Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh: Direktur Industri, Iptek, dan Parekraf IPTEK DAN INOVASI DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh: Direktur Industri, Iptek, dan Parekraf IPTEK DAN INOVASI DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN."— Transcript presentasi:

1 Oleh: Direktur Industri, Iptek, dan Parekraf IPTEK DAN INOVASI DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL LOKAKARYA NASIONAL DOKUMENTASI DAN INFORMASI PDII LIPI “INTEGRASI DATA DAN INFORMASI IPTEK NASIONAL SEBAGAI BASIS PENGEMBANGAN SAINS DAN TEKNOLOGI” 23 Oktober 2014

2 O U T L I N E 1. ARAH PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG; 2. RANCANGAN TEKNOKRATIK RPJMN 2015-2019 3. KONDISI UMUM PENGUASAAN IPTEK DI INDONESIA 4. PERMASALAHAN DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN IPTEK 5. RANCANGAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN 6. PEMBANGUN SDM DAN SARANA PRASARAN IPTEK 7. KAIDAH PELAKSANAAN 2

3 RPJPN: Arah Pembangunan Ekonomi 2005 - 2025 Transformasi Perekonomian Arah utama: Mengembangkan perekonomian domestik yang kuat, berorientasi dan berdaya saing global Transformasi bertahap dari perekonomian berbasis keunggulan komparatif menjadi perekonomian berkeunggulan kompetitif. Prinsip dasar: – Mengelola peningkatan produktivitas nasional melalui inovasi dan penguasaan, penelitian, pengembangan dan penerapan iptek. – Mengelola kelembagaan ekonomi yang melaksanakan praktek terbaik dan kepemerintahan yang baik secara berkelanjutan. – Mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan 3

4 RPJPN 2005-2025 ARAH PEMBANGUNAN IPTEK 1.Dalam rangka pembangunan ekonomi berbasis keunggulan kompetitif diperlukan: Penerapan iptek secara luas dalam sistem produksi barang dan jasa Pembangunan pusat-pusat iptek unggulan Pengembangan lembaga penelitian yang handal Pengakuan terhadap hasil temuan dan hak atas kekayaan intelektual 2.Kegiatan pembangunan iptek diarahkan untuk: Ketahanan pangan dan energi, penciptaan dan pemanfaatan teknologi TIK, transportasi, pertahanan dan keamanan, kesehatan, dan material maju. Peningkatan jumlah penemuan dan pemanfaatannya dalam sektor produksi. Penguatan sistem inovasi dalam rangka mendorong pembangunan ekonomi yang berbasis pengetahuan ; Penumbuhan industri baru berbasis produk litbang dengan dukungan modal ventura. 4

5 Visi Pembangunan 2005-2025 INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR ( UU 17 TAHUN 2007) PENTAHAPAN PEMBANGUNAN RPJPN 2005-2025: RPJMN 2015-2019 SEBAGAI TAHAP KE III DALAM RPJPN 2005-2025 5

6 RANCANGAN TEKNOKRATIK RPJMN 20-15-2019 6

7 PROSES PENYUSUNAN RPJMN 2015-2019 Rancangan Teknokratis RPJMN 2015-2019 Rancangan RPJMN 2015-2019 Rancangan Akhir RPJMN 2015-2019 Visi – Misi Presiden terpilih Musrenbang RPJMN dan Sidang Kabinet Arahan RPJPN 2005-2025 Isu Strategis Jangka Menengah 2015-2019 (background studies) Evaluasi RPJMN 2010-2014 Aspirasi Masyarakat 7

