Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Disampaikan pada FGD Forum Kerjasama Kerlitbangan se-Sumatera Palembang, 24 November 2009 EVALUASI PROGRAM RIPTEK 2005-2009 Malikuz Zahar, M.Eng. Asisten.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Disampaikan pada FGD Forum Kerjasama Kerlitbangan se-Sumatera Palembang, 24 November 2009 EVALUASI PROGRAM RIPTEK 2005-2009 Malikuz Zahar, M.Eng. Asisten."— Transcript presentasi:

1 Disampaikan pada FGD Forum Kerjasama Kerlitbangan se-Sumatera Palembang, 24 November 2009 EVALUASI PROGRAM RIPTEK Malikuz Zahar, M.Eng. Asisten Deputi Urusan Program Riptek NAsional Deputi Bidang Program Riptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi

2 Arah dan kerangka kebijakan serta prioritas pembangunan Iptek nasional untuk periode tahun tertuang dalam Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional (Jakstranas) Iptek Dengan adanya Jakstranas Iptek tersebut maka program / kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga litbang nasional mengacu pada arah kebijakan dan prioritas utama yang tertuang di dalamnya. Perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan program / kegiatan Iptek. PENDAHULUAN

3 Pendekatan : Goal Oriented Evaluation Ruang Lingkup : program / kegiatan pada 6 bidang prioritas pembangunan Iptek di lembaga Iptek Nasional, yang meliputi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), Badan Litbang Departemen, Perguruan Tinggi, dan Industri. Jenis Data : Data sekunder Sumber Data : Dokumen Kebijakan : RPJMN Iptek , Jakstranas Iptek Laporan Tahunan : KNRT, LPND, Balitbang Departemen, Industri Strategis, Lembaga Penelitian Universitas Laporan Kajian : KNRT Basis Data Kegiatan : LPND, Balitbang Departemen Periode : METODE EVALUASI

4 Sasaran Pembangunan Iptek (RPJMN Iptek ) 1.Tumbuhnya penemuan iptek baru sebagai hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan bagi peningkatan nilai tambah dalam sistem produksi dan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara lestari dan bertanggung jawab. 2.Meningkatnya ketersediaan, hasil guna, dan daya guna sumberdaya (SDM, sarana, prasarana dan kelembagaan). 3.Tertatanya mekanisme intermediasi untuk meningkatkan pemanfaatan hasil litbang oleh dunia usaha dan industri, meningkatnya kandungan teknologi dalam industri nasional, serta tumbuhnya jaringan kemitraan dalam kerangka sistem inovasi nasional. 4.Terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kreativitas, sistem pembinaan dan pengelolaan hak atas kekayaan intelektual, pengetahuan lokal, serta sistem standarisasi nasional. KEBIJAKAN IPTEK

5 Program Pembangunan Iptek Program Penelitian dan Pengembangan Iptek Meningkatkan fokus dan mutu kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan dasar, terapan, dan teknologi sesuai dengan kompetensi inti dan kebutuhan pengguna. 2. Program Difusi dan Pemanfaatan Iptek Mendorong proses diseminasi hasil litbang serta pemanfaatannya oleh dunia usaha, industri, dan masyarakat. 3. Program Penguatan Kelembagaan Iptek Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas lembaga iptek dalam pertumbuhan ekonomi nasional. 4. Program Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Mendorong peningkatan kapasitas teknologi pada sistem produksi di dunia usaha dan industri serta peningkatan sinergi antar berbagai komponen sistem inovasi. KEBIJAKAN IPTEK

6 Bidang fokus pembangunan Iptek Ketahanan pangan Penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan Teknologi dan manajemen transportasi Teknologi informasi dan komunikasi Teknologi pertahanan dan keamanan Teknologi kesehatan dan obat KEBIJAKAN IPTEK

