Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

METODE PENELITIAN 1. Dr. Steph Subanidja, SE, MBA, CFP Sumber: Prof. Dr. Anwar Sanusi, S.E., M.Si. Prof.Dr. Sugiyono, dkk.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "METODE PENELITIAN 1. Dr. Steph Subanidja, SE, MBA, CFP Sumber: Prof. Dr. Anwar Sanusi, S.E., M.Si. Prof.Dr. Sugiyono, dkk."— Transcript presentasi:

1

2 METODE PENELITIAN 1. Dr. Steph Subanidja, SE, MBA, CFP Sumber: Prof. Dr. Anwar Sanusi, S.E., M.Si. Prof.Dr. Sugiyono, dkk

3 KONTRAK PERKULIAHAN  Tujuan: Mahasiswa mampu memahami metode-metode di dalam melaksanakan suatu penelitian  Ouput: Mahasiswa mampu menulis proposal penelitian yang terdiri dari latar belakang penelitian, kajian teori, dan metode penelitian  Outcome: Mahasiswa mampu menyusun SKRIPSI 2

4 SAP (Satuan Acara Perkuliahan)  UTS:  Bab I Proposal, dikumpul sesuai jadwal  Terstruktur:  Kajian 5 (LIMA) jurnal INTERNATIONAL (bereputasi), dikumpul saat UTS  Tes di Lab Komputer, pada saat jadwal UAS  UAS:  bab I, II, dan III Proposal, dikumpul pada saat kuliah terakhir

5 Isi Proposal  Lihat Buku Panduan Penulisan Skripsi  Bab I, dilengkapi halaman judul, halaman bebas plagiat, dan daftar pustaka  Bab I, II, dan III, dilengkapi halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar (kalau ada), halaman bebas plagiat, daftar pustaka, kuesinoer, data sekunder (kalau ada)  Termasuk 2(dua) hasil penelitian sebelumnya, diambil dari artikel jurnal minimal dari jurnal terkareditasi (bersamaan dengan UTS)  Dilengkapi dengan copy halaman rujukan (sumber) yang dikutip

6 5

7 6

8 7

9 8

10 9

11 10 SKRIPSI ADALAH SALAH SATU KARYA ILMIAH BERBASIS PENELITIAN

12 Penjelasan Gejala Alam dan Isinya  Charles Pierce, cara untuk mengetahui dan menjelaskan fenomena alam:  1. Metode Keteguhan (method of tenacity): orang berpegang teguh pada suatu pendapat karena pendapat tersebut diyakini sejak lama. Tambahan lagi pendapat tersebut diperkuat dengan pernyataan orang lain.  2. Metode Otoritas (method of authority): kebenaran pernyataan dibuktikan dengan menunjuk pada pernyataan orang yang dianggap ahli 11

13 Penjelasan Gejala Alam dan Isinya  3. Metode intuisi (method of intuition): pendapat dibuktikan dengan menegaskan bahwa keyakinan kita sudah jelas benarnya, self evident dan tidak perlu pembuktian. Keyakinan ini didasarkan pada anggapan umum.  4. Metode Ilmiah (scientific method): ini yang akan kita pelajari  Jadi fenomena alam yang dipilih akan dijelaskan dengan metode ilmiah 12

14 Anggapan Umum dan Ilmu  Warga negara keturunan berkeyakinan, jika tahun baru imlek terjadi hujan, maka hal itu berarti akan banyak rejeki.  Pernikahan cenderung tidak dilaksanakan pada bulan Muharam (Suro)  Rok mini cenderung menjadi penyebab terjadinya perkosaan  Apa lagi? 13

15 Ilmu bukan Anggapan Umum Lima perbedaan pokok (Nagel, 1961, Kerlinger, 1973) 1. Informasi anggapan umum tidak disertai mengapa hal itu terjadi 2. Informasi anggapan umum mengandung konsep yang pengertiannya luas dan kabur 3. Anggapan umu diterima tanpa diuji kebenarannya 4. Anggapan umum tidak pernah mempersoalkan kontrol 5. Anggapan umum tidak menjelaskan gejala yang diamati. 14

16 Ilmu dan Anggapan Umum Nagel, 1961, Kerlinger 1973) 15 Anggapan UmumIlmu Informasi biasanya tidak disertai penjelasan mengapa hal itu terjadi Informasi dijelaskan berdasarkan temuan dan dirumuskan kondisi kondisi mengapa hal itu terjadi Informasi mengandung konsep yang pengertiannya luas dan kabur Informasi mengandung konsep jelas, tajam, khusus, cermat Diterima benar tanpa diuji kebenrannya Diuji kebenarannya, sistematis, terkontrol dan empiris Tidak pernah mempersoalkan kontrolDikontrol dengan sejumlah variabel Penjelasan yang bersifat metafisisPenjelasan metafisis tidak bisa diuji

17 Kaidah Ilmu (rukun iman)  Orde (tatanan). Ilmu percaya bahwa alam ini teratur, tidak serampangan  Determinisme. Ilmu percaya bahwa setiap peristiwa mempunyai sebab, determinan, anteseden yang dapat diselidiki  Parsimoni (kesederhanaan). Ilmu lebih meyukai penjelasan yang sederhana daripada yang kompleks, bila keduanya sama sama menjelaskan fakta  Empirisme. Ilmu percaya pada observasi atau data> akan muncul replikasi 16

18 Tujuan Ilmu  Tujuan pokok ilmu adalah memahami gejala gejala alam.  Ada tahapan pemahamam:  1. deteksi gejala secara cermat  2. penjelasan  3. pengorganisasian secara sistimatis 17

19 Teori Ilmiah  Teori adalah himpunan konstruk (konsep)  Ciri teori ilmiah;  1. teori terdiri dari proposisi-proposisi. Proprosis adalah hubungan yang terbukti diantara sejumlah variabel.  2. Konsep konsep dalam proposisi dibatasi secara jelas.  3. Teori harus memiliki kemungkinan untuk diuji, diterima atau ditolak kebenarannya  4. Teori harus dapat melakukan prediksi  5. teori harus dapat melahirkan proposisi proposisi yang semula tidak diduga. 18

20 Pokok Bahasan Hakikat Penelitian Desain Penelitian Permasalahan Penelitian Mengkaji Pustaka Proposisi Ilmiah Variabel dan Skala Ukur Variabel Validitas & Reliabilitas Instrumen Penelitian Populasi dan Sampel Pengumpulan Data Analisisis Data & Interpretasi Menyusun Laporan Penelitian CARA MENYUSUN PROPOSAL PENELITIAN STOP 19

21 Kompetensi yang Diharapkan  Mampu memahami metodologi penelitian secara konseptual.  Mampu menerapkannya dalam kancah penelitian yang sebenarnya.  Adanya perubahan kognitif dari peserta didik dalam menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi kegiatan penelitian baik yang dilakukannya sendiri maupun yang dilaksanakan oleh orang lain. 20

22 Hakikat Penelitian Pengetahuan? Ilmu? Ilmu adalah pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan berupa ilmu Apa yang Membedakan ? Upaya Mendapatkannya Tanpa Penalaran Pikiran Logis dan Pengujian dengan Data Empiris Penalaran Pikiran Logis dan Pengujian dengan Data Empiris Bukan Metode Ilmiah Metode Ilmiah Coba-coba Intuisi Akal sehat dll. Langkah-langkah Sistematis secara Logis dan Teruji 21

23 Komponen Ilmu Suatu peristiwa yang ditangkap oleh indra manusia dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Abstraksi dari fenomena yang disusun berdasarkan generalisasi atas ide- ide, simbol-simbol karekteristik suatu peristiwa dengan nama yang diambil dari bahasa sehari-hari. Hubungan kausalitas yang berlaku umum di antara dua variabel atau lebih. Proposisi yang telah didukung oleh data empiris Seperangkat konsep, definisi, dan proposisi- proposisi yang berhubungan satu sama lain, menunjukkan fenomena secara sistematis untuk menjelaskan (explanation) dan meramalkan (prediction) fenomena. 22

24 Kriteria Metode Ilmiah KRITERIA METODE ILMIAH FAKTUALOBJEKTIFANALITIK DEDUKTIF- HIPOTETIK INDUKTIF GENERALISASI Segala kegiatan yang dilakukan untuk menemukan kebenaran harus didukung dengan fakta. Kriteria objektif berarti segala fenomena yang ditangkap oleh indrawi harus diamati dan dianalisis secara objektif (dikemukakan secara jujur apa adanya). Setiap faktor yang terlibat dalam masalah yang sedang diamati harus disoroti secara kritis-analitis sehingga setiap faktor itu jelas makna, fungsi, dan peranannya. Deduktif-hipotetik berarti penjelasan fenomena didasarkan pada teori-teori terdahulu yang sudah ada daripada dapat diturunkan HIPOTESIS melalui cara berpikir deduktif. Induktif-generalisasi berarti menguji kebenaran hasil pemikiran deduktif yang sifatnya rasional dengan data empiris (sesuaikah atau tidak ?) 23

25 UMUM KHUSUS Prinsip: Segala yang dipandang benar pada semua peristiwa dalam satu kelas/jenis, berlaku pula sebagai hal yang benar pada semua peristiwa yang terjadi pada hal khusus, asal yang khusus itu benar-benar bagian dari yang umum. 1.Premis mayor 2.Premis minor 3.Kesimpulan Ditentukan oleh: keterampilan menyusun premis, conception, judgement. Rawan Kesalahan: Silogisme (kesalahan isi) Kesalahan bentuk (kesalahan formal) Penalaran dengan Cara SILOGISME Hasil Pemikiran logis/rasio 24

26 25 A premise is a statement that an argument claims will induce or justify a conclusion. [1] In other words: a premise is an assumption that something is true [1] A syllogism (Greek: συλλογισμός – syllogismos – "conclusion," "inference") is a kind of logical argument in which one proposition (the conclusion) is inferred from two or more others (the premises) of a specific formGreeklogical argumentproposition inferred premises

27 Sejumlah besar “A” (SAMPEL) diamati mempunyai sifat “B” sehingga semua “A” termasuk yang tidak diamati juga mempunyai sifat “B”. Ditentukan oleh: besar-kecilnya sampel, representatif sampel, homogenitas sampel. A POPULASI Generalisasi empiris 26

28 27

29 Pengujian hipotesis TEORI Hukum/Dalil Penalaran Induktif Generalisasi Empiris OBSERVASI FAKTA Penalaran Deduktif Penjelasan dan Peramalan HIPOTESIS Penalaran Ilmuan (deduktif & induktif) 28

30 Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Perbedaan Aksioma dasar tentang sifat relaitas Perbedaaan Karakteristik penelitian Perbedaaan proses penelitian

31 Perbedaan Aksioma  Aksioma adalah pandangan dasar. Aksioma penelitian kuantitatif dan kualitatif meliputi aksioma tentang  sifat realitas,  hubungan peneliti dengan yang diteliti,  Hubungan antar variabel  kemungkinan generalisasi, dan  peranan nilai

32 Sifat Realitas  Dalam penelitian kualitatif berlandasakan filsafat postpositivistik atau paradigma interpretatif  Suatu realita tidak dapat dilihat secara parsial, terpecah pecah  Penelitian kualitatif memandang obyek sebagai suatu yang dinamis  Hasil konstruksi dan pemahaman yang holistik  Kinerja mobil misalnya, penelitian kuantitatif dapat meneliti dari mesinnya saja, bodynya saja. Penelitian kualitatif akan meneliti semua komponen dan hubungan satu sama lain saat mobil dijalankan.  Orang memancing, orang kuantitatif melihat orang memancing sebagai kegiatan mencari ikan. Orang kualitatif melihat orang memancing mungkin untuk menghilangkankan stress, daripada menganggur, menyepi, dll

33 Hubungan Peneliti dan yang diteliti  Orang kuantitatif, kebenaran itu diluar dirinya, sehingga hubungan peneliti dan yang diteliti harus ada jarak, dengan demikian bersifat independen. Jika menyebar kuesioner, orang kuantitatif tidak mengenal siapa yang diteliti  Orang kualitatif, peneliti sebagai human instrument dengan tehnik participant obervation dan in depth interview. Maka orang kualitatif harus mengenal betul orang yang memberi data

34 Hubungan Antar Variabel  Penelitian kantitatif melihat hubungan variabel sebagai hubungan kausalitas, diketahui adanya variabel independent dan variabel dependent.  Penelitian kualitatif, hubungan variabel bersifat reciprocal, tidak diketahui mana independen mana dependent variabel

35 Kemungkinan Generalisasi  Orang kuantitatif menekankan pada keluasan informasi, cenderung melalukan generaisasi  Orang kualitatif lebih menekankan kedalaman, cenderung studi kasus yang cenderung dapat ditransfer (transferability), dapat diterapkan ditempat lai dengan kondisi yang tidak jauh berbeda

36 Peranan Nilai  Dalam penelitian kualitatif terjadi interkasi, sehingga peneliti dan yang diteliti memiliki sumber, latar belakang, pandangan keyakinan, nilai, persepsi yang tidak selalu sama  Dalam penelitian kuantitatif bebas nila, menjaga jarak, independen

37 Karaktristik Penelitian Metode KuantitatifMetode Kualitatif DesainSpesifik, jelas, dan rinciumum Ditentukan secara mantab sejak awal Fkelsibel Menjadi pegangan langkah demi langkah Berkembang dan muncul dalam proses penelitian TujuanMenunjuk hubungan antar variabel Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif Menguji teoriMenemukan teori Mencari generalisasi yang bersifat prediktif Menggambarkan realitas yang kompleks Memperoleh pemahaman makna

38 Karakteristik Penelitian Metode KuantitatifMetode Kualitatif Tehnik Pengumpulan dataKuesionerParticipant observation Observasi dan wawancara terstruktur In dept interview Dokumentasi Triangulasi Instrumen PenelitianTest, agket, wawancara terstruktur Peneliti sebagai instrumen Instrumen yang telah standar Buku catatan, tape recorder, camera, handycam, dll

39 Karakteristik Penelitian Metode KuantitatifMetode Kualitatif DataKuantitatifDeskriptif Kualitatif Hasil pengukuran variabel dengan menggunakan instrumen Dokumen pribadi, catatan ucapan, tindakan responden, dokumen dll SampelBesarKecil RepresntatifTidak representatif Sedapat mungkin randomPurosive, snowball Ditentukan sejak awalBerkembang selama proses penelitian

40 Karakteristik Penelitian KuantitatifKualitatif AnalisisSetelah selesai pengumpulan data Terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian DeduktifInduktif Menggunakan statistik untuk pengujian hipotesis Mencari pola, model, thema, teori Hubungan dengan responden Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak agar obyektif Empati, akrab supaya memperoleh pemhaman yang mendalam Kedudukan peneliti lebih tinggi dibanding responden Kedudukan sama, bahkan sebagai guru, konsultan Jangka pendek sampai hipotesis dapat dibuktikan Jangka lama, sampai datanya jenuh, dapat ditemukan hipotesis atau teori

41 Karakteristik Penelitian Metode KuantitatifMetode Kualitatif Usulan DesainLuas dan rinciSingkat umum bersifat sementara Literatur yang berhubungan dengan masalah, dan variabel yang diteliti Litratur yang digunakan bersifat sementara, tidak menjadi pegangan utama Prosedur yang sepesifik dan rinci langkah-langkahnya Prosedur bersifat umum, seperti akan merencanakan tour/piknik Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas Masalahbersifat sementara, dan ditentukan setelah studi pendahuluan Hipotesis dirumuskan dengan jelas Justru akan menemukan hipotesis, jadi tidak dirumuskan Ditulis secara rinci dan jelas sebelum turun kelapangan Fokus penelitian ditetapkan setelah data awal di lapangan

42 Karakteristik Penelitian Metode KuantitatifMetode Kualitatif Kapan penelitian dianggap selesai Setelah semua kegiatan yang direncnakan dapat diselesaikan Setelah tidak ada data yang dianggap jenuh/ data baru Kepercayaan terhadap hasil penelitian Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen Pengujian kredibilitas, proses dan hasil penelitian

43 DESAIN (RANCANGAN) PENELITIAN  Desain penelitian merupakan cetak biru bagi peneliti. Oleh karena itu, perlu disusun terlebih dahulu sebelum penelitian dilaksanakan.  Desain penelitian dapat memberikan petunjuk atau arahan yang sistematis kepada peneliti tentang kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan, kapan akan dilakukan, dan bagaimana cara melakukannya.  Kategori:  desain penelitian deskriptif,  desain penelitian kausalitas,  desain penelitian korelasional,  desain penelitian tindakan,  desain penelitian eksperimental,  desain penelitian Grounded. 42

44 DESAIN PENELITIAN DESKRIPTIF  Desain penelitian deskriptif adalah desain penelitian yang disusun untuk memberikan gambaran secara sistematis tentang informasi ilmiah yang berasal dari subjek atau objek penelitian. 43

45 Langkah-langkah Penelitian Deskriptif 1. Merumuskan masalah penelitian. 2. Merumuskan tujuan penelitian. 3. Mengkaji pustaka, yaitu menelaah teori yang relevan. 4. Menentukan sampel yang representatif. 5. Menyusun instrumen penelitian. 6. Mengumpulkan data. 7. Menganalisis data. 8. Menarik kesimpulan. 44

46 DESAIN PENELITIAN KAUSALITAS  Desain penelitian kausalitas adalah desain penelitian yang disusun untuk meneliti kemungkinan adanya hubungan sebab-akibat antarvariabel. 45

