Kesusastraan Jepang Zaman Pertengahan (Kamakura-Muromachi)

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Semuanya Indah Jangan Menangis Mama
Advertisements

PERIODESASI SASTRA INDONESIA
Assalamualaikum Wr.Wb. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم.
Cerita-cerita Air Mata Ada sahabat yang bertanya, “Ketika terlihat ada wanita yang menitikkan air mata di pinggir jalan, apakah itu berita baik atau buruk?”
Tugas Bahasa Indonesia
Sekolah Standar Nasional (SSN) Mata Pelajaran : Bahasa &stra Indonesia Selamat Datang di SMP Negeri 7 Jakarta Sekolah Standar Nasional (SSN) Mata.
TEATER RAKYAT INDONESIA
TEORI DRAMA oleh: Nina Kartini Rahdiana.
Suku Asmat: Sosok Budaya Indonesia di Papua
Raja Pertapa Mereka menceritakan padaku bahwa di sebuah hutan yang dikelilingi gunung-gunung hiduplah seorang pemuda dalam kesunyian. Dulu ia adalah raja.
MAJAS PERBANDINGAN.
BENTUK KARYA SASTRA PROSA (cerpen,novel, hikayat)
B. MAKNA DAN PERANAN TEATER DALAM KONTEKS BUDAYA DAERAH.
TARI PAYUNG TANAH MINANG.
Ideologi Kesusastraan Jepang
SENI TARI SMA NEGERI 1 PURWOREJO Tahun ajaran 2013/2014.
Jaman Heian  平安時代  ( ) Nihonshi, 15 Maret 2012.
Klasifikasi Sistem Lambang menurut Tadeuz Kowzan
SEJARAH KESUSASTRAAN JEPANG
Genji Monogatari 源氏物語.
Ideologi Kesusastraan Jepang
Citraan dalam Puisi.
APRESIASI KARYA SENI TEATER
SELAMAT SIANG Mari Bermain drama ! “Dunia ini panggung sandiwara
DRAMA Senada dengan film, drama adalah karangan yang berbentuk dialog/percakapan antara pemainnya. Dialog dalam drama tidak jauh berbeda dengan percakapan.
Evaluasi Materi Sejarah & Perkembangan Seni Rupa Pertemuan 13
Zaman Feodal Awal (Lanjutan) Pertemuan ke-4
Sastra Korea dapat dibagi menjadi :
SENI TEATER.
Menulis berbgai karya sastra/cerpem
Kisah Telaga Warna Kalau kita pergi ke daerah Puncak, Jawa Barat, di sana terdapat sebuah telaga jika dilihat pada hari yang cerah akan terkesan airnya.
Korea juga memiliki keberagaman dalam karya prosanya
PENGAJARAN APRESIASI PUISI ANAK
Menyusuri Kyoto, Kota Seribu Kuil
Kebudayaan Jepang.
Papua Pulau Surga Oleh : Devi Wulandari.
MENGAPRESIASI DRAMA ANAK
Angklung Adalah Warisan Dunia
Upaya memaknai/memahami maksud atau isi yang terkandung dalam puisi.
Kamakura-Muromachi-Azuchi Momoyama
TUGAS TEKKOM “SENI TARI SALAH SATU BAGIAN DARI KEBUDAYAAN INDONESIA”
Menanggapi pementasan drama
BELAJAR MEMAHAMI DRAMA
KARYA DALAM DUA DIMENSI
BAB III TRADISI MASA PRA-AKSARA DAN AKSARA MASYARAKAT INDONESIA
Bindo sepuluh II (5) KD: 13.1 Menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman Tujuan.
MERANCANG KARYA SENI TEATER
室町時代 ( ).
Kesusastraan Zaman Heian
Oleh : Putri Kharisma Alam
MENULIS PERMULAAN (2) PERTEMUAN KE- 8 Khusnul Fatonah, M.Pd. PGSD.
SEJARAH AWAL BERDIRI NEGARA JEPANG
Pertemuan kesepuluh Nihon no kodomo no uta ( warabe uta/douyou)
MENGENAL 8 KECERDASAN MANUSIA
Tugas ICT INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
ZEN BUDHISME OLEH : MUHAMMAD LUTHFI DAMANHURI ( )
MENGAPRESIASI DRAMA ANAK
Nama Kelompok : - - Kelas : Mata Pelajaran :
Robiatul adawiyah XI IPS 2.
MAJAS PERBANDINGAN.
Tari Pendet.
Dasar Perlengkapan Pementasan
PERTENTANGAN KOSMIS Lesson 1 for April 7, 2018.
MAJAS PERBANDINGAN.
Sejarah tari sajojo Asal usul Tari Sajojo ini masih belum bisa diketahui secara pasti. Namun beberapa sumber banyak yang menyebutkan ba hwa tarian ini.
Mahsuri (Zurinah Hassan)
MAJAS PERBANDINGAN.
KELOMPOK 2 ANGGOTA: 1.Antares Alvian Dinosa Agaki (08) 2.Arif Fahmi Rizal (09) 3.Arya Mahendra Asmara (10) 4.Kristo Roy Martahan Pasaribu (22) 5.Vira Nur.
Mahsuri (Zurinah Hassan)
RIANTY NURHAFSAH ( ) ANDHIKA PRATAMA () RIZKI ARAFAT ( )
Transcript presentasi:

Kesusastraan Jepang Zaman Pertengahan (Kamakura-Muromachi)

Pembagian Menurut Zaman 140 tahun Masa Awal 270 tahun Masa Akhir Sejak kaisar Genkoo –Kamakura Bakufu runtuh Zaman Shinkokin (新古今) Aliran agama baru ; Joodooshu, Nichirenshuu, Zenshuu esei/dongeng tersendiri Zaman Nanbokucho, Muromachi, Azuchi Momoyama Sastra seniman-samurai-rakyat Drama Noh Drama Kyoogen sebagai efek perang

Karya Sastra Zaman Pertengahan Kelompok sastra Judul Buku Penyair Pantun Waka Shinkokinshuu Fujiwara Teika Gyokuyooshuu Fujiwara Ietaka Fuugashuu Kyoogoku Tamegane Shinyooshuu Soora Shinno Pantun Renga Tsukubashuu Nijoo Yoshimoto Shinsen Tsukubashuu Soozei Shinkei Haikai Renga - Arakita Moritake Kanshibun Gozan Bungaku Kayoo Enkyoku Wasan Kouta

Karya Sastra Zaman Pertengahan Kelompok sastra Judul Buku Penyair Monogatari Matsura no Miya monogatari Sumiyoshi Monogatari Mumyoo Zooshi Rekishi Monogatari Mizukagami Masukagami Shiron Gukanshoo Jinno Shootooki Gunki Monogatari Hoogen monogatari Heike Monogatari Soga monogatari Taiheiki Gikeiki Heiji Monogatari

Karya Sastra Zaman Pertengahan Kelompok sastra Judul Buku Penyair Setsuwa Ujishuui monogatari Fujiwara Teika Shasekishuu Fujiwara Ietaka Otogizooshi Bunshoo Zooshi Kyoogoku Tamegane Hachi Kazuki Soora Shinno Zuihitsu Hoojooki Nijoo Yoshimoto tsurezuregusa Soozei Shinkei Nikki Kenreimonin Ukyoo no daibu Arakita Moritake Kikoo Kaidooki, Tookan Kiko Drama Noh (Yookyoku) Kyoogen Koowakamai - Kannami Zeami Zenchiku

Waka & Renga Awal Zaman Kamakura adalah masa keemasan bagi penyair pantun  roppyakuban utaawase & sengohyakuban utaawase Shinkokinshuu adalah kumpulan pantun terpilih yang diperintahkan kaisar Gotoba kepada Minamoto Michitomo, Fujiwara Ariie, Fujiwara Teika, Fujiwara Ietaka, Fujiwara Masatsune, Jakuren, terdiri dari 20 jilid dan 2000 pantun Memiliki gaya Yugen (abstrak & halus) dan ushin (mendekati realisme) Honkadori : Menggubah pantun lama jadi pantun baru dengan bumbu suasana kesegaran