8 KERANGKA RANCANGAN TEKNOKRATIS (RT) RPJMN 2015 – 2019 KERANGKA RANCANGAN TEKNOKRATIS (RT) RPJMN 2015 – 2019 GEOPOLITIK, GEOEKONOMI, BONUS DEMOGRAFI, AGENDA PASKA 2015, PERUBAHAN IKLIM POLHUKAMEKONOMIKESRASDA-LHDAERAH RB Tertib hukum Anti korupsi Demokrasi Stabilitas DN Transformasi Ekonomi Resiliensi: Pangan, Energi dan Air Infrastruktur Inovasi Mutu SDM Kemiskinan Pemerataan Kesempatan kerja SJSN Pengelolaan SDA dan biodiversity Kelautan Mitigasi & Adaptasi Perubahan Iklim Pemerataan SPM terpenuhi Perkotaan - Perdesaan Pelaksanaan Desentralisasi KERANGKA PELAKSANAAN/DELIVERY MECHANISM Kerangka Pendanaan: APBN dan Non-APBN Kerangka RegulasiKerangka Kelembagaan Amanat RPJP (untuk RPJMN III): Memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan SDA dan SDM berkualitas, serta kemampuan IPTEK yang terus meningkat Membutuhkan comprehensive reform Not Business as Usual (out of the box) Prinsip berkelanjutan Terpadu, tidak sendiri-sendiri Membutuhkan comprehensive reform Not Business as Usual (out of the box) Prinsip berkelanjutan Terpadu, tidak sendiri-sendiri 2025-2030 Landasan utk Menuju Negara Maju 2025-2030 Landasan utk Menuju Negara Maju Tema RPJMN 2015-2019 Pembangunan yang Kuat, Inklusif dan Berkelanjutan Tema RPJMN 2015-2019 Pembangunan yang Kuat, Inklusif dan Berkelanjutan 8

9 IPTEK DALAM AGENDA PEMBANGUNAN EKONOMI 9 PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR AKSELERASI PERTUMBUHAN INDUSTRI Daya Saing Usaha Mikro Kecil Menengah & Koperasi Peningkatan Ekspor Nonmigas Dan Jasa Peningkatan Pariwisata – Ekonomi Kreatif PEMBANGUNAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI Agroindustri PENGUATAN SEKTOR PRIMER Hasil Hutan dan Kayu Perikanan Hasil Tambang Mineral PENGAMANAN KETAHANAN PANGAN, ENERGI, DAN AIR MODERNISASI SEKTOR JASA PENGUATAN KONEKTIVITAS NASIONAL PENGEMBANGAN TRANSPORTASI MASSAL PERKOTAAN PEMBANGUNAN PRASARANA DASAR (Air Baku, Permukiman, Air Minum, Sanitasi, Listrik) PENINGKATAN EFFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PEMBIAYAAN PENINGKATAN KESEJAHTERA- AN RAKYAT YANG LEBIH MERATA, BERKEADILAN, DAN BERKELANJUT- AN PENGUATAN FAKTOR UTAMA PEMBANGUNAN EKONOMI DAYA SAING KETENAGA- KERJAAN PENING- KATAN INVESTASI PENGUATAN SEKTOR KEUANGAN PENINGKATAN KAPASITAS INOVASI DAN IPTEK PENING- KATAN DAYA SAING BUMN PENINGK EFISIENSI SIST DISTRIBUSI DAN LOGISTIK

10 PENGUASAAN IPTEK DI INDONESIA KONDISI UMUM 10

11 KEI, Knowledge Economy Index takes into account whether the environment is conducive for knowledge to be used effectively for economic development. It is an aggregate index that represents the overall level of development of a country or region towards the Knowledge Economy. KI, Knowledge Index measures a country's ability to generate, adopt and diffuse knowledge. This is an indication of overall potential of knowledge development in a given country. Source: http://info.worldbank.org/etools/kam2/KAM_page5.asp KEI, Knowledge Economy Index takes into account whether the environment is conducive for knowledge to be used effectively for economic development. It is an aggregate index that represents the overall level of development of a country or region towards the Knowledge Economy. KI, Knowledge Index measures a country's ability to generate, adopt and diffuse knowledge. This is an indication of overall potential of knowledge development in a given country. Source: http://info.worldbank.org/etools/kam2/KAM_page5.asp Pada Tahun 2012: Indonesia berada pada ranking 108 dari 146 Negara; Ranking ini menurun 3 tingkat dari tahun 2000 KEI Indonesia relatif lebih baik dari KI, karena nilai untuk insentif ekonomi tercatat paling tinggi yaitu 3,47 (dari 10). Pada Tahun 2012: Indonesia berada pada ranking 108 dari 146 Negara; Ranking ini menurun 3 tingkat dari tahun 2000 KEI Indonesia relatif lebih baik dari KI, karena nilai untuk insentif ekonomi tercatat paling tinggi yaitu 3,47 (dari 10). BANK DUNIA (2012) 11