47 Langkah-langkah Penelitian Kausalitas 1. Menetapkan masalah penelitian. 2. Merumuskan tujuan penelitian. 3. Mengkaji teori dan menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan. 4. Merumuskan hipotesis penelitian. 5. Menentukan ukuran sampel. 6. Mengklasifikasi dan mendefinisikan variabel penelitian 7. Menyusun instrumen penelitian, sekaligus melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen. 8. Menentukan metode pengumpulan data. 9. Melakukan pengujian hipotesis. 10. Menarik kesimpulan. 46

48 DESAIN PENELITIAN KORELASIONAL  Desain penelitian korelasional adalah desain penelitian yang dibuat untuk meneliti bagaimana kemungkinan hubungan yang terjadi antarvariabel dengan memperhatikan besaran koefisien korelasi.  Langkah-langkah penelitian korelasional tidak berbeda jauh dengan desain penelitian kausalitas karena penelitian korelasional pada umumnya ingin melakukan verifikasi teori. 47

49 DESAIN PENELITIAN TINDAKAN  Desain penelitian tindakan adalah desain penelitian yang disusun untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya.  Penelitian tindakan pada umumnya mengevaluasi pendekatan atau metode yang sudah diterapkan, kemudian berupaya mengembangkan menjadi pendekatan atau metode yang lebih baik. 48

50 Langkah-langkah Penelitian Tindakan 1. Merumuskan masalah dan tujuan penelitian. 2. Melakukan kajian pustaka untuk menentukan metode atau pendekatan yang relevan dengan masalah dan tujuan penelitian. 3. Jika diperlukan, rumuskan hipotesis penelitian. 4. Membuat desain penelitian yang cocok dengan kondisi lapangan. 5. Menentukan kriteria-kriteria evaluasi atau teknik analis data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan penelitian. 6. Mengumpulkan data, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil. 7. Menyusun laporan penelitian. 49

51 DESAIN PENELITIAN EKSPERIMENTAL YANG SEBENARNYA  Desain penelitian eksperimental yang sebenarnya adalah desain penelitian yang disusun untuk meneliti adanya hubungan kausalitas mengenai sikap tertentu antara kelompok yang diberi perlakuan dengan kelompok lain yang tidak dikenai perlakuan.  RAGAM:  Pretest-Posttest Control Group  Posttest- Only Control Group 50

52 DESAIN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU  Desain penelitian eksperimental semu adalah desain penelitian yang disusun untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh melalui eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk memanipulasikan semua variabel yang relevan.  RAGAM:  One-Shot Case Study  One-Group Pretest-Posttest  Static Group Comparison  Static Group Comparison Pretest-Posttest 51

53 DESAIN PENELITIAN GROUNDED  Desain penelitian Grounded adalah desain penelitian yang disusun untuk membuat generalisasi empiris, menetapkan konsep- konsep, serta membuktikan dan mengembangkan teori. 52

54 Langkah-langkah Penelitian Grounded  Menentukan masalah penelitian.  Melakukan observasi; dalam hal ini, semua fakta dicatat secara holistis dan bersifat alamiah (naturalistik).  Melakukan interpretasi fakta, membuat dethesis tentang fenomena yang diamati.  Merumuskan generalisasi bersifat teoretis dengan menyusun proposisi, konsep, dan teori.  Menyusun laporan penelitian. 53

55 5 MENARIK KESIMPULAN 4 UJI HIPOTESIS 3 MENYUSUN HIPOTESIS 2 MENGKAJI TEORI 1 MENETAPKAN MASALAH TAHAPAN RISET secara UMUM Variabel penelitian Sumber data Instrumen Populasi & Sampling Pengumpulan data Analisis data Merumuskan Hipotesis Kajian teori Kajian penelitian terdahulu Menemukan masalah Memilih masalah Merumuskan masalah Menyimpulkan Rekomendasi 54

56 Pengertian Masalah  Masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dan yang benar-benar terjadi (Sugiono,1992): Antara pengalaman dan kenyataan, antara rencana dan realisasi, ada pengaduan, ada kompetisi.  Masalah ada jika ada kesenjangan (gap) antara das sollen dan das sein (Sumadi, 1993)  Masalah harus mencerminkan kebutuhan yang dirasakan oleh klien atau peneliti (Suparmoko, 1991)

57 Pengertian Masalah (Cont.)  Masalah tidak sama dengan topik/judul thesis/tesis, tetapi masalah tercakup di dalam judul, yang memiliki kriteria tertentu, misal: bertalian dengan konsep, dan jelas variabel-variabelnya (Nasution, 1991)  Masalah timbul karena adanya tantangan, kesangsian, kebingungan atas suatu fenomena, halangan, rintangan (Nasir 1998)

58 Ciri Masalah Yang Baik  Feasible: dapat dicarikan jawaban melalui sumber yang jelas  Harus jelas: semua orang memberikan persepsi yang sama terhadap masalah tersebut  Sifnifikan: memberikan kontribusi terhadap pemecahan masalah  Bersifat etis, bermoral, nilai, keyakinan, agama

59 Ciri Masalah Yang Baik  Mencerminkan kebutuhan yang dirasakan  Bukan hipotesis tetapi fakta  Dapat menyarankan adanya hipotesis  Harus relevan dan dapat dikelola

60 Ciri Masalah Yang Baik  Memiliki nilai penelitian  Fleksibel  Sesuai dengan kualifikasi peneliti

61 Ciri Masalah Yang Baik  Hendaknya bertalian dengan konsep  Hendaknya menyumbangkan llmu  Hendaknya memanfaatkan konsep, teori, data, tehnik, dan disiplin ilmu yang berkaitan.

62  Menemukan Masalah  Memilih Masalah  Merumuskan Masalah 61

63 Menemukan Masalah Masalah penelitian dapat ditemukan dari berbagai sumber:  Referensi atau literatur  Pertemuan Ilmiah  Pendapat Otorita  Pengamatan Sepintas  Pengalaman Pribadi  Intuisi 62

64 METODE PENEMUAN MASALAH Ide untuk menemukan masalah penelitian dapat diperoleh melalui dua pendekatan yaitu formal dan informal. Ada enam metode untuk menemukan masalah dengan metode formal yaitu: (1) metode analog, (2) metode renovasi, (3) metode dialektis, (4) metode morfologi, (5) metode dekomposisi, dan (6) metode agregasi.

65  Metode analog menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian pada bidang tertentu untuk menentukan masalah penelitian pada bidang lain yang terkait, contoh: (1) studi semantik dalam penyajian laporan keuangan, (2) penerapan teori komunikasi pada pembaca laporan keuangan.  Metode renovasi, masalah penelitian ditentukan dengan cara memperbaiki atau mengganti komponen teori atau metode yang kurang relevan dengan komponen teori atau metode lain yang lebih efektif, misalnya dalam pelaksanaan perhitungan risiko dan keuntungan dalam EVA dapat digunakan CAPM (Capital Assets Pricing Model) atau APT (Arbitrage Pricing Theory).

66  Metode dialektis. Cara menentukan masalah penelitian dengan metode ini melalui pengajuan usulan pengembangan teori atau metode yang telah ada. Misalnya metode pengukuran general price level accounting dapat diusulkan sebagai alternatif dari metode historical cost accounting pada masa inflasi.  Metode morfologi. Metode ini merupakan metode untuk menemukan masalah penelitian dengan menganalisis berbagai kemungkinan kombinasi bidang masalah penelitian yang saling berhubungan dalam bentuk matrik. Contoh:

67 Parameter1234 A.MahasiswaSikapPrestasi Akademik Kemampuan Komunikasi - B. KelembagaanEvaluasi Kinerja DosenKegiatan Penelitian Pengembanga n Lembaga C. Proses PengajaranKurikulumMetode Pengajaran UjianSarana & Prasarana D. Administrasi & Keuangan Struktur Organisasi Administrasi Akademik KeuanganProgram Akreditasi Misal: Apakah ada hubungan antara kemampuan komunikasi dengan prestasi akademik mahasiswa ?

68  Metode Dekomposisi. Masalah penelitian ditemukan dengan cara membagi masalah ke dalam elemen – elemen yang lebih spesifik. Misal masalah metode pembenanan BOP dalam akuntansi yang dibagi menjadi beberapa elemen yang lebih spesifik, antara lain: (1) Metode pembebanan (2) Efisiensi BOP Berdasarkan dekomposisi masalah tersebut, peneliti dapat menentukan masalah dengan topik “studi terhadap pemilihan metode pembebanan BOP terhadap tingkat efisiensi BOP”.  Metode agregasi. Metode ini merupakan kebalikan dari metode dekomposisi yaitu menggunakan hasil penelitian atau teori dari berbagai bidang penelitian yang berbeda untuk menentukan suatu masalah penelitian yang lebih kompleks. Misal: penerapan teori nilai sekarang dalam akuntansi leasing dan akuntansi sumber daya manusia.

69  Dalam pendekatan informal, ada empat metode yang dapat digunakan untuk menemukan masalah penelitian, yaitu: (1) metode perkiraan, (2) metode fenomenologi, (3) metode konsensus, dan (4) metode pengalaman.  Metode perkiraan. Masalah penelitian dalam metode ini ditentukan berdasarkan perkiraan mengenai situasi tertentu yang diperkirakan memiliki potensi masalah. Misal kerugian karena produk hilang untuk jenis produk yang mudah menguap dapat terjadi pada proses pembelian, penyimpanan atau penjualan produk. Dengan demikian penentuan masalah penelitian dapat diarahkan untuk perbaikan sistem pembelian atau penjualan produk.

70  Metode Fenomenologi. Masalah penelitian melalui metode ini ditemukan berdasarkan hasil observsi terhadap fakta atau kejadian. Fakta yang dapat diamati dalam lingkungan bisnis dapat berupa sikap dan perilaku anggota organisasi, kinerja operasional perusahaan. Misal pengamatan investor terhadap data keuangan perusahaan atau beberapa perusahaan dalam suatu industri dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan topik masalah mengenai: manfaat rasio keuangan untuk memprediksi pertumbuhan laba atau kandungan informasi laporan kas untuk pembuatan keputusan investasi.  Metode Konsensus. Ide masalah penelitian dapat ditemukan berdasarkan adanya konsensus dalam praktik bisnis yang merupakan kebiasaan yang dipraktikkan dalam bisnis yang tidak dilandasi oleh konsep atau teori yang baku. Misal kriteria untuk menentukan materiality dalam pengakuan dan penyajian informasi akuntansi atau auditing.  Metode Pengalaman. Masalah penelitian ditemukan berdasarkan pengalaman perusahaan atau orang – orang dalam perusahaan. Misal pengalaman perusahaan dalam menghadapi kesulitas likuiditas.

71 Setelah permasalahan dapat diidentifikasikan dengan tepat, langkah berikutnya adalah memberi nama penelitian atau judul penelitian. Ada dua orientasi dalam memberikan judul riset: (1) berorientasi singkat, (2) berorientasi jelas. Berorientasi singkat. Judul dibuat sesingkat mungkin agar menarik dan membangkitkan keingin tahuan pembaca. Misal: Analisis Perilaku Akuntan dalam Memberikan Jasa Layanan Audit Berorientasi jelas. Hendaknya mencakup jenis penelitian, obyek yang diteliti, lokasi penelitian, dan waktu pelaksanaan penelitian. Contoh: Pengaruh penilaian risiko saham terhadap nilai perusahaan kelompok manufaktur di BEI Tahun 2008 – Jenis penelitian: asosiatif Obyek penelitian: penilaian risiko saham, nilai perusahaan Lokasi riset: BEI Waktu pelaksanaan: Tahun 2008 – 2009.

72 PERUMUSAN MASALAH Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, yaitu: 1. Masalah harus dirumuskan dengan jelas dan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda. 2. Rumusan masalah hendaknya dapat mengungkapkan hubungan antara dua variabel atau lebih. 3. Rumusan masalah dapat dituangkan dalam bentuk kalimat tanya atau pernyataan. Contoh: Apakah ada hubungan antara partisipasi pemakai dengan kepuasan pemakai dalam proses pengembangan sistem informasi. Bagaimana pengaruh idealisme terhadap komitmen pada profesi. Apakah volume perdagangan saham meningkat signifikan pada saat perusahaan mengumumkan laba tahunan.

73 KESALAHAN UMUM DALAM PENEMUAN MASALAH PENELITIAN 1. Peneliti mengumpulkan data tanpa rencana atau tujuan penelitian yang jelas. 2. Peneliti memperoleh sejumlah data dan berusaha untuk merumuskan masalah penelitian sesuai dengan data yang tersedia. 3. Peneliti merumuskan masalah penelitian dalam bentuk terlalu umum dan ambiguitas sehingga menyulitkan interpretasi hasil dan pembuatan kesimpulan penelitian. 4. Peneliti menemukan masalah tanpa terlebih dahulu menelaah hasil penelitian sebelumnya dengan topik sejenis, sehingga masalah penelitian tidak didukung oleh kerangka teoritis yang baik. 5. Peneliti memilih masalah penelitian yang hasilnya kurang memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori atau pemecahan masalah praktis. 6. Permasalahan tidak diambil dari akar masalah yang sesungguhnya. 7. Permasalahan yang akan dipecahkan tidak sesuai dengan kemampuan peneliti dalam hal teori, waktu, dan biaya. 8. Kurang dukungan dari pihak yang berkewenangan memberikan ijin (subyek penelitian).

74 TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan pustaka dalam karya ilmiah memiliki fungsi antara lain: 1. Memberikan kemampuan kepada pembaca untuk memperoleh wawasan dari tujuan dan hasil kajian. 2. Untuk mengidentifikasi teori – teori yang dapat diterapkan dan diuji. 3. Untuk mengindentifikasi kekuatan dan kelemahan teori – teori dan kajian empirik dari karya tulis orang lain. 4. Untuk menjelaskan teknik dan instrumen penghimpunan data. 5. Mendefinisikan dan membatasi masalah 6. Menghindari replikasi yang tidak dikehendaki dan tidak diperlukan.

75 Dalam menyusun tinjauan pustaka, sumber yang dapat digunakan oleh peneliti melalui (1) jurnal profesional, (2) buku ilmiah, (3) dokumen perusahaan/lembaga pemerintah, (4) skripsi, tesis, disertasi. Tinjauan pustaka harus berisi tentang teori – teori terpilih yang relevan dengan judul penelitian. Contoh judul: Pengaruh Nilai Tambah Ekonomis dan Nilai Tambah Pasar terhadap Harga Saham dan Implikasinya pada Jumlah Investasi Sektor Manufaktur di BEI. Dari judul tersebut, maka teori yang dipilih harus merunut kepada judul yang dimaksud, misalnya konsep tentang kinerja keuangan, konsep nilai tambah ekonomis, konsep nilai tambah pasar, konsep saham, dan konsep investasi.

76 KERANGKA PEMIKIRAN, KERANGKA TEORITIS, & SUB STRUKTUR PENELITIAN  Kerangka pemikiran merupakan sebuah alur yang menggambarkan proses riset secara keseluruhan. Dengan kata lain kerangka pemikiran merupakan miniatur keseluruhan proses penelitian. Oleh karena itu dalam kerangka pemikiran harus dapat menerangkan (1) mengapa penelitian dilakukan, (2) bagaimana proses penelitian dilakukan, (3) apa yang akan diperoleh dari penelitian tersebut ?, (4) untuk apa hasil penelitian yang akan diperoleh ?  Kerangka teoritis merupakan bagan atau gambar yang digunakan untuk menjelaskan sebuah teori agar lebih mudah dipahami.  Sub struktur penelitian hanya menggambarkan hubungan atau keterkaitan dari variabel yang diteliti.

77 Memilih masalah  Arah masalahnya  Aktualitas  Orisinalitas  Relevan  Besarnya sumbangan terhadap ilmu  Arah calon peneliti  Biaya  Waktu  Alat/perlengkapan yang tersedia  Bekal kemampuan teoretis  Penguasaan metode yang diperlukan 76

78 Merumuskan masalah  Dirumuskan dengan kalimat pertanyaan (apakah, sejauh mana, bagaimana, dst.).  Dirumuskan dengan jelas dan padat.  Memberikan petunjuk tentang kemungkinan pengumpulan data. 77

79 Bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi,nilai tukar, ekspor, dan tingkat suku bunga domestik terhadap Investasi Asing Langsung di Indonesia? Bagaimana pengaruh marketing stimuli dan lingkungan sosial budaya terhadap psikologi konsumen dalam keputusan pembelian barang X? Bagaimana pengaruh kinerja keuangan terhadap Return Saham Perusahaan Food and Beverages yang listing di Bursa Efek Surabaya? 78 CONTOH RUMUSAN MASALAH PENELITIAN

80 TAHAP DEthesis: Memasuki konteks sosial TAHAP REDUKSI: menentukan fokus, memilih diantara yang didethesiskan TAHAP SELEKSI; mengurai fokus kedalam komponen lebih rinci: deskriptif, asosiatif, komparatif Proses Penelitian Kualitatif

81 Tahap Dethesis Abkhfdin [jbuy97, skhfpunemg65m gbgdinbg082ngdhyns,78ghtrfkhph Tahap Reduksi Bgo82, bkfd. 78 skhfpun Tahap Seleksi bgo khfp

82

83

84 Kemungkinan masalah sebelum dan sesudah peneliti memasuki lapangan Masalah Masalah Masalah tetap Masalah berkembang Masalah diganti Peneliti Memasuki Lapangan

85 Fokus Penelitian Obyek Penelitian 12 variabel Dibatasi menjadi misalnya dua variabel A dan E ABCDEF GHIJKL AE

86 Pembatasan Masalah  Pembatasan masalah lebih didasarkan pada tingkat kepentingan, urgensinya, feasibilitas masalah, juga keterbatasan tenaga, dana, dan waktu.  Suatu masalah dikatakan penting apabila masalah tersebut jika tidak dipecahkan melalui penelitian, maka masalah akan membesar atau menimbulkan masalah baru.