7 JAKSTRANAS IPTEK TH ARAHPRIORITAS KERANGKA KEBIJAKAN AGENDA RISET NASIONAL Monitoring Evaluasi Indikator Keberhasilan PANGAN ENERGI TRANSPORT ASI TIKHANKAM KESEHATAN & OBAT PROGRAM ALUR KEBIJAKAN PEMBANGUNAN IPTEK

8 Meningkatnya kemampuan kompetisi industri pangan INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN IPTEK

9 Meningkatnya kemampuan kompetisi industri pangan Kesiapan pemda dan swasta untuk menerapkan pembangkit listrik INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN IPTEK

10 TRANSPORTASI LITBANG DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI Penguatan ilmu dasar Model matematika untuk optimasi kinerja transportasi Angkutan perkotaan dan angkutan umum Informasi tentang angkutan perkotaan dan angkutan umum Model kerjasama kelembagaan Iptek Informasi tentang kompetensi lembaga iptek Peningkatan kompetensi lembaga iptek Strategi peningkatan kompetensi lembaga iptek Pengembangan transportasi antar pulau Informasi kebutuhan armada kapal domestik Transportasi antar / multi moda Konsep penerapan intermodal supply chain security Studi standarisasi sarana transportasi Tersedia standard untuk sarana transportasi Diversifikasi dan konversi energi sektor transportasi Teknik dan prosedur konversi Penyusunan pedoman tentang disain teknis sarana transportasi Tersedianya pedoman tentang disain teknis sarana transportasi Daftar lokasi pelabuhan dan bandara khusus Pengembangan transportasi sungai dan danau Teknik dan strategi pengembangan sistem transportasi suagai dan danau Evaluasi regulasi bidang transportasi Konsep regulasi bidang transportasi Peningkatan kualitas dan kapasitas sarana transportasi Daftar prasarana transportasi yang perlu ditingkatkan kualitas dan kapasitasnya Pemanfaatan pelabuhan khusus dan bandara khusus untuk pelayanan umum KEGIATAN INDIKATOR KEBERHASILAN KEGIATAN INDIKATOR KEBERHASILAN KEGIATAN INDIKATOR KEBERHASILAN KEGIATAN INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN IPTEK

11

12

13 Percepatan teknologi sistem produksi PROGRAM INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN IPTEK

14 CAPAIAN PROGRAM IPTEK 6 BIDANG FOKUS

15 A. Pertanian Cadangan benih lebih 750 koleksi talas dan 120 koleksi ubi kayu. Teknologi bibit unggul hasil rekayasa genetika pada tanaman padi dan pisang yang tahan pada hama penyakit. Galur-galur harapan (promising lines) tanaman padi, jagung, kacang hijau, kacang tanah, kedelai, sorghum, gandum, dan bawang merah telah berhasil diuji dan siap untuk dilepas menjadi varietas. Varietas unggul tanaman pangan :15 varietas padi; 5 varietas kedelai,1 varietas kacang hijau, sorgum, kapas unggul Biofungisida Beberapa jenis pupuk hijau dan hayati serta teknik pelepasan lambat/terkendali (slow release fertilizer)‏ BIDANG KETAHANAN PANGAN

16 B. Peternakan Perbaikan sifat genetika sapi dan peningkatan populasinya melalui penguasaan teknik reproduksi modern (sexing sperma, splitting embrio). Formula suplemen pakan untuk ternak ruminansia berupa: Urea Molases Multinutrien Block (UMMB), dan Suplemen Pakan Multinutrien (SPM), yang dapat meningkatkan produksi ternak dan telah didiseminasi ke lebih dari 8 Propinsi dengan 15 daerah binaan. Formula pakan ternak generasi 2 : Suplemen Pakan Multinutrien (SPM) dan High Quality Feed Supplement (HQFS). Suplemen Pakan Multinutrien Tanpa Molases (SPMTM). Calon vaksin ternak Vasciolosis iradiasi Fascivac untuk meningkatkan kekebalan tubuh ternak terhadap penyakit cacing hati serta tidak toksik dan tidak menimbulkan efek samping. Kit RIA (radioimmuno-assay) progesteron untuk Inseminasi Buatan (IB) pada ternak’ Identifikasi di tingkat molekuler untuk penyilangan ayam-ayam lokal dengan ayam ras untuk menghasilkan ayam ras baru khas Indonesia yang tahan flu burung. BIDANG KETAHANAN PANGAN

