Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Tafsir Surat Al-Buruj. Muwashafat yang ingin dicapai Tidak mendahulukan makhluk atas Khaliq (p) Mengesakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah (p) Tidak.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Tafsir Surat Al-Buruj. Muwashafat yang ingin dicapai Tidak mendahulukan makhluk atas Khaliq (p) Mengesakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah (p) Tidak."— Transcript presentasi:

1 Tafsir Surat Al-Buruj

2 Muwashafat yang ingin dicapai Tidak mendahulukan makhluk atas Khaliq (p) Mengesakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah (p) Tidak menyekutukan Allah SWT, tidak dalam Asma’-Nya, sifat dan af’al-Nya (p) Berusaha meraih manisnya iman (p) Mengaitkan antara Al-Qur’an dengan realita (p) Menerima dan memikul beban dakwah (p)

3 I. TUJUAN UMUM Memperkuat tali ikatan dengan Kitabullah, dasar pemahaman yang benar, penanaman cinta, penguasaan untuk mengajarinya, merasa terikat dengan taujihnya, mengamalkan kandungannya, memburnikan sasaran-sasaran dengan menyesuaikan ruang dan waktu, dan kembali kepada Al-Qur’an ketika berselisih.

4 II. TUJUAN KHUSUS 1.Menjelaskan bahasan yang ada pada surat ini. 2.Menjelaskan makna dari kosa kata baru yang pada surat ini. 3.Menerangkan secara global makna dari surat ini sambil menjelaskan setiap bahasan yang ada dalam surat ini. 4.Menyebutkan setiap rukun qasam yang ada pada surat ini (al-muqsim, al-muqsam bihi dan al-muqsam alaih) 5.Menjelaskan hubungan antara setiap rukun qasam. 6.Menerangkan siapa yang dimaksud dengan as-haabul ukhduud 7.Menjelaskan makna yang dimaksud dari ayat: “qutila ashaabul ukhduud”

5 II. TUJUAN KHUSUS 8.Menceritakan kisah ashaabul ukhduud dan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang beriman dengan bantuan riwayat yang shahih dari sunnah bukan cerita isarailiyyat atau hadits-hadits yang maudhu’. 9.Menjelaskan hubungan antara kisah ashaabul ukhdud dengan keadaan orang-orang yang beriman di Mekah ketika itu (zaman nabi Muhammad saw.), serta bagaimana seharusnya kita menyikapi kejadian yang berhubungan dengan dakwah kita di setiap zaman. 10.Menjelaskan apa yang dimaksudkan Allah swt. dalam firman-Nya: ínna batsya robbika lasyadiid, innahu huwa yubdi’u wa yu’iid, wah huwal ghafuuru –waduud, dzul-‘arsyil majiid dan fa’aalun lima yuriid”. 11.Menjelaskan hubungan antara ayat-ayat yang ada pada surat ini dan rangkaian ayat yang ada pada surat yang sejenis. 12.Mengambil pelajaran yang ada pada ayat-ayat di surat ini, baik itu yang berhubungan dengan aqidah, akhlaq, sejarah dan nilai-nilai tarbawiyah.

6 III. SASARAN APLIKATIF PSIKOMOTORIK. 1.Membedakan antara Makiyah dan Madaniyah 2.Merangkum arahan-arahan Ilahiyah yang ada dalam Surat 3.Menyebutkan makna-makna kalimat (kosa kata) 4.Memperhatikan jalan tengah dalam Ibadah 5.Memperbanyak istighfar 6.Bersedekah dengan sebagian hartanya 7.Menegakkan keadilan dan menyaring yang hak dan baik 8.Mewaspadai fitnah harta 9.Sabar dalam ketaatan dan menghadapi maksiat 10.Memperhatikan keseriusan dan tidak malas 11.Mengagungkan nama-nama Allah, sifat-sifat dan Kitab-Nya 12.Menjaga wudhu.