87 Pembatasan Masalah  Suatu masalah disebut urgen, apabila masalah tersebut tidak segera dipecahkan melalui penelitian, maka semakin kehilangan kesempatan untuk mengatasinya.  Masalah dikatakan feasible apabila terdapat berbagai sumberdaya untuk memecahkan masalah tersebut  Itulah perlunya analisis masalah

88 Menentukan Fokus (satu domain) Aktivitas (At) Orang/Aktor (A)Tempat (P) Situasi sosial dikategorikan menjadi KS1, KS2, KS3 At At At A P A P A P At A P Situasi Sosial (KS) KS 1 KS 2 KS 3 KS 2

89 4 Alternatif untuk menetapkan fokus Spradley dalam Sanapiah (1988) mengemukakan : 1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informan 2. Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizing domain 3. Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk pengembangan iptek 4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang telah ada

90 Bentuk Rumusan Masalah 1. Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam. 2. Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks sosial atau domain satu dibandingkan dengan yang lain. 3. Rumusan masalah assosiatif atau hubungan adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dibandingan dengan yang lainnya. Rumusan masalah assosiatif dibagi menjadi tiga yaitu hubungan simetris, kausal dan reciprocal atau interaktif. Hubungan simetris adalah hubungan suatu gejala yang munculnya bersamaan sehingga bukan merupakan hubungan sebab akibat atau interaktif. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab dan akibat. Selanjutnya, hubungan reciprocal adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam penelitian kualitatif hubungan yang diamati atau ditemukan adalah hubungan yang bersifat reciprocal atau interaktif.

91 Contoh rumusan masalah dalam proposal penelitian kualitatif tentang suatu peristiwa 1. Apakah peristiwa yang terjadi dalam situasi sosial atau setting tertentu? (rumusan masalah deskriptif) 2. Apakah makna peristiwa itu bagi orang-orang yang ada pada setting itu? (rumusan masalah deskriptif) 3. Apakah peristiwa itu diorganisir dalam pola-pola organisasi sosial tertentu (rumusan masalah assosiatif/hubungan yang akan menemukan pola organisasi dari suatu kejadian 4. Apakah peristiwa itu berhubungan dengan peristiwa lain dalam situasi sosial yang sama atau situasi sosial yang lain (rumusan masalah assosiatif) 5. Apakah peristiwa itu sama atau berbeda dengan peristiwa lain (rumusan masalah assosiatif) 6. Apakah peristiwa itu merupakan peristiwa yang baru, yang belum ada sebelumya?

92 Rumusan masalah tentang kemiskinan 1. Bagaimanakah gambaran rakyat miskin di situasi sosial atau setting tertentu? (rumusan masalah deskriptif) 2. Apakah makna miskin bagi mereka yang berada dalam situasi sosial tersebut? (rumusan masalah deskriptif) 3. Bagaimana upaya masyarakat tersebut dalam mengatasi kebutuhan sehari-hari? (rumusan masalah deskriptif) 4. Bagaimanakah pola terbentuknya mereka menjadi miskin? (rumusan masalah assosiatif reciprocal) 5. Apakah pola terbentuknya kemiskinan antara satu keluarga dengan yang lain berbeda? (rumusan masalah komparatif) 6. Adakah pola baru yang menyebabkan rakyat menjadi miskin?

93 Rumusan masalah tentang Manajemen 1. Apakah pemahaman orangn-orang yang ada dalam organisasi itu tentang arti dan makna manajemen? (masalah deskriptif) 2. Bagaimana iklim kerja atau suasana kerja pada organisasi tersebut ? (masalah deskriptif) 3. Bagaimanakah pola perencanaan yang digunakan dalam organisasi itu, baik perencanaan strategis maupun taktis/tahunan (masalah deskriptif) 4. Bagaimana model penempatan orang-orang untuk menduduki posisi dalam organisasi itu (masalah deskriptif) 5. Bagaimanakah model koordinasi, kepemimpinan dan supervisi yang dijalankan dalam organisasi itu? (masalah assosiatif) 6. Bagaimanakah pola penyusunan anggaran pendapatan dan belanja organisasi itu? (masalah assosiatif) 7. Bagaimanakah pola pengawasan dan pengendalian yang dilakukan dalam organisasi tersebut? (masalah deskriptif) 8. Apakah kinerja organisasi tersebut berbeda dengan organisasi lain yang sejenis? (masalah komparatif)

94 Contoh Judul Penelitian Kualitatif 1. Pengembangan Model Perencanaan yang efektif, di Era Otonomi Daerah 2. Organisasi Pemerintah yang Efektif dan Efisien pada Era Otonomi Daerah 3. Membangun Iklim Kerja yang Kondusif 4. Pengembangan Kepemimpinan Berbasis Budaya 5. Pengembangan sistem Pengawasan yang Efektif 6. Makna Menjadi Pegawai Negeri Sipil bagi Masyarakat 7. Makna Pembangunan Bagi Masyarakat Miskin 8. Pengembangan Body Language yang Menarik Bagi Konsumen Masyarakat Yogyakarta 9. Strategi Hidup Masyarakat yang Tanah dan Rumahnya Tergusur 10. Manajemen Keluarga Petani dalam Menyekolahkan Anak-anaknya 11. Model Belajar Anak yang Berprestasi 12. Profil Guru yang Efektif Mendidik Anak

95 Contoh Judul Penelitian Kualitatif 13. Makna Upacara-upacara Tradisional Bagi Masyarakat Tertentu 14. Pola Perkembangan Karir bagi Orang-orang Sukses 15. Makna Gotongroyong Bagi Masyarakat Tertentu 16. Mengapa SDM Masyarakat Indonesia Tidak Berkualitas? 17. Mengapa Korupsi Sulit Diberantas di Indonesia? 18. Menelusuri Pola Supply and Demand Narkoba 19. Makna Sakit Bagi Pasien 20. Pola Manajemen Pedagang yang diduga punya “Pesugihan” 21. Pengembangan Model Pendidikan Berbasis Produksi 22. Mengapa Para Pemimpin Indonesia Gagal Membangun Bangsa 23. Mengadili Koruptor dengan Pendekatan Ilmiah 24. Kesejahteraan Menurut Orang Miskin 25. Model Pengembangan SDM Bangsa dalam Upaya Mencapai Keunggulan Kompetitif

96 Situasi Sosial (Social Situation) Place/Tempat Actor/Orang Activity/Aktifitas Social Situation

97 Model Generalisasi penelitian kuantitatif. Sampel representatif, hasilnya digeneralisasi ke populasi reduksi generalisasi Populasi Sampel

98 Model generalisasi kualitatif. Sampel purposive, hasil dari A dapat ditransferkan hanya ke B, C, D Transferability A B C D E F

99 Disarikan dari Amirin, Tatang M. 2010

100 Misal kita akan meneliti tentang profesionalisme guru. Pertama yang harus terpikirkan, adalah apa yang dimaksudkan dengan profesionalisme. Sebab bisa jadi yang kita maui (pahami), tidak sama dengan yang dipahami orang lain. Perbedaan itu akan membuat kesulitan komunikasi dalam penelitian, termasuk mengkomunikasikan hasil penelitian nantinya. Beda pemahaman tentang sesuatu, akan menyebabkan salah pengertian (misunderstanding) dan gagal komunikasi

101 Contoh. Dua anak, satu anak Jogja, satu anak Majalengka, melewati selokan Cah Jogja melihat ada ikan lele, berkecipak masuk ke lubang.

102 Anak Jogja: Lele, lele! Kae lho ono lele mlebu leng,” sambil menunjuk-tunjuk ke arah lubang tempat ikan lele masuk. Anak Majalengka: “Sok kodok, atuh!,” menyuruh Cah Jogja yang lebih gede itu “ngodok” (merogoh) lubang, menangkap ikannya. Mendengar kata kodok-kodok begitu, Cah Jogja bingung, dalam benaknya “masak lele dibilangin kodok”.

103 “Kae ki lele. Sing mlebu leng ki lele!” Sambutnya ngotot, menegaskan yang masuk lubang itu ikan lele, bukan kodok, sambil nunjuk-nunjuk lubang Barudak Sunda bingung dengan ucapan Cah Jogja. Tapi pikirnya, pokoknya ada kata lele, gitu, jadi langsung jawab, “Nya enya sok atuh kodok!” (Ya iya, makanya cepetan rogoh lubangnya), paham kalau yang disebut-sebut itu memang ikan lele, jadi bagus kalau “dikodok” (dirogoh).

104 Cah Jogja tambah bingung. Kok kodok lagi kodok lagi. Padahal itu lele. “Ye... piye tho, kok kodok maneh, kodok, maneh. Kandani lele, kodok, kodok wae. Embuh, ah!” (Gimana sih, dibilangin lele, kodok lagi, kodok lagi. Udah, ah, tahu!), anak Jogja meneruskan perjalanan Barudak Sunda “molohok ngembang kadu” (melongo terlongong-longong). Lalu, sambil bingung, nuturkeun (ngikut) berjalan di belakang Cah Jogja.

105 Lele dan kodok itu keduanya konsep. Konsep (kata) lele dipahami sama, baik oleh Urang Sunda, maupun Wong Jogja. Tetapi konsep (kata) kodok menjadi tidak sama pahamnya. Wong Jogja pahamnya kodok itu katak, Urang Sunda mengertinya rogoh (memasukkan tangan ke dalam lubang). Itulah ceritera mengapa sesuatu konsep (kata, istilah) dalam penelitian harus dipertegas maknanya (dibatasi atau didefinisikan pengertiannya).

106 Kata “profesionalisme” dalam bahasa metodologi penelitian lazim disebut sebagai sebuah konsep (concept). Hati-hati, istilah concept jangan dikisruhkan pula dengan draft. Kenapa? Karena dalam keseharian istilah konsep kerap dipakai dalam kalimat seperti, “Konsep suratnya sudah dibuat?” Atau, “Wah, maaf, saya belum sempat mengonsep naskah sambutannya.” Konsep dalam dua kalimat contoh di atas bahasa Inggrisnya draft, bukan concept. Bahasa Indonesianya buram. Bahasa gaulnya “oret-oretan.” Membuat konsep sama makna dengan membuat buram atau oret-oretan.. Konsep (concept) dalam bahasa metodologi penelitian sebenarnya kata atau kata-kata (frasa) yang dapat disebut juga sebagai istilah.

107 Cobalah Anda gambarkan apa yang terbayang di kepala Anda jika saya menyebutkan kata (istilah, sebutan) “orang,” lalu “orang utan, ” lalu “orang hutan.” Ada sesuatu sosok yang terbayang di kepala Anda berkenaan dengan ketiga istilah, sebutan, atau kata itu, kecuali mungkin kata kedua dan ketiga. Orang, tentu Anda sudah bisa membayangkan sosoknya seperti apa, termasuk sosok Anda sendiri. Orang utan, rasanya pasti dalam kepala Anda ada “bayangan” (kesan) tentang sejenis kera. Orang hutan, nah ini baru masalah. Mungkin Anda membayangkan sama dengan orang utan, mungkin terbayang sosok seperti kita (orang juga) yang tinggal di hutan (seperti sebutan untuk orang desa atau orang kota). Orang, orang utan, dan orang hutan itu ketiganya disebut sebagai konsep (concept), sesuatu sebutan yang “mewakili” keberadaan sosok yang nyata ada dalam kehidupan, tetapi tidak terkait dengan sesuatu sosok tertentu

108 Berkanaan dengan ini lalu concept biasa didefinisikan sebagai sesuatu istilah (term) yang merupakan abstraksi dari sesuatu kenyataan (realita). “Abstraksi” itu bahasa Indonesianya pengabstrakan, yaitu pengabstrakan (menjadikannya abstrak) sesuatu (realita) yang nyata “terlihat.” Yang diabstrakkan itu tentu berupa benda-benda konkrit, yang “terlihat” (termasuk terasa, teraba, terdengar, terbayang, terkesan, terpikir dsb). Jadi, tidak semua kata merupakan konsep. Konsep berkaitan dengan benda-benda, baik benda konkrit, benda abstrak, maupun “benda konseptul”. Benda konkrit misalnya orang, kambing, jambu, dan air. Benda abstrak (gaib) misalnya jin, setan, malaikat, dewa. Benda abstrak-konseptual misalnya ketaatan, kekecewaan, frustrasi, agresif, motivasi, dan efisiensi.

109 Konsep bersifat umum dan abstrak. Universitas adalah konsep yang sangat abstrak. Universitas Negeri, konsep lain yang agak konkrit, tetapi tetap masih abstrak, belum menunjuk universitas negeri yang manapun. Universitas Diponegoro (Undip) konkrit (ada barangnya, ada bendanya). Undip pun masih konsep juga, kendati konsep yang nuansanya konkrit, tertentu. Undip memang nama sesuatu yang nyata, yang ril. Akan tetapi, seperti apa Undip itu, tak konkrit. Yang tampak cuma bangunan dan lokasi kampus Undip serta orang-orang yang sibuk dan serius bertridharma PT di dalamnya. Nah, ketika kita bicara kampus Undip barulah muncul sesuatu yang konkrit,.

110 Orang-orang menyebut semua pisau “silet,” apapun mereknya (Goal, Tatra, Tiger) dengan silet (gilette), karena pisau ciptaan Pak Gilette yang sosoknya seperti itulah yang pertama kali muncul. Sama dengan “orang Jawa” yang suka menyebut semua orang “Barat” dengan “Londo,” sehingga ada Londo Inggris, ada Londo Australia, ada Londo Amerika, walaupun londo itu asalnya sebutan untuk orang Belanda. Yang asli Belanda disebut “Londo Belanda” (?). Belanda saja dari Holland. Jika dalam contoh di atas ada anak kecil menyebut harimau dengan kucing, tidak mustahil ketika dosen metodologi penelitian menyebut konsep “subjek penelitian”, dalam kepala mahasiswa terbayang seperti “subjek kalimat” dalam kalimat “Dosen mengajari mahasiswa melakukan penelitian” (dosen subjek, mengajari predikat, dst). Jadi, subjek penelitian adalah orang yang melakukan penelitian. Tentu saja itu salah, seperti kesalahan anak kecil menyebut harimau dengan kucing.

111 Konstruk (Construct) Istilah konsep kadang kala disebut juga konstruk (construct). Keduanya sebenarnya sama saja. Hanya kadang-kadang suka dibedakan, yaitu sebutan kontruk dikhususkan pada sesuatu yang bisa diukur-ukur (ditimbang, dihitung dsb). Dalam bahasan tentang penyusunan instrumen penelitian (baca: instrumen pengumpulan data dengan “teknik tes dan pengukuran”) suka ditemukan istilah validitas konstruk [construct validity, kesahihan (kebenaran) berlandas makna hakiki konstruk atau konsep]. Itu maksudnya yang “digambarkan” –dalam bentuk “definisi operasional” tentang konsep/konstruk itu benar atau tepat.

112 Ambil contoh konsep/konstruk “partisipasi masyarakat.” Apa makna hakliki partisipasi itu? Partisipasi masyarakat itu yang “take part” atau yang “involve.” Take part (asmbil bagian) artinya benar-benar melakukan peran tertentu (lihat definisi peran di bawah). Involve (terlibat) artinya terlibat, tetapi tidak pegang peranan. Jika orang tua murid ikut membicarakan bagaimana sekolah akan dikembangkan, ikut merencanakan program pengembangan sekolah, ikut melaksanakan program, ikut memonitor dan mengevaluasi program, itu namanya berperan serta (berpartisipasi). Jika orang tua membantu menyumbang uang untuk mengembangkan sekolah, itu artinya orang tua terlibat dalam pengembangan sekolah, tapi tidak ikut berpartisipasi (take part).

113 Analog (berkias) pada kemungkinan akan terjadi kesalahtangkapan makna (misunderstanding) serupa itu dalam penelitian, maka seseorang yang akan melakukan penelitian dituntut untuk memperjelas mempertegas konsep-konsep penting (tidak setiap kata atau konsep) yang ada di dalam “topik penelitiannya” (lazim tercermin dalam judul–kalimat judul penelitian). Kenapa? Karena penelitian yang dilakukan seseorang akan memunculkan “komunikasi” dengan banyak pihak. Dalam komunikasi itu haruslah kedua belah pihak sama makna dalam memahami konsep-konsep yang muncul ke permukaan penelitian.

114 Definisi Operasional Konsep Nah, batasan pengertian (definisi) konsep belajar (prestasi belajar) itu jadinya harus “dioperasionalkan” lebih tegas. Operasional artinya jika akan diukur, aspek-aspek, sisi-sisi apa saja yang harus tercakup ke dalam konsep belajar (prestasi belajar) itu agar mudah diteliti (diukur). Dengan kata lain, apa saja yang menjadi “tanda-tanda” (indikator) pengukur konsep itu. Ingat, ini berkaitan dengan penelitian yang dalam menghimpun datanya menggunakan ukuran-ukuran. Dalam bahasa metodologi penelitian sering dikaitkan dengan penelitian kuantiatif-positivistik (yang suka memandang segala sesutu bisa diukur atau harus bisa diukur

115 Sebentar! Diukur itu maksudnya apa? Tinggi tubuh diukur dengan meteran. Berat badan diukur dengan timbangan. Isi tangki bensin diukur dengan literan. “Daya terang” bola lampu “diukur” dengan “watt.” Kecepatan laju kapal “diukur” dengan “knot.” Itu sehari-hari yang kita tahu. “Kepahaman” murid akan materi pelajaran yang sudah diajarkan dan dipelajari “diukur” dengan tes (ujian, ulangan). Lalu, bagaimana “mengukur” yang lainnya? Disusun oranglah berbagai alat ukur. Kecerdasan diukur dengan “alat tes”, antara lain yang dibuat oleh Binet dan Simon. Ada pula alat ukur yang disebut dengan Tes Potensi Akademik (TPA). Sikap, yaitu pro-kontra, setuju-tidak setuju, simpati-antipati terhadap sesuatu yang melibatkan unsur emosi subjetif seseorang; misalnya sikap “orang tua” Amerika Serikat terhadap pengiriman “anak-anaknya” ke negara- negara yang dianggap tidak demokratis menurut kaca mata “pemimpin” Amerika, “diukur” dengan skala sikap, misalnya dengan model Likert.

