Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 MODIFIKASI PERILAKU KULIAH KE – 11 Syarat reinforcement positif yang efektif Arundati Shinta Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 MODIFIKASI PERILAKU KULIAH KE – 11 Syarat reinforcement positif yang efektif Arundati Shinta Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta."— Transcript presentasi:

1 1 MODIFIKASI PERILAKU KULIAH KE – 11 Syarat reinforcement positif yang efektif Arundati Shinta Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2 2 1)Waktu pemberian seketika 2)Jenisnya sesuai dengan selera subjek 3)Mengatur kondisi situasional 4)Jumlahnya tertentu 5)Mutu / kebaruannya tertentu 6)Memberikan sampel pengukuhan (icip2). 7)Menangani persaingan asosiasi 8)Mengatur jadwal pemberian 9)Mempertimbangkan efek pengukuhan thd klmpok 10)Menanggulangi kontrol kontra Syarat reinforcement positive yang efektif

3 3 1). Makanan – syarat2nya, dampaknya (kuliah ke-10). 2) Benda – pertimbangan2nya (kuliah ke-10). 3) Kegiatan / acara – prinsip Premack (kuliah ke-10). 4) Tindakan sosial (verbal / non verbal) – misal: pujian, tersenyum, mengangguk2, melihat ke arah pembicara dengan minat yg tinggi. (kuliah ke -8, ttg profesor) Apa saja jenis pengukuh perilaku?

4 4 Agar reinforcement positif efektif, maka harus diatur kondisi situasionalnya pada waktu pemberian reinforcement. Kondisi situasional perlu diatur agar spesifik, shg indv tahu bhw target prlku yang diinginkan dapat terbentuk. Contoh: Agar anak tidak telat masuk sekolah, maka setiap anak mampu bangun pagi hari dg cepat dapat pujian. Tetapi anak mampu bangun pagi cepat pd hari minggu – tidak mendapat pujian. Pengaturan kondisi sosial saat pemberian reinforcer

5 5 Hal-hal yang perlu dipertimbangkan: 1). Jenuh / keknyangan – pengukuh makanan. Terapist harus tahu kondisi fisik klien (kenyang / lapar). 2) Deprivasi (berapa lama reinforcer tdk diperoleh). Mis. Anak yg jarang dipuji vs anak yg sering dipuji. Dosen yg jarang dpt ucapan birthday vs yg sering dpt ucapan birthday 3) Bisa dijangkau (achievable). Mis. Setiap 70 stiker dapat tas vs setiap 1000 stiker dpt tas. 4) Sesuai dg usaha yang dikeluarkan. Mis. Hadiah undian harapan 500 juta vs hadiah lotre 100 ribu. Menentukan kuantitas reinforcer

6 6 Hal-hal yang perlu dipertimbangkan: 1)Tkt kejenuhan (sdh terll sering indv mendptkannya). – buku apa ya tuk hadiah? – roti apa tuk hadiah? (penglaman S3) 2)Kesesuaian dg harapan penerima – lomba lari hadiahnya peralatan mandi? Lomba menulis hadiahnya komputer. Hadiah ikat pinggang perak yg terll kecil – tuk kalung? 3)Terll sedikit / banyak, berlebih2an. Senyum sedikit vs senyum sangat lebar sambil koprol wow = sama2 tidak efektif. Reinforcerment yg lebay = menyebb jengah / risih 4)Pemberi reinforcer – org penting vs orng kebanyakan yang memberikan penguat. (Ingat: model = org yang paling dekat, bergengsi, mampu beri reward, dihormati, Bandura, 1999). Kebaruan / kualitas reinforcer

7 7 Reinforcement baru – tidak efektif karena indv belum pernah mencicipinya / mengalaminya. Indv jd ragu, takut terhadap dampaknya. Perlu ada jaminan, shg indv mau lakukan perubhn perilaku. Caranya: indv diminta mencicipinya / melakukan sedikit dulu reinforcement yg disediakan. Proses pencobaan reinforcer dilakukan dg gratis (tanpa perlu syarat perubahan perilaku). Tujuannya spy indv ketagihan / senang thd reinforcer. Beri sampel reinforcement