Fujiwara Teika Fujiwara Teika meninggalkan catatan harian dalam Kanbunyang berjudul Meigekki Dari buku harian ini diketahui sifatnya yang egois, berambisi tinggi, cepat marah & tidak tenang Gaya khasnya adalah Ushin, melukiskan kegairahan dengan rangkaian kata yang halus tapi semua hanya khayalan Ia menulis juga teori pantun, dan buku penelitian ttg Genji Monogatari Buku yang memuat pantun gubahannya adalah Shuuigusoo

Contoh pantun buatan Fujiwara Teika Haru no yo no Yume no ukihashi Todae Shite Mine ni Wakaruru Yokogumo no sora Tamayura no Tsuyu mo namida mo Todomarazu Nakihito Kouru Yado no Akikaze Satu pagi musim semi Ketika aku menegadah ke langit Setelah terbangun dari mimpi hampa Gumpalan awan memanjang Menjauhi gunung tenang melayang Ketika Aku menangis rindu Rindu ibuku yang telah tiada Angin musim gugur bertiup melaju Menggugurkan embun di daun rumput Lenyap senyap entah kemana

Fujiwara Ietaka Ikusato ka Tsuki no hikari mo Niou Ramu Ume saku yama no Mine no haru kaze Angin musim semi bertiup membawa keharuman Bunga Ume di lereng gunung Dan menyebar ke desa-desa Nan bermandikan cahaya bulan Penyair satu ini memiliki sifat baik, ramah & terus terang. Ciri khas pantunnya adalah nyata & terus terang, memberikan harapan.

Pantun dari penyair wanita Shikishi Naishinno (putri kaisar) Tama no o yo Taenaba taene Nagaraeba Shinoburu koto no Yowari mo zo suru Daripada hidup tiada arti Tiada cinta tiada cita Biarlah hidupku berakhir Biarlah aku pergi Aku tak kuasa lagi Kunaikyoo Usuku koki Nobe no midori no Wakakusa ni Ato made miuru Yuki no mura kie Kalau memandang ke padang rumput Pada awal musim semi Pucuk muda mulai tumbuh Segar indah mempesona Di sela-sela salju yang mencair

Minamoto no Sanetomo : seorang jendral ke 3 Kamakura Bakufu yang menyukai Manyooshu. Ooumi no Iso no todoro ni Yosuru nami Warete Kudakete Sakete Chirukamo Ombak besar yang menerpa Batu karang di pinggir pantai Remuk redam berkeping-keping Dan menjadi buih putih Lenyap menghilang entah kemana Hakoneji o Waga koekureba Izu no umi ya Oki no kojima ni Nami no yoru miyu Setelah melalui jalan mendaki Jalan di lereng gunung Hakone Nun jauh di sana terbentang laut Izu Dan ombak seakan kear-mengejar Menuju pulau di tengah laut

Pasca Shinkokinshu Setelah peristiwa Jookyu no Ran tahun 1221 (kudeta yang tidak berhasil oleh bekas kaisar Gotoba ke pemerintahan Kamakura) Kaisar Jookyuu memerintahkan Fujiwara Teika untuk mengumpulkan pantun2 penting  Shinchokusen wakashuu Shinchokusen wakashuu isinya lebih mendalam dan gaya bahasanya mudah dimengerti  pengaruh bangsawan sudah mulai pudar

Gyokuyooshuu & Fugashuu Gyokuyooshuu adalah kumpulan pantun yang disusun Kyoogoku Tamekane, atas perintah kaisar Fushimi Fuugashuu adalah kumpulan pantun karangan kaisar Hanasono yang belajar dari Tamekane Eda ni moru Asahi no kage Sukunaki ni Suzushisa fukaki Take no oku kana Cahaya matahari pagi Yang merembes hanya sedikit Membuat sangat sejuk Bila berada Di hutan bambu ini