116 Coba kita beri contoh dengan memikirkan apa tanda-tanda seseorang mahasiswa dikatakan “rajin belajar.” Apa saja yang menjadi “ukuran” rajin belajar itu? Pertama, dethesiskan dulu apa saja kegiatan yang termasuk belajar itu (mengikuti kuliah, membaca bahan kuliah, mengerjakan tugas, berdiskusi dengan teman, atau apalagi?). Setelah itu cari tanda (ukuran, indikator) kerajinan (belajar) dari setiap deskriptor tadi. Jadi, ada rajin mengikuti kuliah (tanda atau indikatornya?), ada rajin membaca bahan kuliah (tanda atau indikatornya?) dan seterusnya. Jangan lupa, dalam setiap deskriptor itu tentu ada subdeskriptornya. Mengikuti kuliah (salah satu deskriptor belajar) mengandung sub kegiatan, misalnya, mengikuti presentasi dosen, mengikuti diskusi kelas (jika ada), mengerjakan tugas kelas (jika ada), menyusun makalah untuk diskusi kelas dan mepresentasikannya (jika ada). Jadi, kerajinan belajar mahasiswa adalah kekerapan seseorang mahasiswa hadir di kelas mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas kelas, kekerapan membaca literatur yang terkait dengan perkuliahan, kekerapan dan kesungguhan mengerjakan tugas-tugas kuliah... (dst.).

117 Contoh di atas merupakan contoh definisi operasional. Definisi operasional konsep adalah definisi (batasan pengertian) sesuatu konsep yang mengandung kejelasan dan ketegasan mengenai deskriptor (aspek-aspek yang terkandung atau tercakup) dan indikator (tanda-tanda keberagaman atau variabilitas) konsep yang akan diteliti itu, yang terukur (bisa dan mudah diukur).

118 Penelitian yang tidak akan mengukur-ukur tentu tidak memerlukan adanya definisi operasional. Penelitian eksploratori (eksploratif), misalnya, karena tidak mulai dari konsep yang harus diukur-ukur, tidak memerlukannya. Justru dapat terjadi dari penelitian eksploratif (penggalian) tersebut akan tergali dan termunculkan sesuatu konsep baru yang sama sekali sebelumnya belum diketahui, disertai (berdasarkan) deskriptor atau indikatornya yang juga muncul dari penelitian lapangan, bukan dari “kepala” peneliti sebelum melakukan penelitian eksploratif tersebut.

119 Definisi Konseptual Konsep Dalam beberapa jenis penelitian, definisi yang diperlukan cukup berupa definisi konseptual, yaitu penegasan penjelasan sesuatu konsep dengan mempergunakan konsep-konsep (kata- kata) lagi, yang tidak harus menunjukkan sisi-sisi (dimensi) pengukuran (tanpa menunjukkan deskriptor dan indikatornya dan bagaimana mengukurnya ).

120 “Prestasi belajar merupakan segala bentuk keberhasilan dari mengikuti atau melakukan kegiatan belajar,” merupakan contoh definisi konseptual. Ada konsep “keberhasilan belajar” dan “mengikuti/melakukan kegiatan belajar” yang dipakai untuk menjelaskan dan menegaskan makna prestasi belajar. Belum (tidak ada) deskriptor dan indikator bagi kedua konsep tersebut, sehingga, jika akan diukur tidak jelas apanya yang akan diukur. Seperti telah dijelaskan, yang diukur tentu “ukuran”, misalnya ketinggian: tinggi – rendah; kebesaran: besar – kecil: “kebanyakan”: banyak – sedikit; kekerapan: sering – tidak pernah; “kesetujuan”: sangat setuju – sama sekali tidak setuju. Namun demikian, pendefinisian secara konseptual tersebut sudah memberi makna mengenai apa yang dimaksud dengan prestasi belajar.

121 Definisi konseptual diperlukan dalam penelitian karena definisi itu akan mempertegas apa yang akan diteliti. Sekali lagi, terkecuali pada penelitian yang benar-benar besifat eksploratif, yang konsepnya saja pun belum terketahui, sehingga tidak mungkin mendefinisikannya terlebih dahulu, karena konsepnya saja pun belum tergali. Penelitian model ini (murni eksploratif) mungkin amat sangat jarang terjadi (Karena amat jarang yang melakukan seperti itu

122 Kapan Konseptual, Kapan Operasional Judul penelitian yang berbunyi “Efektivitas pelaksanaan manajemen berbasis sekolah (MBS) di Kabupaten Majalengka,” misalnya, mengandung konsep (istilah) yang bersifat “variabel” (mengandung keragaman “nilai” tinggi – rendah), yaitu efektivitas (sangat efektif vs tidak efektif sama sekali). Menelitinya tentu harus dengan mengukurnya (seberapa tinggi tingkat efektivitasnya). Oleh karenanya harus didefinisikan secara operasional konsep (yang berupa frasa) “efektivitas pelaksanaan MBS” itu maknanya apa. Sekali lagi, mulailah dari deskriptornya: deskriptor pelaksanaan MBS itu apa saja (misalnya keleluasaan sekolah untuk mengatur sendiri, keterlibatan masyarakat, dsb.), dan indikator (indikator efektivitas) dari tiap deskriptor itu apa.

123 Penelitian yang berjudul “Pendapat masyarakat mengenai peran masyarakat dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah” tidak memerlukan definisi operasional, karena “pendapat” tidak bisa dan tidak untuk diukur. Cukup dirumuskan definisi konseptual mengenai konsep (istilah) pelaksanaan MBS saja. Kata (kosep) “pendapat masyarakat” tidak perlu didefinisikan. Yang perlu dipertegas (bukan didefinisikan) hanya mengenai yang dimaksud dengan masyarakat itu siapa (semua orang–termasuk bayi-bayi yang baru lahir, orang dewasa, kepala rumah tangga, tokoh-tokoh formal dan informal?). tetapi, karena suka salah memaknai, pengertian peran (role) yang sering dimaknai sebagai andil atau sumbangan, perlu diperjelas (secara konseptual).

124 Definisi Operasional Variabel Hampir sebagian besar penelitian kualitatif (studi kasus, grounded research, penelitian tindakan) tidak memerlukan definisi operasional, cukup definisi konseptual saja (itu pun bersifat tentatif, jika diperlukan). Konsep yang perlu disusun definisi operasionalnya lazimnya konsep yang bersifat variabel, konsep yang mengandung sifat “kebervariasian” (keragaman) berjenjang (kontinum). Prestasi belajar, misalnya, merupakan variabel yang mengandung keragaman jenjang tinggi, sedang, rendah (Prestasi belajar tinggi, prestasi belajar sedang, prestasi belajar rendah). Motivasi belajar juga merupakan variabel yang mengandung sifat keragaman berjenjang (motivasi tinggi, sedang, rendah). Nanti dilanjut.

125 Mengemukakan teori-teori yang relevan dengan masalah yang telah dirumuskan. Kriterianya:  Relevance (relevan)  Recency (mutakhir) Perhatikan cara mengutipnya. 124

126  Menghindari duplikasi.  Menghasilkan pengertian dan pemahaman yang komprehensif tentang permasalahan yang dicari jawabnya melalui peneltian.  Menunjukkan posisi penelitian yang akan dilakukan dibanding penelitian yang sudah dilakukan sehingga tampak persamaan dan perbedaannya. 125 TUJUAN KAJIAN TEORI DAN TELAAH PENELITIAN SEBELUMNYA

127 KAJIAN TEORI  Diskusikan sejumlah konsep yang tertuang dalam variabel penelitian  Ambil rujukan dari sumber mutakhir dan relevan dengan variabel  Cari dimensi untuk mengukur variabel  Cari indikator yang menggambarkan dimensi  Gunakan grand teori, dengan melihat benang merah dari setiap konsep yang diacu. 126

128 Kajian Penelitian Sebelumnya  Cari jurnal international yang bereputasi  Cari jurnal nasional yang terakreditasi Diknas  Bila diperlukan cari penelitian thesis dan atau disertasi, namun hindari penelitian skripsi  Identifikasi apa yang beda dan apa yang sama dari setiap jurnal yang diacu 127

129 Kerangka Pemikiran  Berdasar kajian teori dan penelitian sebelumnya disusunlah kerangka pemikiran  Kerangka pemikiran merupakan mendasar yang akan menuntun proses penelitian selanjutnya  Kerangka pemikiran dituangkan dalam bentuk bagan  Kerangka pemikiran adalah hasil “renungan” peneliti”  Dari kerangka penelitian, pastikan apa novelty penelitian Anda 128

130 129 KAJIAN TEORI PENELITIAN SEBELUNYA KERANGKA PEMIKIRAN PERUMUSAN HIPOTESIS

131  Hipotesis adalah pernyataan spesifik yang bersifat prediksi dari hubungan antara dua atau lebih variabel.  Dugaan sementara yang kebenarannya perlu diuji.  Mendethesiskan secara konkret apa yang ingin dicapai/diharapkan terjadi dalam penelitian. 130

132 Apakah semua penelitian ilmiah perlu membuat hipotesis?  Ya, jika berkenaan dengan verifikasi suatu teori atau masalah.  Tidak, jika penelitian masih bersifat eksploratif dan deskriptif. 131

133 Kegunaan Hipotesis  Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.  Alat yang sederhana untuk memfokuskan fakta yang bercerai-berai ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.  Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antarfakta. 132

134  Dirumuskan secara jelas, padat, dan spesifik.  Dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan.  Menyatakan hubungan antardua atau lebih variabel.  Dapat diuji.  Konstruksi dari gagasan yang didukung teori, bukan gagasan liar.  Terkait dengan populasi. 133

135  Hipotesis korelasional adalah hipotesis yang menyatakan bahwa variabel-variabel berhubungan secara bersamaan tanpa dinyatakan bahwa variabel yang satu memengaruhi variabel lain.  Hipotesis kausalitas adalah hipotesis yang menyatakan hubungan sebab-akibat antarvariabel.  Hipotesis komparatif adalah hipotesis yang menyatakan adanya perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok lain. JENIS HIPOTESIS 134

136  Hipotesis Alternatif (Alternative Hypothesis)  Hipotesis yang mendukung prediksi.  Diterima jika hasil penelitian mendukung hipotesis.  Dinyatakan dengan H1.  Hipotesis Nul (Null Hypothesis)  Hipotesis yang mendethesiskan keluaran, selain dari hipotesis alternatif.  Biasanya mendethesiskan tidak ada hubungan/pengaruh antarvariabel yang diuji.  Dinyatakan dengan H0. 135

137 Kejelasan peran, lingkungan kerja, dan evaluasi manajemen berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan di PT X (contoh: hipotesis hubungan kausalitas). Prestasi kerja karyawan bagian produksi lebih tinggi daripada karyawan bagian pemasaran (contoh: hipotesis perbandingan). Terdapat korelasi yang erat antara tingkat pendidikan dengan prestasi kerja karyawan (contoh: hipotesis korelasional). CONTOH RUMUSAN HIPOTESIS 136

138  Kegiatan pembinaan mental spiritual berhubungan erat secara signifikan dengan motivasi karyawan (korelasional).  Semakin tinggi motivasi dan kemampuan manajerial, semakin tinggi pula kinerja usaha pedagang kaki lima (kausalitas).  Terdapat perbedaan kinerja yang signifikan antara karyawan yang telah mengikuti pelatihan administratif dibanding dengan mereka yang belum memperoleh pelatihan administratif (perbandingan). 137 CONTOH RUMUSAN HIPOTESIS

139 One-Tailed Hypothesis  Mendethesiskan hipotesis yang berarah (direction) secara spesifik.  Hipotesis nul adalah tidak ada perbedaan antara variabel, dan diprediksikan ke arah yang berlawanan. 138

140 Contoh One-Tailed Hypothesis 139

141 Two-Tailed Hypothesis  Prediksi yang tidak berarah.  Hipotesis nul adalah tidak ada perbedaan/pengaruh/hubungan antara variabel. 140

142 Contoh Two-Tailed Hypothesis 141

143 142

144 Komponen Ilmu Suatu peristiwa yang ditangkap oleh indra manusia dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Abstraksi dari fenomena yang disusun berdasarkan generalisasi atas ide- ide, simbol-simbol karekteristik suatu peristiwa dengan nama yang diambil dari bahasa sehari-hari. Hubungan kausalitas yang berlaku umum antara dua variabel atau lebih. Proposisi yang telah didukung oleh data empiris Seperangkat konsep, definisi, dan proposisi- proposisi yang berhubungan satu sama lain, menunjukkan fenomena secara sistematis untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction) fenomena. VARIABEL 143

145  Seorang buruh memproduksi satu komponen per menit, buruh kedua mungkin memproduksi 2 komponen per menit, buruh ketiga mungkin memproduksi 5 komponen per menit  Jumlah komponen mungkin sama mungkin berbeda untuk orang yang sama atau orang yang berbeda pada menit-menit berikutnya.  Komponen atau unit produksi adalah variabel Contoh

146  Hari 1: 3 karyawan absen  Hari 2: 6 karyawan absen  Hari 3: 0 katyawan absen   Hari ke 25: 2 karyawan absen  Absensi adalah variabel Contoh

147  Motivasi mahasiswa untuk belajar dapat berbeda atau sama  Motivasi berkisar misalnya: sangat rendah sampai sangat tinggi  Motivasi adalah variabel Contoh

148 VARIABEL Macam-macam Variabel:  Variabel tergantung/terikat  Variabel bebas  Variabel moderator  Variabel antara  Variabel laten dan manifest  Variabel endogen dan eksogen 147

149 Teori ke Instrumen Penelitian Alat yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur fenomena alam dan sosial. URUTAN MENYUSUN INSTRUMEN PENELITIAN 148 KONSEP ATAU KONSTRUK TEORI VARIABEL DIMENSI VARIABEL INDIKATOR- INDIKATOR INSTRUMEN PENELITIAN

150 149 HUBUNGAN ANTARA VARIABEL BEBAS DENGAN VARIABEL BERGANTUNG PADA BIDANG SDM VARIABEL TERIKATVARIABEL BEBAS Kematangan Emosi (X 2 ) Intelegensi (X 1 ) Kematangan Sosial (X 3 ) Kualitas Komunikasi (Y)

151 Independent variable NILAI TUKAR (X2) Dependet Variable HUBUNGAN ANTARA VARIABEL BEBAS DENGAN VARIABEL TERGANTUNG BIDANG EKONOMI PERTUMBUHAN EKONOMI (X1) TINGKAT SUKU BUNGA DOMESTIK (X4) EKSPOR (X3) INVESTASI ASING LANGSUNG (Y) 150

152 PERUBAHAN HARGA SAHAM (Y) EARNING PER SHARE (X1) CURRENT RATIO (X2) LEVERAGE RATIO (X3) TOTAL ASSET TURN OVER (X4) RETURN ON INVESTMENT (X5) RETURN ON EQUITY (X4) HUBUNGAN ANTARA VARIABEL BEBAS DENGAN VARIABEL TERGANTUNG BIDANG KEUANGAN 151

153 152 Pola Komunikasi Variabel Bebas Produktivitas Kerja Variabel Terikat Tingkat Pendidikan Variabel Moderator POSISI VARIABEL MODERATOR DALAM VARIABEL BEBAS DAN TERGANTUNG

154 KUALITAS KOMUNIKASI Variabel Bebas KINERJA BISNIS Variabel Terikat MOTIVASI KERJA Variabel Antara 153

155 VARIABEL LATEN: variabel yang tidak dapat diukur secara langsung dan memerlukan beberapa indikator sebagai proksinya. VARIABEL MANIFEST: variabel yang dapat diukur secara langsung oleh peneliti. PERHATIKAN POSISI VARIABEL LATEN & MANIFEST BERIKUT INI. 154 Cara Pembayaran Spesifikasi Produk Jenis Produk Merek Distributor Jumlah Produk Waktu Pembelian KEPUTUSAN MEMBELI = simbol untuk variabel laten = simbol untuk variabel manifest

156 VARIABEL ENDOGEN: variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain, sedangkan VARIABEL EKSOGEN adalah variabel yang memengaruhi variabel lain. 155 Cara Pembayaran Spesifikasi Produk Jenis Produk Merek Distributor Jumlah Produk Waktu Pembelian KEPUTUSAN MEMBELI Penjualan Pribadi Periklanan Hubungan Masyarakat Promosi Penjualan BAURAN PROMOSI variabel independen variabel dependen Hubungan Kausalitas variabel eksogen variabel endogen

157 156 MOTIVASI (MOT) X 1 =Kebutuhan fisiologis (PHYS) X 2 =Kebutuhan akan rasa aman (SECU) X 3 =Kebutuhan sosial dan rasa memiliki (SOCI) X 4 =Kebutuhan akan penghargaan (ESTE) X 5 =Kebutuhan akan aktualisasi diri (ACTU) FUNGSI KEPEMIMPINAN (PIM) X 6 =Penentu arah (TUAR) X 7 =Wakil organisasi (KILO) X 8 =Komunikator (KOMU) X 9 =Mediator (METOR) LINGKUNGAN KERJA (LKER) X 10 =Lingkungan fisik (KUNGFI) X 11 =Dukungan kondisi pekerjaan (WORKC) X 12 =Dukungan kolegial (COLLS) X 13 =Kualitas dan teknik supervisi (SUPVS) X 14 =Dukungan atasan/ pemimpin (LEADR) KINERJA (KIN) TRIDHARMA PERTI DAN UNSUR PENUNJANG Y 1 =Pendidikan dan pengajaran (DIKJAR) Y 2 =Penelitian (LIT) Y 3 =Pengab. kpd. Masyarakat (PKM) Y 4 =Unsur penunjang (JANG) DP3 Y 5 =Kesetiaan (TIA) Y 6 =Prestasi kerja (PRESJA) Y 7 =Tanggung jawab (GUNGWAB) Y 8 =Ketaatan (TAAT) Y 9 =Kejujuran (JUJUR) Y 10 =Kerja sama (JASMA) Y 11 =Prakarsa (KARSA) Y 12 =Kepemimpinan (PIMP) KARIER Y 13 =Fungsional (FUNGS) Y 14 =Struktural (STRUK) Y 15 =Akademik (AKAD) X Y1 Y2 HUBUNGAN ANTARVARIABEL YANG LEBIH RUMIT DALAM KERANGKA KONSEP UNTUK PENELITIAN SETINGKAT S-3.

