Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Photos by Douglas Sheil, CIFOR Ekploitasi berlebih, status konservasi, dan monitoring Original text and data by Gabriella Fredriksson and Vincent Nijman.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Photos by Douglas Sheil, CIFOR Ekploitasi berlebih, status konservasi, dan monitoring Original text and data by Gabriella Fredriksson and Vincent Nijman."— Transcript presentasi:

1 Photos by Douglas Sheil, CIFOR Ekploitasi berlebih, status konservasi, dan monitoring Original text and data by Gabriella Fredriksson and Vincent Nijman

2 Apakah itu eksploitasi terlebih? Eksploitasi terlebih terjadi kalau tingkat pemanen binatang dari sesuatu populasi lebih tinggi dari hasil perkembang-biakan populasi itu. Akhibatnya adalah menurunnya populasi (sampai punah)

3 Contoh-contoh spesies yang tereksploitasi berlebih di Indonesia Badak Sumatra– cula, tulang untuk obat Harimau – kulit dan tulang untuk obat Banteng – daging dan kepala/tengkorak Cucak Rawa – Burung sangkar Enggang – Bulu untuk upacara adat Buaya – Kulit dan daging Penyu – Daging dan hiasan Anggrek – Hiasan dan koleksi photo © alan yeo

4 Sebagian besar dari spesies itu: •Didaftar oleh IUCN – Status konservasi internasional Didaftar oleh CITES – Perdagangan internasional •Dilindungi undang-undang nasional Tetapi bukan semua: : Misalnya, Cucak Rawa: •Didaftar “Vulnerable” = Rentan •Didaftar di Appendix II dari CITES sejak tahun 1997 •Tetapi belum dilindungi di Indonesia

5 IUCN •IUCN adalah organisasi yang khusus untuk monitorin status konservasi satwa liar dan tumbuh-tumbuhan di dunia. 1.Extinct = Punah 2.Extinct in the wild = Punah di alam 3.Critically Endangered = Kritis 4.Endangered = Genting 5.Vulnerable = Rentan 6.Lower Risk = Resiko relatif rendah Kategori Keterancaman Bedasarkan Kriteria IUCN

6 Contoh-contoh spesies didaftar oleh IUCN (2004) - © William Hull Jalak Bali: Kritis (165 sp. di Indonesia) Dodo: Punah (6 sp. di Indonesia) Mangga Kalimantan: Mangifera casturi (2 sp. di Indonesia) Punah di alam

7 Contoh-contoh spesies didaftar oleh IUCN (2004) Genting: Orangutan (188 sp. di Indonesia) Rentan: Sumba hornbill (485 sp. di Indonesia)

8 CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) adalah persetujuan internasional antara pemerintah-pemerintah. Tujuan adalah untuk memastikan bahwa perdagangan internasional spesimen-spesimen satwa liar dan tumbuhan tidak akan mengancam keberlangsungan hidupnya. The Parties (member States) to CITES are collectively referred to as the Conference of the Parties. Every two to three years, the Conference of the Parties meets to review the implementation of the Convention and discuss the inclusion/exclusion of species. The CITES Secretariat, administered by the United National Environmental Program (UNEP), is located at Geneva, Switzerland

9 CITES: examples - CITES – binatang didaftar: Indonesia Appendix I66 II1191 I/II2 CITES – tumbuhan didaftar: Indonesia Appendix I30 II991 III32

10 Some TNC terminology: Stresses and sources aka Threats •STRESSES = Destruction, degradation, impairment of systems •SOURCES = The proximate causes of stress

11 Systems Stresses Sources Stresses: Impair the viability of targets —e.g. sedimentation, habitat destruction Sources: The proximate cause of the stress — e.g. cows in stream

12 Stresses • Stresses destroy, degrade or impair conservation targets by impacting a key ecological attribute for size, condition or landscape context • Examples -- Stresses to a system: Habitat destruction -- affects minimum dynamic area (Size) Altered composition -- affects characteristic native species (Condition) Altered fire regime -- affects fire intensity /return interval (Landscape Context)

13 Sources •Sources are the proximate cause of a stress Examples: Incompatible residential development Incompatible row-crop agriculture Incompatible operation of dams/reservoirs Fire suppression Incompatible forestry -- high-grading Incompatible forestry -- clearcutting Sources of stress are the tangible threats we must address

14 Primates: Ancaman dan kebutuhan monitorin

15 Kenapa ada kebutuhan untuk pengelolaan primata yang khusus? •Hampir semua jenis terancam •Beberapa jenis khas Kalimantan (endemik) •Hampir semua jenis dilindungi •Jumlah populasi menurun •Primata punya funksi penting di hutan (penyebaran biji dll) •Penting dalam kebudayaan suku setempat

16 Ada berapa jenis primata ? Di Dunia: 305 jenis Di Indonesia: 42 jenis Di Sundaland (Sum, Kal, Java, Bali): 27 jenis Di Kalimantan: 16 jenis

17 Primata yang mana yang dilindungi? •Kukang (sejak 1973) •Tarsius (sejak 1931) •Bekantan (sejak 1931) CITES II •Kelasi (sejak 1977) CITES II •Banggat (sejak 1979) CITES II •Lutung dahi putih (sejak 1979) CITES II •Lutung biasa (sejak 1999) CITES II •Owa-wa (sejak 1931) CITES II •Orangutan(sejak 1931) CITES II

