Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

REVIEW. Outline Bab 3 : Aneka Respon dalam Pengukuran Psikologis Bab 4 : Tes Psikologis Bab 5 : Syarat Tes yang Baik Bab 6 : Teori Tes Klasik Bab 7 :

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "REVIEW. Outline Bab 3 : Aneka Respon dalam Pengukuran Psikologis Bab 4 : Tes Psikologis Bab 5 : Syarat Tes yang Baik Bab 6 : Teori Tes Klasik Bab 7 :"— Transcript presentasi:

1 REVIEW

2 Outline Bab 3 : Aneka Respon dalam Pengukuran Psikologis Bab 4 : Tes Psikologis Bab 5 : Syarat Tes yang Baik Bab 6 : Teori Tes Klasik Bab 7 : Reliabilitas dalam Model Tes Klasik Bab 8 : Validitas dalam Model Tes Klasik

3 Bab 3 : Aneka Respon dalam Pengukuran Psikologis A. Aneka Respon Menurut Isinya B. Aneka Reson Menurut Caranya C. Aneka Respon Menurut Taraf Pengukurannya

4 Berbagai atribut psikologis yaitu dimensi atau aspek kepribadian tertentu yang lazim menjadi objek atau sasaran pengukuran psikologis seperti kecerdasan, motivasi berprestasi dan sebagainya, bersifat abstrak dan tidak teramati secara langsung. Kant pesimis tidak mungkin mengembangkan psikologi menjadi ilmu sebab data mentahnya tidak bisa diamati dan tidak bisa diukur.

5 Respon dalam arti overt response yaitu tindakan atau perbuatan tertentu entah berupa ungkapan penilaian, ungkapan perasaan atau tingkah laku nyata lainnya terkait dengan suatu proses psikologis tertentu yang bersifat cover atau tertutup karena berlangsung dalam diri kita lazim dipandang sebagai indikator dalam arti behavioral indicators atau pencerminan atau pengungkapan dalam bentuk tindakan yang bisa diamati dan bisa diukur dari proses atau peristiwa psikologis yang bersifat tersembunyi dan abstrak itu.

6 Aneka Respon menurut Isinya Dua kategori besar fungsi psikis yang mewarnai perilaku kita adalah kognisi atau fungsi pikir dan afeksi atau fungsi rasa. Judment atau penilaian Judment atau penilaian mencakup semua jenis respon yang bisa dibedakan ke dalam kategori benar atau salah. Artinya terdapat suatu ukuran atau kriteria objektif untuk menentukan apakah suatu penilain benar atau salah. Judment atau penilaian merupakan jenis respon yang didominasi oleh fungsi kognisi atau fungsi pikir dan lazim dipakai sebagai dasar untuk melakukan pengukuran terhadap maximal performance atau kemampuan maksimal seseorang dalam memecahkan masalah.

7 Sentimen atau perasaan Sentimen atau perasaan mencakup semua jenis respon yang mencerminkan rasa suka atau tidak suka, sikap, minat, preferensi atau pilihan pribadi, nilai pribadi dan sejenisnya.

8 Aneka Respon menurut Caranya Dari segi proses psikis yang ditempuh, respon dalam pengukuran psikologis bisa dibedakan menjadi : Respon absolute atau mutlak Respon Komparatif Dari segi modalitas perilaku atau media yang dipakai dalam merespon, respon pengukuran psikologis bisa dibedakan menjadi : Respon lisan Respon tertulis Respon performance atau kinerja Respon termediasi komputer

9 Dari segi proses psikis yang ditempuh Dalam respon absolute atau mutlak, subjek dalam pengukuran psikologis memberikan respon langsung berdasarkan hasil penilaian atau perasan pribadinya tanpa bantuan berupa serangkain penilaian atau perasaan pribadinya, tanpa bantuan berupa serangkaian penilaian atau perasaan alternatif yang sudah disediakan sebagai pembanding.

10

11 Respon komparatif. Dalam respon komparatif subjek diminta menyatakan penilaian atau perasaannya dengan cara memilih salah satu dari antara beberapa alternatif respon yang telah disediakan atau berdasarkan pada suatu ukuran atau patokan sebagai pembanding. Dalam item berformat pilihan ganda subjek harus memilih salah satu dari antara dua alternatif respon yang disediakan. Dalam item berformat menjodohkan subjek harus menemukan pasangan-pasangan yang tepat dari antara serangkaian objek yang bisa dipasang- pasangkan.