158 157 HUBUNGAN ANTARVARIABEL YANG LEBIH RUMIT DALAM STRUCTURAL EQUATION MODELING (SEM)

159 Steph Subanidja

160 Bagaimana Mengukur Variabel  Variabel yang dapat diukur secara objektif  Misal: lama bekerja, penghasilan, dll  Variabel yang samar-samar dan mungkin tidak dapat diukur secara akurat karena sifatnya yang subyektif.  Misal: motivasi, kepuasan,

161 Bagaimana Mengukur Variabel  Dengan mengoperasionalkan atau secara operasional mendefinisikan sebuah konsep untuk dibuat agar dapat diukur.  Agar dapat diukur dibuatlah dimensi yang menunjukkan sifat, aspek, atau perilaku yang ditunjukkan oleh konsep.  Dimensi kemudian diterjemahkan kedalam elemen yang dapat diamati atau diukur

162 Contoh Konsep, Dimensi dan Elemen Motivasi (Konsep) Digerakkan Oleh kerja (Dimensi) Terus menerus Bekerja (Eelemen) Sangat enggan Untuk tidak bekerja Karena Alasan apapun Tekun Meskipun gagal Tidak Dapat roleks Tidak Sabar Dengan ketidakefektifan Mencari tantangan Butuh Umpan balik

163 Skala  Skala nominal  Skala ordinal  Skala interval  Skala ratio NominalRatio Makin rumit

164 Skala Nominal  Skala yang memungkinkan peneliti untuk menempatkan subyek pada kategori atau kelompok tertentu  Contoh: variebel gender: pria diberi kode 1, wanita diberi kode 2  Angka hanya sebagai label kategori tanpa nilai instrinsik  Contoh: Jawa (1), Sumatra (2), Kalimantan (3), dst.

165 Skala Ordinal  Tidak hanya mengkategorikan variabel untuk menunjukkan perbedaan, tetapi mengurutkannya ke dalam beberapa cara.  Contoh Karakteristik Pekerjaan Karakteristik Pekerjaan Urut an Berinterkasi dengan orang lain Menggunakans sejumlah ketrampilan yang berbeda Menyelesaikan seluruh tugas dari awal sampai akhir Melayani orang lain Bekerja dengan bebas

166 Skala Interval  Memnungkinkan peneliti melakukan operasi aritmetika tertentu terhadap data  Mengukur jarak tiap titik pada skala  Memungkinkan menghitung mean, standar deviasi

167 Contoh Skala Interval Di dalam pekerjaan, peluang berikut sangat penting bagi saya Kaitan dengan pekerjaan STSTSTBSSS Berinteraksi dengan orang lain Menggunakan sejumlah ketrampilan yang berbeda Menyelesaikan sebuah tugas dari awal sampai akhir Melayani orang lain Bekerja secara bebas

168 Skala Ratio  Juga menunjukkan proporsi dalam perbedaan  Contoh berat badan: 40 kg dan 20 kg. 40 kg adalah duakali lipat 20kg.  Pertanyaan: IPK mahasiswa?

169 SKALA PERINGKAT 1. Skala dikotomi 2. Skala kategori 3. Skala Likert 4. Skala Numerikal 5. Skala difersnsiasi semantik 6. Skala peringkat terperinci 7. Skala peringkat jumlah konstan 8. Skala stapel 9. Skala peringkat grafik 10. Skala konsensus

170 Skala Dikotomi  Apakah Anda sekarang ini memiliki mobil Ya Tidak

171 Skala Kategori  Dibagian mana Anda tinggal? Jakarta Utara Jakarta Pusat Jakarta Timur Jakarta Barat Jakarta Selatan

172 Skala Likert  Menunjukkan tingkat kesetujuannya atas pernyataan berikut. Pernyataan STSTSNSSS Pekerjaan saya menarik Hidup tanpa pekerjaan akan membosankan

173 Skala Diferensial Semantik ResponsifTidak Responsif CantikJelek BeraniTakut

174 Skala Numerikal  Seberapa puas Anda dengan pelayanan Bank BNI Sangat Puas Sangat Tidak Puas

175 Skala Peringkat Terperinci Sangat Tidak Munkin (1) Tidak Mungkin (2) Tidak Berpendap at (3) Mungkin (4) Sangat Mungkin (5) Saya akan berganti pekerjaan dalam 12 bulan kedepan Saya akan memikul tugas baru dalam waktu dekat Mungkin saya akan keluar dari perusahaan dalam 12 bulan kedepan Mugkin saya akan naik golongan dalam 12 bulan kedepan

176 Skala Jumlah tetap Sabun MandiSkor Kepentingan Keharuman Warna Bentuk Ukuran Busa Total Poin100

177 Skala Stapel Mengadopsi Teknologi InteriorAkselerasi -2 -3

178 Skala Peringkat Grafik Pada skala 1 sampai dengan 10, bagaimana tanggapan Anda tentang kepeimpinan supervisor Anda 10Sangat baik 5Baik 1Sangat buruk

179 Skala Konsensus  Berdasar hasil konsensus para penilai

180 SKALA UKUR VARIABEL  Untuk fenomena yang variabelnya mempunyai dimensi deskrit (terpisah), hakikatnya tidak dapat diberi nilai berdasarkan dimensi itu. Fenomena itu disebut fenomena nominal, variabelnya disebut variabel nominal.  Kategori dimensi variabel nominal adalah:  Jenis kelamin: Laki-laki - Perempuan  Kota kelahiran: Bandung, Malang, Surabaya, Padang  Status perkawinan: Menikah - Belum menikah - Duda - Janda  Status pekerjaan: PNS - Wiraswasta - Tentara - Polisi 179

181 VARIABEL/DIMENSIJUMLAH(ORANG) ( %) VARIABEL/DIMENSIJUMLAH(ORANG)(%) STATUS PERKAWINAN - MENIKAH - BELUM MENIKAH - DUDA - JANDA ,2516,6727,0825,00 AGAMA : - ISLAM - NASRANI - HINDU - BUDDHA ,9727,8518,9915,19 JUMLAH240100,00JUMLAH395100,00 CATATAN: Dimensinya bersifat terpisah (tidak bertingkat sehingga tidak dapat diberi nilai). Angka dalam kolom bukan nilai atas dimensi, tetapi merupakan hitungan terhadap subjek yang mendukung dimensi atau variabel itu. DIMENSI VARIABEL NOMINAL 180

182 SKALA ORDINAL  SKALA PENGUKURAN YANG MENYATAKAN SESUATU LEBIH DARI YANG LAIN.  MEMBERIKAN NILAI PERINGKAT TERHADAP DIMENSI VARIABEL YANG DIUKUR SEHINGGA MENUNJUKKAN SUATU URUTAN PENILAIAN ATAU TINGKAT PREFERENSI. CONTOH: Sebutkan peringkat pilihan saudara terhadap wilayah pemasaran jasa di Jawa Timur. Pasuruan Gresik Madiun Lumajang Malang Situbondo Kediri Surabaya Sumenep 181

183 SKALA INTERVAL  Menyatakan peringkat dan jarak dari konstruks/variabel yang diukur.  Mencakup konsep kesamaan jarak sehingga jarak antara 9 dan 10 sama dengan jarak 15 dan 16.  Nilai dalam skala interval bukan angka nol mutlak.  Contoh: skala Likert 5 titik Menurut saya, sistem pengembangan karier di perusahaan ini sudah sesuai dengan yang saya harapkan. Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 182

184 SKALA RATIO  Menunjukkan peringkat, jarak, dan perbandingan konstruk/variabel yang diukur.  Nilai pada skala rasio adalah angka nol mutlak ( 10 adalah 2 kali lebih besar dari 5 ).  Kesimpulan: Skala Rasio menyatakan sesuatu sekian kali besarnya dari yang lain, Skala Interval menyatakan sesuatu lebihnya sekian dari yang lain, sedangkan Skala Ordinal menyatakan sesuatu lebih dari yang lain. Skala Nominal menyatakan kategori saja. 183

185 Instrumen Penelitian Alat yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur fenomena alam dan sosial. URUTAN MENYUSUN INSTRUMEN PENELITIAN 184 KONSEP ATAU KONSTRUK TEORIVARIABEL DIMENSI VARIABEL INDIKATOR- INDIKATOR INSTRUMEN PENELITIAN

186 TATA CARA MENYUSUN INSTRUMEN  Perhatikan variabel yang “tersurat” dalam rumusan masalah penelitian.  Definisikan variabel tersebut dengan mengacu pada pendapat ahli sebagaimana dinyatakan dalam teori.  Cari dimensinya.  Cari indikator-indikatornya.  Formulasikan indikator itu ke dalam bentuk daftar kalimat pertanyaan atau pernyataan (sebagai instrumen berupa kuesioner). 185

187 Contoh:  Rumusan masalah penelitian: Sejauh mana pengaruh motivasi terhadap prestasi kerja karyawan di perusahaan X? Definisi: Menurut Terry (1997: 390), motivasi adalah keinginan yang terdapat pada seorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan.  Jadi, berdasarkan definisi ini, seseorang bertindak untuk melakukan sesuatu karena ada rangsangan yang bisa jadi merupakan pemenuhan kebutuhan. Kita hubungkan dengan teori Maslow tentang Teori Hierarki kebutuhan yang terdiri atas 5 tingkat kebutuhan, yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan dan rasa aman, kebutuhan sosial, harga diri, dan aktualisasi diri.  Kelima tingkat kebutuhan ini sebagai dimensi dari motivasi.  Dari setiap dimensi itu, cari indikator-indikatornya (perhatikan tabel berikut). 186

188 187 VARIABELDIMENSIINDIKATORINSTRUMEN MOTIVASI1.Kebutuhan fisiologis 2.Kebutuhan keamanan dan rasa aman 3.Kebutuhan sosial 4.Kebutuhan harga diri 5.Kebutuhan aktualisasi diri a.Pemenuhan pangan b.Pemenuhan sandang c.Pemenuhan tempat tinggal d.Pemenuhan kesehatan, rekreasi e.Pemenuhan pendidikan keluarga f.Rasa aman dari pemutusan hubungan kerja g.Rasa aman terhadap kecelakaan kerja h.Rasa aman karier dan masa depan i.Rasa aman dari pemutusan hubungan kerja j.Diterima dengan baik oleh sesama k.Rasa memiliki terhadap perusahaan l.Hubungan kerja yang harmonis antartingkatan manajemen m.Interaksi yang dinamis dan persahabatan antarsesama n.Penghargaan atas prestasi o.Kesesuaian penghargaan dengan prestasi p.Delegasi wewenang sesuai dengan kompetensi karyawan q.Perhatian atasan/pemimpin r.Kesempatan pengembangan diri s.Kesempatan promosi jabatan t.Kebijakan pendukung untuk kerja secara optimal 1 s.d. 5 kali dua (minimum) 6 s.d s.d s.d s.d. 20

189 188 INSTRUMEN BERUPA KUESIONER (DAFTAR PERNYATAAN DENGAN SKALA LIKERT) 1.Gaji yang saya terima dapat memenuhi kebutuhan pangan. 2.Gaji yang saya terima dapat memenuhi kebutuhan sandang. 3.Gaji yang saya terima dapat memenuhi kebutuhan tempat tinggal. 4.Gaji yang saya terima dapat memenuhi kebutuhan untuk pendidikan anak-anak. 5.Gaji yang saya terima dapat memenuhi kebutuhan kesehatan dan rekreasi keluarga. 6.Saya merasa di perusahaan ini tidak akan terjadi pemutusan hubungan kerja. Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju

190 189 7.Jenis pekerjaan yang rawan terjadi kecelakaan kerja sudah dilengkapi dengan peralatan untuk keselamatan kerja. 8.Saya merasa aman dengan karier dan masa depan saya di perusahaan ini. 9.Menurut saya, kelangsungan hidup perusahaan ini terjamin. 10.Rekan-rekan kerja menerima saya dengan penuh kekeluargaan. 11.Saya merasa memiliki perusahaan ini karena saya sadar bahwa di samping menjadi wadah bagi saya untuk bersosialisasi, perusahaan ini juga merupakan tempat menggantungkan hidup. Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju

191 Hubungan saya dengan atasan, bawahan serta dengan sesama terjalin harmonis. 13.Saya dapat berinteraksi dengan rekan-rekan sesama karyawan dengan penuh persahabatan. 14.Jika saya berprestasi, pimpinan memberikan penghargaan kepada saya. 15.Penghargaan yang saya terima sesuai dengan prestasi yang saya berikan. 16.Pemimpin (perusahaan) memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi yang saya miliki. Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju

192 Saya memperoleh perhatian yang cukup dari pemimpin/atasan saya. 18.Saya memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri saya melalui pendidikan dan pelatihan. 19.Saya memperoleh kesempatan yang luas untuk dipromosikan sesuai dengan potensi yang saya miliki. 20.Di perusahaan ini, terdapat kebijakan yang mendukung bagi karyawan untuk unjuk kerja secara optimal. Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju

193 192 Tabel: Elaborasi Variabel Prestasi Kerja VARIABELDIMENSIINDIKATORINSTRUMEN Prestasi kerja1.Mutu hasil kerja 2.Volume hasil kerja 3.Prakarsa 4.Penguasaan tugas 5.Keandalan 6.Kehadiran kerja a.Ketelitian b.Kerapian c.Ketuntasan d.Bekerja cepat sesuai target e.Konsistensi hasil kerja f.Keinginan untuk memperoleh tugas tambahan g.Kesiapan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar h.Paham terhadap pekerjaan i.Terampil dalam bekerja j.Menerapkan teknik yang dikuasai k.Mampu menggunakan perangkat yang tersedia l.Andal dalam menuntaskan tugas secara mandiri m.Mampu merampungkan tugas tepat waktu dengan pengawasan minimum n.Kedatangan tepat waktu o.Istirahat tepat waktu p.Pulang kerja tepat waktu 1 s.d. 3 4 s.d. 5 6 s.d. 7 8 s.d s.d s.d. 16

194 193 INSTRUMEN PRESTASI KERJA 1.Saya menyelesaikan pekerjaan dengan teliti. 2.Saya menyelesaikan pekerjaan dengan rapi. 3.Saya menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas. 4.Saya menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. 5.Saya menyelesaikan pekerjaan dengan konsisten. 6.Saya selalu berkeinginan untuk memperoleh tugas-tugas baru. Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju

195 194 7.Saya selalu siap untuk bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang lebih besar. 8.Saya memahami tugas-tugas atau pekerjaan saya. 9.Saya terampil dalam menyelesaikan pekerjaan. 10.Saya mampu menerapkan teknik-teknik yang saya kuasai dalam menyelesaikan pekerjaan. 11.Saya mampu memanfaatkan perangkat yang disediakan sesuai dengan peruntukannya. 12.Saya andal dalam menuntaskan tugas-tugas atas prakarsa sendiri. Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju

196 Saya andal dalam merampungkan tugas tepat waktu dengan sedikit pengawasan. 14.Saya hadir tepat waktu sesuai dengan peraturan perusahaan/instansi. 15.Saya andal dalam menepati waktu istirahat. 16.Saya pulang tepat waktu sesuai dengan peraturan perusahaan atau instansi. Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Tidak SetujuSangat Tidak Setuju

197 Model generalisasi kualitatif. Sampel purposive, hasil dari A dapat ditransferkan hanya ke B, C, D Transferability A B C D E F

198 Kriteria sampel sebagai sumber data atau sebagai informan 1. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayati 2. Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti 3. Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi 4. Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil “kemasannya” sendiri 5. Mereka yang pada mulanya tergolong “cukup asing” dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau narasumber

199 Menurut Nasution (1988) peneliti sebagai instrumen penelitian serasi untuk penelitian serupa karena memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian 2. Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus 3. Tiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada suatu instrumen berupa test atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali manusia 4. Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata. Untuk memahaminya, kita perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita 5. Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisi data yang diperoleh. Ia dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mengetest hipotesis yang timbul seketika 6. Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan atau pelakan 7. Dalam penelitian dengan menggunakan test atau angket yang bersifat kuantitatif yang diutamakan adalah respon yang dapat dikuantifikasi agar dapat diolah secara statistik, sedangkan yang menyimpang dari itu tidak dihiraukan. Dengan manusia sebagai instrumen, respon yang aneh, yang menyimpang justru diberi perhatian. Respon yang lain daripada yang lain, bahkan yang bertentangan dipakai untuk mempertinggi tingkat kepercayaan dan tingkat pemahaman mengenai aspek yang diteliti

