Makna Filosofis Galungan

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
RANCANGAN PERMENDAGRI TENTANG PELANTIKAN PEJABAT STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL DI LINGKUNGAN KEMENDAGRI DAN PEMERINTAH DAERAH DR. Drs. A. Fatoni, M.Si. Disampaikan.
Advertisements

MARI BER AGAMA HINDU YANG CERDAS
Sun Tzu Strategy MBA Sharia June 24, Tujuh Kalkulasi Sun Tzu •Siapa yang dapat mempersatukan rakyat dan angkatan bersenjata •Siapa yang memiliki.
Topik : Struktur Sosial dan Hukum
ASAS TAMANSISWA
BUDAYA HINDU Mamahami Seni Keagamaan Hindu.
4 FEBRUARI 2013 GPIB JEMAAT IMMANUEL DI BEKASI Pdt. Alex Letlora.
Kalender Hijriah/Islam
PENGHAKIMAN ATAS BABEL
PASAL 19 NYANYIAN ATAS JATUHNYA BABEL, PERJAMUAN KAWIN ANAK DOMBA,
Surat Bagi Sang Pembelajar Bacalah dengan mata hati.
Upacara Ngaben Satu lagi kekayaan budaya Indonesia. Di Bali yang kita kenal juga dengan sebutan ‘Pulau Seribu Pura’ dan tidak pernah surut dengan kunjungan.
Program Mahasiswa Wirausaha Semarang, 25 Juni 2013
NURUL ATIKAH BINTI ABDUL NAPIS
PENDIDIKAN AGAMA HINDU UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL
Seni Sakral: Tari Rejang
Gamelan Gambang Dalam Upacara Dewa Yadnya
PENDIDIKAN AGAMA HINDU
PARTIKEL PENUNJUK ORANG
UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGGUL
SELAMAT PAGI... OM SWASTIASTU.
Pendidikan Agama Islam
MAKALAH : MATA KULIAH ACARA AGAMA HINDU   JUDUL: ORANG SUCI AGAMA HINDU (PANDHITA DAN PINANDITA) Dosen pembimbing: Dra. AA Oka Puspa, M. Fil. H   Disusun.
Estetika INdia Hindu dan Buddha Agus Setiawan, M.Sn.
Assalamu'alaikum ETIKA, MORAL DAN AKHLAQ Oleh: Nurhasan, M. Ag Hmmm…..
Oleh : Achmad Farisi Aziz, M.Pd.I
CITA-CITA, TUJUAN DAN VISI NEGARA INDONESIA
OM SWASTYASTU.
1. Hitung jumlah neptu pasangan suami istri Misal:
OM SWASTYASTU Galungan dan Kuningan OLEH I KADEK SUPARTA.
Makalah Acara Agama Hindu
Legenda Gunung Semeru Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa pada suatu saat mengambang di lautan luas, dipermainkan.
Perayaan Yuanxiao Jie (元宵節) Pertemuan 9
LANDASAN PANCASILA DISUSUN OLEH : Fetrinna Winda P. Arma Yanna Sari
Harimau dan Prajurit Alkisah, di sebuah kerajaan, sang raja mempunyai kegemaran yang tidak lazim, yakni mengukur kekuatan prajuritnya dengan cara mengadu.
GEREJA: BERBAGAI UPACARA DAN RITUAL
Om Swastyastu Ni putu nessy p.y.
OM SWASTIASTU.
KAPRIBADEN PAGUYUBAN PENGHAYAT KAPRIBADEN
SEJARAH PERADABAN ISLAM 2
TUGAS TEKKOM “SENI TARI SALAH SATU BAGIAN DARI KEBUDAYAAN INDONESIA”
Mitologi Kelapa (Lontar Siwagama) Kelapa
Kekuasaan Negara.
Bersabar Tanpa Terbebani
KEMENANGAN ATAS KUASA-KUASA JAHAT
STRATEGI POLITIK NU MASA PENJAJAHAN JEPANG
DOA HARIAN RAMADHAN.
OM SWASTYASTU.
UUD 1945 Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia ialah Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) sebelum diamandemen yang terdiri dari : Pembukaan UUD.
TUGAS ONLINE 2 FILSAFAT MANUSIA
UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGGUL
Agama hindu catur yoga Temu 3
I Love My Self.
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
RUWATAN Kelompok 3.
SIAPAKAH MANUSIA DALAM ROMA 7?
Mati / wafat / meninggal dunia dan penanganannya secara islam
LANDASAN KONSELING LINTAS AGAMA BUDAYA
BUDAYA HINDU Mamahami Seni Keagamaan Hindu.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN AGAMA
KEPADA SELURUH GURU DAN KARYAWAN SMA NEGERI 71 JAKARTA
PERJALANAN KE ROMA Lesson 13 for September 29, 2018.
IDENTITAS NASIONAL Disusun oleh : TL.18.F3 Kelompok 2 1.LYAAYU NOVITA SARI ( ) 2.IRMA SURYANI ( ) 3.JOKO SETIAWAN ( ) 4.NURHASAN.
BERDIALOG DENGAN HINDU
KONSEP POKOK DALAM SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA (Jacobus Ranjabar, S
KEPADA SELURUH GURU DAN KARYAWAN SMA NEGERI 71 JAKARTA
Hukum ALLAH. Hukum ALLAH Waktu ALLAH menyampaikan hukum di atas Bukit Sinai, Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya sendiri sebagai penguasa tertinggi.
Pembahas (Putu Gatot yogiawan)
KELUARGA SUKINAH OLEH : WANITA HINDU DHARMA INDONESIA.
“AKU MENJADIKAN SEGALA SESUATU BARU”
Transcript presentasi:

Makna Filosofis Galungan Hari Raya Galungan Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama yaitu manis. Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. Makna Filosofis Galungan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecenderungan keraksasaan (asura sampad) dan kecenderungan kedewaan (Dewa Sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.   Suasana Hari Raya Galungan Galungan juga merupakan salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. Dalam rangkaian peringatan Galungan, sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan, dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu mereka adalah simbol angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu. Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sang Hyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karunia-Nya berupa kebutuhan pokok tersebut. Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terima kasih dan suksmaning idep sebagai manusia (umat) menerima anugerah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umat-Nya atas dasar cinta-kasih-Nya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaikat) yang melimpahkan anugerah kemakmuran kepada kita semua. Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin. Adapun kesimpulan dari makna Hari Raya Galungan dan Kuningan, yaitu: Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugerah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa. Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira, dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia. Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya. Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugerah Hyang Widhi dengan ketulusan hati. Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan, yaitu: Galungan, Galungan Nadi, dan Galungan Nara Mangsa. Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon Wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara, dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. Galungan Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi, yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sang Hyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali. Galungan Nara Mangsa Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut: “Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran.” Artinya: Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut: Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah. Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.