AMAR, IMPLIKASI, DAN SOLUSI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 11-14-21-126-136/PUU-VII/2009 Dibacakan: 31 Maret 2010 Kementerian Pendidikan Nasional April.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM)
Advertisements

Oleh: Drs. H. Tjuk Subchan Sulchan (Ketua ABP-PTSI Jawa Tengah)
SOP PPID DAN LAYANAN INFORMASI PUBLIK
PEDOMAN SERTIFIKASI PENDIDIK UNTUK DOSEN
KEBIJAKAN BEBAN KERJA DOSEN
SINKRONISASI REGULASI : MENYUKSESKAN TRANSFORMASI BPJS 1 JANUARI 2014
UJI MATERI UU 12/2012 OTONOMI DAN PTNBH KONSTITUSIONAL.
PROGRAM LEGISLASI DAERAH KABUPATEN GRESIK TAHUN 2011
Susunan dan Kekuasaan Badan Peradilan Umum dan Khusus
Gedung Nusantara I Lantai I Jl. Gatot Subroto, Senayan
DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS IDENTIFIKASI MASALAH PENDIDIKAN DALAM RANGKA PENYEMPURNAAN DAN PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN BIDANG PENDIDIKAN KEMENTERIAN.
MENURUT HUKUM INDONESIA
24/07/2013 PROSES PENYUSUNAN PROLEGNAS PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 92/PUU-X/2012 Oleh: Dr. Wicipto Setiadi , S.H., M.H. Kepala Badan Pembinaan.
PENGATURAN LABEL PRODUK PANGAN DAN NON PANGAN DALAM RANGKA PENGUATAN PASAR DOMESTIK dr. Bayu khrisnamurti wakil menteri KEMENTERIAN PERDAGANGAN RI 11.
TENTANG PENYELESAIAN TAGIHAN ATAS BEBAN APBN PADA SATUAN KERJA
mekanisme ijin pendirian dan perubahan perguruan tinggi
TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013
Jakarta, 15 Mei 2012 Kastrat FKG UI. KONSTITUSIONALITAS PENDIDIKAN TINGGI UUD 1945: hak mendapat pengajaran dan pembuatan sistem pendidikan nasional.
PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI SESUAI PP 66/2010
Penyelenggara perguruan Tinggi Swasta Dalam Sistim Pendidikan Nasional
UNDANG–UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
DEWAN PENGURUS PUSAT PERSATUAN UMMAT ISLAM (PUI)
KEBIJAKAN BIRO HUKUM DAN KLN DALAM BIDANG PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
IMPLIKASI UNDANG-UNDANG NO
SOSIALISASI KEBIJAKAN BAN-PT di hadapan para peserta Rapat Kerja Daerah Pimpinan PTS di lingkungan Kopertis Wilayah III di Jakarta 23 September.
Sosialisasi EQA BAN-PT – Dikti, Juli-Agustus 2009.
Pokok – Pokok Pengaturan RUU Pendidikan Tinggi
LEMBAGA HUKUM JAMINAN HUTANG Dr. HENNY TANUWIDJAJA, S.H, Sp.N
Dr. Setiawan Soeparan, MPH Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan.
KEBIJAKAN BAN-PT KEBIJAKAN BAN-PT BAN-PT BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI JAKARTA 2009.
MATERI 8 HUKUM PERUSAHAAN
DR. Hj. MARNI EMMY MUSTAFA, SH.,MH Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat
PROSPEK BADAN HUKUM PENDIDIKAN (BHP) SEBAGAI PENYELENGGARA PENDIDIKAN
PERAN PPID DAN PPID PEMBANTU DALAM LAYANAN INFORMASI PUBLIK
SERTIFIKASI DOSEN TAHUN 2009
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK 2010 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 19/PJ/2010 Tentang PENETAPAN SATU TEMPAT ATAU LEBIH SEBAGAI TEMPAT PAJAK PERTAMBAHAN.
PP Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif
Direktorat Pendidik & Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar
PERMENKES No Penyelenggaraan Pekerjaan & Praktik Tenaga Gizi
Hak, Kewajiban dan Tanggung Jawab Penanam Modal
Oleh : Indah Dwi Qurbani, SH, MH
PEMBIAYAAN REKENING KORAN SYARI’AH
YAYASAN Stichting.
AKREDITASI BERMUTU UNTUK PENDIDIKAN BERMUTU
PEMINDAHAN HAK DENGAN INBRENG
LEMBAGA NEGARA MENURUT UUD NRI TAHUN 1945 UUD 1945 KY DPR DPD MPR BPK
SUNSET POLICY.
Tata cara Penanaman Modal
KEWENANGAN PENGUJIAN UNDANG-UNDANG OLEH MAHKAMAH KONSTITUSI
Disampaikan AGUS RIYANTO,SH.,MH
Jl. HR. Rasuna Said Kav. 6-7 Kuningan Jakarta Selatan
Pemutusan Hubungan Kerja Dengan Alasan Efisiensi
KEBIJAKAN BAN-PT KAMANTO SUNARTO KETUA BAN-PT
Wewenang, Kewajiban, dan Hak
KEBIJAKAN PENDIDIKAN GRATIS PENDIDIKAN DASAR TAHUN 2009
FIRMA Kelompok 5.
Permasalahan Pembentukan Produk Hukum di Lingkungan Universitas Airlangga Radian Salman, S.H., LL.M.
KERANGKA STRATEGIS PROGRAM AKREDITASI MADRASAH
SERIKAT PEKERJA / SERIKAT BURUH
PERJANJIAN KERJA BERSAMA DAN PERATURAN PERUSAHAAN
PERTEMUAN 5 YAYASAN (2).
Disampaikan pada acara :
PENDAFTARAN TANAH Pendaftaran Tanah (Pasal 1 angka 1 PP No.24 Th 1997)
TATA KELOLA SEKOLAH LABORATORIUM UPI
Rancangan Undang-Undang Tentang Perguruan Tinggi
ORGANISASI & TATA KELOLA dalam PENYUSUNAN STATUTA PTS
LATAR BELAKANG & DASAR HUKUM
" IMPLEMENTASI USULAN PERMOHONAN PENDIRIAN, PERUBAHAN PERGURUAN TINGGI, PENAMBAHAN PRODI DAN ALIH KELOLA PERGURUAN TINGGI “ ISIS IKHWANSYAH SISTEM INFORMASI.
Bintek STRUKTUR RANCANGAN PERATURAN YAYASAN TENTANG STATUTA
Transcript presentasi:

AMAR, IMPLIKASI, DAN SOLUSI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR /PUU-VII/2009 Dibacakan: 31 Maret 2010 Kementerian Pendidikan Nasional April

2

ANATOMI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PERGURUAN TINGGI UU No. 2/1989 Sisdiknas Diganti UU No. 20/2003 Sisdiknas PP. No. 60/1999 PTN PTN-BLU 7 PT BHMN PP. No. 14/2010 PT Berbadan Hukum Mencabut PP. No. 61/1999 PP. No. 17/2010 UU No. 9/2009 BHP Tata kelola PT Kedinasan PP. No 17/2010, tentang: Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan PP. No 14/2010, tentang: Pendidikan Kedinasan 3

AMAR PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (1) 1.Pasal 6 ayat (2) UU.Sisdiknas yang menyatakan bahwa “setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan”, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, kecuali dimaknai “setiap warga negara ikut bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan”. Setiap warga negara bertanggungjawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR /PUU-VII/2009 Setiap warga negara ikut bertanggungjawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan 4

AMAR PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (2) 2.Frasa “...yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya” di dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c UU. Sisdiknas yang menyatakan bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya”, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR /PUU-VII/2009 Beasiswa bagi yang berprestasi 5

AMAR PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (3) 3.Pasal 53 ayat (1) UU.Sisdiknas yang menyatakan bahwa ”penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan”, adalah konstitusional sepanjang frasa “badan hukum pendidikan” dimaknai sebagai sebutan fungsi penyelenggara pendidikan dan bukan sebagai bentuk badan hukum tertentu. Badan hukum pendidikan sebagai bentuk badan hukum tertentu PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR /PUU-VII/2009 Badan hukum pendidikan sebagai sebutan fungsi penyelenggara pendidikan 6

AMAR PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (4) 4. Penjelasan Pasal 53 ayat (1) UU.Sisdiknas yang menyatakan bahwa “badan hukum pendidikan dimaksudkan sebagai landasan hukum bagi penyelenggara dan/atau satuan pendidikan, antara lain, berbentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN)”, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Badan hukum pendidikan antara lain berbentuk BHMN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR /PUU-VII/2009 Tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat/tidak berlaku 7

AMAR PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (5) 5. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Hal ini berarti, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan menjadi tidak berlaku Undang-Undang No. 9 Tahun 2009 Tentang Badan Hukum Pendidikan PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR /PUU-VII/2009 Tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat/tidak berlaku 8

9

UU BHP berisi aturan tata kelola perguruan tinggi PP. No. 60/1999 berisi pengaturan tata kelola perguruan tinggi PP. No. 61/1999 berisi pengaturan tata kelola BHMN PP. No. 17/2010 tidak mengatur tata kelola perguruan tinggi Dicabut Semula diatur dalam UU BHP Tidak mengikat Kekosongan hukum yang mengatur tata kelola perguruan tinggi IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (1) 1. Kekosongan hukum tentang pengaturan tatakelola perguruan tinggi 10

IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (2) 2. Penyelenggaraan pendidikan tinggi oleh Pemerintah melalui bentuk Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), yaitu UGM, UI, ITB, IPB, USU, UPI, UNAIR, yang telah berlangsung sejak tahun 2000 menjadi kehilangan dasar hukum, karena: a.Penjelasan Pasal 53 ayat (1) UU.Sisdiknas yang merupakan landasan/ dasar hukum BHMN sebagai bentuk badan hukum, dinyatakan tidak mengikat atau tidak berlaku lagi oleh Putusan Mahkamah Konstitusi; b. PP. No. 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri Sebagai Badan Hukum, yang menjadi dasar hukum penetapan 7 (tujuh) BHMN sudah dicabut oleh PP. No. 17 Tahun

IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (3) 3. Penyelenggaraan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi oleh masyarakat melalui yayasan berdasarkan: a.UU. No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, juncto; b.UU. No. 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU. No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, yang semula akan disesuaikan tata kelolanya sebagai BHP Masyarakat (BHPM) berdasarkan UU BHP, menjadi tidak jelas bentuk badan hukum yang harus digunakan untuk menyelenggarakan pendidikannya. Ketidakjelasan bentuk badan hukum bagi penyelenggaraan pendidikan oleh masyarakat ini disebabkan: 12

IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (4) a.Yayasan tidak boleh secara langsung menyelenggarakan pendidikan, melainkan harus dilakukan dengan membentuk badan usaha (Penjelasan Pasal 8 UU. No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan). Penyelenggara pendidikan melalui badan usaha bertujuan mencari laba, bertentangan dengan prinsip nirlaba dalam pendidikan (Pasal 53 ayat (3) UU. Sisdiknas). Semula penyelesaian masalah ini akan dilakukan dengan mengakui yayasan tersebut sebagai BHP Penyelenggara berdasarkan UU BHP, tanpa mengubah bentuk badan hukum yayasan atau tetap berbentuk yayasan. 13

IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (5) b.Pasal 39 PP. No. 63 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan UU. Tentang Yayasan beserta Penjelasannya, menyatakan: “Yayasan yang sampai dengan tanggal 6 Oktober 2008 belum menyesuaikan dengan UU, Yayasan, tidak boleh lagi menggunakan kata “yayasan” serta harus bubar dan melikuidasi kekayaannya”. Hingga saat ini diperkirakan ribuan yayasan penyelenggara pendidikan yang belum menyesuaikan pada UU. Yayasan, sehingga harus bubar dan dilikuidasi kekayaannya. Proses pembelajaran dan ijazah yang diterbitkan sekolah atau perguruan tinggi yang tidak berbadan hukum menjadi ilegal. Semula penyelesaian masalah ini akan dilakukan dengan pendirian BHP Masyarakat berdasarkan UU BHP oleh para pendiri yayasan tersebut. 14

IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (7) 4.Penyelenggaraan pendidikan kedinasan sebagaimana diatur dalam PP. No. 14 Tahun 2010 yang baru saja ditetapkan, harus ditinjau kembali karena Peraturan Pemerintah tersebut mengatur bahwa semua pendidikan kedinasan harus berbentuk badan hukum pendidikan. 5.Pendidikan tinggi kesehatan (berjumlah 98) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah atas ijin Kementerian Kesehatan tidak dapat diproses lebih lanjut menjadi badan hukum pendidikan. Pemerintah Daerah tidak berwenang menyelenggarakan pendidikan tinggi (PP. No. 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan), dan Kementerian Kesehatan tidak berwenang menerbitkan ijin penyelenggaraan pendidikan. 15

IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (8) 6.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2010 tentang Badan Hukum Pendidikan Pemerintah Universitas Pertahanan menjadi tidak memiliki kekuatan hukum. 7.Proses perubahan 5 (lima) perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat (PTS) menjadi BHP Pemerintah, yang saat ini sudah selesai menjalani proses harmonisasi antar Kementerian tidak dapat dilanjutkan. Kelima perguruan tinggi tersebut adalah: a.Universitas Musamus Merauke b.Universitas Borneo Tarakan c.Universitas Bangka Belitung; d.Politeknik Manufaktur Bangka Belitung; e.Politeknik Batam; 16

IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (9) 8. Dalam menetapkan kebijakan pemberian beasiswa, Pemerintah hanya boleh mendasarkan pada prestasi peserta didik tetapi tidak boleh membedakan latar belakang ekonomi orang tua peserta didik. Akibatnya tidak ada jaminan bahwa peserta didik yang kurang mampu (miskin) dapat menerima beasiswa. 17