200 Gambar 12.1 Macam-macam Teknik Pengumpulan Data Observasi Wawancara Dokumentasi Triangulasi/Gabungan Macam teknik pengumpulan data

201 Macam-macam teknik observasi Macam-macam observasi Observasi Partisipatif Observasi terus terang dan tersamar Observasi tak terstruktur Observasi yang pasif Observasi yang moderat Observasi yang aktif Observasi yang lengkap

202 Penggolongan Observasi 1. Partisipatif pasif (passive participation): Jadi dalam hal ini peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut 2. Partisipatif moderat (moderate participation): Dalam observasi ini terdapat keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan orang luar. Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya 3. Partisipatif aktif (active partisipation): Dalam observasi ini peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh narasumber, tetapi belum sepenuhnya lengkap 4. Partisipasi lengkap (complete partisipation): Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti sudah terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data. Jadi suasananya sudah natural, peneliti tidak terlihat melakukan penelitian. Hal ini merupakan keterlibatan peneliti yang tertinggi terhadap aktifitas kehidupan yang diteliti

203 Manfaat Observasi 1. Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh 2. Dengan observasi maka akan diperoleh pengalaman langsung, sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan atau discovery 3. Dengan observasi, peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara 4. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan terungkapkan oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga 5. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang di luar persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif 6. Melalui pengamatan di lapangan, peneliti tidak hanya mengumpulkan daya yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi dan merasakan suasana situasi sosial yang diteliti

204 Obyek Observasi Tiga elemen utama, yaitu 1. Place, atau tempat di mana interaksi dalam situasi sosial sedang berlangsung 2. Actor, pelaku atau orang-orang yang sedang memainkan peran tertentu 3. Activity, atau kegiatan yang dilakukan oleh aktor dalam situasi sosial yang sedang berlangsung

205 Obyek Observasi Dari 3 elemen utama, dapat diperluas menjadi: 1. Space: ruang dalam aspek fisiknya 2. Actor: semua orang yang terlibat dalam situasi sosial 3. Activity: seperangkat kegiatan yang dilakukan orang 4. Object: benda-benda yang terdapat di tempat itu 5. Act: perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu 6. Event: rangkaian aktivitas yang dikerjakan orang-orang 7. Time: urutan kegiatan 8. Goal: tujuan yang ingin dicapai orang-orang 9. Feeling: emosi yang dirasakan dan diekspresikan oleh orang-orang

206 Langkah-langkah wawancara 1. Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan 2. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan 3. Mengawali atau membuka alur wawancara 4. Melangsungkan alur wawancara 5. Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya 6. Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan 7. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh

207 Jenis-jenis pertanyaan dalam wawancara 1. Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman 2. Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat 3. Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan 4. Pertanyaan tentang pengetahuan 5. Pertanyaan yang berkenaan dengan indera 6. Pertanyaan berkaitan dengan Latar Belakang atau Demografi

208 Gambar Triangulasi “teknik” pengumpulan data (bermacam-macam cara pada sumber yang sama) Observasi Partisipatif Wawancara Mendalam Dokumentasi Sumber data sama

209 Gambar Triangulasi “sumber”pengumpulan data (satu teknik pengumpula data pada bermacam-macam sumber data A, B, C) Wawancara Mendalam A B C

210 Tehnik Analisis Data Kualitatif  Data diperoleh dari berbagai sumber, dengan tehnik pengumpulan data yang bermacam- macam (triangulasi)  The most serious and central difficulty in the use of qualitative data is that methods of analysis are not well formulate (Miles and Huberman, 1984)  There are no guidelines in qualitatif research for determining how much data and data analysis are necessary to support and assertion, conclusion, or theory (Suasan Stainback)

211 Analisis Data Kualitatif Analisis Domain Analisis Taksonomi Analisis Komponensial Analisis Tema Kultural

212 Analisis Domain  Memperolah gambaran umum dan menyeluruh dari obyek/penelitian atau situasi sosial.  Ditemukan berbagai domain atau kategori  Diperoleh dengan pertanyaan grand dan minitour  Peneliti menetapkan domain tertentu sebagai pijakan untuk penelitian selanjutnya  Makin banyak domain yang dipilih, akan semakin banyak waktu yang diperukan untuk penelitian  Analisid domain merupakan langkah pertama dalam penelitian kualitatif

213 Analisis Taksonomi  Domain yang dipilih dijabarkan menjadi lebih rinci, untuk mengetahu struktur internalnya  Dilakukan dengan observasi terfokus

214 Analisis Komponensial  Mencari ciri spesifik pada struktur internal dengan cara mengkontraskan antar elemen  Dilakukan melalui observasi dan wawancara terseleksi dengan pertanyaan yang mengkontraskan

215 Analisis Tema Kultural  Mencari hubungan di antara domain, dan bagaimana hubungan dengan keseluruhan, dan selanjutnya dinyatakan ke dalam tema/judul penelitian

216 Included Term, Semantic Relationship, dan Cover Term Included term(Rincian Domanin Perawat Pasien Dokter Pengunjung RS Semantic Relationship Antar kategori Adalah jenis dari Cover Term, nama domain orang

217 Contoh Analisis Domain Pendidikan NoIncluded TermSemantic Relatioonship Cover Term 1PendidikanAdalah jenis dariTri Dhrama Perguruan Tinggi Penelitian Pengabdian Masyarakat 2Ruang KantorAdalah tempatJenis ruang yang ada dalam pendidikan Ruang Kelas Ruang LaboratoriumAdalah sebab dariKepemimpinan otoriter 3Mahasiswa mengeluh Dosen masa bodo Karyawan seenaknya

218 Contoh Analisis Domain Pendidikan NoIncluded TermSemantic Relationship Cover Term 4Mengikuti kursusAdalah caraCara mencapai prestasi belajar optimal Belajar tekun Jarang mbolos Tdk pernah bbm an kalau kuliah 5Sarjana Il KomunikasiAdalah atributGelar/atribut dari lulusan pergurua tinggi Diploma 3 sertfikat

219 Contoh Hubungan Semantik Berpacaran (X) NoHubunganBentukContoh 1jenisX adalah jenis dari y 2Ruang (spasial)X adalah tempat y 3Sebab akibaty adalah akibat dari x 4Lokasi untuk melakukan sesuatu x merupakan tempat untuk melakukan x 5Cara mencapai tujuanX merupakan cara untuk mencapai y 6fungsiX digunakan untuk fungsi y 7urutanX merupakan urutan setelah y 8Atribut/karakteristikX merupakan karakteritik y

220 Analisis domain (jenjang pendidikan) dan Taksonomi (SD sd Universitas) Jenjang Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar SD/MISMP/MTs Jenjang Pendidikan Menengah SMA/MASMK Jenjang Pendidikan Tinggi AkademiPolitehnik Sekolah Tinggi InstituteUniversitas

221 Validitas Reliabilitas dalam Penelitian Kualitatif AspekMetode KuantitatifMetode Kualitatif Nilai kebenaranValiditas internalKredibilitas PenerapanValiditas eksternal (generalisasi) Transferabilitas KonsistensiReliabilitasAuditability, dependability NaturalitasObyektivitasConfirmatory (dapat dikonfirmasi)

222 Uji Kredibilitas data dalam penelitian kualitatif Uji Kredibilitas data Perpanjangan Pengamatan Peningkatan Ketekunan Triangulasi Diskusi dengan teman sejawat Analisis Kasus Negatif Membercheck

223 Perpanjangan Pengamatan Mau mengecek apakah data yang saya tenukan benar atau salah Ngapain kembali ke lapangan, data kan udah ada di sini

224 Mau memeriksa apakah data yang saya temukan benar atau tidak Ngapain serius amat? MENINGKATKAN KETEKUNAN

225 Triangulasi Sumber Data atasanbawahanteman

226 Trianglulasi Tehnik Pegumpulan Data Wawancara Observasi Kuesioner/ Dokumen

227 Triangulasi Waktu Pengumpulan Data Sore Siang Pagi

228 Diskusi dengan Teman sejawat

229 Analisis Kasus Negatif  Mencari data yang berbeda kemudian, dan mencari tau mengapa masih ada yang berbeda

230 Membercheck  Proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada yang memberi data atau si empunya data

231 VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN  VALIDITAS ADALAH KETEPATAN ALAT UKUR (INSTRUMEN) DALAM MENGUKUR APA YANG HENDAK DIUKUR.  VALIDITAS INSTRUMEN DITENTUKAN DENGAN MENGORELASIKAN ANTARA SKOR YANG DIPEROLEH SETIAP BUTIR PERTANYAAN DENGAN SKOR TOTALNYA. 230

232 RUMUS YANG DIGUNAKAN ADALAH KORELASI PRODUCT MOMENT 231 r = N (ΣXY) − (ΣX ΣY) √ [ N ΣX 2 − (ΣX) 2 ] − [ N ΣY 2 − (ΣY) 2 ] di manar=koefisien korelasi X=skor butir Y=skor total butir N=jumlah sampel (responden) Selanjutnya, nilai r dibandingkan dengan nilai r tabel menggunakan derajat bebas (n − 2). Jika nilai r hasil perhitungan lebih besar daripada nilai r dalam tabel pada alfa tertentu maka berarti signifikan sehingga disimpulkan bahwa butir pertanyaan atau pernyataan itu valid.

233 232 CONTOH PERHITUNGAN VALIDITAS Tabel: Rekapitulasi Jawaban Responden terhadap Variabel Prestasi Kerja Responden Skor Butir Kuesioner Skor Total (bersambung)

234 233 Tabel: (lanjutan) Rekapitulasi Jawaban Responden terhadap Variabel Prestasi Kerja Responden Skor Butir Kuesioner Skor Total

235 234 Tabel: Perhitungan Validitas Pertanyaan Butir ke-1 dengan Skor Total (bersambung) RespondenXYX2X2 Y2Y2 XY

236 235 Tabel: (lanjutan) Perhitungan Validitas Pertanyaan Butir ke-1 dengan Skor Total RespondenXYX2X2 Y2Y2 XY Jumlah r = 35 (8.955) − (134 × 2.280) √ [ 35 (536) − (134) 2 ] [ 35 ( ) − (2.280) 2 ] = √ r = 0,734 = √ ( − ) ( − ) −

237 236 Tabel: Nilai-nilai r Product Moment N Taraf Signif. N N 5%1%5%1%5%1% 30,9970,999270,3810,487550,2660,345 40,9500,990280,3740,478600,2540,330 50,8870,959290,3670,470650,2440,317 60,8110,917300,3610,463700,2350,306 70,7540,874310,3550,456750,2270,296 80,7070,834320,3490,449800,2200,286 90,6660,798330,3440,442850,2130, ,6320,765340,3390,436900,2070, ,6020,735350,3340,430950,2020, ,5760,708360,3290, ,1950, ,5530,684370,3250, ,1760, ,5320,661380,3200, ,1590, ,5140,641390,3160, ,1480, ,4970,623400,3120, ,1380, ,4820,606410,3080, ,1130, ,4680,590420,3040, ,0980, ,4560,575430,3010, ,0880, ,4440,561440,2970, ,0800, ,4330,549450,2940, ,0740, ,4230,537460,2910, ,0700, ,4130,526470,2880, ,0650, ,4040,515480,2840, ,0620, ,3960,505490,2810, ,3880,496500,2790,361

238 237 Selanjutnya, dikonsultasikan (dibandingkan) dengan nilai korelasi yang terdapat pada tabel. Pada alfa 1% dan derajat bebas (n − 2), diketahui bahwa nilai r (pada tabel) adalah 0,442. Dengan demikian, karena nilai r hasil perhitungan lebih besar daripada nilai r tabel (0,734 > 0,442) maka signifikan dan memberikan alasan untuk menyimpulkan bahwa butir pertanyaan nomor 1 valid (dapat digunakan sebagai instrumen penelitian). Cara yang sama dapat digunakan untuk memperoleh nilai koefisien korelasi untuk pertanyaan butir nomor 2 sampai dengan 16.

239 RELIABILITAS INSTRUMEN  Menunjukkan konsistensi hasil pengukuran sekiranya alat pengukur itu digunakan oleh orang yang berlainan pada waktu bersamaan atau digunakan oleh orang yang sama pada waktu berlainan.  Jadi, secara implisit, mengandung OBJEKTIVITAS. 238

240 CARA PENGUKURAN RELIABILITAS  Cara pengukuran Ulang  Instrumen diberikan kepada responden yang sama pada waktu berbeda.  Skor total yang diperoleh pada pengukuran pertama dikorelasikan dengan skor total dengan pengukuran kedua.  Rumus korelasi yang digunakan berikut prosedurnya sama dengan menghitung validitas.  Cara Pengukuran Belah Dua  Instrumen dibelah menjadi dua bagian: nomor genap dan nomor ganjil.  Skor total dari setiap belahan dikorelasikan dengan rumus korelasi product moment. Hasilnya dikonversi dalam rumus SPEARMAN- BROWN: 2. r (pm) r (sb) = nilai reliabilitas r (sb) = r (pm) = nilai korelasi product moment 1 + r (pm) 239

241 240 (bersambung) RespondenXYX2X2 Y2Y2 XY CONTOH CARA PENGUKURAN ULANG Tabel: Perhitungan Reliabilitas dengan Cara Pengukuran Ulang

242 Tabel: (lanjutan) Perhitungan Reliabilitas dengan Cara Pengukuran Ulang 241 RespondenXYX2X2 Y2Y2 XY Jumlah r = 35 ( ) − (2.280 × 2.299) √ [ 35 ( ) − (2.280) 2 ] [ 35 ( ) − (2.299) 2 ] ( − ) ( − ) √ − = √ r = 0,9588 =

243 242 Nilai koefisien korelasi dibandingkan dengan nilai r dalam tabel. Pada alfa 1% dan derajat bebas (n − 2), diketahui bahwa nilai r (pada tabel) adalah 0,442. Dengan demikian, nilai koefisien korelasi hasil perhitungan lebih besar daripada nilai r tabel (0,9588 > 0,442); uji reliabilitas signifikan. Dengan kata lain, instrumen penelitian reliabel. * * Perhitungan dengan cara “belah dua” dapat dilihat pada buku penulis [Anwar Sanusi, Metodologi Penelitian Bisnis (Jakarta: Penerbit Salemba, 2011 ) atau referensi lain yang membahas mengenai “pengukuran instrumen”.]

244 243 CONTOH CARA BELAH DUA Tabel: Skor Butir Nomor Ganjil Responden Skor Butir Nomor Ganjil Skor Total

245 244 CONTOH CARA BELAH DUA Tabel: Skor Butir Nomor Genap Responden Skor Butir Nomor Genap Skor Total

246 RespondenXYX2X2 Y2Y2 XY Jumlah CONTOH CARA BELAH DUA Tabel: Perhitungan Reliabilitas Cara Belah Dua

247 = = 0,9756r pm r = 35 (38.148) − (1.134 × 1.146) √ [ 35 (37.754) − (1.134) 2 ] [ 35 (38.598) − (1.146) 2 ] 2 (0,9756) 1 + 0,9756 = = 0,9875 r sb Nilai koefisien korelasi perhitungan ini dibandingkan dengan nilai r pada tabel. Pada alfa 1% dan derajat bebas (n − 2), diketahui bahwa nilai r (pada tabel) adalah 0,442. Dengan demikian, nilai r hasil perhitungan lebih besar daripada nilai r tabel (0,9875 > 0,442); uji reliabilitas signifikan. Dengan kata lain, instrumen penelitian reliabel.

