Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Model Rechtsvinding yang dianut dewasa ini (Bruggink) 1. Metode Interpretasi (Interpretatiemethoden) 2. Model Penalaran (redeneerweijzen) atau konstruksi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Model Rechtsvinding yang dianut dewasa ini (Bruggink) 1. Metode Interpretasi (Interpretatiemethoden) 2. Model Penalaran (redeneerweijzen) atau konstruksi."— Transcript presentasi:

1 Model Rechtsvinding yang dianut dewasa ini (Bruggink) 1. Metode Interpretasi (Interpretatiemethoden) 2. Model Penalaran (redeneerweijzen) atau konstruksi hukum

2  Model penalaran atau konstruksi hukum terdiri atas nalar analogi dan a contrario ditambah rechtsverfijning (penghalusan hukum/penyempitan hukum)

3 INTERPRETASI (Bruggink) 1. Interpretasi bahasa 2. Historis UU 3. Sistematis 4. kemasyarakatan

4 Metode Interpretasi Hukum (Frunken, Apeldoorn, Gijssels) 1. Interpretasi Gramatikal 2. Interpretasi Sistematis 3. Interpretasi Historis 4. Interpretasi Perbandingan Hukum 5. Interpretasi Antisipasi 6. Interpretasi Teleologis

5 INTERPRETASI Sudikno Mertokusumo 1.Interpretasi Gramatikal 2.Interpretasi Sistematis atau logis 3.Interpretasi Historis 4.Interpretasi Teleologis atau Sosiologis 5.Interpretasi Komparatif 6.Interpretasi Antisipatif atau Futuristis 7.Interpretasi Restriktif 8.Interpretasi Ekstensif

6 METODE ARGUMENTASI 1. Argumentum Per Analogiam (Analogi) 2. Argumentum a Contrario ( a contrario) 3. Rechtsverfijning (Penyempitan Hukum)

7 INTERPRETASI Dalam kaitan dengan Interpretasi ada prinsip : CONTEXTUALISM, McLeod dalam bukunya : LEGAL METHOD Dalam kaitan dengan Interpretasi ada prinsip : CONTEXTUALISM, McLeod dalam bukunya : LEGAL METHOD Mc Leod mengemukakan ada 3 asas dalam Contextualism : Mc Leod mengemukakan ada 3 asas dalam Contextualism : 1. Asas Noscitur a Sociis 2. Asas Ejusdem Generis 3. Asas Expressio Unius Exclusio Alterius

8 Asas Noscitur a Sociis Suatu hal diketahui dari associatednya. Artinya suatu kata harus diartikan dalam rangkaiannya

9 Asas Ejusdem Generis Sesuai genusnya : artinya satu kata dibatasi makna secara khusus dalam kelompoknya Contoh : Konsep Hukum Administrasi belum tentu sama maknanya dalam Hukum Perdata atau Pidana Misal : Konsep rechtmatigheid

10 Asas Expressio Unius Exclusio Alterius Artinya : kalau satu konsep digunakan untuk satu hal, berarti tidak berlaku untuk hal lain. Contoh : kalau konsep rechtmatigheid sudah digunakan dalam Hk TUN maka konsep yang sama belum tentu berlaku untuk kalangan hukum perdata atau hukum pidana

11 INTERPRETASI/PENAFSIRAN Merupakan salah satu metode penemuan hukum yg memberi penjelasan yg gamblang mengenai teks UU agar ruang lingkup kaidah/norma dapat ditetapkan sehubungan dengan peristiwa tertentu

12 INTERPRETASI GRAMATIKAL Merupakan cara penafsiran atau penjelasan yang paling sederhana untuk mengetahui makna ketentuan UU, dg mengurakannya menurut bahasa, susun kata atau bunyinya Contoh : Pasal 432 dipercayakan=diserahkan; Pasal 372 : menggelapkan=menghilangkan