7 IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan dalam halaqah adalah: 1. Kegiatan Pembuka Mengkomunikasikan tentang urgensi mengkaji Tafsir surat Al- Buruj 2. Kegiatan Inti: Kajian tentang Tafsir surat Al-Buruj Berdiskusi dan tanya jawab seputar pokok bahasan (lihat tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor) Penekanan dari murabbi tentang nilai dan hikmah yang terkandung dalam materi tersebut 3. Kegiatan Penutup: Tugas mandiri (lihat kegiatan pendukung) Evaluasi (dibuat soal sesuai tujuan khusus, afektif, dan psikomotor)

8 V. PILIHAN KEGIATAN PENDUKUNG. 1.Memperbaiki bacaan Surat dan menghafalnya sesuai dengan kandungan maknanya 2.Mengambil faedah dari arahan-arahan dakwah yang terkandung dalam Surat 3.Menulis bahasan-bahasan yang berkaitan dengan tema-tema Surat 4.Mentarbiyah binaan untuk komitmen terhadap nilai-nilai da’awiah imaniah yang terkandung dalam surat 5.Memberikan kajian-kajian di Masjid sekitar makna-makna Surat 6.Mengajarkan Surat dalam halaqah tajwid 7.Memilih ayat-ayat yang khusus berkaitan dengan targhib (memberikan dorongan) dan tarhib (memberikan ancaman) serta menulisnya di spanduk-spanduk.

9 V. PILIHAN KEGIATAN PENDUKUNG. 8.Membuat rekaman film tentang “al-I’jaz al-ilahy” dalam penciptaan manusia. 9.Merangkum arahan-arahan surat dan memasangnya di tempat- tempat umum 10.Menulis kisah yang isinya menceritakan perbandingan kondisi mukmin dan mujrim (kafir) di dunia dan akhirat 11.Melakukan “rihlah khalwiyah” (wisata muhasabah) untuk merenungkan fokus-fokus ayat 12.Menyediakan kitab, kaset dan vcd tentang tafsir Surat 13.Menziarahi kuburan untuk mengambil pelajaran 14.Memiliki wirid sendiri untuk muhasabah harian 15.Memberikan ceramah tentang aqidah “al-ba’ts wal jaza” (hari kebangkitan dan balasan)

10 VI. SARANA EVALUASI DAN MUTABA’AH. 1.Menguji peserta sekitar hukum-hukum tajwid baik teori maupun praktek 2.Menguji hafalan Surat setiap peserta secara lafazh dan maknanya 3.Mengevaluasi perilaku peserta dan komitmennya terhadap adab-adab Al-Qur’an 4.Membuat format untuk mengevaluasi keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan di atas 5.Menjelaskan akibat orang-orang yang melakukan perusakan di dunia dari kisah-kisah ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun. 6.Memaparkan dampak ujian baik dan buruk dan kondisi manusia ketika itu.

11 VII. SASARAN PEMBELAJARAN. 1.Menjelaskan bahasan yang ada pada surat ini. 2.Menjelaskan makna dari kosa kata baru yang ada pada surat ini. 3.Menerangkan secara global makna dari surat ini sambil menjelaskan setiap bahasan yang ada dalam surat ini. 4.Menyebutkan setiap rukun qasam yang ada pada surat ini (al-muqsim, al-muqsam bihi dan al-muqsam alaih) 5.Menjelaskan hubungan antara setiap rukun qasam. 6.Menerangkan siapa yang dimaksud dengan as-haabul ukhduud 7.Menjelaskan makna yang dimaksud dari ayat: “qutila ashaabul ukhduud”

12 VII. SASARAN PEMBELAJARAN. 8.Menceritakan kisah ashaabul ukhduud dan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang beriman melalui rujukan riwayat yang shahih dari sunnah bukan cerita isarailiyyat atau hadits-hadits yang maudhu’. 9.Menjelaskan hubungan antara kisah ashaabul ukhdud dengan keadaan orang-orang yang beriman di Makah ketika itu (zaman nabi Muhammad SAW), serta bagaimana seharusnya kita menyikapi kejadian yang berhubungan dengan dakwah kita di setiap zaman. 10.Menjelaskan apa yang dimaksudkan Allah SWT dalam firman Nya: ínna batsya robbika lasyadiid, innahu huwa yubdi’u wa yu’iid, wah huwal ghafuuru –waduud, dzul-‘arsyil majiid dan fa’aalun lima yuriid” 11.Menjelaskan hubungan antara ayat-ayat yang ada pada surat ini dan rangkaian ayat yang terdapat pada surat sejenis. 12.Mengambil pelajaran yang ada pada ayat-ayat di surat ini, baik itu yang berhubungan dengan aqidah, akhlak, sejarah dan nilai-nilai tarbawiyyah.