12 Dari segi modalitas perilaku atau media yang dipakai dalam merespon Respon lisan Respon lisan atau verbal report atau laporan verbal secara lisan merupakan salah satu jenis respon dasar dalam arti paling sering dipakai dalam pengukuran psikologis khususnya menyangkut pengukuran penilaian atau perasaan.

13 Respon tertulis. Respon tertulis adalah juga verbal report atau laporan verbal yang diberikan dengan cara dituliskan pada lembar kerja atau lembar jawab. Respon kinerja. Kinerja subjek baik menyangkut ketepatan maupun kecepatan dalam melaksanakan rangkaian tindakan tersebut secara keseluruhan dapat diamati dan dipakai sebagai data pengukuran tentang kemampuannya menjalankan peran atau tugas sebagai sekretaris yang sedang menjadi sasaran pengukuran.

14 Respon termediasikan komputer Jenis respon ini berupa verbal tertulis atau kinerja tertentu yang dilakukan pada sebuah komputer. Penggunaan komputer termasuk yang tersambung dengan jaringan internet semakin lazim dalam pengukuran psikologis.

15 Aneka Respon menurut taraf Pengukurannya Jenis skala atau taraf pengukuran tersebut ditentukan oleh jenis operasi empiris yang mendasari peneraan atau pelekatan bilangan pada objek atau peristiwa tertentu sehingga diperoleh jenis informasi beserta teknik statistik yang cocok diterapkan pada masing- masing jenis skala.

16 Respon pada Skala Ordinal Pada jenis respon ordinal ini, baik lewat penilaian atau perasaan subjek diminta melakukan ordinal estimation yaitu menentukan posisi nilai dari sejumlah objek pada kontinum dalam rangka pengukuran atribut atau variabel tertentu secara ordinal. Metode rank order sederhana Baik lewat penilaian atau perasaan responden diminta menjenjangkan sejumlah objek terkait atribut atau variabel tertentu, mulai dari yang bernilai tertinggi sampai dengan yang bernilai terendah sehingga membentuk sebuah kontinum atau bentangan.

17 Metode pair comparisons atau pembandingan secara berpasangan Subjek diminta menetapkan posisi serangkaian objek dalam suatu kontinum atau bentangan terkait atribut tertentu dengan cara membandingkan jenjang masing-masing objek berpasangan dengan semua objek yang ada.

18 Metode constant stimuli atau pembandingan dengan stimulus tetap Subjek diminta melaporkan penilaian perasaannya terhadap masing-masing objek dibandingkan dengan sebuah stimulus baku sebagai patokan yaitu lebih atau kurang dan seberapa lebih atau kurang masing-masing objek tersebut dibandingkan dengan stimulus bakunya terkait atribut tertentu yang sedang menjadi sasaran pengukurannya.

19 Respon pada Skala Interval Ada dua metode terkenal untuk mendapatkan respon pada skala interval yaitu metode interval tampak setara (equal-appearing intervals) dan metode estimasi interval. Salah satu teknik estimasi interval yang paling terkenal adalah teknik bisection. Kepada subjek diberikan dua bola peluru besi dengan berat yang berbeda. Selanjutnya dia diminta memilih bola peluru ketiga dengan berat tepat di antara kedua bola peluru sebelumnya.

20 Respon pada Skala Rasio Dalam pemberian respon pada skala rasio pada dasarnya subjek diminta menilai besaran absolute stimuli, bisa berupa beratnya, panjangnya dan sebagainya.

21

22 Bab 4 : Tes Psikologis A. Pengertian Tes Psikologis B. Karakteristik Dasar Tes Psikologis C. Jenis Tes Psikologis D. Penggunaan Tes Psikologis

23 Pengertian Tes Psikologis Allen dan Yen (1979) mendefinisikan tes sebagai piranti, sarana atau alat untuk memperoleh satu sampel atau contoh perilaku seseorang. Friedenberg (1995) mendefinisikan tes dalam konteksnya yang lebih luas, yaitu asesmen. Asesmen merupakan setiap jenis prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang orang.

