Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

“SOCIAL EXCLUSION: A CONCEPT IN NEED OF DEFINITION?” Robin Peace Kelompok 1 Andre Satriya Utama Edwin Arief Nugroho Nur Rina Maskayanti.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "“SOCIAL EXCLUSION: A CONCEPT IN NEED OF DEFINITION?” Robin Peace Kelompok 1 Andre Satriya Utama Edwin Arief Nugroho Nur Rina Maskayanti."— Transcript presentasi:

1 “SOCIAL EXCLUSION: A CONCEPT IN NEED OF DEFINITION?” Robin Peace Kelompok 1 Andre Satriya Utama Edwin Arief Nugroho Nur Rina Maskayanti

2 History of The Concept Tahun 1980 an, Robin Peace membahas istilah eksklusi sosial yang berawal dari sebuah “Poverty Programmes” di Uni Eropa. War on poverty  fight against social exclusion Di Perancis, eksklusi sosial digunakan untuk pengkategorian orang yang dikeluarkan atau diasingkan dari program asuransi sosial. Tahun 1980 an, Robin Peace membahas istilah eksklusi sosial yang berawal dari sebuah “Poverty Programmes” di Uni Eropa. War on poverty  fight against social exclusion Di Perancis, eksklusi sosial digunakan untuk pengkategorian orang yang dikeluarkan atau diasingkan dari program asuransi sosial.

3 Pada tahun 1974, Paul Lenoir mengidentifikasi 10 kategori atau kelompok yang dikeluarkan, yakni penderita cacat mental, mereka yang bunuh diri, cacat usia, anak-anak yang mengalami kekerasan, penyalah guna zat, orang tua tunggal (terutama perempuan), penjahat, mereka yang mempunyai banyak masalah rumah tangga, marginalisasi, asosial dan mereka yang tidak mampu beradaptasi.

4 Pada pertengahan tahun 1990 an istilah eksklusi banyak digunakan dalam kebijakan di Uni Eropa. Di Inggris istilah eksklusi mengalami reification, yang awalnya bersifat action berubah menjadi thing untuk me-lebeling kelompok. Pada pertengahan tahun 1990 an istilah eksklusi banyak digunakan dalam kebijakan di Uni Eropa. Di Inggris istilah eksklusi mengalami reification, yang awalnya bersifat action berubah menjadi thing untuk me-lebeling kelompok.

5 Kategori atribut eksklusi sosial dalam kebijakan: 1.Label/nama/kategori orang yang ter-eksklude 2.Nama untuk jenis eksklusi yang berbeda 3.Nama untuk identifikasi faktor penyebab eksklusi 4.Metafora untuk negara, kondisi, atau tempat 5.Penyebab struktural eksklusi 6.Nama/label untuk dampak psiko-sosial eksklusi Kategori atribut eksklusi sosial dalam kebijakan: 1.Label/nama/kategori orang yang ter-eksklude 2.Nama untuk jenis eksklusi yang berbeda 3.Nama untuk identifikasi faktor penyebab eksklusi 4.Metafora untuk negara, kondisi, atau tempat 5.Penyebab struktural eksklusi 6.Nama/label untuk dampak psiko-sosial eksklusi

6 Peace menemukan setidaknya 15 jenis eksklusi, antara lain: - social marginalisation - new poverty, democratic legal/ political exclusion, - nonmaterial disadvantage, - exclusion from the “minimal acceptable way of life”, - cultural exclusion (race and gender), - exclusion from family and the community, - exclusion from the walfare state, - long-term poverty, - exclusion from mainstream political and economic life, - poverty, state of deprivation, - detachment from work relations, - economic exclusion, - exclusion from the labour market Peace menemukan setidaknya 15 jenis eksklusi, antara lain: - social marginalisation - new poverty, democratic legal/ political exclusion, - nonmaterial disadvantage, - exclusion from the “minimal acceptable way of life”, - cultural exclusion (race and gender), - exclusion from family and the community, - exclusion from the walfare state, - long-term poverty, - exclusion from mainstream political and economic life, - poverty, state of deprivation, - detachment from work relations, - economic exclusion, - exclusion from the labour market

7 Faktor Penyebab Eksklusi Peace (1999), eksklusi mencakup kurangnya akses terhadap faktor mobilitas sosial, komunikasi, sistem sosial yang vital, perumahan, pelayanan publik, keamanan sosial, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan, dan kewarganegaraan.