Shootetsu Ikusato no Hanadori no ne mo Kasumu hi no Hikari no uchi ni Komoru haru kana Suasana desa musim semi Matahari lembut bersinar Bunga membuka kuncupnya Menyambut burung berkicau Dalam kedamaian Ketika zaman Muromachi, pantun Waka mengalami kemunduran. Hanya beberapa penyair yang menonjol yakni Imagawa Ryooshun, Shinkei & Shootetsu. Shootetsu adalah sekretaris kuil Toofukuji, ia berbakat membuat pantun romantik. Selama hidupnya ia berhasil membuat 40.000 pantun

Kepopuleran Renga Sejak zaman Nanbokucho, pantun renga menjadi populer mengalahkan waka. Renga adalah pantun 2 bait, bait pertama (5.7.5) dibacakan oleh 1 orang, pantun ke dua (7.7) dibacakan orang lain sebagai jawaban atas pantun pertama terdiri dari 50 s.d 100 bait, sehingga renga harus dilakukan berkelompok Renga menjadi populer mungkin ada hubungannya dengan pola pemikiran yang berdasarkan keinginan berkelompok dan membebaskan diri dari keadaan masa lalu maupun masa datang.

Penulis Renga Nijoo Yoshimoto Seorang politikus pada dinasti Hokuchoo tapi ia belajar sastra klasik. Ia mengumpulkan penyair Jige (penyair kelas rendah) untuk membuat renga. Thn 1356 mereka menerbitkan kumpulan renga berjudul tsukubashuu. Shinkei Shinkei belajar waka dari shotetsu lalu mengkhususkan diri menulis renga. Cirikhasnya dalam karya sasamegoto memadukan waka, renga dan butsudoo (ajaran Budha) Soogi Ketika masa Onin no Ran (1467-1477) muncul Soogi yang berguru pada Shinkei. Ia yang membawa Renga ke puncak keemasan, dan berhasil menyusun kumpulan renga Shinsen Tsukubashuu. Soogi sendiri adalah sastrawan pengembara Satomura Jooho Meneruskan renga dari zaman Azuchi Momoyama hingga ke zaman Edo

Yuki nagara yamamoto kasumu yuube kana (soogi) Di puncak gunung masih terlihat salju tapi di kaki gunung samar2 sudah terlihat datangnya musim semi Yuku mizu tooku yume niou sato (Shoohaku) Di kaki gunung mengalir sungai ke tempat jauh, di desa di pinggirnya tercium wangi bunga plum Kawakaze ni hitomura yanagi haru miete (Soochoo) Melihat dedaunan pohon-pohon willow bergoyang di tiup angin di tepi sungai, terasalah musim semi sudah tiba Fune sasu oto mo shiruki akegata (Soogi) Kecipak dayung perahu yang berlayar di sungai di kala fajar menyingsing terdengar jelas sekali Tsuki ya nao kiri wataru yo ni nokoruran (Shoohaku) Namun pada malam berkabut yang akan segera menjadi terang itu, masih terlihat wajah sang rembulan Shimo oku nohara aki wa kurekeri (Soocho) Melihat di padang rumput turun embun yang membeku, terasalah sebentar lagi musim dingin akan tiba Naku mushi no kokoro tomo naku kusa karete (Soogi) Tanpa menghiraukan jeritan serangga, rumputpun mengering satu demi satu Kakine wo toeba arawa naru michi (Shoohaku) Bila berkunjung ke rumah teman, kita akan melalui jalan yang kotor karena rumput yang mengering

Haikai no Renga Renga pada awalnya adalah permainan kata-kata yang berasal dari waka, oleh karena itu awalnya bersifat lucu dan bebas. Namun lama kelamaan berkembang menjadi jenis kesusastraan yang serius, pada masa ini penggemar renga mulai mengadakan pertemuan untuk membacakan renga yang disebut Haikai no renga Pada akhir zaman Muromachi tokoh pelopor haikai adalah Arakida Moritake dan yamazaki Sookan.