24 Bab 5 : Syarat Tes yang Baik A. Segi Desain atau Rancangan Tes - Tujuan yang jelas - Ranah Isi yang Jelas dan Baku - Prosedur Administrasi Baku - Prosedure Penskoran Baku B. Segi Psikometrik Tes - Validitas - Reliabilitas - Statistik Item

25 Tes yang baik harus memenuhi sejumlah syarat baik dari segi design atau rancangan maupun dari segi psikometriknya (Friedenberg, 1995). Pada tahap konseptual-teoritis ini terkait dengan segi design atau rancangan dengan mementingkan empat elemen penting yang juga harus dievaluasi melalui rational judgement (penilaian rasional oleh expert atau ahli) maupun oleh awam atau lay rational judgement (lazimnya berupa kelompok subjek yang akan dikenai alat tes).

26 Dalam tahap empris-statis ini terdiri dari dua gugus aktivitas utama yaitu : (1) Proses try out yang dilaksanakan pada standardization sample (sample standar) dengan yang dipentingkan di sini ialah pemeriksaan efektivitas prosedur administrasi, prosedur penskoran tes, dan pemeriksaan aspek face validity (validitas tampang). (2) Pemeriksaan syarat psikometri (meliputi item analysis) yang bertujuan untuk memeriksa ciri-ciri psikometrik secara sendiri-sendiri sebelum diperiksa secara keseluruhan secara kesatuan tes.

27 Segi design atau rancangan Tes Tujuan yang Jelas Atribut psikologi apa yang hendak diukur. Ranah yang dimaksud terdiri dari tiga kategori yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Dibedakan ke dalam dua golongan besar yaitu maximal performance tests dan typical performance tests.

28 Populasi subyek yang akan dikenai tes yaitu populasi subyek yang menjadi sasaran pengetesan. Karena sebuah tes hanya memberikan hasil yang valid bagi populasi subyek tertentu sebagaimana yang direncanakan diawal konstruksi atau penyusunannya. Perbedaan khalayak juga dapat berdampak langsung terhadap tugas yang harus digunakan sebagai item- item tes karena terkait perbedaan kemampuan subyek. Jenis skor; skor hasil tes dapat digunakan dengan berbagai cara seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya seperti norm-references scoring (penskoran beracuan norma), criterion-referenced scoring (penskoran beracuan kriteria), penskoran normatif, dan penskoran ipsatif. Jenis penggunaan skor yang direncanakan seringkali berdampak menentukan format item, taraf kesukaran item, maupun struktur tes secara keseluruhan.

29 Ranah isi yang Jelas dan Baku Content atau isi tes psikologi menunjuk pada gugusan tingkah laku, pengetahuan, keterampilan, abilitas, sikap, atau karakteristik lain yang hendak diukur oleh tes. Perumusan isi dalam konstruksi atau pengembangan tes harus didahului oleh eksplikasi konstruk yaitu identifikasi bentuk- bentuk tingkah laku, keyakinan, dan sikap spesifik yang menunjukkan maupun menyangkal keberadaan konstruk dimaksud.

30 Prosedur Administrasi Baku Prosedur administrasi merupakan aneka petunjuk dan pedoman bagi testi tentang kondisi pelaksanaan tes. Hal ini meliputi cara memberikan respon, jenis bantuan yang boleh diberikan jika testi tidak mengerti pertanyaan, cara mengoreksi atau membetulkan respon yang keliru, dan waktu pengerjaan tes. Prosedur ini dikatakan baku (standardized) jika petunjuk dan kondisi pelaksanaan tes bagi semua testi mengikuti prosedur yang telah diuraikan.

31 Prosedur Penskoran Baku Pembakuan prosedur penskoran diperlukan untuk menjamin ketepatan penskoran dan pelaporan hasil tes. Penskoran dapat dilaksanakan dengan mesin yang telah memiliki ketepatan kerja yang terjamin atau dilakukan oleh petugas yang telah sangat terlatih. Raw score atau skor kasar perlu selanjutnya ditafsirkan dengan juga memperhatikan informasi lain (berupa norma/standar, indikasi tentang kemungkinan kesalahan pengukuran serta deskripsi tentang isi tes) dan untuk menjamin ketepatan penafsiran maka semua jenis informasi tersebut perlu dibakukan dan diuraikan dengan jelas.

