang baik dan benar Menelusuri kembali sejarah dari bangunan (sangat penting); sejarah penggunaan & pembangunan, teknologi yang digunakan ketika dalam proses pembangunan. Bangunan bersejarah ; identitas, karakter dan kekhasan Konservasi secara umumnya Pengecatan ulang supaya bangunan tetap terlihat cerah Perbaikan-perbaikan di beberapa atap, dinding, maupun saluran-saluran yang sudah mulai rapuh Tidak hanya memandang dari segi penampilan luarnya saja Memanfaatkan teknologi modern untuk menjaga kelestariannya (misalnya pemanas/ pendingin udara, CCTV). Supaya pancaran bangunan tua itu tetap cerah. Kerutan-kerutan yang timbul pada bangunan tua merupakan jejak-jejak sejarah yang harus didokumentasikan.

49 Han Awal 6 tahapan konservasi: 1)Penelitian dan pendokumentasian 2)Identifikasi, inventarisasi dan diagnosis kerusakan 3)Dokumen rencana konservasi 4)Pelaksanaan konservasi 5)Pengawasan dan evaluasi 6)Laporan akhir pekerjaan konservasi 2 kaidah : 1)minimum intervention & maximum retention 2)Dokumentasikan jejak sejarah

50 Han Awal Hal penting yang diperhatikan: 1)keaslian bahan (authenticity of material), keaslian desain (authenticity of design), keaslian teknologi pengerjaan (authenticity of workmanship), keaslian tata letak (authenticity of setting) 2)bagian asli benda yang telah mengalami kerusakan atau pelapukan yang secara arkeologis bernilai tinggi 3)metode konservasi harus “reversible”, artinya bahan dan cara konservasi harus bisa dikoreksi 4)teknik penanganan konservasi harus efektif, efisien, tahan lama, dan aman bagi benda maupun lingkungannya.

51 Han Awal 3 pemikiran mendasar tentang Gereja Randusari 1)pelestarian gereja sebagai bangunan cagar budaya 2)kepentingan fungsi gereja sebagai tempat ibadah, bukan sebagai museum 3)umat yang hadir di Gereja Katedral terus berubah dan berkembang dari generasi ke generasi, dan bahkan masing-masing generasi mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda.

52 Albertus Kriswandhono 2 persoalan: 1) Bagaimana mewujudkan ‘keindahan’ rumah Tuhan dalam perspektif dunia konservasi? 2)Mengapa membangun Wisma Uskup di sebelah timur bangunan gereja lebih mudah dan relatif tidak terlalu banyak masalah dibanding memelihara gereja?

53 Albertus Kriswandhono Konsep pelestarian kompleks gereja katedral: Pemahaman secara utuh bahwa kompleks gereja katedral adalah salah satu situs diantara situs bersejarah lain yang berada di sebuah kawasan-bersejarah Tugu Muda. Cara pandang baru dalam menyikapi situs katedral sebagai Situs Cagar Budaya, ada dimensi nilai-nilai historik dan kultural.

54 Albertus Kriswandhono Mengintervensi, mendirikan & menambah bangunan Penghargaan terhadap nilai-nilai arsitektural dan kekayaan pemakaian bahan bangunan Bangunan atau unit baru tidak boleh mengalahkan atau bahkan bersaing dengan bangunan lama, baik dari penampilan arsitektur maupun penggunaan bahan bangunan Bangunan atau unit baru itu harus mendukung keberlangsungan dan karakter dan nilai-nilai arsitektural bangunan lama Terkait perencanaan tata letak & konteks bangunan- bangunan itu.

55 Albertus Kriswandhono Situs Gereja Katedral di Semarang: 1)Bangunan gereja 2)Fasilitas paroki berupa ruang rapat, sekretariat, ruang-ruang bidang kerja 3)Rumah paroki (tempat tinggal dan ruang kerja pastor paroki) 4)Bangunan ruang pertemuan besar Sukasari 5)Wisma Uskup (yang kini telah hilang dan diganti bangunan baru) 6)Halaman yang digunakan untuk fasilitas parkir kendaraan bermotor

56 Albertus Kriswandhono Situs Gereja Katedral di Semarang: Pemahaman bangunan Cagar Budaya dalam konteks ini tidak bisa dipisahkan satu bangunan dengan bangunan yang lain bahkan dengan komposisi massa bangunan SD Bernardus, Poliklinik, SMP Domenico Savio. Semua menjadi sebuah rajutan sejarah dan budaya di Kawasan Tugu Muda.