Monogatari Pada zaman ini masih ditulis hikayat2 yang meniru genji monogatari yang bertujuan mengenang kembali kehidupan istana, di antaranya adalah Sumiyoshi monogatari, Iwashimizu monogatari, Matsuranomiya monogatari Rekishi monogatari “mizukagami” (tentang kaisar Jinmu sampai kaisar Ninmyuu sebanyak 54 generasi, 1500 tahun) dan “masukagami” (tentang Kaisar Gotoba sampai kembalinya kaisar Godaigo dari pengasingan, kisah 15 generasi dan slm 150 tahun)

Argumentasi Sejarah Buku argumentasi sejarah berjudul “Gukanshoo”, ditulis oleh penyair bernama Jien. Gukanshoo tidak sekedar catatan sejarah tapi juga berisi teori sejarah, dalam Gukanshoo juga mengajak memperhatikan pergerakan zaman dan membandingkannya dengan kondisi zaman yang sedang berlangsung untuk menentukan langkah di masa yang akan datang. Gukanshoo juga memakai bahasa rakyat sehingga mudah dipahami. Buku lain, Jinnooshootooki ditulis oleh Kitabatake Chifusa, berisikan tentang bagian penting sejarah sejak sebelum jinmuu tenno s.d gomurakami tenno dgn bersumber ke agama shintoo yang menerangkan bahwa Jepang merupakan negara istimewa . Buku ini juga menguraikan teori pemerintahan untuk kaisar yang masih muda.

Gunki Monogatari (cerita peperangan) Hoogen monogatari, Heiji monogatari, Heike monogatari, Heike monogatari, Soga monogatari dll. Yang paling menonjol adalah Heike monogatari Ditulis oleh Yukinaga seorang bangsawan yang menjadi pendeta dan dibantu pendeta budha yang buta bernama shoobutsu untuk mempelajari langsung kehidupan samurai. (representasi kerjasama bangsawan dan seniman rakyat jelata) Heike monogatari bercerita tentang klan Heike dari tokoh utama Taira no Kiyomori, dan anaknya Shigemori. Dalam H.M juga diterangkan 6 dunia menurut agama Budha (Rokudoo Rinne) yaitu surga (nirwana), dunia manusia, dunia setan yang selalu berperang, dunia binatang, dunia kelaparan dan Neraka.

Otogizooshi (sejenis dongeng) Dongeng yang dipengaruhi oleh cerita perang yang tidak diketahui siapa pengarangnya, berjumlah sekitar 400-500. Otogi adalah sesuatu yang dapat menjadi pasangan (cerita yang menyenangkan dan membuat rileks pembaca), memuat gambar berwarna. Isinya bermacam-macam ; cerita roman, cerita perang, cerita kepahlawanan, tentang pendeta, dongeng pertapa, dongeng ttg hub, dewa agama shintoo dan Budha (Kumano no Honji), dongeng ttg flora & fauna yang dilukiskan spti manusia, ada juga yang bersumber dari dongeng rakyat spt Issunbooshi, Hachikazuki dll.

Zuihitsu, Nikki, Kikou Essei dan catatan harian di zaman Heian ditulis oleh wanita, tp di zaman pertengahan ditulis pertapa pria. Contohnya adalah esei Hoojooki yang ditulis Kamo no Choomei (pendeta shintoo) Tsurezuregusa adalah esei yang ditulis Yamada Kenko. Terdiri dari 243 bab ttg nostalgia zaman kuno, bagaimana menghadapi kehidupan. Tsurezuregusa setara dengan Makura no Sooshi. Karena Kamakura dibuat menjadi pusat pemerintahan, pusat politik ada 2 yakni Kyoto dan kamakura, yang banyak dikunjungi pelancong dan menimbulkan Kikoo (catatan perjalanan).