13 VIII. Referensi 1.Fii Zhilaalil Qur’an karya Sayyid Quthb 2.Tafsir Al-Qurthubi 3.Tafsir Ibnu Katsir 4.Zubdatut-tafsir DR. Muhammad al- Asyqar 5.Shofwatul Bayaan Li ma’anil Qur’an Syaikh Muhammad Husain Makhluf

14 IX. Muhtawa: Kandungan Surat

15 Isi surat (tilawah bersama-sama) وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ (1) وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ (2) وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ (3) قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (9) إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (10) إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ (11) إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13) وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ (14) ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ (15) فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (16) هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْجُنُودِ (17) فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ (18) بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ (19) وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ (20) بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22)

16 1. Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, 2. Dan hari yang dijanjikan,3. Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. 4. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, 5. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar,6. Ketika mereka duduk di sekitarnya,7. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. 8. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, 9. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.10. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan Kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. 11. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar. 12. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.13. Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). 14. Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, 15. Yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha mulia, 16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. 17. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang,18. (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? 19. Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan,20. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.21. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, 22. Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.

17 Surah yang pendek ini memaparkan beberapa hakikat akidah dan kaidah-kaidah tashawwur imani (cara pandang yang berdasarkan iman), dan beberapa persoalan besar. Di sekitarnya memancar cahaya-cahaya yang kuat dan jauh jangkauannya, yakni di belakang makna-makna dan hakikat-hakikat yang diungkapkan secara langsung oleh nash- nashnya. Sehingga, hampir setiap ayatnya, dan kadang-kadang setiap katanya, membuka lubang angin (jendela) terhadap suatu alam yang sangat luas jangkauannya mengenai suatu hakikat.

18 Topik masalah yang dibicarakan secara langsung oleh surah ini adalah peristiwa Ashhabul-Ukhdud. Topiknya adalah segolongan orang beriman tempo dulu sebelum datangnya agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw., golongan Nashara yang bertauhid sebagaimana tercantum dalam surah al­Buruuj ayat 8, mendapat perlakuan sadis dari musuh­musuh mereka, yaitu para penguasa diktator yang keras kepala dan sangat jahat. Penguasa itu menghendaki agar mereka yang beriman meninggalkan akidahnya dan murtad dari agamanya, tetapi mereka tidak mau dan tetap mem­pertahankan akidahnya. Maka, sang penguasa lantas menggali parit di tanah dan menyalakan api di dalamnya, kemudian dibenamkannya ke dalamnya kelompok yang beriman itu sehingga mereka mati terbakar. Hal itu dilakukan di hadapan masyarakat yang telah dikumpulkan oleh sang diktator supaya mereka dapat menyaksikan penderitaan golongan beriman yang disiksa dengan cara yang sangat kejam ini. Juga supaya para penguasa tiran ini dapat bermain-main dengan menyaksikan pembakaran itu, yakni membakar anak-anak manusia yang beriman.

19 Surah ini dimulai dengan sumpah dari ayat Maka, dirangkaikanlah di sini antara langit yang memiliki gugusan bintang-bintang yang besar, dan hari yang dijanjikan beserta peristiwa- peristiwanya yang besar. Juga pengumpulan manusia oleh penguasa diktator untuk menyaksikan penyiksaan kaum yang beriman dan peristiwa-peristiwa yang disaksikan. Dirangkaikan semua ini dengan peris­tiwa itu, serta siksaan dari langit kepada pelaku-pelaku kezaliman tersebut.