57 Albertus Kriswandhono Studi Kelayakan Konservasi dan Studi Teknis Konservasi 1)Memahami masing-masing bangunan; pemahaman yang dilakukan melingkupi (sejarah bangunan, sejarah perubahan teknik bangunan, memahami lingkungan (makro dan mikro) 2)Melakukan pencatatan dan perekaman 3)Melakukan studi kerusakan dan pelapukan 4)Melakukan kegiatan analisis laboratorium 5)Menyatakan kelayakan pemugaran 6)Membuat studi teknis pemugaran 7)Mempersiapkan dokumen pemugaran

58 Jongkie Tio Dahulu, tanah situs Katedral kemungkinan besar dimiliki oleh tuan tanah Oei Tiong Ham Gereja Randusari banyak dipengaruhi budaya Melayu. Letak Gereja Randusari sangat bagus karena berada di kaki bukit Bergota. Gereja yang semula sederhana, kemudian pada tahun 1935 dibangun dengan lebih megah dengan arsitek van Oyen, dan pelaksananya Klaiverda. Tahun 1937, Gereja randusari diresmikan dan tahun 1940 menjadi gereja katedral.

59 Jongkie Tio Sungai yang berada di depan gereja pada waktu itu bisa dilewati sampan sampai bendungan dekat pos polisi Kalisari (sekarang Polrestabes Semarang). Di seberang gedung gereja terdapat Wilhelmina Plein di mana setiap Sabtu para tentara main musik di sekitar taman. Letaknya yang sedikit menjorok ke dalam dan tertutup pohon-pohon rindang yang ada di halaman gereja, membuat kawasan gereja menjadi sejuk dan tenang. Menara loncengnya saja yang terlihat tinggi menjulang dengan warna kuning keemasan, sebagai tetenger/landmark keberadaan Gereja Katedral.

60 Jongkie Tio Fasade Gereja Katedral dari kawasan Tugu Muda juga semakin “tenggelam” terhalang videotron. Bentuk bangunan gereja yang terlalu sederhana Gereja Katedral memancarkan aura sangat kuat. Gereja Katedral memiliki aura yang berbeda dengan bagunan-bangunan lainnya. Luas lahan yang sangat terbatas sehingga keberadaan pasturan dan kantor gereja membuat kawasan semakin terlihat penuh/sesak. Perlu dipikirkan membuat penambahan bangunan atau untuk penataan kawasan agar terlihat lebih lapang.

61 Jongkie Tio Gereja Katedral sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang memiliki keunikan tersendiri kiranya dapat menjadi bagian dari salah satu tujuan wisata religi di kota Semarang selain Gereja Blenduk, Masjid Agung Jawa Tengah, Klenteng Sam Po Kong dan Vihara Watu Gong.

62 PROPOSAL BERSAMA

63 ‘BULAN PANENAN’ Rekruitmen calon anggota dewan secara serentak Pada bulan pebruari Semua kebutuhan SDM disiapkan dan ditawarkan kepada umat

64 ‘BRANDING’ GEREJA RANDUSARI Diskusi filosofi dan sejarah gereja Diskusi tentang Visi & Misi2033 dan tahapan ‘batu pijak’ setiap 5 & 10 tahun (2018, 2023, 2028) Diskusi tentang ‘brand’ (profil, visual, logo, warna, dll) Dokumentasi dalam berita acara

65 FORUM PEDULI KALISARI Komunitas bersama pedagang, tukang becak, preman di sekitar gereja, sekolahan, bruderan Implementasi ASG dimotori Bidang Kemasyarakatan Perencanaan dinamika bersama untuk keindahan kali dan taman pinggirnya, di depan gereja Aktivitas kemandirian kegiatan ekonomi dan kepedulian lingkungan Perbaikan fisik sekitar kali dan jembatan, sehingga bisa mendukung ‘visual branding’ gereja

66 ANGKET LITURGI & PEWARTAAN Memotret keinginan dan harapan umat tentang aspek liturgi & pewartaan Diadakan sekaligus, pada pertengahan tahun Menyajikan data dalam bentuk dokumen/buku

67 ANGKET LITURGI & PEWARTAAN Memotret keinginan dan harapan umat tentang aspek liturgi & pewartaan Diadakan sekaligus, pada pertengahan tahun Menyajikan data dalam bentuk dokumen/buku

68 TIM RENCANA KONSERVASI Membentuk tim rencana konservasi Melakukan tahapan awal rencana konservasi Membuat dokumen konservasi dalam berita acara


Download ppt "SAJIAN DATA 2012 & 2013. ANGKET UMAT KATEDRAL 2013: “Langkah Berkarya Berbasis Data”"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google