Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN MASA KOLONIAL BELANDA Anggota Kelompok 7: Aris Dwi Cahyo Edriyanto Ervina Sarah M. Galuh Joko N. Imroatun Khassanah.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN MASA KOLONIAL BELANDA Anggota Kelompok 7: Aris Dwi Cahyo Edriyanto Ervina Sarah M. Galuh Joko N. Imroatun Khassanah."— Transcript presentasi:

1 PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN MASA KOLONIAL BELANDA Anggota Kelompok 7: Aris Dwi Cahyo Edriyanto Ervina Sarah M. Galuh Joko N. Imroatun Khassanah

2 A. Pengaruh Belanda di Indonesia  Di Indonesia, budaya Barat disebar seiring kekuasaan kolonial.  Bangsa Barat utama yang pengaruhnya cukup membekas adalah Portugis dan Belanda.  Bernard H.M. Vlekke membagi pengaruh Belanda di nusantara ke dalam tiga bagian. 1. Pertama, di Sumatera dan Kalimantan pengaruh orang Eropa hampir tidak punya dampak pada kehidupan pribumi. 2. Kedua, pengaruh di bagian timur kuat tetapi opresif.

3 3. Ketiga, di Jawa di mana Belanda mampu mencengkeram hingga pedalaman dan menimbulkan perubahan struktur sosial serta ekonomi orang Indonesia.  Kebudayaan campuran antara budaya Belanda dengan Pribumi sering disebut dengan kebudayaan Indis.  Kebudayaan Indis terutama berkembang di pulau Jawa antara abad ke-18 hingga 19.

4 b. Sistem Pendidikan Indonesia Masa Kolonial Belanda  Sekolah, sebagai basis proses pendidikan formal Indonesia saat ini, merupakan wujud nyata membekasnya pengaruh Belanda.  Peserta didik dibagi ke dalam lokal-lokal menurut rombongan belajar, di setiap kelas peserta didik duduk dalam beberapa banjar menghadap ke depan, dan guru berdiri di muka kelas selaku narasumber utama belajar.  Ciri umum sistem pendidikan Belanda adalah pembagian jenjang pendidikan berdasarkan tahun.

5  Sistem pendidikan barat di Indonesia lebih serius digarap Belanda sejak abad ke-18 dan semakin tegas tatkala Politik Etis diberlakukan tahun 1911 lewat tokoh liberalnya, Van Deventer.  Sebelum Politik Etis, tujuan pembentukan sistem pendidikan Belanda bagi orang Indonesia sekadar untuk menyediakan tenaga ahli yang murah untuk mengerjakan administrasi kolonial.

6 Perkembangan Arsitektur Hindia Belanda abad ke-19 sampai abad 20  Bentuk Arsitektur Kolonial  Rumah, Landhuis Pada awalnya orang Eropa membangun rumah seperti di Eropa cirinya dinding bata dan beratap genteng. Berbeda dengan bentuk rumah pribumi, beratap ijuk dsb dan berdinding papan kayu atau bilik bambu. Rumah tipe Eropa, tidak memiliki halaman, lebarnya sempit memanjang kebelakang, tiap ruangan dihubungkan oleh lorong. Landhuis, tipe rumah gaya baru ‘indisch’, memiliki serambi beratap rendah

7  Benteng Bentuk benteng pada umumnya dinding tinggi dan tebal yang mengelilingi sebuah area (persegi, lingkaran dsb) Fungsinya pertahanan, didalamnya terdapat barak, Arsenal, Penjara, kantor militer. Kehadiran benteng disebuah wilayah menandakan ancaman atau wilayah yang rentan Sehingga perlu penjagaan ekstra.

8  Tempat Peribadatan (Gereja) Semakin banyak etnis Eropa menimbulkan kebutuhan tempat peribadatan, dan kegiatan para misionaris mengenalkan agama kristen protestan. Gereja memiliki gaya khas kolonial, beratap lancip atau kubah, ada yang berpilar tinggi dan bertangga lebar. Letak gereja berada ditengah kota dekat pusat kegiatan orang Eropa.

9  Gedung Pemerintahan dan Fasilitas Umum Gedung-gedung pemerintahan dibangun megah dan lebih menonjol daripada bangunan disekitarnya, dengan gaya khas kolonial. Contohnya adalah Gedung Sate, Istana Negara, Kantor Resident.  Berbagai macam Fasilitas dibangun untuk kenyamanan penghuni kota, kota-kota pada abad ke-20 dapat dicirikan dengan adanya: 1) Pengembangan wilayah secara rasial, 2) Gedung institusi, societiet, tempat ibadah. Diluar kota adalah wilayah tempat bermukim pribumi Kampung dengan fasilitas yang buruk.

