Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

POKOK BAHASAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO 1 Dosen: Drs. Yudi Muryanto, MM.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "POKOK BAHASAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO 1 Dosen: Drs. Yudi Muryanto, MM."— Transcript presentasi:

1 POKOK BAHASAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO 1 Dosen: Drs. Yudi Muryanto, MM.

2 SUB POKOK BAHASAN 2 KESTABILAN HARGAKESEMPATAN KERJAPERTUMBUHAN EKONOMIDISTRIBUSI PENDAPATANKEMISKINAN SUB POKOK BAHASAN

3 Indikator Ekonomi Makro Indonesia Pengertian : biasanya hanya disebut indikator makro ekonomi, adalah suatu analisis perkem- bangan ekonomi yang dapat digunakan untuk memprediksi perkembangan ekonomi di masa depan. Jadi ada dua fungsi utama dari "indikator makro- ekonomi" yaitu menganalisis perkembangan ekonomi sampai saat kini, dan memprediksi perkembangan ekonomi di masa datang 3

4 Indikator Ekonomi Makro Indonesia Biasanya pemerintah menggunakan indikator ekonomi utama yaitu PDB (Pendapatan Domestik Bruto), Indeks Harga, Tabungan Nasional, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), dan Inflasi Harga. 4

5 KESTABILAN HARGA (TINGKAT INFLASI) Paul A. Samuelson Inflasi terjadi apabila tingkat harga-harga dan biaya-biaya umum naik; harga beras, bahan bakar, mobil naik; tingkat upah, harga tanah, sewa barang-barang modal juga naik. Sedangkan deflasi terjadi apabila harga-harga dan biaya- biaya secara umum turun. Dalam pengertian inflasi diatas, kita tidak mengatakan bahwa selama masa inflasi semua harga dan biaya meningkat dalam proporsi yang sama; dan memang jarang sekali terjadi laju kenaikan yang sama. Pada masa inflasi terjadi kenaikan tingkat harga-harga yang diukur dengan indeks harga yaitu rata-rata harga konsumen atau produsen. 5

6 Cara mengatasi inflasi (agar harga tetap stabil) adalah sebagai berikut : Kebijakan moneter Kebijakan fiskal Kebijakan non moneter 6

7 KEBIJAKAN MONETER Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). 7

8 KEBIJAKAN MONETER Kebijakan moneter dapat dilakukan melalui instrumen sebagai berikut : Politik diskonto, yaitu bank menaikkan suku bunga sehingga jumlah uang yang beredar dapat dikurangi. Politik ini disebut juga politik uang ketat. Politik pasar terbuka, yaitu bank sentral menjual obligasi atau surat berharga ke pasar modal untuk menyerap uang dari masyarakat sehingga jumlah uang beredar dapat dikurangi. Peningkatan cadangan uang kas yang ada di bank sehingga jumlah uang bank yang dapat dipinjamkan kepada debitur/masyarakat menjadi berkurang. Hal ini berarti dapat mengurangi jumlah uang yang beredar. 8

9 KEBIJAKAN FISKAL Kebijakan fiskal meliputi langkah-langkah pemerintah membuat perubahan dalam bidang perpajakan dan pengeluaran pemerintah dengan maksud untuk mem- pengaruhi pengeluaran agregat dalam perekonomian, dilakukan melalui instrumen berikut : Mengatur penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Pemerintah tidak menambah pengeluarannya agar anggaran tidak defisit. Menaikkan pajak. Dengan menaikkan pajak, konsumen akan mengurangi jumlah konsumsinya, karena sebagian pendapatannya untuk membayar pajak. 9

10 KEBIJAKAN NON MONETER Beberapa kebijakan non moneter yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut : Mendorong agar pengusaha menaikkan hasil produksinya. Menekan tingkat upah. Pemerintah melakukan pengawasan harga sekaligus menetapkan harga maksimal. Pemerintah melakukan distribusi secara langsung. Penanggulangan inflasi yang sangat parah ditempuh dengan cara melakukan sanering (pemotongan nilai mata uang). 10

11 KESEMPATAN KERJA Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja. Dengan demikian, dapat menyerap pertambahan angkatan kerja. Dalam ilmu ekonomi, kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian, keterampilan dan bakatnya masing-masing. Kesempatan Kerja (demand for labour) adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja). Dengan demikian kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja 11

12 PERTUMBUHAN EKONOMI Adalah perkembangan fisikal produksi barang dan jasa yang berlaku di suatu negara, seperti pertambahan dan jumlah produksi barang industri, perkembangan infrastruktur, pertambahan jumlah sekolah, pertambahan produksi sektor jasa dan pertambahan produksi barang modal. Namun dengan menggunakan berbagai jenis data produksi adalah sangat sukar untuk memberikan gambaran tentang pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Oleh karena itu untuk memberikan suatu gambaran kasar mengenai pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara, ukuran yang digunakan adalah tingkat pertumbuhan pendapatan nasional riil yang dicapai. 12

13 Faktor Pertumbuhan Ekonomi Todaro (2000) : Akumulasi modal Pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja Kemajuan teknologi 13