17 C. Perikanan Teknologi budidaya ikan kerapu Formula pakan buatan (dalam bentuk pellet)‏ Ikan Nila GESIT (Genetically Supermale Indonesian Tilapia) atau ikan nila jantan super YY VAKSINAS merupakan vaksin polivalen Vibrio untuk mecegah penyakit vibriosis yang sering menyerang ikan laut Teknik penentuan konsentrasi hormon testosteron dengan radioimmuno assay (RIA). Teknologi budidaya udang galah dengan struktur shelter bambu Teknologi bioremediasi tambak Udang Windu dengan konsorsium bakteri BIDANG KETAHANAN PANGAN

18 D. Pengawetan Makanan 1)Teknologi pengawetan makanan siap saji dengan irradiasi untuk 5 komoditas yaitu a) rempah, rimpang dan sayuran kering bumbu; b) umbian segar; c) udang beku dan paha kodok beku; d) ikan kering/asin; e) bebijian dan serealia. 2)Teknologi (alat dan mesin) pengolahan jagung terpadu mulai dari pengeringan, pemipilan, penggilingan, hingga aneka produk pangan berbasis jagung (bubur jagung instan, cornflake dll). 3)Prototype alat dan mesin pengolahan juice, nata de coco, kopi, dll. BIDANG KETAHANAN PANGAN

19 E. Pangan Fungsional Produk pangan berupa minuman probiotik, minuman nata, minuman antioksidan dan aneka produk dari tanaman lidah buaya (aloe vera) sudah dihasilkan BPPT. Jamur tiram (Pleurotus Ostreatus) dan Shiitake (Lentinus edodus) berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional mengingat kandungan nutrisi dan bahan aktif bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan dan sistem kekebalan tubuh. BIDANG KETAHANAN PANGAN

20 F. Sistem Informasi Ketahanan Pangan 1)Sistem Informasi Ketahanan Pangan Nasional yang ditujukan untuk menghimpun data ketahanan pangan sebagai pendukung penanganan bencana alam. Sampai dengan saat ini telah dihimpun data/informasi ketahanan pangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, data rawan banjir Provinsi Jawa Timur, kajian wilayah berbasis citra satelit Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan laporan basis data rawan banjir dan ketahanan pangan. 2)Pemetaan ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk menyediakan informasi ekosistem DAS dan memberikan masukan bagi rekomendasi pengelolaan ekosistem BIDANG KETAHANAN PANGAN

21 SKEA tenaga listrik (turbin angin) skala 50 W, 250 W, W, W, W, 5 kW dan 10 kW SKEA mekanik (kincir angin) dari berbagai kapasitas SKEA skala menengah-besar kapasitas 50 kW Skala 300 kW dalam proses detail rancangan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (Surya-Bayu-Diesel)‏ Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Pembangkit Listrik Energi Arus Laut Teknologi Fuel Cell Rencana pengembangan PLTN Teknologi produksi elemen dan skenario optimum mile stone/road map fabrikasi elemen bakar reaktor daya. Edukasi masyarakat dan pengembangan masyarakat (community development). Sosialisasi PLTN kepada masyarakat, yang nantinya menjadi jembatan koordinasi antara pemerintah, pemilik (owner) PLTN, dan masyarakat. BIDANG PENCIPTAAN DAN PEMANFAATAN EBT