8 Kurangnya pengakuan-  pandangan negatif terhadap kelompok miskin, diskriminasi sosial, ketimpangan budaya, prasangka dalam masyarakat, perumahan, label, segregasi, diskriminasi etnis, dan rendahnya partisipasi perempuan. Personal intensifier -  gaya hidup yang tidak baik, keadaan keluarga yang negatif, standar hidup rendah, kurangnya kesehatan, hutang, perdagangan narkoba, rendahnya tingkat pendidikan. Kurangnya pengakuan-  pandangan negatif terhadap kelompok miskin, diskriminasi sosial, ketimpangan budaya, prasangka dalam masyarakat, perumahan, label, segregasi, diskriminasi etnis, dan rendahnya partisipasi perempuan. Personal intensifier -  gaya hidup yang tidak baik, keadaan keluarga yang negatif, standar hidup rendah, kurangnya kesehatan, hutang, perdagangan narkoba, rendahnya tingkat pendidikan.

9 Spatial intensifiers -  isolasi sosial, isolasi geografis, keterpisahan dari keluarga dan komunitas, migrasi keluar.

10 Tiga Aspek terkait Eksklusi Metaphors of Exclusion Peace -  keadaan yang mengalami penurunan terus menerus, daerah pinggiran, kelompok minoritas, terpisah dari hubungan kerja, perangkap kemiskinan, siklus eksklusi, siklus hidup kemiskinan, jaringan yang lemah, cacat kumulatif, situasi berisiko, hidup di bawah garis kemiskinan, ruang miskin, pulau miskin, kota-kota kumuh, ghetto, zona residental ilegal, zona perumahan yang acak Metaphors of Exclusion Peace -  keadaan yang mengalami penurunan terus menerus, daerah pinggiran, kelompok minoritas, terpisah dari hubungan kerja, perangkap kemiskinan, siklus eksklusi, siklus hidup kemiskinan, jaringan yang lemah, cacat kumulatif, situasi berisiko, hidup di bawah garis kemiskinan, ruang miskin, pulau miskin, kota-kota kumuh, ghetto, zona residental ilegal, zona perumahan yang acak

11 Structural Cause Peace -  eksklusi berhubungan dengan pekerjaan, seperti pekerja anak, upah rendah, pekerja tanpa keterampilan, tidak adanya perlindungan pekerja, pekerja lansia, pengangguran jangka panjang. Phycho-Social Effects of Exclusion Peace -  hilangnya identitas, afiliasi budaya, integrasi dalam dunia kerja, tujuan, integrasi dalam hubungan sosial, depresi mental. Structural Cause Peace -  eksklusi berhubungan dengan pekerjaan, seperti pekerja anak, upah rendah, pekerja tanpa keterampilan, tidak adanya perlindungan pekerja, pekerja lansia, pengangguran jangka panjang. Phycho-Social Effects of Exclusion Peace -  hilangnya identitas, afiliasi budaya, integrasi dalam dunia kerja, tujuan, integrasi dalam hubungan sosial, depresi mental.

12 Definition of Social Exclusion Laporan “Eropean Union Poverty Pragrammes”, eksklusi dipandang secara multidimensional. Terdapat definisi eksklusi yang berbeda-beda di setiap wilayah. Democratic Dialogue (1995), eksklusi tidak hanya mengarah pada deprivasi secara materi, tetapi penolakan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Laporan “Eropean Union Poverty Pragrammes”, eksklusi dipandang secara multidimensional. Terdapat definisi eksklusi yang berbeda-beda di setiap wilayah. Democratic Dialogue (1995), eksklusi tidak hanya mengarah pada deprivasi secara materi, tetapi penolakan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

13 Di Skotlandia, eksklusi didefinisikan sebagai suatu yang kompleks dan penyebabnya saling berhubungan, sehingga dampaknya akan menyebabkan eksklusi yang lebih jauh lagi. The UK Social Exclusion Unit  lebih fokus pada individual dan eksklusi didefinisikan lebih dari pembahasan tentang kemiskinan. Permasalahan terkait pengangguran, kurangnya keterampilan, rendahnya pendapatan, kurangnya perumahan, tingginya angka kejahatan, terpecahnya ikatan dalam keluarga. Di Skotlandia, eksklusi didefinisikan sebagai suatu yang kompleks dan penyebabnya saling berhubungan, sehingga dampaknya akan menyebabkan eksklusi yang lebih jauh lagi. The UK Social Exclusion Unit  lebih fokus pada individual dan eksklusi didefinisikan lebih dari pembahasan tentang kemiskinan. Permasalahan terkait pengangguran, kurangnya keterampilan, rendahnya pendapatan, kurangnya perumahan, tingginya angka kejahatan, terpecahnya ikatan dalam keluarga.