8 8 Hal-hal yang harus dipertimbangkan: 1)Siapa yg paling berpengaruh terhdap indv yang perilakunya akan diubah. * Untuk remaja, reinforcer dari ortu kalah reinforcer dari peer. * Utk karyawan, reinforcer dri juragannya (pihak yg membayar) lebh menang daripada reinforcer dari shabat. 2) Pihak saingan perlu dikalahkan atau kualits & jumlah reinforcement perlu ditambah. Penambahan reinforcement juga dapat dari teman, tetangga, guru, dsb. * beri lebih banyak / mahal reinforcement Menanggulangi pengaruh saingan

9 9 Ada 2 macam: 1)Continuous reinforcement schedule (reinforcement diberikan terus menerus, setiap kali perilaku target muncul). 2)Intermittent reinforcement schedule (reinforcement diberikan hanya pd sebagian saja pd kemunculan perilaku target / tidak terus menerus). * terbukti pd Bapak S yg sll bersedia beri kemudahan ketika sering diberi sstu dari daerah (pengalaman S3). Ingat kuliah ke-9 (sudah dibahas). Pengaturan jadwal pemberian reinforcement

10 10 Hal yang perlu dipertimbangkan: 1). Kelompok indv anggap reinforcement yg diberikan tsb bergengsi / tidak. Semakin bergengsi, semakin efektif. 2). Ketergantungan indv pd kelompok (regulasi diri indv termasuk internal vs eksternal - ). * Semakin eksternal, pendapat kelompok semakin penting. * Semakin eksternal regulasi diri indv, hukuman dari kelompok semakin dirsakan lebih kejam. Pengukuhan perilaku dr kelompok lebih efektif. Efek pengukuhan thd klmpok

11 11 Pengaturan diri seseorang dipengaruhi: 1)Budaya – individual vs kolektif * Individual = nilai /jenis hadiah emnurut pendapatnya sedniri * Kolektif = nilai / jenis hadiah emurut pendapat kelompok 2) Gender – laki-laki lebih eksternal daripada perempuan. * laki-laki = lebih streotip * peermpuan = kurang stereotip Pengaturan diri

12 12 Kontrol kontra = pengaruh yg sadar atau tidak sadar dilakukan oleh indv thd org yang memberikan reinforcement. Perlu diperhatikan hub sosial dari pemberi dan penerima reinforcement. Mis. Dosen memberi reinforcemnet pd mhs yang rajin menulis. Respon mhs yg menerima: memuji dosen setinggi langit, sehingga dosen semakin berlebih2an dalam beri reinforcement (tidak sesuai dg takaran). Terjadi kekacauan dlm hal takaran reinforcement tuk mhs2 lainnya (reinforcement tidak efektif). Menanggulangi kontrol kontra

13 13 Mhs L dikenal akrab dg dosen. Di sisi lain, dosen merasa tidak menganak emaskan mhs L. Namun lingkungan mhs menilai bhw mhs L mendapat nilai bagus dari dosen krn hub dekat. Ketika ada kompetisi ttg kejujuran dan L menang (mendapat hadiah buku), maka L diejek. Reinforcement dosen menjadi tidak manjur/ tidak efektif pada mahsiswa lainnya. Kasus pd mahsiswa L

14 14 Referensi: Bussey, K. & Bandura, A. (1992). Self-regulatory mechanism governing gender development. Child Development. 63, Bussey, K. & Bandura, A. (1999). Social cognitive theory of gender development and differentiation. Psychological Review, 106, Shinta, A. (2012). Strategi mengatasi dosen yang menjemukan. Retrieved on Dec. 11, 2012 from mengatasi-dosen-yang-menjemukan.html Soekadji, S. (1983). Modifikasi perilaku: Penerapan sehari- hari dan penerapan profesional. Yogyakarta: Liberty.


Download ppt "1 MODIFIKASI PERILAKU KULIAH KE – 11 Syarat reinforcement positif yang efektif Arundati Shinta Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google