20 Kemudian dibentangkanlah pemandangan yang menakutkan sepintas. Dibiarkannya perasaan manusia merasakan kejamnya peristiwa itu tanpa penjelasan rinci dan keterangan panjang lebar. Di­ biarkan perasaan mereka sambil mengisyaratkan betapa agungnya akidah yang dipertahankan oleh segolongan manusia beriman meski dengan risiko yang amat berat. Sehingga, mereka mempertahan­ kannya meski harus melawan api yang bergejolak. Mereka lebih mementingkannya daripada kehidup­an duniawinya sendiri. Dengan demikian, mereka mencapai titik puncak kemuliaan di seluruh generasi manusia. Diisyaratkan juga busuknya tindakan kaum yang zalim itu dengan segala kezaliman, kejahatan, dan kehinaan yang tersembunyi di dalamnya. Di sam­ping itu, ditunjukkan ketinggian, kemerdekaan, dan kesucian jiwa orang-orang yang beriman. Hal demi­kian sebagaimana tercantum pada ayat 4-8 surah al­Buruuj.

21 Setelah itu, datanglah komentar-komentar singkat secara berturut-turut yang mengandung perkara-­erkara besar mengenai persoalan dakwah, akidah, dan tashawwur imani yang mendasar. Komentar-komentar yang mengisyaratkan kepada kekuasaan Allah di langit dan di bumi, kesaksian-Nya, dan kehadiran-Nya pada setiap peristiwa yang terjadi di langit dan di bumi. Hal ini tercantum pada surah al-buruuj ayat 9. Isyarat yang menunjuk kepada azab jahanam dan azab pembakaran yang telah menantikan kedatang­an para penguasa zalim, durhaka, dan bermoral rendah. Juga isyarat yang menunjuk kepada kenikmatan surga. Yakni, suatu keberuntungan besar yang telah menantikan kedatangan orang-orang mukmin yang lebih memilih akidah daripada kehidupan duniawi­nya. Mereka menjunjung tinggi akidah itu meskipun harus disiksa dengan dibakar di dalam api. Lihatlah mengenai hat ini pada surah al-Buruuj ayat

22 Kemudian ditunjukkanlah pada ayat bahwa azab Allah itu benar-benar keras. DiaYang mencipta kan makhluk dari permulaan dan menghidupkannya kembali. Ini adalah suatu hakikat yang berhubungan se­cara langsung dengan kehidupan yang hendak di­lenyapkan dalam peristiwa itu. Di batik peristiwa itu, terpancarlah cahaya-cahayayang jauh jangkauannya. Setelah itu disebutkan beberapa sifat Allah Ta'ala pada ayat 14, dan tiap-tiap sifat bermaksudkan suatu urusan

23 Pada ayat disebutkan bahwa Allah Maha Pengampun terhadap orang-orang yang bertobat dari dosa-dosa betapapun besar dan buruknya dosa itu. Maha Pengasih kepada hamba hamba-Nya yang lebih mengutamakan keridhaan-Nya daripada segala sesuatu. Penyebutan kasih sayang ini di sini merupakan salep untuk mengobati luka luka itu. Itulah beberapa isyarat global dari pancaran surah ini dan medannya yang lapang dan jauh. Demikianlah pengantar dari pemaparan pancaran-pancaran surah ini. Adapun pemaparannya secara rinci adalah se­bagai berikut. Ini adalah sifat yang menggambarkan perlindung­an, kekuasaan, dan kehendak yang mutlak. Semua­nya mempunyai hubungan dengan peristiwa itu. Di samping itu, dipancarkan cahaya secara mutlak di balik itu dengan jangkauannya yang amat jauh. Kemudian pada ayat diisyaratkan sepintas kilas terhadap masa-masa lampau, yaitu disiksanya para penguasa tiran, padahal mereka bersenjatakan lengkap. Keduanya merupakan dua macam peninggalan sejarah yang berbeda karakter dan dampaknya. Di belakang itu, di samping peristiwa Ashhabul Ukludud, terdapat pancaran pelajaran yang banyak.

24 Pada bagian akhir surah, ayat 19-20, ditetapkanlah keadaan orang-orang kafir dan peliputan Allah ter­hadap mereka sedangkan mereka tidak menyadarinya. Ditetapkanlah hakikat Al-Qur'an, tentang keaslian dan keterpeliharaannya, seperti yang tercantum pada ayat Ayat ini mengisyaratkan bahwa apa yang ditetap­kan Allah itu adalah perkataan yang pasti dan rujukan terakhir dalam semua urusan.

