Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Hartanto, S.I.P, M.A. Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Hartanto, S.I.P, M.A. Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta."— Transcript presentasi:

1 Hartanto, S.I.P, M.A. Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta

2

3  Dalam berpikir manusia menggunakan Bahasa.  Bahasa: Sistem komunikasi yang terdiri dari simbol- simbol dan serangkaian aturan yang memungkinkan berbagai pengkombinasian simbol-simbol itu.  Konsep: salah satu simbol yang paling penting dalam bahasa.  Konsep: abstraksi yang mewakili suatu obyek, atau suatu fenomena tertentu. Contoh: Konsep Kewenangan, Konsep Legitimasi.  Konsep: sebuah kata yang melambangkan suatu gagasan.

4  Konsep dalam Ilmu Sosial menunjuk pada sifat-sifat obyek yang dipelajarinya ( Orang, kelompok, negara, organisasi internasional)  Contoh: Konsep Negara. Didalam konsep negara kita bisa melihat sifat-sifatnya antara lain: Bentuk, Ideologi, Politik Luar Negeri)

5  Konsep berfungsi sangat penting dalam kegiatan pemikiran dan komunikasi hasil pemikiran.  Memperkenalkan suatu sudut pandang.  Sarana untuk mengorganisasikan gagasan, persepsi, dan simbol yaitu dalam bentuk klasifikasi dan generalisasi.  Menjadi batu-bata bagi bangunan yang disebut teori.

6  Konsep yang dipahami secara sama oleh berbagai ilmuwan memungkinkan terjadinya komunikasi diantara mereka.  Konsep secara aktual tidak terwujud sebagai fenomena empiris.  Konsep adalah simbol dari fenomena, bukan fenomena itu sendiri.  Contoh: Konsep kekuasaan, tidak terwujud secara empiris. Kekuasaan merupakan abstraksi fenomena.

7  Konsep berfungsi memperkenalkan suatu cara mengamati fenomena empiris.  Konsep memungkinkan seorang ilmuwan mengangkat pengalaman pribadinya ke tingkat makna yang disepakati bersama.  Konsep memungkinkan ilmuwan melakukan interaksi dengan lingkungan dengan cara memberi definisi pada konsep, dan menggunakan konsep sesuai definisi.  Konsep memungkinkan ilmuwan memberikan kualitas yang sama pada suatu kenyataan.

8  Generalisasi adalah mengurangi jumlah obyek dengan memandang beberapa diantara obyek itu sebagai identik.  Konsep tidak bisa menjadi simbol yang sempurna bagi suatu fenomena.  Konsep bersifat menyederhanakan.

9  Memilah hasil pengamatan berdasarkan satu atau lebih ciri-ciri yang sama.  Mengabstraksi atau menggeneralisasi ciri- ciri sama tersebut.  Menerapkan satu kata atau kalimat pendek pada hasil pengamatan/membuat nama yang cocok untuk ciri-ciri yang sama tadi.  Konspetualisasi melibatkan proses kategorisasi, klasifikasi dan pemberian nama pada suatu obyek.

10  Teori berkaitan dengan penjelasan dan prediksi. Penjelasan dan teori didalamnya terdapat konsep-konsep.  Konsep merupakan unsur paling penting dalam teori karena konsep menentukan bentuk dan isi teori.  Contoh: konsep power menjadi dasar bagi teori “balance of power” morgenthau.

11  Kejelasan dan ketepatan dalam penggunaan konsep didapat melalui definisi (definition)  Definisi (definition): an explanation of the exact meaning of a word or phrase.  Definisi dibagi menjadi dua: definisi konsep dan definisi operasional.  Definisi konsep adalah definisi yang menggambarkan konsep dengan menggunakan konsep lain.  Definisi operasional adalah serangkaian prosedur yang menjelaskan kegiatan yang harus dilakukan jika kita hendak mengetahui eksistensi empiris atau derajat empiris suatu konsep.

12  Berdasarkan tingkat analisa: Individual dan Kelompok.  Berdasarkan tingkat pengukuran: Klasifikasi, Komparatif, Kuantitatif.  Berdasarkan tingkat Abstraksi: Indikator, Variabel, Construct.  Peranan teoritis: Independen, Dependen, Extraneous.

13  Konsep Individual: konsep yang merujuk pada karakteristik individu. Contoh: Khadafi bersifat Otoriter. Disini suatu atribut “otoriter” dilekatkan pada Individu (Khadafi). Karena atribut dikenakan pada seseorang, maka kosep “otoriter” disebut konsep individual.  Konsep kelompok: konsep yang merujuk pada karakteristik kelompok (serangkaian unsur yang berkaitan secara sistematis). Contoh: Koalisi di DPR bersifat adhesif. Disini atribut “ke-adhesif- an” dilekatkan pada satu kelompok (Koalisi di DPR). Karena merupakan atribut kelompok maka “ke-adhesif-an disebut konsep kelompok.