12 PERBANDINGAN DENGAN NEGARA TETANGGA Sumber: Bank Dunia, 2012, diolah Angka di depan negara menunjukkan urutan ranking kesiapan dalam Knowledge Based Economy. 12

13 RANKING NEGARA DALAM JURNAL ILMIAH TAHUN 2012 RANKCountryDocuments Citable documents Citations Self- Citations Citations per Document H index 32Singapore149,509144,6531,616,952230,65612.95268 40Malaysia99,18797,018356,91893,4797.85125 43Thailand82,20979,537621,817109,60010.96167 61Indonesia20,16619,740146,67016,14910.94112 67Viet Nam16,47416,116125,92718,50011.79107 70Philippines13,16312,796141,07015,72713.38116 Sumber: SJR : Scientific Journal Rankings http://www.scimagojr.com/countryrank.php 13

14 PERKEMBANGAN JUMLAH DOKUMEN ILMIAH Sumber: SJR : Scientific Journal Rankings http://www.scimagojr.com/countryrank.php 14

15 GLOBAL COMPETITIVE REPORT PILAR 12 : INNOVATION INDIKATOR RANKING DARI 148 NEGARA INDONESIAMALAYSIATHAILANDPHILIPPINESVIETNAM Kapasitas Inovasi2415874886 Kualitas Lembaga Penelitian4627609189 Pengeluaran Perusahaan untuk R&D2317605159 Kolaborasi Universitas - Industri3016516987 Pengadaan Pemerintah Produk Teknologi2541058530 Ketersediaan Ilmuwan dan Insinyur4019568788 Sumber: Global Competitive Report, 2013 - World Economic Forum 15

16 APLIKASI PATEN PER SATU JUTA PENDUDUK Sumber: Global Competitive Report, 2013 - World Economic Forum 16

17 JUMLAH PERMOHONAN PATEN 2009-2012 Permohonan Paten dari Tahun 2009201020112012 1. Dalam Negeri - PCT219810 2. Dalam Negeri - Non PCT413497533601 3. Dalam Negeri - Sederhana247251236219 Jumlah Dalam Negeri662767777830 4. Luar Negeri - PCT3.7614.5964.8395.471 5. Luar Negeri - Non PCT342401458680 6. Luar Negeri - Sederhana38 5651 Jumlah Luar Negeri4.1415.0355.3536.202 Sumber: Statistik Permohonan Paten, 2012 dan Kementerian Ristek 17

18 TENAGA FUNGSIONAL PENELITI DI LEMBAGA PENELITIAN PEMERINTAH JENJANG PENELITI Tahun 20092010201120122013 Peneliti Pertama2.0981.9072.0022.197 2.611 Peneliti Muda2.0911.9592.0642.176 2.447 Peneliti Madya2.6682.5932.5622.629 2.639 Peneliti Utama8377759771.083 1.016 Profesor Riset192244256270 280 JUMLAH7.8867.4787.8618.3558.993 Sumber: LIPI - 2013 18

19 RASIO JUMLAH PENELITI PER SATU JUTA PENDUDUK Sumber: World Bank (2013) Rasio jumlah peneliti per satu juta penduduk di Indonesia TERTINGGAL dibandingkan negara Malaysia dan Thailand, bahkan CENDERUNG MENURUN 19

20 PERBANDINGAN JUMLAH PENELITI Walaupun jumlah peneliti Indonesia tidak jauh berbeda dengan Thailand, tetapi secara rasio, Indonesia jauh tertinggal dibandingkan Thailand, apalagi dengan Singapura. Sumber: data diolah dari World Bank (2013) 20