13 INTERPRETASI TELEOLOGIS atau SOSIOLOGIS Penafsiran terhadap maksud maupun tujuan UU yg dikaitkan dengan realitas sosial yg sedang dihadapi, yaitu realitas berdasarkan konteksnya Penafsiran terhadap maksud maupun tujuan UU yg dikaitkan dengan realitas sosial yg sedang dihadapi, yaitu realitas berdasarkan konteksnya Mengaitkan antara aspek normatif (maksud pembuat UU) dg realitas yg ada di masyarakat. Mengaitkan antara aspek normatif (maksud pembuat UU) dg realitas yg ada di masyarakat. Contoh : penyadapan & penggunaan tenaga(aliran) listrik—termasuk pencurian (Pasal 362 KUHP) ? Contoh : penyadapan & penggunaan tenaga(aliran) listrik—termasuk pencurian (Pasal 362 KUHP) ? Pada waktu UU dibuat belum tergambarkan adanya kemungkinan pencurian listrik Pada waktu UU dibuat belum tergambarkan adanya kemungkinan pencurian listrik

14 INTERPRETASI SISTEMATIS Penafsiran yang dilakukan dg cara menghubung- hubungkan suatu ketentuan atau aturan-aturan dg aturan yg lain, baik aturan-aturan yg dikaitkan itu berada dalam UU yg sama/tidak dg maksud memperoleh pemahaman yg utuh Penafsiran yang dilakukan dg cara menghubung- hubungkan suatu ketentuan atau aturan-aturan dg aturan yg lain, baik aturan-aturan yg dikaitkan itu berada dalam UU yg sama/tidak dg maksud memperoleh pemahaman yg utuh Contoh : UU No. 1 tahun 1974 tdk dapat digunakan sbg rujukan jk terjadi perkara perkawinan jika tidak dikaitkan dg peraturan pelaksana lainnya. Contoh : UU No. 1 tahun 1974 tdk dapat digunakan sbg rujukan jk terjadi perkara perkawinan jika tidak dikaitkan dg peraturan pelaksana lainnya.

15 INTERPRETASI HISTORIS Penafsiran makna UU menurut terjadinya, dg cara meneliti sejarah terjadinya (proses lahirnya UU ybs) Penafsiran makna UU menurut terjadinya, dg cara meneliti sejarah terjadinya (proses lahirnya UU ybs) Ada 2 macam interpretasi Historis : Ada 2 macam interpretasi Historis : 1. Interpretasi menurut sejarah UU  Menafsirkan peraturan tertentu didasarkan pd maksud atau tujuan pembentuk UU tsb.  Dg meneliti hasil pembicaraan dan dokumen di DPR yg mendahului terciptanya peraturan tertentu

16 2. Interpretasi menurut sejarah hukum  Metode interpretasi yg hendak memahami Uu dalam konteks seluruh sejarah hukum  Menafsirkan ketentuan dalam BW, perlu diteliti sejarah lahirnya BW, Code Civil 1804 sampai ke Hukum Romawi

17 Memahami UUJN, harus dipahami sejarah perumusan pasal-pasal dan perlu memahami usulan-usulan dari organisasi- organisasi terkait pada saat pembentukan sehingga dapat memahami secara komprehensif Memahami UUJN, harus dipahami sejarah perumusan pasal-pasal dan perlu memahami usulan-usulan dari organisasi- organisasi terkait pada saat pembentukan sehingga dapat memahami secara komprehensif Pasal 35 (1) UUJN ……..wajib memberitahukan ke pengawas daerah --- ketentuan ini bersifat imperatif tapi tidak ada sanksinya ? Pasal 35 (1) UUJN ……..wajib memberitahukan ke pengawas daerah --- ketentuan ini bersifat imperatif tapi tidak ada sanksinya ?