18 Informasi apa yang diperlukan untuk pengelolaan Primata yang benar?  Distribusi  Pengetahuan tipe hutan yang ditempati  Kebutuhan hidup (jenis makanan, sungan dll)  Kepadatan  Jumlah populasi  Ancaman

19 Distribusi primata: siapa tinggal di mana? •Tidak semua jenis primata tinggal sembarang atau acak di hutan •Masing-masing jenis punya kebutuhan khusus •Informasi soal distribusi primata belum lengkap •Distribusi primata tergantung dari berbagai faktor (geografi, kompetisi, kepunahan dll)

20 Bekantan ada terutama di hutan bakau dan di pinggir sungai besar: Saat ini bekantan sudah mulai punah di daerah ulu sungai sebab perburuan yang tinggi

21 Tiga jenis Banggat hanya ada di bagian utara pulau Borneo

22 Tipe hutan: siapa tinggal di mana dan kenapa…? •Ada jenis yang hanya bisa hidup di hutan primer atau hutan sekunder tua (Owa-wa) •Ada jenis yang tinggal khusus di pinggir sungai (Bekantan dan Kera) •Ada jenis yang bisa ditemukan di bekas ladang tetapi dengan kepadatan rendah •Ada jenis yang khusus hidup di hutan dataran rendah (Orangutan)

23 Kepadatan, tergantung dari apa? •Tipe habitat (rawa, dataran rendah, kerangas) •Kekayaan pohon buah-buahan •Ketinggian (berapa % habitat 500 m dpl dan seterusnya) •Kompetisi (dengan binatang atau jenis primata lain) •Tingkat pemburuan •Tingkat ancaman lain (penebangan)

24 Kompetisi antara Banggat dan Kelasi juga jelas (tetapi belum ketahuan kenapa…???) Banyak Banggat, tetapi Kelasi sedikit Banyak Kelasi, tetapi sedikit Banggat

25 Jumlah populasi: •Untuk pengelolaan jenis primata sangat penting untuk mengetahui jumlah yang berada di dalam kawasan •Untuk monitoring (pengamatan yg diulang terus-menerus) populasi diperlukan data awal •Fragmentasi antara populasi juga perlu dipikirkan •Ekstrapolasi dari data kepadatan dari satu studi/tempat ke wilayah yang lebih besar seringkali salah dan tidak benar!!

26  Fakta: •Di Lembah Danum (Sabah) ada sekitar 50 ekor Badak dalam kawasan sebesar 500 km2 (=1 ekor/10 km2) •Luasnya TN Kayan Mentarang adalah km2 •Terakhir 40 tahun tidak ada laporan Badak dari TN KM  Ekstrapolasi: •13000 km2 hutan di TN KM= 1300 ekor Badak  Siapa yang percaya..?? Kenapa tidak bisa ekstrapolasi dari data satu tempat ke wilayah yang besar…?

27 Gampang toh… ekstrapolasi…! ? X 1000 Di mana semua teman …

28 Apa itu Monitoring..? •Monitoring adalah pemeriksaan ‘kesehatan’ populasi di sebuah wilayah •Untuk monitoring perlu data awal dari satu tempat dan monitoring harus diteruskan disitu (atau beberapa tempat yang akan diulangi terus) •Monitoring perlu diulangi dalam waktu tertentu (bisa setiap bulan, bisa sekali dalam setahun) •Untuk monitoring bisa dihitung jumlah individu tetapi juga bisa diperiksa komposisi kelompok (berapa ekor yang anak, remaja atau dewasa, dan juga kelamin)

29 Monitoring adalah kunci pengelolaan populasi primata: •Melewati monitoring kita bisa melihat apakah populasi di satu wilayah bertambah, menurun atau tetap stabil •Juga melewati monitoring kita bisa memeriksa dampak dari berbagai kegiatan (misalnya pemburuan-kalau kita mengetahui jumlah dan intensitas dari kegiatan tersebut)

30 Apa hubungan antara babi dan primata..?

31 Kalau ada banyak babi, si primata lebih aman..? Kalau ada banyak babi, jarang diburuh primata…. Kalau babi mulai tipis banyak diburuh primata

32 Buat apa hasil dari monitoring..? •Hasil dari monitoring dipakai sebagai dasar untuk pengelolaan •Kalau kita melihat dari monitoring bahwa jumlah primata menurun kita perlu intervensi (dan mencari sumber permasalahan) •Kalau populasi naik-berarti pengelolaan kita bagus dan lebih baik daripada dulu!

33 Kapan kita mulai monitoring cewek….? Banggat…baru ketemu lima kelompok owa-wa…. Banyak banggat hari ini… Monitoring adalah hobby kita…

34 Bagaimana situasi di Berau?  Akses susah dan jumlah penduduk rendah  Kerusakan habitat masih ringan dibanding dengan kawasan lain  Fragmentasi habitat perlu diwaspadai (pembangunan jalan, konversi kelapa sawit)  Pemburuan menjadi masalah besar kalau mulai mengarah ke perdagangan (bezoar, burung, empedu) melewati cukong


Download ppt "Photos by Douglas Sheil, CIFOR Ekploitasi berlebih, status konservasi, dan monitoring Original text and data by Gabriella Fredriksson and Vincent Nijman."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google