248 Steph Subanidja

249 POPULASI DAN TEKNIK PENARIKAN SAMPEL POPULASI: Objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karekteristik tertentu yang dipelajari oleh peneliti, dan kemudian ditarik kesimpulannya. SAMPEL: Bagian dari karekteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. 248

250 Unit Analisis  Tingkat agregasi data yang dianalisis dalam penelitian  Unit analisis tingkat individual: yang diamati adalah perilaku orang secara individu  Unit analisis tingkat kelompok: fokus yang diteliti perilaku orang dalam suatu kelompok  Unit analisis tingkat organisasional: fokus penelitian pada perilaku organisasional  Unit analisis tingkat perusahaan: fokus penelitian pada tingkat perusahaan  Unit analisis industri: fokus penelitian seluruh perusahaan dalam industri  Unit analisis negara: fokus penelitian tingkat negara

251 Horison waktu  Studi satu tahap (one shot studi): data dikumpulkan sekaligus  Studi Cross Sectional: tipe studi satu tahap untuk mengetahui hubungan komparatif  Studi Time Series: data rentetan waktu  Studi komparatif: kombinasi cross secional dan time series

252 Skala Pengukuran  Skala nominal: menyatakan kategori, kelompok atau klasifikasi dari konstruk. Contoh gender, status perkawinan, agama, departemen, dll  Skala ordinal: menyatakan kategori dan peringkat preferensi.  Skala interval: menyatakan kategori, peringkat dan jarak konstruk. Misal STS, S, N, S, SS  Skala rasio: menyatakan kategori, peringkat, jarak dan perbandingan

253 Populasi  Kelompok orang, kejadia atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu  Penelitian yang memilih seluruh anggota populasi disebut sensus. Yang memilih sebagian disebut penelitian sampel  Statistik Parameter  (x, s, s 2 ) ( , ,  2 ) SampelPopulasi

254 Pengambilan Sampel 1. Probabilitas: besarnya peluang elemen populasi untuk terpilih sebagai subyek diketahui 2. Nonprobabilitas: besarnya peluang elemen populasi untuk terpilih sebagai subyek tida diketahui

255 Pengambilan Sampel Cara Probabilitas  Pengambilan sampel acak sederhana.  Misal ada 1000 elemen populasi  Lihat Uma sekaran halaman 159  Ketemu jumlah sampel 278  Buat lintingan kertas sebanyak 1000 lintingan, diberi nomor 1 sd 1000  Ambil dengan pejam mata sebanyak 278  Atau mungkin buat dengan menggunakan kursor komputer, secara acak, ketemu 278

256 Sampel Sistimatis  Meliputi menarik tiap elemen ke-n dalam populasi dengan elemen yang dipilih secara acak antara 1 dan n.  Misal: 1000 elemen populasi  Lihat Uma sekaran halaman 159  Ketemu jumlah sampel 278  Interval 1000/278 = 3,59, dibulatkan menjadi 4  Urutan responden yang diambil no 1 trus 4 trus 8, dst

257 Sampel Acak Berstrata (stratified random sampling) Tingkat Pekerjaan Jumlah ElemenProporsional Mis 10% Disproporsional CEO101 Man. Tingkat Menengah 303 Man Tingkat bawah 505 Supervisor10010 Staff50050 Sekretaris202 Jumlah71071

258 Sampel Nonprobabilitas  Convinience sampling: ketemu responden terus dikasih questioner,  Sampel bertujuan: misalnya yang menjadi nasabah bank tertentu, dst  Sampel berkuota: misalnya yang nasabah bank x sekian, yang nasabah bank y sekian menurut pertimbangan keterwakilan  dst

259 Poluasi Taget  Populasi yang spesifik dan relevan dengan tujuan penelitian atau masalah penelitian  Kerangka sampel: daftar elemen populasi ynag dijadikan dasar untuk mengambil sampel  Metode pemilihan sampel  Sampel probabilitas: simpel random sampling, systematic sampling, stratified random sampling, cluster sampling dan area sampling  Sampel non probabilitas: convinience sampling, judment sampling dan quota sampling

260 Prosedur Pemilihan sampel  Unit sampel: elemen atau sekelompok elemen yang menjadi dasar untuk dipilih menjadi sampel.  Daftar Mahasiswa ( kerangka sampel)  Dipilih berdasarkan jurusan (unit sampel primer)  Dipilih berdasarkan tahun angkatan( unit sampel sekunder)  Dipilikan indeks berdasarkan indeks prestasi (unit sampel tersier)

261 Kesalahan statistik  Kesalahan Pemilihan Sampel (Sampling error)  Kesalahan kerangka sampel  Kesalahan unit sampel  Kesalahan pemilihan sampel secara acak  Kesalahan Sistimatis  Kesalahan responden  Bias (response dan non response bias)  Kesalahan administrasi  Kesalahan pemrosesan data  Kesalahan wawancara, termasuk kecurangan

262 Beberapa Terminologi  Elemen: Unit di mana data yang diperlukan akan dikumpulkan  Populasi: Kelompok elemen yang lengkap, di mana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadi objek penelitian

263 Beberapa Terminologi  Unit Pengambilan sampel: Sekelompok elemen yang tidak tumpang tindih dengan populasi  Kerangka Sampel: Representasi fisik dari objek, individu, kelompok, yang sangat penting dalam sampel.

264 Unit Sampel Unit Sampel Sekunder Unit Sampel Primer Kerangka Sampel Daftar Mahasiswa Program Studi Manajemen Tahun Angkatan IPK Program Studi Akuntansi Tahun Angkatan

265 Beberapa Terminologi  Sampel: Himpunan bagian (subset) dari unit populasi  Parameter: Ringkasan Variabel dala populasi  Statistik: Ringkasan dalam sampel  Kesalahan sampel: Kesalahan prosedur dan pengunaan statistik untuk mengistimasi parameter

266 Beberapa Terminologi  Efisiensi statistik:ukuran perbandingan desain sampel dengan besar sampel yang sama, yang menghasilkan standar kesalahan yang kecil.  Perencanaan sampel: Spesifikasi formal metode dan prosedur yang akan digunakan untuk mengidentifikasi sampel yang dipilih dalam penelitian

267 Alasan Pemilihan Sampel  Sampling: proses memilih sejumlah elemen populasi yang mencukupi untuk mempelajari sampel dan memahami karakteristik elemen populasi  Alasan utama penggunaan sampel:  Kendala sumberdaya  Ketepatan  Pengukuran destruktif

268 Karakteristik Sampel yang Baik  Sampel yang baik memungkinkan peneliti untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan besaran sampel untuk memperoleh jawaban yang dikehendaki  Sampel yang baik mengidentifikasikan probabilitas dari setiap unit analisis untuk menjadi sampel  Sampel yang baik memungkinkan peneliti menghitung akurasi dan pengaruh dalam pemilihan sampel daripada harus melakukan sensus  Sampel yang baik memungkinkan peneliti menghitung derajat kepercayaan yang diterapkan dalam estimasi populasi yang disusun dari sampel statistika

269 Kesalahan Pengambilan Sampel  Sampling frame error: Kesalahan yang terjadi bila elemen sampel tertentu tidak diperhitungkan, atau bila seluruh populasi tidak diwakili secara tepat oleh kerangka sampel.  Random Sampling Error: Kesalahan akibat adanya perbedaan antara hasil sampel dan hasil sensus yang dilakukan dengan prosedur yang sama.  Nonresponse Errpr: Kesalahan akibat perbedaan statistik antara survei yang hanya memasukkan mereka yang merespon dan juga mereka yang gagal (tidak) merespon.

270 Proses Pemilihan Sampel  Penentuan populasi  Penetuan unit pemilihan sampel  Penentuan kerangka pemilihan sampel  Penentuan desain sampel  Penentuan jumlah sampel  Pemilihan sampel

271 Pertimbangan Penentuan Jumlah Sampel  Mitos: sampel harus besar agar dapat mengandung mewakili populasi. Sampel harus mengandung hubungan proposional terhadap ukuran populasi.  Dalam praktek, besarnya sampel tergantung variasi parameter populasi dan seberapa jauh presisi yang diperlukan oleh si peneliti.

272 Formula Menghitung Jumlah Sampe Slovin (Steph Ellen, eHow Blog, 2010; dengan rujukan Principles and Methods of Research; Ariola et al. (eds.); 2006) lPrinciples and Methods of Research; Ariola et al. (eds.); 2006  Rumus Slovin  n = N/(1 + Ne^2)  n = Number of samples (jumlah sampel) N = Total population (jumlah seluruh anggota populasi) e = Error tolerance (toleransi terjadinya galat; taraf signifikansi; untuk sosial dan pendidikan lazimnya 0,05) –> (^2 = pangkat dua)

273 Untuk menggunakan rumus tersebut, pertama-tama tetapkan terlebih dahulu taraf keyakinan atau confidence level (…%) akan kebenaran hasil penelitian (yakin berapa persen?), atau taraf signifikansi toleransi kesalahan (0,..) terjadi. Misalnya kita ambil taraf keyakinan 95%, yaitu yakin bahwa 95% hasil penelitian benar, atau taraf signifikansi 0,05 (hanya akan ada 5% saja kesalahan karena “kebetulan benar” terjadi). Nah, jika yang akan kita teliti itu sebanyak orang karyawan, seperti dicontohkan di muka, dan taraf signifikansinya 0,05, maka besarnya sampel menurut rumus Slovin ini akan menjadi: n = N/(1 + Ne^2) = 1000/( x 0,05 x 0,05) = 286 orang.

274 Cobalah gunakan rumus tersebut jika taraf keyakinan (kepercayaan) hanya 90% (taraf signifikansi 0,10)! Berapa banyak sampel harus diambil? Jawabnya: n = N/(1 + Ne^2) = 1000/( x 0,10 x 0,10) =... orang.

275 Rumus Slovin ini tentu mempersyaratkan anggota populasi (populasi) itu diketahui jumlahnya (simbulnya N). Dalam bahasa saya disebut populasi terhingga. Jika populasi tidak diketahui jumlah anggotanya (populasi tak terhingga), maka rumus ini tak bisa digunakan. Lebih-lebih jika populasinya tak jelas (tidak diketahui keberadaannya, apalagi jumlahnya, misalnya orang yang korupsi atau nikah siri). Teknik sampling yang digunakan pun tentu tak bisa teknik yang bersifat random (“probability sampling”), harus menggunakan teknik yang sesuai (quota, purposive, snowball, accidental dsb.)

276 Menentukan Jumlah Sampel A.Rumus menurut Taro Yamane: n= jumlah sampel N= jumlah populasi yang diketahui d= presisi yang ditetapkan

277

278 Secara lbh rinci Jack E. Fraenkel dan Norman E. Wallen menyatakan bahwa minimum sampel adalah 100 utk studi deskriptif 50 utk studi korelasional 30 per kelompok utk studi kausal komparatif. L.R Gay dalam buku Educational Research menyatakan bahwa utk riset deskriptif besar sampel 10% dari populasi riset korelasi 30 subjek riset kausal komparatif 30 subjek per kelompok dan riset eksperimental 50 subjek per kelompok.

279 Pertimbangan Penentuan Jumlah Sampel  Homogenitas  Derajat kepercayaan  Presisi (ketelitian)  Prosedur analisis  Kendala sumberdaya

280 Beberapa Pedoman Untuk Menenukan Jumlah Sampel (Gay & Diehl, 1996: )  Studi deskriptif, sampel 10% dari populasi dianggap jumlah yang amat minimal. Untuk populasi kecil, setidaknya 20% dari populasi.  Untuk studi korelasional, dibutujkan minimal 30 sampel  Untul studi kausal-komparatif, minimal 30 subyek per grup umumnya dianjurkan  Untuk studi eksperimen, minimal 15 subjek per grup umumnya dianjurkan

281 Desain Sampel  Desain probabilitas: setiap sampel dipilih berdasarkan prosedur seleksi dan memiliki peluang yang sama untuk dipilih.  Desain nonprobabilitas: anggota populasi tidak diketahui, dipilih secara arbitrer oleh peneliti.

282 Sampel Probabilitas  Sampel randon sederhana (simple randon sampling): pemilihan sampel paling sederhana dan mudah, prinsipnya setiap elemen populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Langkahnya: tentukan pupulasi, tentukan besarnya sampel, ambil sampel secara acak sampai didapat jumlah sampel yang dikehendaki

283 Sampel Sistimatis (Systimatic Sampling)  Prinsip sama dengan random sederhana, perbedaannya adalah cara pemilihan sampel. Langkah: urutkan elemen populasi berdasarkan kriteria tertentu, pilih elemen berdasarkan kriteria tersebut,misalnya nomor ganjil, atau nomor dng selang 5 dst.

284 Sampel Stratifikasi (Stratified Random Sampling)  Peneliti membagi populasi menjadi beberapa kelompok dan secara random memilih subsampel dari setiap kelompok.  Peneliti menjaga hemoginitas dalam satu subkelompok dan heteroginitas antar subkelompok  Peneliti memilih elemen dari setiap subkelompok secara random.  Misal populasi 5000, akan diambil sampel sebanyak 20%. Kelompok 1 = 1400, kel 2 = 25000, kel 3 = Sampel kel 1 = 20% dari 5000 dst.

285 Sampel Kluster (Cluster Sampling)  Peneliti membagi populasi menjadi beberapa subkelompok berdasar kriteria yang sederhana atau yang tersedia dalam data.  Peneliti menjaga heteroginitas dalam satu subkelompok dan homoginitas antar subkelompok.  Peneliti memilih jumlah subkelompok secara random

286 Sampel Daerah Multitahap (Multistage Area Sampling)  Prosedur pengambilan sampel yang melobatkan penggunaan kombinasi teknil sampel probabilitas

287 Sampel Nonprobabilitas  Convenience sampling: prosedur untuk mendapatkan unit sampel menurut keinginan peneliti  Judment sampling: salah satu jenis purposive sampling dan quota sampling. Peneliti memilih sampel berdasarkan penilaian terhadap beberapa karakteristik anggota sampel yang disesuaikan dengan maksud penelitian  Quota sampling: menentukan target kuota yang dikehendaki.  Snowball sampling: responden pertama dipilih dengan metode probabilitas dan responden berikutnya diperoleh dari informasi yang diberikan responden pertama dst.

288 TEKNIK PENARIKAN SAMPEL 1. RANDOM  SIMPLE RANDOM SAMPLING  SYSTEMATIC RANDOM SAMPLING  STRATIFIED RANDOM SAMPLING  CLUSTER RANDOM SAMPLING 2. NON-RANDOM  SNOWBALL SAMPLING  KUOTA SAMPLING  CONVENIENCE SAMPLING  PURPOSIVE SAMPLING  DLL. 287

289 PENGERTIAN Simple random sampling adalah proses memilih satuan sampling sedemikian rupa sehingga setiap satuan sampling dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih dalam sampel. 288

290 Tabel: Contoh Tabel Angka Acak 289 No Catatan:Angka acak (random) bisa juga diperoleh dengan menggunakan kalkulator. (Tekan Shift – Run ≠ pada kalkulator.)

291  Systematic random sampling adalah cara pengambilan sampel di mana hanya anggota sampel pertama yang dipilih secara random, sedangkan anggota sampel berikutnya dipilih secara sistematis menurut pola tertentu 290

292 Systematic Random Sampling Strata I Strata II Strata III 1.Sp=5 2.Sp + K ; =15 3.Sp + 2K ; =25 4.Sp + 3K ; =35 5.Sp + 4K ; =45 6.Sp + 5K ; =55 7.Sp + 6K ; =65 8.Sp + 7K ; =75 9.Sp + 8K ; =85 10.Sp + 9K ; =95 anggota sampel terpilih Populasi = 100 Sampel = 10 K = 100/10 10

293  Stratified random sampling adalah cara pengambilan sampel di mana populasi distratifikasi menjadi beberapa lapisan berdasarkan kriteria tertentu. Kriteria dimaksud dapat berupa variabel penelitian, bisa juga variabel yang dekat dengan variabel penelitian. 292

294 (POPULASI) Strata I Strata II Strata III Misalkan, ukuran sampel yang diinginkan sebesar 450. Jadi, alokasi sampel per strata: Dari strata I (775/1.500 ) × 450 = 232 Dari strata II (525/1.500) × 450 = 158 Dari strata III (200/1.500) × 450 = Stratified Random Sampling 293

295 M1M1 M2M2 M3M3 M4M4 M5M5 M6M6 M7M7 M8M8  Cluster random sampling adalah pengambilan sampel di mana randomisasi dilakukan terhadap kelompok, bukan pada anggota populasi. 294 cluster terpilih cluster terpilih cluster terpilih POPULASI N = 8 banyak cluster n = 3 banyak cluster terpilih m = 2 banyak satuan sampling m = 1 banyak satuan sampling diteliti semuanya satuan pengamatan

296  Snowball sampling adalah cara pengambilan sampel yang pada awalnya menggunakan responden terbatas, kemudian terus meningkat berdasarkan informasi dari responden pertama.  Quota sampling adalah cara pengambilan sampel di mana jumlah responden yang akan diteliti ditetapkan terlebih dahulu, baru kemudian siapa yang akan dipilih menjadi anggota sampel terserah peneliti.  Convenience sampling adalah cara pengambilan sampel berdasarkan kemudahan.  Purposive sampling adalah cara pengambilan sampel yang didasarkan atas pertimbangan tertentu, terutama pertimbangan yang diberikan oleh sekelompok pakar. PENGAMBILAN SAMPEL TIDAK ACAK (Non-Random) 295

297 Menentukan Ukuran Sampel Menurut Gay dan Dehl (1996): 1. Untuk penelitian deskriptif, minimal diambil sampel sebesar 10% dari populasi. Sementara itu, jika populasinya besar maka minimal diambil sampel sebesar 20% dari populasi. 2. Untuk penelitian yang sifatnya menguji hubungan korelasional, minimal diambil 30 sampel. 3. Untuk penelitian yang sifatnya menguji hubungan kausalitas, minimal diambil 30 subjek per kelompok. 4. Untuk penelitian eksperimen, dianjurkan minimal 15 subjek per kelompok. 296

298 297 n = N 1 + N α 2 di manan=ukuran sampel N=ukuran populasi α =toleransi ketidaktelitian (dalam persen) Contoh: Misalkan, diketahui jumlah populasi penelitian adalah orang. Sementara, ketidaktelitian yang dikehendaki adalah 5%. Dengan demikian, jumlah atau ukuran sampel yang diperlukan untuk diteliti adalah sebesar 300 orang. PERHITUNGAN: RUMUS SLOVIN

299 KREJCIE & MORGAN 298 n = X 2 N P (1 − P) d 2 (N − 1) + X 2 P (1 − P) di manan=ukuran sampel N=ukuran populasi P=proporsi populasi (0,5) d=derajat ketelitian (0,05) X 2 =nilai tabel X 2 = 3,84 Jika ukuran populasi adalah maka ukuran sampel yang diperlukan: PERHITUNGAN: n = (3,84) (1.200) 0,5 (1 − 0,5) (0,05) 2 (1.200 − 1) + (3,84) 0,5 (1 − 0,5) = ,9575 = 291, 1 ≈ 291

300 TEKNIK SURVEI TEKNIK OBSERVASI KUESIONER DIBERIKAN LANGSUNG DIKIRIM VIA ALAT KOMUNIKASI WAWANCARA BERTATAP LANGSUNG PAKAI TELEPON SECARA LANGSUNG DIKETAHUI RESPONDEN TIDAK DIKETAHUI RESPONDEN BANTUAN ALAT DIKETAHUI RESPONDEN TIDAK DIKETAHUI RESPONDEN TEKNIK PENGUMPULAN DATA BIASDATABIASDATA 299

301 TEKNIK ANALISIS DATA Teknik analisis data ditentukan oleh faktor:  Tujuan studi  Skala ukur yang digunakan  Jumlah variabel 300

302 Analisis regresi Manfaat: Untuk menentukan hubungan kausalitas atau sebab-akibat antara satu variabel terikat dengan satu atau lebih variabel bebas. Misal: penelitian tentang pengaruh motivasi karyawan, perilaku pemimpin, dan kesempatan pengembangan karier terhadap kinerja karyawan (satu variabel terikat dan tiga variabel bebas). 301

303 302 Y = a + b 1 X 1 + b 2 X 2 + b 3 X 3 + e di manaY=kinerja X 1 =motivasi X 2 =perilaku pemimpin X 3 =kesempatan pengembangan karier a=konstanta b 1, b 2, b 3 = koefisien regresi e=variabel pengganggu Data hasil penelitian terhadap 59 responden sebagai sampel dinyatakan pada tabel berikut ini.