21 PEMBANGUNAN IPTEK PERMASALAHAN DAN TANTANGAN 21

22 1. SUMBANGAN IPTEK UNTUK PEREKONOMIAN NASIONAL MINIM Pembangunan iptek telah berlangsung lama, sarana dan prasarana penelitian juga tersedia, peneliti yang berkualitas tersedia banyak, hasil penelitian telah banyak dipublikasikan. Sumbangan penguasaan iptek terhadap pertumbuhan ekonomi (PDB) masih minim. Inovasi dan Penguasaan Iptek bersama kualitas infrastruktur, sumberdaya manusia, tata kelola (governance), dan stabilitas politik yang membentuk TFP, Total Factor Productivity belum signifikan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi. NAMUN Variabel TAHUN 201020112012 Y, PDB6,26,56,2 K, Modal3,73,93,6 L, Tenaga Kerja1,6 TFP0,91,0 Tantangan 1: MENINGKATKAN DUKUNGAN NYATA IPTEK TERHADAP PENINGKATAN DAYASAING SEKTOR-SEKTOR PRODUKSI BARANG DAN JASA. SEHINGGA: 22

23 INDONESIA BERSAMA BRAZIL DAN KONGO, DISEBUT MEGABIODIVERSITY COUNTRIES 2. KEKAYAAN SUMBERDAYA ALAM MAKIN BERKURANG BERPOTENSI BESAR SEBAGAI SUMBER: 1.PANGAN 2.ENERGI 3.OBAT/FARMASI 4.MATERIAL 5.JASA LINGKUNGAN DAN KERAHAYUAN BERPOTENSI BESAR SEBAGAI SUMBER: 1.PANGAN 2.ENERGI 3.OBAT/FARMASI 4.MATERIAL 5.JASA LINGKUNGAN DAN KERAHAYUAN SUMBERDAYA HAYATI SEBAGAI SALAH SATU PILAR PEREKONOMIAN NASIONAL SUMBERDAYA HAYATI SEBAGAI SALAH SATU PILAR PEREKONOMIAN NASIONAL BELUM OPTIMAL eksplorasi konservasi pemuliaan disseminasi Tantangan 2: MENINGKATKAN DUKUNGAN IPTEK UNTUK KEBERLANJUTAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM BAIK HAYATI MAUPUN NIR- HAYATI. 23

24 3. TEKANAN GLOBALISASI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA SEMAKIN KUAT Tantangan 3: MENINGKATKAN DUKUNGAN IPTEK UNTUK PENYIAPAN MASYARAKAT INDONESIA MENYONGSONG KEHIDUPAN GLOBAL YANG MAJU DAN MODERN PENDUDUK INDONESIA2010: 238,5 Juta 2025: 284,8 Juta DUNIA2010: 7 Milyar 2025: 8 Milyar PENDUDUK INDONESIA2010: 238,5 Juta 2025: 284,8 Juta DUNIA2010: 7 Milyar 2025: 8 Milyar MAKIN SESAK 1.PERDAGANGAN BEBAS 2.PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI, TRANSPORTASI, INFORMASI 1.PERDAGANGAN BEBAS 2.PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI, TRANSPORTASI, INFORMASI BORDER- LESS WORLD 1.POLITIK DUNIA MULTIPOLAR 2.BUDAYA POP GLOBAL MENINGKAT 3.KEKUASAAN NONSTATE MENINGKAT Multi National Corporation Institusi Agama Organisasi Masyarakat Sipil Jaringan Kriminal Internasional 1.POLITIK DUNIA MULTIPOLAR 2.BUDAYA POP GLOBAL MENINGKAT 3.KEKUASAAN NONSTATE MENINGKAT Multi National Corporation Institusi Agama Organisasi Masyarakat Sipil Jaringan Kriminal Internasional ANCAMAN TERHADAP EKSISTENSI NKRI MENINGKAT 24