25 1. Langit dengan Gugusan Bintangnya, Hari yang Dijanjikan, dan Yang Menyaksikan dan Yang Disaksikan (1-3) وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ (1) وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ (2) وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ (3) 1. Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, 2. Dan hari yang dijanjikan,3. Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.

26 Ayat diatasnya menegaskan: Hubungan antara kejadian langit dan ancaman yang datang dari langit terhadap para pelaku kezhaliman ashabul ukhdud 1.Sumpah yang dilakukan oleh Allah 2.Sumpah Allah boleh menggunakan alat apapun dari apa yang diciptakan, namun manusia tidak boleh demikian 3.Sumpah Allah menegaskan akan pentingnya perkara yang akan disebutkan setelahnya 4.Maha kuasa Allah yang menguasai segala peristiwa yang ada dilangit, pada hari yang dijanjikan dan dibumi.

27 2. Menyebutkan keagungan aqidah yang memberikan kemenangan terhadap fitnah manusia (5-9) قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (9) 4. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, 5. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, 6. Ketika mereka duduk di sekitarnya, 7. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. 8. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, 9. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.

28 Allah membentangkan pemandangan yang menakutkan sepintas. Dibiarkannya perasaan manusia merasakan kejamnya peristiwa itu tanpa penjelasan rinci dan keterangan panjang lebar. Di­biarkan perasaan mereka sambil mengisyaratkan betapa agungnya akidah yang dipertahankan oleh segolongan manusia beriman meski dengan risiko yang amat berat. Sehingga, mereka mempertahan­kannya meski harus melawan api yang bergejolak. Mereka lebih mementingkannya daripada kehidup­an duniawinya sendiri. Dengan demikian, mereka mencapai titik puncak kemuliaan di seluruh generasi manusia. Diisyaratkan juga busuknya tindakan kaum yang zalim itu dengan segala kezaliman, kejahatan, dan kehinaan yang tersembunyi di dalamnya. Di samping itu, ditunjukkan ketinggian, kemerdekaan, dan kesucian jiwa orang-orang yang beriman. Hal demi­kian sebagaimana tercantum pada ayat 4-9 surah al­Buruuj.

29 Sekilas tentang kisah Ashabul Ukhdud Kisah ini sangat penting untuk memberikan pelajaran pelajaran berharga tentang makna keikhlasan sekaligus juga tentang istiqomah dan iltizam seorang hamba ketika dia memilih untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tempat untuk menyandarkan ke-tawakal-an sang hamba. Tawakal dan berserahnya pemuda itu kepada Allah SWT menyebabkan bukan saja dia seorang, malah keseluruhan rakyat mendapat hidayah dan beriman kepada Allah SWT. Begitu mulianya kisah ini sehingga Allah SWT berkehendak mengabadikannya dalam Al-Quran di surat Al-Buruj (Gugusan Bintang) dalam juz-amma, dan kemudian diterangkan dengan jelas oleh Nabi kita Muhammad SAW dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh imam Muslimi, Ahmad dan Nasa’i seperti berikut ;

30 Shuhaib bin Sinaan Arrmmi ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: "Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, karena itu anda kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir". Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya, maka ia tertarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dia akan dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dia dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta. Maka diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan: Aku ditahan oleh ahli sihir.

31 Maka setelah berjalan beberapa lama, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan (hendak) pergi, mendadak (tiba-tiba) di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang- orang tidak berani jalan di tempat itu, maka pemuda itu berkata: "Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendeta itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini".Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang-orang gembira karena telah dapat lalu lintas di jalan itu. Maka ia langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib (pendeta), maka berkatalah Rahib itu kepadanya : "Anda kini telah afdhat (pesan) daripadaku, dan anda akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku". Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit yang berat-berat pada semua orang. Ada seorang pembesar dalam majlis raja dan dia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: "sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka". Jawab pemuda itu: "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mau beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu".

32 Kemudian kembali pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama tauhid), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja, Maka raja memerintahkan supaya dibawa ke puncak gunung dan di sana juga supaya ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak supaya dilempar dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa "Allahumma ikfinihim bimaa syi’ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu)". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga para pengawal berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: "Manakah orang-orang yang membawamu?". Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka". Lalu pemuda itu ditangkap lagi dan kali ini dibawa ke laut dengan naik perahu, setelah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mau mengubah agama, jika tidak maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi’ta", maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?" Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka".

