STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Adopsi Inovasi dalam kegiatan Agribisnis
Advertisements

MICRO TEACHING (Oleh : HEPI HAPSARI)
DIFUSI INOVASI PENDIDIKAN “Model Proses Keputusan Inovasi”
Pengaruh Konsumen Dan Penyebaran Inovasi
Komunikasi Pemasaran dan Adopsi Produk Baru
MEMPERKENALKAN PENAWARAN PASAR BARU
PROSES ADOPSI INOVASI Program Studi Agribisnis UPN ”Veteran” Yogyakarta.
AWAL MULA TEORI DIFUSI INOVASI
KOMUNIKASI DI BIDANG PERTANIAN
DIFUSI INOVASI Yudi Daherman, M.I.Kom.
MAKALAH INOVASI PENDIDIKAN FISIKA TEORI DAN PROSES INOVASI
DIFUSI INOVASI PENDIDIKAN
Topik Perkuliahan 8 DIFUSI INOVASI.
Opinion Leader Mata Kuliah : Komunikasi Massa Dosen : Erman Anom
Asal-usul Paul Lazarfeld, Bernard Berelson dan H Gaudet, 1944, People’s Choice Kajian tentang peran pemimpin opini Inovasi  media –> pemimpin opini.
Yudi Daherman, S.Sos, M.I.Kom. 1. STIMULASI minat terhadap kebutuhan akan ide-ide baru (oleh Stimulator) 2. INOSIATOR ide-ide baru dalam sistem sosial.
Opinion Leader.
Modul 4 : Adopsi, Difusi dan Inovasi dalam Penyuluhan Peternakan
DIFFUSION OF INNOVATIONS
Proses Keputusan Pembeli Perilaku Pasca Pembelian
Komunikasi Massa.
DIFUSI INOVASI Program Studi Agribisnis UPN ”Veteran” Yogyakarta.
Making Higher Education Open to all
Bab 5 Pasar Konsumen dan Perilaku Pembelian Konsumen
TEORI KOMUNIKASI.
SIFAT-SIFAT INOVASI DAN KECEPATAN ADOPSINYA
ADOPSI INOVASI.
DIFFUSION OF INNOVATIONS
PENGANTAR IlMU KOMUNIKASI
EVALUASI PROGRAM PENYULUHAN
PENGANTAR IlMU KOMUNIKASI
Pendidikan Administrasi Perkantoran 15 B
MEMPERKENALKAN TAWARAN PASAR BARU
KOMUNIKASI MASA dan MEDIA KOMUNIKASI PADA PROFESI FISIOTERAPI
Modul 4 : Adopsi, Difusi dan Inovasi dalam Penyuluhan Peternakan
DIFFUSION OF INNOVATIONS
KOMUNIKASI MEDIA MASSA & ANTAR PRIBADI Buku 1 bab 10 hal
PERANAN OPINION LEADER DALAM KOMUNIKASI
INOVASI KESEHATAN INOVASI KESEHATAN INOVASI KESEHATAN
Teori – teori Komunikasi Massa Difusi - Inovasi
Teori Comstock P=0 P>0 No Point of Entry TV Arousal TV Act
DIFFUSION OF INNOVATIONS THEORY
INOVASI KESEHATAN INOVASI KESEHATAN INOVASI KESEHATAN
Teori – teori Komunikasi Massa Difusi - Inovasi
Pengaruh Konsumen dan Penyebaran Informasi
KOMUNIKASI MASSA.
Kerangka Pikir Sasaran Faktor Intern Ekstern Sifat/Karakteristik
Teori Komunikasi Massa
Teori – teori Komunikasi Massa Difusi - Inovasi
Teori Media & masyarakat
Assalamu'alaikum.
Diffusion Theory & Social Learning Theory
Dr. RATNAWATI SUSANTO, M.M.,M.Pd.
Komunikasi dan Perubahan Sosial
Pertemuan 9 Konsep Berubah
Penggunaan Riset dalam Keperawatan
Oleh: Prof.Dr.Ir.Sugiyanto,MS
STRATEGI KOMUNIKASI I. MENGENAL KHALAYAK
Penyuluhan sebagai Difusi dan Inovasi
Teori – teori Komunikasi Massa Difusi - Inovasi
STIKES ABI SURABAYA KONSEP BERUBAH.
BUDAYA POLITIK DI INDONESIA
Opinion Leader Mata Kuliah : Komunikasi Massa Dosen : Erman Anom
ADHI GURMILANG DIFUSI INOVASI.
Pertemuan 9 Konsep Berubah
Oleh: Prof.Dr.Ir.Sugiyanto,MS
UNIT 9 & 10: Isu dan cabaran kewartawanan pembangunan
DIFFUSION OF INNOVATIONS
Team Dosen: Zulazmy Mamdy Hidayati Cornelis Novianus
ADOPSI - DIFUSI INOVASI
Transcript presentasi:

STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

DIFUSI INOVASI Difusi adalah proses tersebarnya suatu inovasi ke dalam sistem sosial melalui saluran komunikasi selama periode waktu tertentu. Dalam kaitannya dengan sistem sosial, difusi juga merupakan suatu jenis perubahan sosial, yaitu proses terjadinya perubahan struktur dan fungsi dalam suatu sistem sosial. Ketika novasi baru diciptakan, disebarkan, dan diadopsi atau ditolak anggota sistem perubaha sosial, maka konsekuensinya yang uatam adalah terjadinya perubahan sosial (Everett M. Rogers dan F. Floyd Shoemaker). Difusi inovasi termasuk ke dalam pengertian peran komunikasi secara luas dalam mengubah masyarakat melalui penyebarserapan ide-ide dan hal-hal yang baru. Berlangsungnya suatu perubahan sosial, di antaranya disebabkan diperkenalkannya ataupun dimasukkannya hal-hal, gagasan-gagasan, dan ide-ide yang baru. Hal-hal baru tersebut dikenal sebagai inovasi (Zulkarimen Nasution).

Unsur Difusi dan Kesamaannya dengan Model Komunikasi S-M-C-R-E Penemu Ilmuwan Agen pembaru Pemuka pendapat Inovasi : -Gagasan -Metode -Alat Interpersonal Media massa Anggota sistem sosial Pengetahuan Perubahan Sikap tingkah laku (Menerima atau menolak)

TEORI-TEORI DIFUSI INOVASI A. Teori keinovatifan individu Teori keinovatifan individu menyatakan bahwa individu yang cenderung inovatif akan mengadopsi suatu inovasi lebih awal daripada yang kurang memiliki kecederungan tersebut. Dimensi keinovatifan diukur berdasarkan kapan seseorang mengadopsi suatu inovasi. Keinovatifan adopter: 1. Inovator 2. Adopter pemula/ pelopor 3. Penganut dini 4. Penganut akhir 5. Kolot

B. Teori kecepatan adopsi Relative edvantage (keunggulan relatif). Compability (keserasian) Complexity (kerumitan) Trialability (dapat dicobakan) Observability (dapat dilihat). C. Teori tentang proses keputusan inovasi Sumber: Rogers (2003)

Proses Adopsi Inovasi Keputusan Inovasi Opsional Keputusan yang dibuat oleh seseorang, terlepas dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh anggota sistem. Dalam pandangan tradisional keputusan inovasi opsional terdapat lima tahapan proses: 1.Tahap Kesadaran 2.Tahap Menaruh Minat 3.Tahap Penilaian 4.Tahap Pencobaan 5.Tahap Penerimaan

Namun kelima tahapan tersebut kemudian dikritik karena terlalu disederhanakan. Kemudian Rogers dan Soemaker menyusun empat tahapan: 1. Pengenalan Seseorang mengetahui danya inovasi dan memperoleh beberapa pengertian tentang bagaimana inovasi berfungsi 2. Persuasi Dimana seseorang membentuk sikap berkenan atau tidak terhadap inovasi 3. Keputusan Seseorang terlibat dalam kegiatan untuk menerima atau menolak inovasi 4. Konfirmasi Seseorang mencari penguat bagi keputusan inovasi yang telah dibuatnya. Pada tahap ini mungkin seseorang mengubah keputusannya jika terjadi pertentangan.

Orang yang berada dalam sistem yang tradisional, kebanyakan masyarakat desa, cenderung melewati tahap percobaan. Mereka cenderung mengambil keputusan untuk langsung mengadopsi secara penuh tanpa uji coba. Hal ini antara lain disebabkan: Norma-norma sosial punya pengaruh yang sangat kuat terhadap orang-orang tradisional itu. Seseorang tidak usah mengambil keputusan inovasi berdasarkan hasil percobaan sendiri. Jadi keputusan opsional hampir mirip dengan keputusan kolektif. Orang-orang tradisional itu kurang biasa mengikuti metoda ilmiah dalam mebuat keputusan. Mungkin agen pembaru mempunyai pengaruh yang kuat atau ia memaksa mereka, karena cenderung tunduk pada kekuasaan. Karena itu ketika agen pembaru memperkenalkan ide baru, mereka mengadopsi inovasi tanpa banyak tanya lagi. Sehingga keputusan opsional hampir mirip dengan keputusan kolektif.