14 European Union mengidentifikasi eksklusi ke dalam 3 bidang, yakni: Ekonomi: pengangguran, deprivasi terhadap sumber daya Sosial: hilangnya keterikatan individu dengan arus utama dalam masyarakat Politik: kategori penduduk -  perempuan, etnis, kelompok agama, migran Ekonomi: pengangguran, deprivasi terhadap sumber daya Sosial: hilangnya keterikatan individu dengan arus utama dalam masyarakat Politik: kategori penduduk -  perempuan, etnis, kelompok agama, migran

15 Laporan ILO Atribut individu -  keadaan yang tidak menguntungkan, lebih dari definisi kemiskinan yang kurang akan pendapatan atau kepemilikan materi. Properti dalam masyarakat -  perspektif institusional terkait etnis, jenis kelamin. Atribut individu -  keadaan yang tidak menguntungkan, lebih dari definisi kemiskinan yang kurang akan pendapatan atau kepemilikan materi. Properti dalam masyarakat -  perspektif institusional terkait etnis, jenis kelamin.

16 United Kingdom Eksklusi: 1.Sosial 2.Geografis Artinya, individu secara sosial tereksklud jika dia secara geografis berada dalam masyarakat, tetapi tidak berpartisipasi dalam aktivitas normal sebagai anggota dari masyarakat Eksklusi: 1.Sosial 2.Geografis Artinya, individu secara sosial tereksklud jika dia secara geografis berada dalam masyarakat, tetapi tidak berpartisipasi dalam aktivitas normal sebagai anggota dari masyarakat

17 Aktivitas normal itu mencakup: 1.Consumption activity 2.Savings activity 3.Production activity 4.Political activity 5.Social activity Aktivitas normal itu mencakup: 1.Consumption activity 2.Savings activity 3.Production activity 4.Political activity 5.Social activity

18 Janie Percy Smith -  mengidentifikasi bahwa untuk mengukur eksklusi tidak hanya memakai dimensi ekonomi, sosial, dan politik tetapi juga dimensi lingkungan, individu, spasial, dan kelompok

19 Percy Smith menggambarkan “agenda moral yang medukung pembahasan intervensi kebijakan” 1.Wacana yang beredar kuat di masyarakat terkait eksklusi sosial sebagai kerangka kebijakan yang menempatkan nilai “independence”. 2.Pengembangan inklusi sosial Percy Smith menggambarkan “agenda moral yang medukung pembahasan intervensi kebijakan” 1.Wacana yang beredar kuat di masyarakat terkait eksklusi sosial sebagai kerangka kebijakan yang menempatkan nilai “independence”. 2.Pengembangan inklusi sosial

20 Identitas Berdasarkan Politik Diskusi berdasarkan identitas politik sebagai dasar perumusan kebijakan untuk mengurangi ketimpangan Bisa menjadi problematik untuk definisi yang sempit terkait konsep eksklusi Diskusi berdasarkan identitas politik sebagai dasar perumusan kebijakan untuk mengurangi ketimpangan Bisa menjadi problematik untuk definisi yang sempit terkait konsep eksklusi

21 Kesimpulan Banyak definisi yang berbeda terkait konsep eksklusi sosial Kedua konsep “eksklusi sosial” dan “inklusi sosial” mempunyai risiko masing-masing dalam penetapan paramater normatif yang banyak mempersulit kehidupan “orang-orang pinggiran” Eklusi dan inklusi sosial merupakan penanaman untuk proses kolektif yang dapat menghambat orang untuk mengakses peluang dan sarana guna mencapai kesejahteraan dan keamaanan bagi mereka Banyak definisi yang berbeda terkait konsep eksklusi sosial Kedua konsep “eksklusi sosial” dan “inklusi sosial” mempunyai risiko masing-masing dalam penetapan paramater normatif yang banyak mempersulit kehidupan “orang-orang pinggiran” Eklusi dan inklusi sosial merupakan penanaman untuk proses kolektif yang dapat menghambat orang untuk mengakses peluang dan sarana guna mencapai kesejahteraan dan keamaanan bagi mereka


Download ppt "“SOCIAL EXCLUSION: A CONCEPT IN NEED OF DEFINITION?” Robin Peace Kelompok 1 Andre Satriya Utama Edwin Arief Nugroho Nur Rina Maskayanti."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google