33 Kemudian pemuda itu berkata kepada raja "Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku" Raja bertanya: "Apakah perintahmu?" Jawab pemuda: "Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu kau ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaarn (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian anda lepaskan anak panah itu, maka dengan itu anda dapat membunuhku". Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)". Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini. Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya tentang agamanya, jika ia telap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.

34 Maka adanya orang berjejal-jejal (berbaris- baris) dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang menggendong(membawa) bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut- pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menuruti mereka berganti agama karena sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang kebenaran.”. Akhirnya mereka berdua terjun kedalam parit api yang menyala dan membakar.

35

36

37

38 Hubungan antara peristiwa ukhdud, dakwah dan akidah (10-11) إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (10) إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ (11) 10. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan Kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. 11. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar.

39 Isyarat yang menunjuk kepada azab jahanam dan azab pembakaran yang telah menantikan kedatang­an para penguasa zhalim, durhaka, dan bermoral rendah. Juga isyarat yang menunjuk kepada kenikmatan surga. Yakni, suatu keberuntungan besar yang telah menantikan kedatangan orang-orang mukmin yang lebih memilih aqidah daripada kehidupan duniawi­nya. Mereka menjunjung tinggi aqidah itu meskipun harus disiksa dengan dibakar di dalam api.

40 Ayat diatas juga menegaskan beberapa hal: 1.Dakwah tidaklah selalu terhampar permadani indah dan bunga yang wangi, namun senantiasa berhadapan dengan fitnah dan cobaan; baik yang berbentuk materi maupun fisik, pelecehan maupun penyiksaan. 2.Orang-orang kafir tidak akan pernah tinggal diam melihat orang-orang beriman berpegang teguh dengan agama dan keyakinan mereka; mereka akan terus berjuang mengerahkan tenaga, fikiran dan harta untuk menghalangi orang-orang yang berjuang di jalan Allah (lihat surat 8:36 dan 73, 14:2-3) 3.Tidak ada alasan lain bagi orang kafir dan zhalim dalam memerangi orang-orang beriman kecuali karena mereka telah mengatakan dengan tegas “kami beriman kepada Allah” (lihat surat 22:40) 4.Akibat yang pedih bagi orang-orang kafir dan orang-orang yang selalu menebarkan fitnah di muka bumi atas orang-orang beriman 5.Akibat yang baik bagi orang-orang beriman dan yang berpegang teguh dengan iman mereka walaupun harus menghadapi berbagai cobaan dan rintangan berupa surga 6.Bahwa kemenangnan yang hakiki bagi orang yang beriman adalah menggapai ridha Allah

41 Ancaman Allah terhadap orang-orang kafir (12-20) إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13) وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ (14) ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ (15) فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (16) هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْجُنُودِ (17) فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ (18) بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ (19) وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ (20) 12. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. 13. Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). 14. Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, 15. Yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha mulia, 16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. 17. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, 18. (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? 19. Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, 20. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.

42 Kemudian ditunjukkanlah pada ayat bahwa azab Allah itu benar-benar keras. DiaYang menciptakan makhluk dari permulaan dan menghidupkannya kembali. Ini adalah suatu hakikat yang berhubungan se­cara langsung dengan kehidupan yang hendak di­lenyapkan dalam peristiwa itu. Di batik peristiwa itu, terpancarlah cahaya-cahaya yang jauh jangkauannya. Setelah itu disebutkan beberapa sifat Allah Ta'ala pada ayat 14, dan tiap-tiap sifat bermaksudkan suatu urusan. Pada ayat disebutkan bahwa Allah Maha Pengampun terhadap orang- orang yang bertaubat dari dosa-dosa betapapun besar dan buruknya dosa itu. Maha Pengasih kepada hamba hamba-Nya yang lebih mengutamakan keridhaan-Nya daripada segala sesuatu. Penyebutan kasih sayang ini di sini merupakan salep (obat) untuk menyembuhkan luka-luka itu. Itulah beberapa isyarat global dari pancaran surat ini dan medannya yang lapang dan jauh. Demikianlah pengantar dari pemaparan pancaran-pancaran surat ini. Adapun pemaparannya secara rinci adalah se­bagai berikut. Ini adalah sifat yang menggambarkan perlindung­an, kekuasaan, dan kehendak yang mutlak. Semua­nya mempunyai hubungan dengan peristiwa itu. Di samping itu, dipancarkan cahaya secara mutlak di balik itu dengan jangkauannya yang amat jauh. Kemudian pada ayat diisyaratkan sepintas kilas terhadap masa-masa lampau, yaitu disiksanya para penguasa tiran, padahal mereka bersenjatakan lengkap. Keduanya merupakan dua macam peninggalan sejarah yang berbeda karakter dan dampaknya. Di belakang itu, di samping peristiwa Ashhabul Ukludud, terdapat pancaran pelajaran yang banyak.