32 Segi Psikometrik Tes Yang dimaksud segi psikometrik tes adalah kualitas kinerja tes sebagai alat yang dimaksudkan untuk mengukur atribut psikologis tertentu, khususnya yang harus diperiksa melalui analisis terhadap respon testi terhadap item-item tes baik secara individual maupun sebagai kesatuan tes dengan menggunakan teknik statistik.

33 Validitas Validitas adalah kualitas esensial yang menunjukkan sejauh mana suatu tes sungguh- sungguh mengukur atribut psikologis yang hendak diukur.

34 Reliabilitas Reliabilitas adalah konsistensi hasil pengukuran jika prosedur pengetesan dilakukan secara berulang kali terhadap suatu populasi individu atau kelompok

35 Statistik Item Statistik item-item yang membentuk sebuah tes psikologis diperiksa melalui analisis item sesudah item-item tersebut diujicobakan pada kelompok sampel standardisasi. Tujuan analisis item adalah memilih item-item yang akan membentuk sebuah skala yang bersifat homogen dan memiliki daya diskriminasi yang baik. Cara yang paling baik untuk itu ialah memeriksa korelasi antar item-item dengan skor total serta menghitung proporsi subyek yang memilih kunci jawaban. Dengan item-item yang memiliki korelasi positif tinggi maka diperoleh sebuah tes yang homogen dan berdiskriminasi baik.

36

37 Indek kesulitan

38 Delta Ferguson

39 Perhitungan Delta Ferguson

40 Bab 6 : Teori Tes Klasik A. Model Tes Klasik B. Beberapa Asumsi

41 Teori tentang tes menyajikan sejenis kerangka umum untuk menjelaskan kaitan antara variabel- variabel yang teramati dalam praktik pengetesan, seperti skor tes dan skor item, dengan variabel- variabel yang tidak teramati seperti true scores atau skor murni dan ability score atau skor abilitas atau dalam cakupan yang lebih luas, skor atribut. Secara lebih spesifik salah satu masalah utama dalam praktik pengukuran psikologis yang harus ditangani dengan menggunakan teori tentang tes adalah measurement errors atau kesalahan pengukuran.

42 Model Tes Klasik

43 Asumsi

44

45 Contoh : Data dalam skala Likert

46 Hasil Output SPSS

47 Perhitungan Standard Error of Measurement SE = SD  ( 1 – r 2 ) = 5,89  (1- (0,838) 2 ) = 3,21.

48 Bab 7 : Reliabilitas dalam Model Tes Klasik A. Beberapa Cara Menafsirkan Reliabilitas Menurut Model Tes Klasik B. Kesimpulan Umum tentang Reliabilitas C. Aneka Sumber Unreliability menurut Model Tes Klasik D. Pemeriksaan Reliabilitas Menurut Model Tes Klasik

49 Instrumen ukur yang berkualitas baik adalah reliabel yaitu mampu menghasilkan skor yang cermat dengan eror pengukuran kecil. Reliabilitas : konsistensi hasil pengukuran jika prosedur pengetesannya dilakukan secara berulangkali terhadap suatu populasi individu atau kelompok.

50 Konsistensi internal : kesesuaian antar bagian- bagian dalam suatu tes.

51 Menafsirkan Koefisien Reliabilitas Menurut Model Tes Klasik

52

53 Kesimpulan Umum Reliabilitas

54

55

56

57 Aneka Sumber Unreliability

58

59

60 Pemeriksaan Reliabilitas

61

62 Estimasi Reliabilitas Konsistensi Internal - Metode Belah Dua  Spearman-Brown * Ganjil genap * Belah Tengah * Random * Gabungan Urutan Kesukaran dan Gasal Genap - Metode Berbasis Kovariansi Item : * Alpha Cronbach (Skala Likert) – Lihat Contoh sebelumnya * Rumus Kuder-Richardson (KR 20 & KR 21) * Metode Hoyt