Hoojooki Air sungai selalu mengalir tetapi airnya akan berbeda.Buih-buih air itu pecah lalu mengalir, kemudian timbul lagi yang baru dan tidak ada yang bertahan lama. Manusia dan segalanya dalam dunia ini tak ubahnya seperti air dan buih, tiada yang kekal. Tsurezure gusa Di kala senggang dan santai, sehari suntuk menghadapi batu tulis, semua yang terbayang dalam hatiku, langsung kutulis kadangkala kuhapus, tetapi semua yang kutulis itu membingungkan diriku sendiri

Hoogo dan Kanbungaku Hogo adalah essei tentang teori agama Budha yang ditulis dengan katakana. Buku tersebut dimaksudkan untuk memberikan penerangan ajaran agama budha secara sederhana. Beberapa yang terkenal Kurotani shoonen Gotooroku, matsutoosho, shooboogenzoo dll. Kanbungaku atau kesusastraan cina populer lagi sejak masuknya sekte Zenshuu ke Jepang. Pendeta Budha dari kedua negara saling berkunjung sehingga kanbungaku muncul lagi, terutama setelah dapat dukungan dari Jendral Ashikaga Yoshimitsu.

Drama Noh Noh adalah sejenis drama yang terdiri dari Utai (cerita dlm gaya syair), hayashi (musik yang mengiringi utai), shosa (tarian atau lakon yang dipertunjukkan). Atau bisa disebut juga opera yang disertai tarian dengan menggunakan topeng (nohmen) Drama ini asalnya dari China dan disebut Sarugaku, saat Zaman Heian bercampur dgn budaya Jepang, sebutannya jadi Sangaku. Noh terdiri dari Sarugaku noh, dengaku noh, (yang paling populer sarugaku noh) Yookyoku (skenario drama noh) kira-kira berjumlah 240 buah, yang terbagi jadi 5 babak

Sejarah Noh Pada zaman Heian, sebuah hiburan bernama sangaku diimpor dari China yang kemudian berkembang menjadi sarugaku, yang di dalamnya termasuk pantomim, akrobatik dan magic (sarugaku disebarkan di seluruh kuil2 di Jepang), gagaku : musik & tari yang khidmat (ditampilkan utk bangsawan) Seiring waktu, sarugaku berubah memiliki karakteristik noh dan kyogen, dan disebut sarugaku noh Dari zaman Nambokucho s.d muromachi, noh dibagi jadi 2 ; Sarugaku Noh & Dengaku Noh. Sarugaku Noh berdasarkan gerakan tiruan sementara dengaku noh berdasarkan gerakan2 simbol. Dengaku utk kaum bangsawan, sarugaku tidak dimainkan di ibukota.

Pementasan Noh zaman dulu

Babak I , Wakinoh ; cerita ttg dewa-dewa/upacara syukur Babak II, Shuramono ; Cerita ttg samurai yang telah meninggal di medan perang Babak III, Kazuramono ; Cerita ttg roh wanita / wanita sbg tokohnya Babak IV, Genzaimono ; Cerita ttg kejadian pada zaman tsb Babak V, Kirinoh ; Cerita ttg setan/binatang buas Kelima pembabakan kadang disingkat menjadi babak Shin (dewa), babak nan (laki-laki), babak nyo (perempuan), Babak Kyoo (gila), dan babak Ki (setan)

Perlengkapan Panggung Teater noh disebut noh gakusho, luas panggung 5.5 m Hashigakari : Lorong berbentuk jembatan yang menghubungkan panggung dengan tempat keluar masuk pemain Atoza : Tempat duduk pembantu shite di belakang panggung Jiutaza : Tempat duduk penyanyi pengiring Kagami no ma : ruang make up Kiridoguchi : Tempat keluar masuknya pemain Metsuke Bashira : tiang penunjang panggung yang berhadapan dgn penonton (tokoh utama sebelum mulai, berdiri di depan tiang dgn khusyuk)