Keputusan Adopsi Inovasi Kolektif Pengambilan keputusan untuk menerima inovasi atau menolak inovasi yang dilakukan oleh individu-individu dalam sistem sosial secara kolektif. Tahapan proses keputusan kolektif: 1. Stimulasi minat ke arah kebutuhan terhadap ide baru (oleh stimulator) 2. Inisiasi (peresmian) ide-ide baru dalam sistem sosial (oleh inisiator pemula) 3. Legitimasi ide baru (oleh pemegang kekuasaan atau legitimator) 4. Keputusan untuk bertindak (anggota sistem sosial) 5. Tindakan atau pelaksanaan ide baru itu (oleh anggota sistem sosial)

Keputusan Adopsi Inovasi Otoritas Pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak inovasi dalam organisasi formal. Di dalam proses ini pengambilan keputusan ada di tangan pihak atasan, pemegang kekuasaan di dalam organisasi, yang disebut unit pengambil keputusan Dalam Keputusan Inovasi Otoritas setidaknya ada dua unit yang terlibat dalam pengambilan keputusan: Unit adopsi Seseorang, kelompok atau unit yang mengadopsi inovasi. Unit pengambil keputusan Seseorang, kelompok atau unit yang kekuasaanya lebih tinggi dar unit adopsi dan yang membuat keputusan akhir apakah unit adopsi harus menerima atau menolak inovasi.

Ciri-ciri yang membedakan keputusan otoritas dengan bentuk keputusan lainnya: Seseorang tidak bebas menentukan pilihannya dalam menerima atau menolak inovasi. Pembuatan keputusan dan pengadopsiannya dilakukan oleh orang atau unit yang berbeda. Unit pengambil keputusan menduduki posisi kekuasaan lebih tinggi dalam sisitem sosial daripada unit adopsi. Karena hubungan hirarkhis, unit pengambil keputusan dapat memaksa unit adopsi untuk neyesuaikan diri dengan keputusan. Keputusan inovasi otoritas lebih sering terjadi dalam organisasi formal.

Tahap keputusan otoritas:

Pendekatan dalam perubahan organisasional Dalam proses keputusan inovasi otoritas terdapat dua pendekatan yang berbeda, dalam rangka mencapai perubahan rganisasional: Pendekatan otoritatif, dimana keputusan inovasi dibuat oleh penguasa secara sepihak. Mereka yang terkena dan melaksanakan perubahan (menggunakan inovasi) tidak diberi hak untuk mengajukan usul atau pertanyaan tentang perubahan itu. Pendekatan partisipatif, dimana terdapat interaksi dua arah antara pihak eksekutif yang memprakarsai perubahan dengan orang-orang yang terkena perubahan.

Keputusan Adopsi Inovasi Kontingen Sebagai tambahan ketiga keputusan, ada yang disebut keputusan kontingen., yaitu pilihan untuk menerima atau menolak inovasi setelah ada keputusan inovasi yang mendahuluinya. Misalnya keputusan untuk mengadopsi metode mengajar baru dapat dilakukan setelah ada keputusan kolektif. Tetapi keputusan kontingen bisa kombinasi dari dua atau lebih keputusan inovasi.

Karakteristik penerima inovasi Orang-orang yang berada dalam sistem sosial itu walaupun merupakan suatu kesatuan namun mereka itu berbeda dalam tanggapan dan penerimaannya terhadap ide baru. Ada anggota sistem yang cepat mengetahui adanya inovasi dan lebih awal menerimanya dan ada pula yang begitu terlambat. Rogers (1983) mengelompokkan pengadopsi inovasi sebagai berikut: (1) Perintis (innovator), yang mencakup sekitar 2.5 persen dari suatu populasi, (2) Pelopor (earlyadopter) sekitar 13.5 persen, (3) Penganut dini (early majority) sekitar 34 persen, (4) Penganut lambat (late majority) sekitar 34 persen, dan (5) Kaum kolot (laggard) sekitar 16 persen.

Strategi baru komunikasi pembangunan Pengembangan kapasitas diri Pemanfaatan media rakyat dalam pembangunan Menyempitkan jurang pemisah melalui redundansi Menanggulangi bias pro-literacy Memaksimalkan peran komunikator sebagai agan pembangunan Menyusun pesan berorientasi audiens Memanfaatkan jasa teknologi komunikasi

END