18 INTERPRETASI KOMPARATIF Penafsiran berdasarkan perbandingan hukum. Dengan memperbandingkan hendak dicari kejelasan tentang ketentuan UU Penafsiran berdasarkan perbandingan hukum. Dengan memperbandingkan hendak dicari kejelasan tentang ketentuan UU Caranya : dg mencari titik temu pada penyelesaian yg dikemukakan di pelbagai negara – perjanjian Internasional Caranya : dg mencari titik temu pada penyelesaian yg dikemukakan di pelbagai negara – perjanjian Internasional

19 INTERPRETASI ANTISIPATIF/FUTURISTIS Mencari pemecahan suatu kasus dalam peraturan-peraturan yg belum mempunyai kekuatan berlaku, yaitu dalam rancangan UU Mencari pemecahan suatu kasus dalam peraturan-peraturan yg belum mempunyai kekuatan berlaku, yaitu dalam rancangan UU Putusan mengenai pencurian aliran listrik, HR 23 Mei 1921, memutuskan bahwa aliran listrik termasuk barang yg dapat dicuri, sdh direncanakan suatu UU yg menyatakan perbuatan itu diancam dg pidana Putusan mengenai pencurian aliran listrik, HR 23 Mei 1921, memutuskan bahwa aliran listrik termasuk barang yg dapat dicuri, sdh direncanakan suatu UU yg menyatakan perbuatan itu diancam dg pidana

20 INTERPRETASI OTENTIK  Interpretasi otentik bukanlah metode penemuan hukum oleh hakim melainkan merupakan penafsiran oleh pembentuk UU yg dimuat dalam UU

21 INTERPRETASI RESTRIKTIF Metode penafsiran dengan mempersempit arti suatu aturan hukum dg bertitik tolak pada artinya menurut bahasa Metode penafsiran dengan mempersempit arti suatu aturan hukum dg bertitik tolak pada artinya menurut bahasa GR Perdata (Pasal 1365 BW : GR materiil dan materiil GR Perdata (Pasal 1365 BW : GR materiil dan materiil GR Pidana (Pasal 95 – 98) UU No. 8/1981 ttg KUHAP : GR materiil saja GR Pidana (Pasal 95 – 98) UU No. 8/1981 ttg KUHAP : GR materiil saja

22 INTERPRETASI EKSTENSIF Metode penafsiran dg memperluas arti suatu aturan hukum dengan bertitik tolak pada artinya menurut bahasa Metode penafsiran dg memperluas arti suatu aturan hukum dengan bertitik tolak pada artinya menurut bahasa Penafsiran secara luas arti kata-kata yg terdapat dalam rumusan UU, arti atau makananya diperluas sedemikian rupa shg dpt menjangkau dinamika masyarakat. Penafsiran secara luas arti kata-kata yg terdapat dalam rumusan UU, arti atau makananya diperluas sedemikian rupa shg dpt menjangkau dinamika masyarakat.

23 Contoh : Arrest Hogr Raad 23 Mei 1921 : Electrische Arrest ( Pasal 362 WvS : benda ditafsirkan secara luas meliputi benda berwujud dan tidak berwujud) Arrest Hogr Raad 23 Mei 1921 : Electrische Arrest ( Pasal 362 WvS : benda ditafsirkan secara luas meliputi benda berwujud dan tidak berwujud) Putusan Mahmilti III Sby tgl. 4 Mei 1987 (Pasal 378 KUHP : Pengertian benda diperluas termasuk organ kelamin wanita) – dibatalkan di tk kasasi – merendahkan martabat wanita lalu bagaimana penyelesaian kasus di tsb ? Putusan Mahmilti III Sby tgl. 4 Mei 1987 (Pasal 378 KUHP : Pengertian benda diperluas termasuk organ kelamin wanita) – dibatalkan di tk kasasi – merendahkan martabat wanita lalu bagaimana penyelesaian kasus di tsb ?