10 Pengaruh Kebudayaan Kolonial Belanda Pada Musik Indonesia  Masa kolonial membawa pengaruh besar kedalam seni musik Indonesia dimulai dengan masuknya bangsa Eropa ke Indonesia yaitu dari Portugis, Inggris, lalu disusul oleh Belanda  Para musisi Indonesia menciptakan perpaduan musik barat dan musik Indonesia yang dikenal dengan musik keroncong  Saat itu, lagu keroncong yang paling popular adalah lagu Bengawan Solo ciptaaan Gesang Martohartono yang ditulis pada tahun 1940 bersamaan ketika tentara Jepang menguasai pulau Jawa pada Perang Dunia ke II  Orang Eropa juga membawa sistem solmisasi dalam berbagai karya lagu dan bangsa Eropa juga memiliki peranan dalam memperkenalkan tangga nada diatonis dan sistem penulisan notasi yang saat ini di gunakan oleh hampir seluruh musisi di Indonesia

11  Sistem nada diatonik, yang pada awalnya dibakukan di Eropa sebagai semacam musik universal, cepat diadopsi secara luas pula di wilayah dari satuan pemerintahan kolonial yang dahulu disebut Nederlandsch Indie  Sistem nada ini diperkenalkan melalui sistem persekolahan modern yang diperkenalkan oleh orang Belanda, serta juga melalui proses penyebaran agama Nasrani, baik Katolik maupun Protestan dalam peribadatan agama Nasrani terdapat nyayian Gereja dengan sistem diatonik  Di sekolah-sekolahpun pelajaran menyanyi masuk ke dalam kurikulum, dan isinya adalah menyanyi dengan sistem nada diatonik  Bersama dengan sistem nada diatonik diperkenalkan pula instrument music dari Eropa seperti biola, piano, gitar, dan sebagainya  Musik klasik dan musik popular Barat sama-sama mendapat sambutan luas oleh penduduk asli Indonesia, terutama yang hidup di kota-kota  Selanjutnya, penguasaan akan media ekspresi musikal Barat ini dugunakan secara kreatif untuk menciptakan gaya-gaya musik popular yang khas Indonesia yaitu Keroncong dan Dangdut

12 Adat Istiadat yang Berkembang di Indonesia Pada Masa kolonial Hindia Belanda Adat istiadat adalah tata kelakuan yang turun temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan yang mempengaruhi pola perilaku masyarakat. Adat istiadat bercorak barat cukup memberi pengaruh terhadap masyarakat Indonesia pada masa Kolonial.

13  Iklan pertama kali diperkenalkan di Hindia Belanda oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Hindia Belanda tahun  Tahun dasawarsa tiga puluhan merupakan era keemasan dan kejayaan periklanan di Indonesia era penjajahan.  Iklan yang beredar waktu itu : iklan rokok, minuman, susu, obat-obatan, tembakau, pasta gigi, sabun, radio, lampu, sepeda sampai mobil dan perjalaan wisata.

14  Iklan-iklan yang bermunculan dibarengi dengan mulai berdirinya biro iklan.  Pengaruh perubahan barat, yakni gaya art noveau atau art deco mulai tampak.  Art Deco adalah gayanya yang khas dalam menciptakan kreasinya yang merupakan sebuah gerakan desain yang populer dari 1920 hingga  Resesi ekonomi yang terjadi pada tahun 1890 mengakibatkan perusahaan periklanan Belanda mengalami kemunduran.  Perintis periklanan kelompok etnis Cina ini adalah Yap Goan Ho, yang memiliki perusahaan iklan sendiri di Batavia yang diberi nama menurut namanya sendiri.

15 Orang pribumi yang mengelola perusahaan periklanan: 1) Raden Goenawan. Perusahaan ini adalah bagian dari perusahaan NV Medan Prijaji yang berdiri 1906 dan bergerak dalam bidang percetakan dan surat kabar. 2) Tjokroamidjojo, pemimpin perusahaan NV Handel Maatschappij dan Drukkerij “Serikat Dagang Islam”, yang menerbitka surat kabar Sinar Djawa. 3) M. Sastrositojo (pemimpin NV Medan Moeslimin yang terutama mengiklankan buku). 4) Abdoel Moeis (pemimpin NV Neratja yang terutama mengiklankan pabrik gula).

16  Pada 1930 terjadi depresi di bidang ekonomi, perusahaan iklan, mengalami dampak serius.  Di saat itu muncullah Lim Kha Tong yang menjadi pelopor kebangkitan perusahaan periklanan.  Setelah itu muncul beberapa tokoh seperti : 1) S. Soemodihardjo, yang memimpin perusahaan periklanan Economic Blad, 2) Hendromartono pemilik dan pengelola perusahaan periklanan Mardi Hoetomo di Semarang.  Kendati dunia bisnis belum berkembang baik di zaman penjajahan, iklan dibuat tidak hanya dalam rangka menjual produk seperti sabun atau obat, tetapi juga dalam rangka menjual lukisan.  Sementara itu teknik pembuatan iklan masih sederhana, tipografi masih terbatas sehingga seniman atau pelukis harus mereka-reka huruf alternatif untuk menyertai gambar yang dibuat dan teks iklan yang telah disiapkan oleh pembuat teks.

17 Ciri-ciri adat istiadat Barat yang mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia  Tata cara bergaul antara anggota masyarakat  Model berpakaian ala Barat  Gaya perkawinan bangsa-bangsa Eropa umumnya glamour  Adanya pemberian gelar kebangsawanan untuk membedakan status  Munculnya paham rasionalisme, yakni paham yang meyakini bahwa kebenaran sesungguhnya berasal dari pikiran dan akal manusia  Munculnya sifat disiplin


Download ppt "PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN MASA KOLONIAL BELANDA Anggota Kelompok 7: Aris Dwi Cahyo Edriyanto Ervina Sarah M. Galuh Joko N. Imroatun Khassanah."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google