22 Fasilitas pengolahan biji Jarak yang mobile/stasioner dengan kapasitas 20 kg s/d 100 kg per jam, dan juga pabrik pengolah biji Jarak Pagar kapasitas 6 Ton per hari. Teknologi pengembangan biofuel dari microalgae. Biodiesel Plant berkapasitas 500, dan ton/tahun ini berbahan baku CPO, minyak jarak atau minyak goreng bekas dengan menggunakan proses transesterifikasi, dilengkapi dengan unit glycerol dan recovery methanol. Pilot Plant Bio etanol Produksi etanol teknis dan uji coba Gasohol E-10 untuk otomotif Uji coba Genset 5 KVA dengan Minyak Nabati Uji coba Pemanfaatan Miinyak Nabati pada Kendaraan Diesel Uji coba Kompor Tekan dan Grafitasi dengan Minyak Nabati dan Kerosine Alat Fracture Detector Reservoir Panas Bumi Prototype Pembangkit Listrik Panas Bumi Skala Kecil berkapasitas 2 kW Scale-up Fabrikasi Sel Surya Silikon Kristal BIDANG PENCIPTAAN DAN PEMANFAATAN EBT

23 a. Sarana Transportasi Kereta Api Litbangyasa Teknologi Sarana Kereta Rel: kerjasama BPPT dengan PT Inka, PT KAI dan Dep. Perhubungan. R,D,E & O: Boogie Kereta Rel: kerjasama KNRT, BPPT, ITB dan PT. INKA menghasilkani Boogie yang dipasang di FUDIKA (Fasilitas Uji Dinamika Kereta Api)‏ Pengembangan Teknologi Persinyalan Kereta Api Rail Fastening (KA-Clip) telah diproduksi oleh PT. PINDAD Bandung yang dalam pengembangannya bekerjasama dengan PT. KAI MonoRel: uji kekuatan statik struktur frame, uji dinamik rangka boogi, pengembangan sistem konverter pada kereta api listrik sebagai sarana transportasi massal yang ramah lingkungan dan hemat energi Mobil Listrik : tipe Marlip Mosen, Marlip Smart, City Car, Marlip Golfo, Marlip Linen, Marlip Pick-up, dan Marlip Patroli. BIDANG TEK. DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI

24 b. Sarana Transportasi Air: Kapal niaga dari berbagai tipe seperti kapal container DWT, semi container DWT, tanker LTDW, tanker LTDW, dry cargo vessel DWT, STAR 50 – double skin bulk carier DWTdan kapal penumpang sampai dengan 500 PAX.. Kapal Sungai untuk angkutan batubara atau hasil bumi dengan metoda tongkang dorong (barge pusher), untuk memudahkan pengemudian secara closed loop. Kapal Bersayap dengan Efek Permukaan ( Wing in Surface Effect Ship - WISE ). BIDANG TEK. DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI

25 c. Sarana Transportasi Udara: PT Dirgantara Indonesia sedang melakukan pengembangan pesawat udara N 219 yang pengujiannya bekerjasama dan menggunakan semua fasilitas laboratoria yang dimiliki oleh BPPT. PT Dirgantara Indonesia juga telah mengembangkan pesawat-pesawat Fixed Wing dan Rotary Wing baik melalui lisensi maupun pengembangan produk. Telah dikembangkan pesawat NC 212 yang mempunyai kemampuan hampir serupa dengan kemampuan CN 235. PT Dirgantara Indonesia juga telah mengembangkan berbagai jenis helicopter NAS 332 Super Puma, sebuah helikopter berat dengan kapasitas 27 penumpang termasuk awak pesawat merupakan Helikopter serbaguna ini mempunyai kemampuan manuver tinggi dengan biaya perawatan yang relatif rendah. NBELL-412, helikopter serbaguna dengan teknologi rotor empat blade, mampu mengangkut 15 penumpang. BIDANG TEK. DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI

26 A. LIPI Aplikasi IGOS (Indonesia Go Open Source!) yang siap dimanfaatkan untuk kebutuhan administrasi. Saat ini aplikasi berbasis open source tengah dikembangkan untuk keperluan-keperluan penelitian seperti pengolah sintesis DNA, simulasi protein, dan sebagainya. Digital & analogous transmission TV sistem, pengembangan sistim telemetri secara on-line; pengembangan robot, image processing for vision sistems, aplikasi komputer untuk rekonstruksi genom. Rangkaian penerima ’Chip Wimax’, suatu sistem komunikasi generasi modern dengan frekuensi 2.3 GHz dan 3.3 GHz. Voltage Control Ascilator atau Perangkat Pemancar jamming alat yang bermanfaat untuk keperluan militer melumpuhkan komunikasi elektronik musuh. Radar Frequency Modulation Continous wave (FM-CW). Perangkat keras ini mampu memanfaatkan daya lebih rendah dibanding semua jenis modulasi baik radar pulsa maupun c-w. Radar FM-CW merupakan terobosan di piranti keras gelombang mikro dan komputer. BIDANG T I K

27 B. BAKOSURTANAL Sistem Informasi Spasial yakni sistem informasi yang berisi berbagai data spasial yang diperlukan untuk pembangunan nasional, berbasis Web, dan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), sebagai sarana untuk pengambilan keputusan dalam membuat kebijakan dan arah pembangunan dimasa depan. E-atlas yang menyuguhkan data bersifat interaktif yang memberikan manfaat dalam hal pertukaran data dan informasi yang berbuah efisiensi. Peta rupabumi digunakan antara lain untuk dua hal pokok yaitu sebagai kerangka visualisasi informasi spasial, dan sebagai masukan utama dalam analisis spasial sebagian besar tema kewilayahan dan sumber daya alam Pemutakhiran sistem Online Mapping ditujukan untuk meningkatkan kesiapan BAKOSURTANAL dalam memberikan berbagai data survey dan pemetaan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam mengaksesnya. BIDANG T I K

28 C. LAPAN Perekaman data citra Lapan-Tubsat yang dikendalikan oleh stasiun bumi pengendali yang saat ini dioperasikan di Spacecraft Control Center (SCC) Rumpin, Bogor, Jawa Barat. Itupun video surveillance yang dihasilkan hanya bisa mencakup coverage di mana stasiun bumi itu ditempatkan. Membangun TEWS lokal berbasis tide gauge (instrumentasi pemantau pasang surut air laut). Sarana komunikasi ini memanfaatkan lapisan ionosfer HF (High Frequency) dan VHF (Very High Frequency) rendah pada spektrum frekuensi 3-30 MHz untuk HF dan MHz untuk VHF rendah BIDANG T I K

29 D. BPPT  Pemanfaatan teknologi FOSS  Pengelolaan jaringan Sains dan teknologi tertua di Indonesia yaitu IPTEKnet  Stem data akusisi dan monitor pada sensor di buoy (pelampung) untuk Tsunami Early Warning Sistem  Pengkajian sistem monitoring untuk Conformance Monitoring dan Conflict Detection pada sistem penerbangan pesawat berbasis Automatic Dependant Surveillance-Broadcast (ADS-B)  Mengembangkan sistem Technical Assistance pengembangan egovernment, bekerjasama dengan Depkominfo  Pengembangan sistem informasi untuk mendukung penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) khususnya Pemerintah Pusat dan Daerah.  Sistem Pendeteksi Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System (TEWS) BIDANG T I K

30 a. Gizi BATAN juga mengembangkan penguasaan identifikasi cemaran pangan dan lingkungan / polutan dengan teknik AAN (Analisis Aktivasi Neutron) dan AANC (Analisis Aktivasi Neutron Cepat) Departemen Kesehatan (Depkes) banyak melakukan penelitian berbagai masalah gizi kurang melalui Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Selain itu juga penelitian mengenai pengembangan teknologi komunikasi gizi, yaitu kepatuhan konsumsi tablet besi dalam peningkatan kadar haemoglobin pada ibu hamil.. BIDANG TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT

31 b. Bahan Baku Obat dan Obat Bahan Alam Telah terdaftar lima produk fitofarmaka dan 23 obat herbal terstandar. BATAN mengembangkan Pemanfaatan radiasi gamma untuk pembentukan klon, isolat aktif dan radiopasteurisasi tanaman mahkota dewa, serta radio labeling zat aktif benalu teh sebagai anti kanker. Selain itu juga dikembangkan teknologi Radioligand Binding Assays (RBA) dan Scintillation Proximity Assays (SPA) untuk uji klinis invitro tanaman obat terpilih. LIPI mengembangkan tanaman Artemisia Annua L. Asteraceae untuk produksi artemisinin dan analognya, serta skrining mikroba potensial penghasil senyawa aktif untuk bahan baku farmasi yaitu anti kanker, antioksidan dan penanganan penyakit degeneratif seperti kardiovaskuler, diabetes dan hepatitis dari flora indonesia. BPPT telah melakukan penelitian dan pengembangan formula obat herbal antikanker dan immunomodulator untuk pencegahan penyakit infeksi seperti flu, HIV/AIDS. BIDANG TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT

32 b. Bahan Baku Obat dan Obat Bahan Alam BPPT juga melakukan pengembangan teknologi proses bahan Sediaan Alami Penurun Kadar Asam Urat (SAMIRAT) yang secara empiris dan ilmiah telah mampu menurunkan kadar asam urat. Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) telah melakukan penelitian dan pengembangan mengenai ekstraksi dan uji farmakologi senyawa bioaktif dari biota laut (alga dan sponge). Depkes juga telah melakukan inventarisasi tumbuhan berkhasiat obat dan kajian beberapa tanaman obat yang berpotensi, antaralain antiplasmodium, antiinflamasi, antikanker dan penghambat differensiasi sel adiposa. BIDANG TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT

33 c. Penyakit Menular Dan Tidak Menular, Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 1)BATAN: Pengembangan teknologi pencegahan penyakit seperti penyakit kanker dengan pengembangan Radiofarmaka Terapi spesifik sel target kanker berbasis radiolantanida pemancar partikel bermuatan, kasdivaskular dan penyakit metabolik Pengembangan vaksin dan kit diagnostik potensial untuk pengendalian penyakit menular seperti tuberkulosis, demam berdarah, dan Malaria. Untuk pengembangan teknologi deteksi dini Nefropati Diabetik pada pengidap Diabetes Mellitus digunakan Kit petanda Mikroalbuminuria dengan teknik RIA dan dilakukan juga evaluasi pra dan pasca tindakan medis pada kanker ovarium menggunakan Kit petanda CA-I 125 Pengembangan bahan vaksin malaria dengan teknik nuklir BIDANG TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT

34 c. Penyakit Menular Dan Tidak Menular, Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2)LBM EIJKMAN Penelitian transduksi energi yang menyebabkan berbagai jenis penyakit (termasuk kelainan neurologik, kebutaan, ketulian dan diabetes mellitus); Penelitian keanekaragaman genom manusia yang memanfaatkan sumber daya genetik manusia di Indonesia dengan populasi etnik yang beragam; Penelitian penyakit genetika sel darah merah dengan menentukan mutasi penyebab penyakit seperti thalassemia, kelainan biokimia dan manifestasi klinik mutasi; Penelitian variasi genetik dan resistensi terhadap infeksi malaria; Penelitian dasar molekul infeksi malaria termasuk diantaranya penelitian dasar molekul resisten terhadap obat antimalaria dan cerebral malaria serta riset mengenai virus hepatitis dan keanekaragaman genetik. BIDANG TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT

35 c. Penyakit Menular Dan Tidak Menular, Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 3)IHVCB-UI bekerjasama dengan Badan Litbangkes Depkes kultur virus AI H5N1 dengan menggunakan telur berembrio dan sel MDCK (Madin-Darby Caanine Kidney). IHVCB juga mengembangkan deteksi molekuler penyebab infeksi melalui deteksi materi generik virus prototipe untuk deteksi komponen virus (protein/antigen) dan deteksi antibodi terhadap virus. Berbagai jenis vaksin untuk AI sedang dkembangkan di IHVCB UI, pada tahap awal diantaranya adalah vaksin DNA, protein subunit dan viral like particles. BIDANG TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT

36 d. Alat Kesehatan –BPPT mengembangkan peralatan pencitraan medis Scanner Ultrasonografi (USG)‏ –BATAN mengembangkan Renograf tipe IR3, yaitu alat analisis fungsi ginjal. –LIPI melakukan pengembangan Sistem Biosensor untuk Bidang Kesehatan. BIDANG TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT

37 1.Program Roket Pengorbit Satelit Roket tipe RX-420 dan RX-320 hasil rekayasa LAPAN dapat mencapai ketinggian 300 km untuk membawa muatan satelit nano akan diluncurkan pada tahun Berbagai tahapan pengembangan telah dilakukan dengan sukses mulai dari uji statik sampai dengan uji terbang yang dilakukan di Stasiun Uji Terbang Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Roket tipe RX yang panjangnya 4736 mm, diameter 320 mm, dan berat total 532 kg serta berdaya dorong 52 tondetik, merupakan roket terbesar buatan LAPAN Roket RX-420 mampu membawa potential payload seberat kg panjangnya 6 m dengan berat total 1100 kg dan dirancang untuk mencapai jangkauan km Roket RX-320 merupakan salah satu dari rangkaian roket pengorbit satelit (RPS) yang mampu menjangkau 100 km pada sudut elevasi 80 derajat LAPAN telah berhasil memproduksi secara mandiri komponen bahan baku utama propelan yaitu Amonium perchlorat (AP) dan Hydroxyl Terminated PolyButadiene (HTPB). BIDANG TEKNOLOGI HANKAM

38 2.Penelitian dan pengembangan teknologi satelit Telah diluncurkan satelit mikro LAPAN-Tubsat dan ditempatkan pada orbitnya. Satelit ini mampu merekam data berupa data video dengan resolusi 200 meter dan 5 meter untuk dipakai sebagai data Remote Sensing (penginderaan jauh) dan mengirimkannya secara kontinyu ke stasiun bumi. Pengembangan satelit Tubsat A-2 atau enhanced LAPAN-Tubsat satellite micro dengan mengedepankan tingkat kemandirian dalam desain, kandungan lokal yang lebih tinggi dan hasil gambar yang lebih tajam dan lebih berguna 3.Border Sign Post (BSP)‏ Pemetaan wilayah perbatasan di darat yaitu antara RI-PNG sebanyak 12 NLP telah dilakukan oleh Bakosurtanal. Di perbatasan RI-RDTL telah ditempatkan Border Sign Post (BSP) sebanyak 145 buah. BSP tersebut ditempatkan dengan jarak + 80 meter dari garis perbatasan negara dan bermanfaat untuk mengetahui atau pemantau sekaligus peringatan bagi pelintas batas (border crosser) dari dan ke wilayah NKRI dalam rangka penegakan hukum yang jelas dan tegas. Pemotretan pulau-pulau kecil terluar secara Kinematic Global Positioning System skala 1: BIDANG TEKNOLOGI HANKAM

39 4. Radio Manpack: peralatan komunikasi radio portable berfrekuensi tinggi dan sangat tinggi untuk tentara agar dapat berkomunikasi satu dengan lainnya di medan tempur. 5. Battlefield Management System (BMS): Pengembangan sistem BMS oleh PT. LEN ini untuk Panser Komando digunakan untuk mengetahui posisi sasaran dengan tepat. Teknologi BMS ini didukung oleh peralatan navigasi dan peralatan perang lainnya agar mampu melakukan Integrasi dengan Sistem ALKOM khususnya untuk Sistem Komunikasi Data dengan visualisasi berbasis GIS (Geographic Information System)‏ 6. Transponder Sasaran Torpedo: Transponder TPO TLM - 01 adalah suatu target bergerak bawah air yang dikembangkan PT. LEN yang digunakan dalam suatu latihan peperangan anti kapal selam yang mampu bergerak sendiri di dalam air, merespons pancaran gelombang akustik yang berasal dari Sonar System Kapal anti Kapal Selam, mempunyai Endurance Time sekitar 3 jam, memiliki annunciator sinar lampu agar mudah dilacak dan dapat digunakan ber ulang - ulang, karena memiliki Recovery System. BIDANG TEKNOLOGI HANKAM