14  Pertama, konsep individual umumnya tidak bisa dikaitkan dengan konsep kelompok dalam suatu proposisi yang sama. Contoh: “Khadafi bersifat kohesif”  Kedua, atribut yang dilekatkan pada kelompok tidak bisa dijadikan kesimpulan untuk setiap individu dalam kelompok. Contoh: Disuatu negara X 95% penduduknya miskin. A adalah warga negara X. Jadi A miskin.

15  Konsep klasifikatori. Merupakan basis bagi klasifikasi, yaitu kegiatan menempatkan fenomena politik kedalam kelas-kelas atau kategori-kategori. Contoh: Konsep Wilayah, membagi negara menjadi “Utara” atau “Selatan”.  Konsep komparatif. Memperbandingkan dan meletakkan fenomena dalam urut-urutan. Contoh: Konsep Negara Demokrasi, bisa dibandingkan kedalam negara sangat demokratis, demokratis, kurang demokratis.  Konsep kuantitatif. Menyebutkan derajat atau kadar adanya atribut itu. Contoh: Australia lebih kuat daripada Indonesia. Australia sekian derajat lebih kuat daripada Indonesia.

16  Indikator: label untuk atribut yang secara langsung bisa diamati dan memiliki nilai yang bervariasi.  Variabel: label untuk atribut yang bisa diamati secara kurang-lebih langsung dan memuat nilai yang bervariasi.  Construct (konsep): label bagi atribut yang hanya bisa diamati secara tidak langsung.

17  Dependen, konsep yang hendak dijelaskan dan diramalkan kejadiannya dan yang terjadi sebagai akibat dari variabel lain.  Independen, konsep yang dipakai untuk menjelaskan dan meramalkan konsep lain dan yang terjadi sebelum terjadinya variabel dependen.  Extraneous, konsep-konsep selain variabel independen yang mungkin mempengaruhi hubungan antar variabel independen dan dependen, dan yang terjadi mendahului.

18  Konsep sering digunakan secara gabungan.  Tipologi: ketika suatu istilah menunjuk pada istilah-istilah lain yang komplementer. Contoh: Liberal, tipologinya adalah orang yang menyukai intervensi pemerintah yang besar dalam sektor swasta bisa mendorong pendefinisian orang konservatif yang menentang intervensi pemerintah dalam sektor swasta.  Konsep bisa dikembangkan dengan membentuk tipologi.

19

20  Teori berasal dari Bahasa Yunani yang artinya “melihat” atau “memperhatikan”.  Teori adalah suatu pandangan atau persepsi tentang apa yang terjadi.  Berteori adalah “pekerjaan menonton” yaitu pekerjaan mendeskripsikan apa yang terjadi, menjelaskan mengapa itu terjadi dan mungkin juga meramalkan kemungkinan berulangnya kejadian dimasa depan.

21  Berdasarkan ruang lingkup: Teori Mikro dan Teori Makro.  Berdasarkan jangkauan: middle-range atau grand theory.  Berdasarkan tingkat-tingkatnya, (klasifikasi, kerangka konseptual, sistem teoretis).  Berdasarkan struktur internal (teori aksiomatis, teori berangkai).

22  Middle range theory, teori yang berjangkauan menengah. Lebih banyak digunakan dalam pembuatan kebijakan karena lebih banyak ketepatan deskriptif. Contoh: teori ketergantungan.  Grand Theory, teori yang berjangkauan universal. Lebih banyak penyederhanaan sebuah fenomena sehingga sulit menjelaskan fenomena yang kompleks.

23  Klasifikasi, sistem kategori yang dibangun untuk mengorganisasikan hasil pengamatan sehingga hubungan antar kategori bisa dideskripsikan.  Kerangka konseptual, proposisi yang setingkat lebih tinggi dari klasifikasi. Konsep-konsep deskriptif saling dikaitkan dalam urutan yang sistematik, dan masing-masing mempengaruhi fungsi masing-masing.  Sistem teoretis, kombinasi antara sistem klasifikasi dengan kerangka konseptual, tetapi disini deskripsi, eksplanasi dan prediksi dikombinasikan dengan sistematik.

24  Teori aksiomatis, generalisasi yang dihubungkan secara deduktif atau hierarkis. Jarang ada dalam ilmu sosial.  Teori berangkai, teori yang tidak mensyaratkan adanya hubungan logis formal atau deduktif diantara generalisasi atau pernyataan yang ada didalamnya. Teori ini memperoleh nama demikian karena memang berbentuk rangkaian pernyataan- pernyataan dalam suatu argumen yang tidak harus bersifat deduktif.

25  Range (Jangkauan), Jangkauan dan Ruang Lingkup teori.  Kemampuan membuat prediksi yang berhasil.  Explanatory power (Daya Eksplanasi). Parsimoni, kemampuan untuk mengatakan sebanyak mungkin dengan sedikit mungkin kata. Prinsip kesederhanaan. Teori yang baik adalah teori yang bisa menjelaskan sesuatu sesederhana mungkin. Daya Eksplanasi, kemampuan menjelaskan perilaku dengan sedikit anomali. Teori yang baik adalah teori yang kuat daya eksplanasinya dengan sedikit anomali dan banyak bukti empiris.

26


Download ppt "Hartanto, S.I.P, M.A. Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google