14 Akumulasi modal Akumulasi modal terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan dengan tujuan memperbesar output dan pendapatan di kemudian hari Demikian pula investasi dalam sumberdaya manusia dapat meningkatkan kualitasnya dan dengan demikian akan menghasilkan efek yang sama terhadap produksi. Pendidikan formal dan informal akan dapat ditingkatkan lebih efektif lagi supaya dapat menghasilkan tenaga terdidik yang dapat mempebesar produktivitas. 14

15 Pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja Pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja merupakan faktor positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi Jumlah tenaga kerja yang lebih besar akan menambah jumlah tenaga produktif, sedangkan pertambahan penduduk yang lebih besar akan menambah luasnya pasar domestik 15

16 Kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi bagi para ahli ekonomi merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih penting Kemajuan teknologi dapat meningkatkan nilai tambah yang tinggi Kemajuan teknologi berarti ditemukannya cara berproduksi atau perbaikan produksi 16

17 DISTRIBUSI PENDAPATAN Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya. Terdapat berbagai kriteria atau tolok ukur untuk menilai kemerataan (parah atau lunaknya ketimpangan) distribusi dimaksud. 3 diantaranya yang paling lazim digunakan adalah Kurva Lorenz, Indeks atau Rasio Gini dan kriteria Bank Dunia Kurva Lorenz menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan nasional di kalangan lapisan-lapisan penduduk, secara kumulatif pula. Kurva ini terletak di dalam sebuah bujur sangkar yang sisi tegaknya melambangkan persentase kumulatif pendapatan nasional, sedangkan sisi datarnya mewakili persentase kumulatif penduduk. 17

18 KURVA LORENZ 18

19 Indeks atau rasio gini adalah suatu koefisien yang berkisar dari angka 0 hingga 1, menjelaskan kadar kemerataan (ketimpangan) distribusi pendapatan nasional. Semakin kecil (semakin mendekati nol) koefisiennya, pertanda semakin baik atau merata distribusi. Di lain pihak, koefisien yang kian besar (semakin mendekati satu) mengisyaratkan distribusi yang kian timpang atau senjang. Angka rasio gini dapat ditaksir secara visual langsung dari kurva Lorenz. Kriteria ketidakmerataan versi Bank Dunia didasarkan atas porsi pendapatan nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk, yakni 40 % penduduk berpendapatan rendah (penduduk miskin); 40 % penduduk berpendapatan menengah; serta 20 % penduduk berpendapatan tinggi (penduduk kaya). Ketimpangan atau ketidak merataan distribusi dinyatakan parah apabila 40 % penduduk berpendapatan rendah menikmati kurang dari 12 % pendapatan nasional. Ketidak pemerataan dianggap sedang atau moderat apabila menikmati antara 12 hingga 17 % pendapatan nasional. 19

20 PENANGGULANGAN KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN Todaro (1995) Usaha-usaha memperbaiki distribusi pendapatan masyarakat di negara-negara sedang berkembang antara lain : Mengubah distribusi pendapatan melalui redistribusi progresif pemilikan harta seperti memrioritaskan kredit komersial maupun bersubsidi bagi pengsaha kecil, memberi kesempatan kepada para pekerja untuk turut memiliki saham pada perusahaan serta pemberdayaan lembaga ekonomi rakyat seperti koperasi dlsb. Mengubah distribusi pendapatan golongan atas melalui pajak pendapatan dan kekayaan yang progresif. Dalam hal ini beban pajak dibuat sedemikian rupa sehingga beban yang lebih berat akan dikenakan pada golongan yang berpenghasilan tinggi. Memberikan pelatihan teknis kepada lulusan sekolah yang belum mendapatkan pekerjaan. Dengan pelatihan ini diharapkan mereka akan segera terserap ke dunia kerja, bahkan mungkin mereka akan dapat menciptakan pekerjaan sendiri dan memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain. 20

21 UPAYA PEMERATAAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI INDONESIA Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan, sandang dan perumahan. Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan. Pemerataan pembagian pendapatan. Pemerataan kesempatan kerja. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan. 21

22 KEMISKINAN Suatu situasi atau kondisi yang dialami seseorang atau kelompok orang yang tidak mampu menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi. (Bappenas 2002) Penyebab kemiskinan ◦ Ciri dan kondisi masyarakat yang amat beragam dan ditambah tingkat kemajuan ekonomi negara ybs masih lemah, maka kebijakan nasional umumnya diarahkan untuk memecahkan permasalahan jangka pendek, sehingga kebijakan pemerintah belum berhasil memecahkan persoalan ekonomi di tingkat bawah. (Mukhopadhay, 1985) ◦ Kondisi masyarakat yang tidak atau belum turut serta dalam proses perubahan karena tidak mempunyai kemampuan, baik kemampuan dalam kepemilikan faktor produksi maupun kualitas faktor produksi yang memadai, sehingga tidak mendapatkan manfaat dari proses pembangunan. 22

23 UKURAN KEMISKINAN Kemiskinan Absolut, konsep yang digunakan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik terhadap makanan, pakaian dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup. (Todaro dan Smith, 2003) Kemiskinan Relatif, terjadi karena kemiskinan lebih banyak ditentukan oleh keadaan sekitarnya dari lingkungan orang yang bersangkutan. Konsep kemiskinan relatif bersifat dinamis sehingga kemiskinan akan selalu ada. 23

24 TERIMA KASIH 24


Download ppt "POKOK BAHASAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO 1 Dosen: Drs. Yudi Muryanto, MM."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google