63 Contoh : Gasal Genap

64 Contoh : Random

65 Histogram : Prosedur perhitungan S-B diulang 1000 kali diperoleh rata-rata 0,86

66 Contoh : Belah Tengah (Nomor Kecil – Nomor Besar)

67 KR-20

68 Perhitungan KR-20

69 KR-21

70 Perhitungan KR-21

71 Metode Anova Hoyt

72

73 Contoh : metode anova Hoyt sama nilainya dengan alpha Cronbach

74 Contoh : dengan metode anova Hoyt diperoleh sama dgn alpha Cronbach.

75 Bab 8 : Validitas dalam Model Tes Klasik A. Metode Estimasi Validitas 1. Evidensi Terkait Isi Tes 2. Evidensi Terkait Proses Respon Subjek 3. Evidensi Terkait Struktur Internal Tes 4. Evidensi Terkait Hubungan antar Tes dan Tes lain B. Hubungan antara Validitas dan Reliabilitas

76 Model : T = R + I dengan T = skor murni, R = sifat/kemampuan/atribut dalam diri testi yang relevan dengan tujuan tes, I = sifat/kemampuan/atribut dalam diri testi yang tidak relevan dengan tujuan tes.

77 Model : X = (R + I) + E X = skor tampak, R = sifat/kemampuan/atribut stabil dalam diri testi yang relevan dengan tujuan tes, I = SME dampak sifat/kemampuan/atribut stabil dalam diri tesi yang tidak relevan dengan tujuan tes, E = RME dampak aneka peristiwa yang bersifat random.

78 Validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya sekedar mampu menghasilkan data yang tepat tetapi juga dapat memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Alat ukur yang valid adalah alat ukur yang memiliki variansi error kecil sehingga hasilnya dapat dipercaya sebagai angka yang mendekati keadaan sebenarnya.

79 Evidensi Terkait Isi Tes Kesesuaian antara isi tes konstruk yang akan diukur. Konstruk dapat diartikan sebagai jenis konsep atau sifat yang hendak diukur oleh suatu alat tes.

80 Evidensi Terkait Proses Respon Subjek Didasarkan pada penilaian terhadap respon yang diberikan testi dalam mengerjakan tes. Ketika mengerjakan typical performance test -> apakah testi benar-benar menyatakan keadaan dirinya sebagai cerminan konstruk yang diukur atau sekedar memberikan jawaban sesuai norma yang berlaku di masyarakat -> observasi dan wawancara.

81 Evidensi terkait Struktur Internal Tes - Didasarkan pada penilaian item-item dalam komponen dalam tes yang saling berhubungan sesuai dengan konstruk yang diukur. Validitas tes tidak ditentukan oleh korelasi antar item melainkan oleh korelasi antar item-item tes tersebut dengan kriterianya.

82 Evidensi terkait Hubungan antara Tes dan Tes Lain -Analisis hubungan antara skor tes dan skor kriteria yang diprediksikan oleh tes yang bersangkutan. -Analisis hubungan antara skor tes dan skor tes-tes lain yang mempunyai tujuan untuk mengukur konstruk yang sama seperti yang diukur oleh tes yang bersangkutan dan analisis hubungan antara skor tes dan skor-skor tes-tes lain yang dimaksudkan untuk mengukur konstruk yang berbeda dari yang diukur oleh tes yang bersangkutan.

83 Analisis perbedaan kinerja dalam tes yang sama antara dua atau lebih kelompok testi yang diprediksikan akan berbeda antara konstruk yang diukur oleh tes dan variabel yang mendasari pembagian testi ke dalam kelompok-kelompok.

84 Evidensi terkait Konsekuensi Pengetesan Konsekuensi dampak atau akibat dari administrasi tes terhadap kinerja atau tingkah laku testi juga dimasukkan sebagai salah satu evidensi penting dalam mengevaluasi validitas pengukuran.

85 Suatu tes yang hasilnya valid pasti reliabel sebaliknya jika tes reliabel belum tentu hasilnya valid.


Download ppt "REVIEW. Outline Bab 3 : Aneka Respon dalam Pengukuran Psikologis Bab 4 : Tes Psikologis Bab 5 : Syarat Tes yang Baik Bab 6 : Teori Tes Klasik Bab 7 :"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google