40 7.Perngembangan Incinerator (Alat Pemusnah Barang Bukti Narkoba): Mobile incinerator merupakan incinerator suhu tinggi yang didisain khusus untuk memusnahkan narkoba yang tidak dapat dilakukan oleh alat pemusnah lainnya secara sempurna. 8.Teropong Bidik Siang Senapan (TBSS) untuk POLRI : Teropong Bidik Siang Senapan (TBSS) untuk POLRI yang dikembangkan dari prototipe hasil riset sebelumnya dengan standar militer TNI. 9.Prototipe Panser Beroda Ban 6 X Pesawat Udara Nir Awak 11.Mobile Shooting Range: kendaraan lapangan tembak yang dapat memenuhi kebutuhan latihan menembak khususnya bagi Anggota Polri sampai ke tingkat Polsek, yang mampu berpindah-pindah lokasi 12.Kapal Patroli Cepat 14 M 13.Kendaraan Benam Nir Awak Tiram 14.Blast Effect Bomb: bom yang dapat berfungsi sebagai Psywar dan Bom Latih yang menimbulkan efek suara seperti Bom Tajam BIDANG TEKNOLOGI HANKAM

41 15. Senjata Peluru Karet Kaliber khusus dan munisinya. 16. Munisi Penindakan Huru-Hara (Dakhura) Kal. 38 Mm. 17. Granat Tangan Ledakan Air Mata 18. Robot Penjinak Bom BIDANG TEKNOLOGI HANKAM

42 Jenis Insentif Jumlah Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Dana (ribu Rp)‏ ∑ Peneliti an Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Riset Dasar Riset Terapan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Difusi Jumlah DISTRIBUSI INSENTIF KNRT

43

44 Jenis Insentif Jumlah Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Dana (ribu Rp)‏ ∑ Peneliti an Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Riset Dasar Riset Terapan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Difusi NA NA Jumlah DISTRIBUSI INSENTIF KNRT BIDANG KETAHANAN PANGAN

45 Jenis Insentif Jumlah Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Riset Dasar Riset Terapan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Difusi NA NA Jumlah DISTRIBUSI INSENTIF KNRT BIDANG PENCIPTAAN DAN PEMANFAATAN EBT

46 Jenis Insentif Jumlah Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Riset Dasar Riset Terapan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Difusi NA NA Jumlah DISTRIBUSI INSENTIF KNRT BIDANG TEK. DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI

47 Jenis Insentif Jumlah Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Riset Dasar Riset Terapan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Difusi NA NA Jumlah DISTRIBUSI INSENTIF KNRT BIDANG T I K

48 Jenis Insentif Jumlah Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Riset Dasar Riset Terapan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Difusi NA NA DISTRIBUSI INSENTIF KNRT BIDANG TEKNOLOGI HANKAM

49 Jenis Insentif Jumlah Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitian Dana (ribu Rp)‏ ∑ Penelitia n Riset Dasar Riset Terapan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Difusi NA NA Jumlah DISTRIBUSI INSENTIF KNRT BIDANG KESEHATAN DAN OBAT

50 TERIMA KASIH


Download ppt "Disampaikan pada FGD Forum Kerjasama Kerlitbangan se-Sumatera Palembang, 24 November 2009 EVALUASI PROGRAM RIPTEK 2005-2009 Malikuz Zahar, M.Eng. Asisten."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google