25 ARAH KEBIJAKAN RANCANGAN 25

26 PENINGKATAN HASIL PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN IPTEK YANG MENDUKUNG DAYA SAING SEKTOR PRODUKSI BARANG DAN JASA ARAH KEBIJAKAN 1.Penyelanggaraan Litbang (Riset): dengan output teknologi / produk baru terdifusi ke sektor produksi dengan fokusi pada bidang: (1) pangan dan pertanian; (2) energi, energi baru dan terbarukan; (3) kesehatan dan obat; (4) transportasi; (5) telekomunikasi, informasi dan komunikasi (TIK); (6) teknologi pertahanan dan keamanan; dan (7) material maju 2.Layanan Perekayasaan dan Teknologi: dalam bentuk penyediaan sarana perekayasaan, disain, dan pengujian; 3.Layanan Infrastruktur Mutu: yang mencakup standardisasi, metrologi, kalibrasi, dan pengujian mutu; 4.Layanan Pengawasan Tenaga Nuklir: yang mencakup pengawasan penggunaan tenaga nuklir di industri, pertanian, kesehatan, dan energi; 5.Pengembangan Teknopreneur: yang difasilitasi melalui science and technology park, inkubator, dan modal ventura. ARAH KEBIJAKAN 1.Penyelanggaraan Litbang (Riset): dengan output teknologi / produk baru terdifusi ke sektor produksi dengan fokusi pada bidang: (1) pangan dan pertanian; (2) energi, energi baru dan terbarukan; (3) kesehatan dan obat; (4) transportasi; (5) telekomunikasi, informasi dan komunikasi (TIK); (6) teknologi pertahanan dan keamanan; dan (7) material maju 2.Layanan Perekayasaan dan Teknologi: dalam bentuk penyediaan sarana perekayasaan, disain, dan pengujian; 3.Layanan Infrastruktur Mutu: yang mencakup standardisasi, metrologi, kalibrasi, dan pengujian mutu; 4.Layanan Pengawasan Tenaga Nuklir: yang mencakup pengawasan penggunaan tenaga nuklir di industri, pertanian, kesehatan, dan energi; 5.Pengembangan Teknopreneur: yang difasilitasi melalui science and technology park, inkubator, dan modal ventura. 26

27 PENYELENGGRAAN RISET 27 Eksplorasi Riset Eksplorasi Scanning Uji Alpha Replikasi Uji di Lab Uji Beta Uji Lapangan (lingkungan pengguna) Difusi Aplikasi di pengguna Temuan Baru Inovasi Temuan yang akan masuk uji alpha (  -test) harus terbukti dapat direplikasi Temuan yang akan masuk uji beta (  -test) juga harus dapat direplikasi Temuan yang akan masuk uji alpha (  -test) harus terbukti dapat direplikasi Temuan yang akan masuk uji beta (  -test) juga harus dapat direplikasi 1.Semua kegiatan riset harus menunjukkan kemajuan capaian secara berturut-turut dari eksplorasi hingga difusi; 2.Prioritas kegiatan riset adalah kegiatan yang dapat mencapai tahap difusi 3.PENYEDIAAN KEBUTUHAN DI SETIAP TAHAPAN RISET SECARA MEMADAI 1.Semua kegiatan riset harus menunjukkan kemajuan capaian secara berturut-turut dari eksplorasi hingga difusi; 2.Prioritas kegiatan riset adalah kegiatan yang dapat mencapai tahap difusi 3.PENYEDIAAN KEBUTUHAN DI SETIAP TAHAPAN RISET SECARA MEMADAI STRATEGI