43 Ayat-ayat diatas menegaskan beberapa hal: 1.Allah maha kuasa atas segala sesuatu 2.Siksa Allah sangatlah pedih yang tidak akan mampu ditanggung oleh siapapun 3.Allah yang menciptakan manusia sejak pertama kali dan Dia pula yang akan mengembalikan (mematikan) manusia ke tempat semula. 4.Disamping Allah maha kuasa menyiksa namun Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih, menjadi kesempatan bagi orang yang melakukan dosa untuk bertaubat sebelum ajal tiba. 5.Kisah Fir’aun dan Tsamud yang menjadi ibrah (pelajaran) akan kehancuran orang-orang yang melakukan kezhaliman, sekalipun kuat dan kokohnya mereka saat di dunia. 6.Allah berada dibelakang yang selalu mengintai dan melihat orang-orang yang melakukan kezhaliman.

44 Hakikat Al-Qur’an; keotentikannya, kemuliaannya dan penjagaan terhadapnya بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22) 21. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, 22. Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.

45 Pada bagian akhir surat, ayat 19-20, ditetapkanlah keadaan orang-orang kafir dan peliputan Allah ter­hadap mereka sedangkan mereka tidak menyadarinya. Ditetapkanlah hakikat Al-Qur'an, tentang keaslian dan keterpeliharaannya. Ayat ini mengisyaratkan bahwa apa yang ditetapkan Allah itu adalah perkataan yang pasti dan rujukan terakhir dalam semua urusan.

46 Ayat diatas menegaskan akan beberapa hal: 1.orang-orang kafir senantiasa mendustakan Al-Qur’an 2.Orang-orang kafir memahami bahwa Al-Qur’an adalah kitabullah yang mulia dan sumber kekuatan.

47 Al Qur’an Konstitusi Umat Islam Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya yang begitu jelas dan terang. Sedang Dia adalah Dzat yang ucapan- Nya paling jujur dan paling dapat dipercaya: إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Al-Isra’ : 9).

48 Al-Qur’an sumber kekuatan Umat Islam Allah berfirman: وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآَنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ “Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka".

49 Al-Qur’an Sumber kemuliaan umat Islam لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?

50 Sumber kemuliaan Al-Qur’an 1.Allah adalah Zat yang paling Mulia yang telah menurunkan Al- Qur’an (Ali Imran:7, As-Syu’ara:192) 2.Jibril adalah salah satu makhluk mulia adalah yang menjadi perantara turunkannya Al-Qur’an (As-Syu’ara:193) 3.Nabi saw adalah manusia termulia yang telah menerima Al- Qur’an (As-Syu’ara:194) 4.Bulan Ramadhan adalah bulan paling mulia adalah waktu diturunkannya Al-Qur’an (Al-Baqarah:185) 5.Lailatul Qadar malam yang paling mulia adalah saat-saat diturunkannya Al-Qur’an (Ad-Dukhan:3, Al-Qadar:1-3 6.Karena itu orang yang berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah orang yang akan mendapatkan kemuliaan.


Download ppt "Tafsir Surat Al-Buruj. Muwashafat yang ingin dicapai Tidak mendahulukan makhluk atas Khaliq (p) Mengesakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah (p) Tidak."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google