304 Responden Motivasi (X 1 ) Perilaku Pemimpin (X 2 ) Kesemp. Pengemb. Karier (X 3 ) Kinerja (Y) 13,803,7053,83 24,20 54,17 34,334,005 43,633,0053,50 54,554,1053,83 64,103,8043,67 74,203,6054,17 84,453,9043,67 94,354,5054,17 104, ,804,0053,67 124, ,903,7043,67 144,00 43,67 153,904,5054,00 164,254,3053,67 173,783,4033,33 184,253,8053,67 194,133,8053,83 203,833,9033,33 214,554,3053,67 224,104,7054,00 233,883,7043,67 243,883,8043,50 254,233, ,783,9043,83 273,883,8043,50 284, ,334,1053,83 302,233, (bersambung) DATA APLIKASI CONTOH ANALISIS REGRESI LINEAR BERGANDA Tabel: Hasil Tabulasi Data Skor Rata-rata untuk Variabel Tergantung dan Variabel Bebas

305 Responden Motivasi (X 1 ) Perilaku Pemimpin (X 2 ) Kesemp. Pengemb. Karier (X 3 ) Kinerja (Y) 314,00 43,67 323,603,7033,33 334,354,1054,17 344,354,3054,33 354,133,7043,17 363,253,1033,00 374,454,9054,33 382,203,0042,83 394,153,8033,50 403,853,6043,67 414,004,3053,67 422,433, ,103,7053,67 444,484,4054,00 454,003,8043,67 464,133,4054,33 474, , ,883,4043,67 504, ,253, , , ,904,5054,00 554,254,3053,67 563,783,4033,33 572,433, ,103,7053,67 592,433,005 Catatan: Variabel X 1 memiliki 2 indikator 9 butir pernyataan; X 2 memiliki 2 indikator 10 butir pernyataan; X 3 memiliki 3 indikator 4 butir pernyataan; dan Y memiliki 3 indikator 6 butir pernyataan. 304 Tabel: (lanjutan) Hasil Tabulasi Data Skor Rata-rata untuk Variabel Tergantung dan Variabel Bebas

306 305 Menggunakan hasil print out program statistik SPSS Menentukan model/persaman regresi: Coefficients a Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Correlations ModelBStd. ErrorBetatSig.Zero-orderPartial 1(Constant) X1X X2X X3X a. Dependent Variable: Y Y = 0, ,365 X 1 + 0,209 X 2 + 0,187 X 3

307 306 Nilai Koefisien Determinasi (R 2 ) Model Summary b ModelRR Square Adjusted R Square Std. Error of the EstimateDurbin-Watson a a. Predictors: (Constant), X 3, X 1, X 2 b. Dependent Variable: Y Nilai koefisien determinasi (adjusted R square) digunakan untuk menunjukkan variasi nilai variabel tergantung yang dijelaskan oleh variabel bebas. Dari tabel output program ini, disimpulkan bahwa kinerja karyawan dijelaskan oleh motivasi karyawan, perilaku pemimpin, dan pengembangan karier sebesar 70,7%. Sementara itu, sisanya (sebesar 29,3%) dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dianalisis dalam model.

308 307 Uji Model (Uji Koefisien Regresi secara Parsial) Uji model secara serempak dilakukan menggunakan uji F. Caranya dengan membandingkan nilai alfa yang dipilih (misal: 1–10%) dengan nilai Sig. dalam tabel hasil print out program SPSS. Jika nilai Sig. lebih kecil daripada nilai alfa yang dipilih maka disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel bebas secara serempak signifikan menjelaskan variabel terikat. Sebaliknya, tidak signifikan jika nilai Sig. lebih besar daripada alfa yang pilih. ANOVA b Model Sum of R SquaresdfMean SquareFSig. 1Regression a Residual E–02 Total a. Predictors: (Constant), X 3, X 1, X 2 b. Dependent Variable: Y Dari tabel output ini, disimpulkan bahwa jika alfa yang dipilih sebesar 1% maka variabel kinerja karyawan secara serempak signifikan (nyata) dijelaskan oleh variabel motivasi karyawan, perilaku pemimpin, dan pengembangan karier.

309 Coefficients a Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Correlations ModelBStd. ErrorBetaTSig.Zero-orderPartial 1(Constant) X1X X2X X3X a. Dependent Variable: Y 308 Uji Model (Uji Koefisien Regresi secara Serempak) Uji koefisien regresi secara parsial berarti menguji setiap pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat apakah signifikan atau tidak. Caranya dengan membandingkan nilai Sig. dengan nilai alfa yang dipilih. Jika nilai Sig. lebih kecil daripada nilai alfa yang dipilih, pengaruh variabel bebas itu signifikan terhadap variabel terikat. Demikian pula sebaliknya. Tabel output ini menunjukkan bahwa untuk alfa 5% semua nilai Sig. lebih kecil. Dengan demikian, semua variabel bebas (motivasi karyawan, perilaku pemimpin, dan pengembangan karier) berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan secara parsial.

310 Menentukan pengaruh variabel yang dominan dalam model regresi berganda  Perhatikan nilai koefisien regresi yang paling besar dalam persamaan itu.  Perhatikan signifikansi setiap koefisien tersebut pada setiap variabel.  Jika nilai koefisien regresi suatu variabel paling besar di antara yang lain dan signifikan untuk alpha tertentu maka: “variabel itu mempunyai pengaruh yang dominan jika dibandingkan dengan variabel lain terhadap variabel terikat. 309 Y = 0, ,365 X 1 + 0,209 X 2 + 0,187 X 3

311 ANALISIS JALUR (Path Analysis)  Analisis jalur berfungsi untuk menjelaskan akibat/pengaruh langsung dan tidak langsung seperangkat variabel bebas dengan seperangkat variabel terikat.  Pada analisis jalur, terlebih dahulu harus menggambarkan secara diagramatik struktur hubungan kausalitas antara variabel bebas dengan variabel terikat. Diagram ini dikenal dengan diagram jalur. 310

312 311 Diagram berikut ini menunjukkan hubungan kausal antara X 1 dengan X 4, X 2 dengan X 4, dan X 3 dengan X 4. Sementara, hubungan antara X 1 dengan X 2, X 1 dengan X 3, dan X 2 dengan X 3 masing-masing adalah hubungan korelasional. Perhatikan bahwa panah dua arah menyatakan hubungan korelasional. Pada diagram jalur, terdapat tiga variabel eksogen (X 1, X 2, X 3 ) dan satu variabel endogen (X 4 ). X3X3 X2X2 X1X1 X4X4 Є

313 Koefisien Jalur 312 Besarnya pengaruh dari suatu variabel eksogen ke variabel endogen tertentu dinyatakan oleh besarnya bilangan koefisien jalur (path coefficient). Hubungan antara X 1 dengan X 2 adalah hubungan korelasional. Intensitas keeratan hubungan tersebut dinyatakan oleh besarnya koefisien korelasi rX 1 X 2. Hubungan X 1 dan X 2 ke X 3 adalah hubungan kausal. Besarnya pengaruh dari X 1 ke X 3 dan dari X 2 ke X 3, masing-masing dinyatakan oleh besarnya nilai koefisien jalur ρX 3 X 1 dan ρX 3 X 2. Adapun koefisien jalur ρX 3 Є menggambarkan besarnya pengaruh variabel residu Є terhadap X 3. X2X2 X1X1 X3X3 Є r X 1 X 2 ρ X 3 X 1 ρ X 3 X 2 ρ X 3 Є

314 Aplikasi Analisis Jalur  Untuk aplikasi analisis jalur dalam kancah penelitian yang sesungguhnya, dapat dipelajari pada buku penulis [Anwar Sanusi, Metodologi Penelitian Bisnis (Jakarta: Penerbit Salemba, 2011 )]; Bab 10 Analisis Data pada subbab Analisis Jalur (Path Analysis). 313

315 Structural Equation Modeling (SEM)  Model persamaan struktural merupakan pengembangan lebih lanjut dari path analysis. Pada model persamaan struktural (SEM), hubungan kausalitas antarvariabel eksogen dengan endogen dapat ditentukan secara lebih lengkap.  Dengan menggunakan SEM, tidak hanya hubungan kausalitas (langsung dan tidak langsung) pada variabel atau konstruk yang diamati dapat terdeteksi, tetapi komponen-komponen yang berkontribusi terhadap pembentukan konstruk tersebut dapat ditentukan (hal ini tidak tertampung dalam analisis jalur). 314

316 315 Kotak persegi disebut variabel terukur (observed variable). Nilainya dapat diperoleh dengan menggunakan instrumen (kuesioner) penelitian di lapangan.ca Lingkaran berbentuk oval disebut variabel bentukan (latent variable). Nilai variabel bentukan ini dibentuk oleh indikator- indikator penyusun konstruk. Oleh karena itu, variabel bentukan ini juga disebut construct. Panah satu arah menunjukkan adanya hubungan yang dihipotesiskan antarvariabel, di mana variabel yang dituju anak panah adalah variabel tergantung. Untuk variabel latent (construct), arah anak panah menuju ke kiri (ke indikator-indikator penyusun construct itu. Untuk variabel terukur (observed variable), arah anak panah menuju ke kanan (lazim sebagaimana arah anak panah dalam hubungan regresi antara variabel independen ke variabel dependen. Panah dua arah menunjukkan hubungan korelasi di antara dua variabel. Dalam SEM, perilaku dua anak panah ini tidak dihitung, tetapi digunakan untuk syarat dalam menentukan hubungan kausalitas antara satu variabel dependen dengan beberapa variabel independent. Dalam hal ini, hubungan kausalitas dalam regresi akan terjadi jika di antara variabel independen itu tidak saling berkorelasi. Makna Notasi dalam SEM

317 Langkah Pemodelan SEM  Model SEM yang lengkap terdiri atas model pengukuran dan model struktural. Model pengukuran digambarkan dengan konfirmasi indikator-indikator empiris terhadap konstruk yang dibangun oleh indikator itu, sedangkan model struktural menjelaskan struktur hubungan kausalitas antarvariabel. 316

318 1 Mengembangkan Model Berbasis Teori. 2 Mengembangkan Path Diagram untuk Menunjukkan Hubungan Kausalitas. 3 Konversi Path Diagram ke dalam Serangkaian Persamaan Struktural dan Spesifikasi Model Pengukuran. 4 Pemilihan Matriks Input dan Teknik Estimasi atas Model Yang Dibangun. 5 Menilai Problem Identifikasi. 6 Evaluasi Model. 7 Interpretasi dan Modifikasi Model. Langkah Pemodelan SEM 317

319 Pengembangan Model Berbasis Teori 318 SEM tidak menghasilkan suatu hubungan kausalitas, melainkan membenarkan atau tidak sebuah hubungan kausalitas. Hubungan kausalitas itu sendiri dalam model harus dibangun oleh peneliti melalui landasan teori yang kuat akan fenomena yang diamati.

320 319 BUDAYA ORGANISASI (BUDOR) X 1 =Keterlibatan X 2 =Konsistensi X 3 =Adaptasi X 4 =Misi KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL (KETRANS) X 5 =Stimulasi intelektual X 6 =Pengaruh individu X 7 =Motivasi inspiratif X 8 =Pertimbangan individual PENGEMBANGAN KARIER (PEKAR) X 9 =Jalur individu X 10 =Jalur organisasi X 11 =Jalur mentor KOMITMEN ORGANISASIONAL (KOMOR) Y 1 =Komitmen afektif Y 2 =Komitmen kontinuan Y 3 =Komitmen normatif KINERJA ORGANISASI (KINOR) Y 4 =Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran Y 5 =Perspektif bisnis internal Y 6 =Perspektif pelanggan Y 7 =Perspektif finansial Contoh hasil pengembangan model berbasis teori: Hubungan antara budaya organisasi, kepemimpinan transformasional, pengembangan karier dengan komitmen organisasional dan kinerja organisasi.

321 Pengembangan Path Diagram  Setelah model dikembangkan berdasarkan pijakan teori yang kuat, model itu selanjutnya diterjemahkan ke dalam diagram jalur (path diagram) agar dapat menentukan hubungan kausalitas atau korelasional antarkonstruk atau variabel dengan mudah. 320

322 321 Contoh: Diagram jalur hubungan budaya organisasi, kepemimpinan transformasional, dan pengembangan karier dengan komitmen organisasional dan kinerja organisasi.

323 322 Pada hakikatnya, persamaan-persamaan dalam structural equation modeling terbagi menjadi dua bagian, yaitu persamaan model pengukuran (measurement model/factor loading) dan persamaan model struktural (structural model). Contoh Persamaan Model Pengukuran: 1.Faktor loading yang menjelaskan variabel budaya organisasi (BUDOR) Keterlibatan (X 1 )= α 1 BUDOR + d 1 Konsistensi (X 2 )= α 2 BUDOR + d 2 Adaptasi (X 3 )= α 3 BUDOR + d 3 Misi (X 4 )= α 4 BUDOR + d 4 Contoh Persamaan Model Struktural: 1.Persamaan struktural yang menjelaskan pengaruh langsung variabel budaya organisasi, kepemimpinan transformasional, dan pengembangan karier terhadap komitmen organisasional KOMOR = β 1 BUDOR + β 2 KETRANS + β 3 PEKAR + Z 1 Konversi Diagram Jalur ke dalam Serangkaian Persamaan

324 Memilih Matriks Input dan Estimasi Model  Dalam analisis SEM, data yang digunakan sebagai input adalah matriks varians/kovarians atau matriks korelasi. (Perhatikan pembahasan pada bagian analisis jalur/path analysis.) 323

325 Dalam analisis SEM, sering kali muncul persoalan identifikasi, baik yang berupa unidentified maupun overidentified. Sebagai akibatnya, model tidak mampu menghasilkan estimasi atau pendugaan yang seharusnya. Ciri-ciri terjadinya masalah identifikasi, antara lain: standard error untuk satu atau beberapa koefisien sangat besar, terjadi korelasi yang berlebihan antarkoefisien estimasi yang diperoleh dari model yang dimaksud. Menilai Masalah Identifikasi 324

326 Evaluasi Kriteria Goodness-of-Fit  Langkah pertama dalam evaluasi model yang sudah dihasilkan dalam analisis SEM adalah memperhatikan terpenuhinya asumsi-asumsi dalam SEM, misalnya (1) ukuran sampel, (2) normalitas dan linearitas, (3) kemungkinan adanya outlier (pencilan) yang ekstrem, serta (4) kemungkinan terjadinya multicollinearitas dan singularitas.  Setelah asumsi-asumsi tersebut dipenuhi, barulah dilakukan uji kesesuaian dan uji statistik. Berbagai kriteria yang dapat dijadikan pedoman dalam melakukan uji kesesuaian (uji fit) dikenal dengan “goodness-of-fit indices”. (Perhatikan tabel berikut.) 325

327 326 Goodness-of-Fit IndexCut-off Value X 2 - Chi-squary Significance Probability RMSEA GFI AGFI CMIN/DF TLI CFI Diharapkan kecil ≥ 0,05 ≤ 0,08 ≥ 0,90 ≤ 2,00 ≥ 0,95 Tabel Goodness-of-Fit Indices

328 Interpretasi dan Modifikasi Model  Langkah terakhir dalam analisis SEM adalah melakukan interpretasi terhadap model yang sudah memenuhi persyaratan dengan berpedoman pada kriteria-kriteria goodness-of-fit. Jika model ternyata belum memenuhi kriteria ini maka disarankan untuk dilakukan modifikasi. 327 Aplikasi SEM dalam kancah penelitian yang sesungguhnya, dapat dipelajari pada buku penulis [Anwar Sanusi, Metodologi Penelitian Bisnis (Jakarta: Penerbit Salemba, 2011 )]; Bab 10 Analisis Data pada subbab Structural Equation Modeling (SEM).

329 Menyusun Laporan Penelitian Pertimbangan-pertimbangan dalam menyusun laporan penelitian: 1. Tujuan pembuatan laporan. 2. Terkait dengan hal yang pertama; siapakah yang akan memanfaatkan (atau membaca) laporan penelitian itu. 3. Ketajaman dalam menyampaikan informasi hasil penelitian. 4. Sistematika penulisan laporan (untuk setiap jenjang pendidikan, sistematika penulisan akan memiliki perbedaan walaupun substansinya sama). 328

330 329 Menyusun Proposal Penelitian Proposal penelitian merupakan cetak biru dari keseluruhan proses penelitian yang akan dilakukan. Oleh karena itu, proposal penelitian sesungguhnya sangat menentukan apakah penelitian yang akan dilakukan itu layak atau tidak. Untuk mendalami cara menyusun proposal penelitian, dapat dipelajari pada buku penulis [Anwar Sanusi, Metodologi Penelitian Bisnis (Jakarta: Penerbit Salemba, 2011 )]; Bab 12 Menyusun Proposal Penelitian.

331 SEKIAN DAN TERIMA KASIH 330


Download ppt "METODE PENELITIAN 1. Dr. Steph Subanidja, SE, MBA, CFP Sumber: Prof. Dr. Anwar Sanusi, S.E., M.Si. Prof.Dr. Sugiyono, dkk."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google