24 Metode interpretasi mana yg tepat untuk diterapkan ketika menyelesaikan kasus ? UU tidak memberi petunjuk bagaimana menafsirkan. UU tidak memberi petunjuk bagaimana menafsirkan. Dalam penemuan hukum tidak ada prioritas pada salah satu metode interpretasi

25 Menafsirkan bukan merupakan kegiatan yg rasional logis. Dalam menggunakan pelbagai metode interpretasi hasilnya dapat berbeda. Hakim harus mengambil pilihan. Ia mempunyai kebebasan menafsirkan, semuanya bergantung pada pandangan dan penilaian pribadi hakim Motivasi pemilihan metode interpretasi mana tidak pernah dijumpai dalam Yurisprudensi

26 Metode-metode interpretasi itu sering digunakan secara bersama-sama atau campur aduk, sehingga batasannya tidak dapat ditarik secara tajam Dapat dikatakan bahwa tiap interpretasi terdapat unsur-unsur gramatikal, sistematis, historis dan teleologis

27 MODEL PENALARAN (REDENEERWEIJZEN) ATAU KONSTRUKSI HUKUM MODEL PENALARAN (REDENEERWEIJZEN) ATAU KONSTRUKSI HUKUM Model penalaran atau konstruksi hukum terdiri atas nalar analogi dan a contrario ditambah rechtsverfijning (penghalusan hukum/penyempitan hukum) Model penalaran atau konstruksi hukum terdiri atas nalar analogi dan a contrario ditambah rechtsverfijning (penghalusan hukum/penyempitan hukum)

28 ARGUMENTUM PER ANALOGIAM (analogi) Peristiwa yg serupa, sejenis atau mirip dengan yg diatur dalam UU diperlakukan sama Peristiwa yg serupa, sejenis atau mirip dengan yg diatur dalam UU diperlakukan sama Menggali asas yg ada dalam peraturan khusus, menerapkannya ke dalam peristiwa yg khusus Menggali asas yg ada dalam peraturan khusus, menerapkannya ke dalam peristiwa yg khusus 1576 BW 1576 BW

29 ARGUMENTUM A CONTRARIO Suau peristiwa tidak secara khusus diatur oleh UU, tapi kebalikan dari peristiwa tersebut diatur oleh UUCara menemukan hukumnya adalah dengan pertimbangan bahwa apabila UU menetapkan hal-hal tertentu mk peraturan itu terbatas pada peristiwa tertentu itu dan untuk peristiwa diluarnya berlaku kebalikannya Suau peristiwa tidak secara khusus diatur oleh UU, tapi kebalikan dari peristiwa tersebut diatur oleh UUCara menemukan hukumnya adalah dengan pertimbangan bahwa apabila UU menetapkan hal-hal tertentu mk peraturan itu terbatas pada peristiwa tertentu itu dan untuk peristiwa diluarnya berlaku kebalikannya Cara penafsiran atau penjelasan UU yg didasarkan pd pengertian sebaliknya dari peristiwa konkrit yg dihadapi dg peristiwa yg diatur dalam UU Cara penafsiran atau penjelasan UU yg didasarkan pd pengertian sebaliknya dari peristiwa konkrit yg dihadapi dg peristiwa yg diatur dalam UU

30 Pasal 39 PP No. 9/1975 : bagi janda yg hendak kawin lagi harus menunggu masa iddah Pasal 39 PP No. 9/1975 : bagi janda yg hendak kawin lagi harus menunggu masa iddah Bagaimana dengan duda ? Bagaimana dengan duda ?

31 RECHTSVERFIJNING

32 Perbedaan antara Analogi dan Penafsiran ekstensif Analogi titik tolaknya adalah case Analogi titik tolaknya adalah case Interpretasi Ekstensif titik tolaknya adalah UU, terminologi UU ditafsirkan luas Interpretasi Ekstensif titik tolaknya adalah UU, terminologi UU ditafsirkan luas

33


Download ppt "Model Rechtsvinding yang dianut dewasa ini (Bruggink) 1. Metode Interpretasi (Interpretatiemethoden) 2. Model Penalaran (redeneerweijzen) atau konstruksi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google