Ichino Matsu : cemara 1 Nino matsu : cemara 2 Sanno matsu : cemara 3 Shirasu : batu putih kecil yg ditebarkan di sekitar panggung PEMAIN NOH Shite : Tokoh utama Waki : Lawannya Shite, kebanyakan pertapa, tidak memakai nohmen Tsure : Tokoh yang tampil bersama shite Kogata : Pelaku anak-anak Tomo : tokoh pembantu shite/waki

Peran orang tua, dlm noh yg dimainkan di tahun baru, Peran leluhur, pembedaan di rambutnya, biasanya dlm peran waki-noh (dewa2) /shura noh (ksatria), roh yg bangkit Peran sbg iblis, dibagi 2, tobide (iblis) & Beshimi (monster) spt tengu Peran orang tua, dlm noh yg dimainkan di tahun baru, Topeng paling sering dipakai dlm noh, pembagian sesuai umur ; waka-onna, shakumi, uba, rojo Topeng pria sesuai peran sosial (prajurit, bangsawan dsbnya) Topeng peran roh orang mati, hantu pria : ayakashi, kawazu, yase-otoko, hannya. Hantu perempuan :yamanba, deigan.

Jenis Nohmen Deigan Kawazu Ishiojou Kobeshimi Mikatsuki Ootobide Shishiguchi Hannya

Kostum dalam Noh (shozoku) Terbagi dalam 7 kategori Kahatsu (bagian di kepala) : kazura (wig), Kaburi-mono (yang dipakai di kepala): eboshi (hat), tengan (headdress), etc. Uwagi (baju tambahan kimono): nōshi (imperial robe), kariginu (jubah pemburu), happi (festival coat), chōken (syal luar), maiginu (selendang penari), etc. Kitsuke (kimono lengan pendek dipakai di bawah kimono): surihaku, nuihaku, noshime, etc. Uwagi / Kitsuke (kimono luar): karaori (exquisite women’s kimono), atsuita (exquisite male kimono), etc. Hakama (celana longgar ala jepang: ōkuchi (large warrior hakama), hangiri(lit. half-cut hakama), sashinuki, nagabakama (lit. long hakama), etc. Aksesoris lain: kazura-obi, koshi-obi, koshi-himo, etc.

KYOGEN Drama komedi tradisional yang muncul di zaman Muromachi Unsur yang menunjang Kyogen ; Kabu (tarian), monomane (tiruan), share (jenaka), mondo (dialog) Pelaku utama disebut shite, pelaku pembantu = ado Isi Kyogen ttg rakyat biasa, tdk memakai musik, tdk memakai perlengkapan penunjang panggung, tidak memakai topeng Lakonnya berjumlah 257 buah, alirannya ada 3 yakni aliran Okura (okura ryu), Aliran sagi (sagi ryu), Aliran Izumi (Izumi Ryu)

Kyoogen Kyoogen adalah sejenis lawak yang dipentaskan di tengah pertunjukan noh, yaitu antara babak satu dan lainnya Kyoogen menitikberatkan pada dialog dan gerak Berbeda dengan noh yang khidmat dan simbolik, Kyoogen lebih jenaka Kyoogen berjumlah 300 lebih, terbagi menjadi kyoogen selamatan (waki kyoogen), kyoogen ttg daimyo (daimyomono), dll. Kyoogen tidak menggambarkan manusia zaman dulu tapi manusia pada zaman tsb, menonjolkan rakyat jelatanya

Kowakamai Kowakamai adalah seni tari pada zaman Muromachi setelah adanya Noh, dipelopori anak samurai bernama Kowaka Maru. Tariannya bersahaja dan poinnya adalah lagu pengiring yang mengisahkan tentang para samurai Secara keseluruhan ceritanya ttg perang berkepanjangan, tapi tarian ini disukai samurai karena isinya bersifat kemiliteran

Enkyoku & Wasan Nyanyian rakyat populer zaman kamakura yaitu Enkyoku (sooka) dan Wasan. Sooka dinyanyikan para samurai dan bangsawan di pesta sambil memainkan kipas Wasan adalah nyanyian untuk penyebaran agama Budha sekte Joodookyuu