SOLUSI ATAS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (1) 1. Pasal 15 huruf f dan huruf g PP. No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan menyatakan bahwa Mendiknas menetapkan kebijakan tata kelola pendidikan yang merupakan pedoman bagi: f. penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat, dan; g. satuan atau program pendidikan. Berdasarkan Pasal tersebut Kementerian Pendidikan Nasional akan segera menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas), yang berisi: a.tata kelola penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat, dan b.tata kelola satuan atau program pendidikan (PTN, ex BHMN) atas dasar prinsip otonomi, akuntabilitas, penjaminan mutu, dan transparansi. 18

SOLUSI ATAS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (2) Pasal 15 f dan g PP. No. 17/2010 Otonomi, akuntabilitas, penjaminan mutu, dan transparansi PTN BHMN PTS PT Kedinasan PT Pemda Permendiknas Tentang Perguruan Tinggi 19

SOLUSI ATAS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (3) 2. Kementerian Hukum dan HAM harus segera menyelesaikan masalah yayasan, yang apabila tidak diselesaikan akan mengakibatkan: a.ribuan yayasan yang belum disahkan sebagai badan hukum oleh Kementerian Hukum dan HAM, atau belum menyesuai-kan pada UU Yayasan namun sudah menyelenggarakan pendidikan, tidak boleh lagi menyelenggarakan pendidikan (ilegal); b.masyarakat tidak dapat mengajukan pendirian satuan pendidikan dalam bentuk yayasan; 3. PP. No. 14 Tahun 2010 tentang Pendidikan Kedinasan harus segera direvisi. 20

SOLUSI ATAS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (4) 4.Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pendidikan Nasional harus segera merundingkan kembali penyelesaian pendidikan tinggi kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. 5.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2010 tentang BHP Pemerintah Universitas Pertahanan harus segera dicabut, dan Pemerintah segera mendirikan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi pertahanan. 6.5 (lima) perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat (PTS), yaitu Universitas Musamus di Merauke, Universitas Borneo di Tarakan, Universitas Bangka Belitung, Politeknik Manufaktur Timah Bangka Belitung, dan Politeknik Batam, yang sedang diproses menjadi BHP Pemerintah harus segera dihentikan, dan diproses menjadi PTN. 21

PERTANYAAN ATAS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI 1.Ultra Petitum (memutuskan di luar yang dimohonkan) Mahkamah Konstitusi telah mengambil putusan di luar permohonan, padahal menurut Penjelasan UU. No. 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Konstitusi terikat pada prinsip umum penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka, bebas dari pengaruh kekuasaan lembaga lainnya dalam menegakkan hukum dan keadilan. Hal ini berarti berlaku prinsip larangan melakukan ultra petitum. 2. Apakah semua Pasal UU BHP bertentangan dengan UUD Pasal 4 ayat (1) UU BHP tentang prinsip nirlaba bagi BHP untuk mencegah komersialisasi; 2.2. Pasal 5 dan Pasal 6 UU BHP yang mengijinkan keberagaman bentuk; 2.3. Pasal 16 UU BHP menjamin keragaman tata kelola; 22

PERTANYAAN ATAS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI 2. Apakah semua Pasal UU BHP bertentangan dengan UUD Pasal 46 ayat (1) UU BHP menjamin 20 % penjaringan calon mahasiswa kurang mampu; 2.5. Pasal 46 ayat (2) UU BHP menjamin 20 % dari seluruh mahasiswa menerima besaiswa; 2.6.Penjelasan Pasal 8 ayat (3) UU BHP yayasan tidak perlu mengubah bentuknya, tidak ada pembubaran yayasan; 2.7. Pungutan kepada peserta didik dibatasi sepertiga dari biaya operasional perguruan tinggi untuk mencegah biaya pendidikan yang memberatkan. 23

 Pemerintah berkewajiban melaksanakan apa yang telah diamanatkan oleh UU, termasuk UU Sisdiknas dan UU BHP  Pemerintah menghormati dan menghargai hak masyarakat termasuk didalamnya mengajukan permohonan judicial review atau constitutional review  Pemerintah menghormati dan menghargai keputusan yang telah diambil oleh lembaga negara sesuai dengan portfolionya 24

 Pemerintah memposisikan diri tidak dalam posisi saling berhadap-hadapan, lawan- melawan sehingga berakibat menang dan kalah. Tetapi pemerintah memposisikan diri mendukung segala usaha untuk lebih menyempurnakan peraturan-perundangan yang telah ada  Untuk itu, ada atau tidak ada UU BHP, Pemerintah tetap berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional 25

26