28 BEBERAPA PRAKARSA PENTING 1.Untuk mendukung ketahanan pangan, riset difokuskan pada pencarian bibit unggul tanaman pangan yang mampu tumbuh subur di lahan sub-optimal seperti lahan kering masam, rawa lebak, rawa pasang surut, rawa gambut, lahan kering iklim kering; 2.Di bidang energi, akan dibangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) percontohan berskala kecil; dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berskala kecil (100kw – 5 MW) sebagai pilot plant. 3.Di bidang kesehatan akan dibangun Pusat Genomik Indonesia, penelitian penyakit tropis untuk menghasilkan: (1) vaksin penyakit HIV; (2) Vaksin demam berdarah; dan (3) Obat penyakit TBC; dll. 4.Di bidang teknologi transportasi utamanya akan menyelesaikan pengembangan pesawat komutter N-219 (19 tempat duduk) untuk menyelesaikan 2 prototip untuk uji statik, dan 2 prototip untuk uji terbang; 5.Di bidang TIK, riset akan difokuskan pada pengembangan infrastruktur TIK khususnya IT Security; pengembangan system dan framework / platform perangkat lunak berbasis Open Source khususnya sistem TIK pendukung e-Government & e-Business; 6.Di bidang hankam, riset akan difokuskan pada mendukung pelaksanaan kebijakan pembangunan industri strategis pertahanan dan keamanan; 7.Di bidang material maju, akan dibangun pusat keunggulan nasional untuk magnet permanen, dan pengolahan logam tanah jarang, material baterai padat, material berbasis silikon. 1.Untuk mendukung ketahanan pangan, riset difokuskan pada pencarian bibit unggul tanaman pangan yang mampu tumbuh subur di lahan sub-optimal seperti lahan kering masam, rawa lebak, rawa pasang surut, rawa gambut, lahan kering iklim kering; 2.Di bidang energi, akan dibangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) percontohan berskala kecil; dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berskala kecil (100kw – 5 MW) sebagai pilot plant. 3.Di bidang kesehatan akan dibangun Pusat Genomik Indonesia, penelitian penyakit tropis untuk menghasilkan: (1) vaksin penyakit HIV; (2) Vaksin demam berdarah; dan (3) Obat penyakit TBC; dll. 4.Di bidang teknologi transportasi utamanya akan menyelesaikan pengembangan pesawat komutter N-219 (19 tempat duduk) untuk menyelesaikan 2 prototip untuk uji statik, dan 2 prototip untuk uji terbang; 5.Di bidang TIK, riset akan difokuskan pada pengembangan infrastruktur TIK khususnya IT Security; pengembangan system dan framework / platform perangkat lunak berbasis Open Source khususnya sistem TIK pendukung e-Government & e-Business; 6.Di bidang hankam, riset akan difokuskan pada mendukung pelaksanaan kebijakan pembangunan industri strategis pertahanan dan keamanan; 7.Di bidang material maju, akan dibangun pusat keunggulan nasional untuk magnet permanen, dan pengolahan logam tanah jarang, material baterai padat, material berbasis silikon. 28

29 PENINGKATAN HASIL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN IPTEK UNTUK KEBERLANJUTAN DAN AN KEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM ARAH KEBIJAKAN UNTUK SUMBERDAYA HAYATI (1) Melaksanakan eksplorasi, konservasi dan meningkatkan kemanfaatan flora, fauna, dan mikroba Indonesia bagi kesejahteraan rakyat melalui; (2)Melindungi flora, fauna, dan mikroba Indonesia dari ancaman kepunahan akibat perdagangan baik domestik maupun internasional melalui: Pelaksanaan Otoritas Keilmuan dalam perlindungan SDA secara mantap; Pelaksanaan Material Transfer Agreement dalam kolaborasi riset dengan asing (2)Melindungi flora, fauna, dan mikroba Indonesia dari ancaman kepunahan akibat perdagangan baik domestik maupun internasional melalui: Pelaksanaan Otoritas Keilmuan dalam perlindungan SDA secara mantap; Pelaksanaan Material Transfer Agreement dalam kolaborasi riset dengan asing 29

30 SARANA PENELITIAN SUMBERDAYA HAYATI Sarana yang akan dibangun; 1.Kebun raya nasional dan fasilitasi pembangunan kebun raya daerah; 2.Revitalisasi dan pengadaan baru kapal riset; 3.Stasiun penelitian kelautan di Pantai Barat Sumatera, Selat Malaka, dan di Kalimantan Barat; 4.Gedung-gedung koleksi biota baik untuk biota darat maupun biota laut. Sarana yang akan dibangun; 1.Kebun raya nasional dan fasilitasi pembangunan kebun raya daerah; 2.Revitalisasi dan pengadaan baru kapal riset; 3.Stasiun penelitian kelautan di Pantai Barat Sumatera, Selat Malaka, dan di Kalimantan Barat; 4.Gedung-gedung koleksi biota baik untuk biota darat maupun biota laut. 30

31 SUMBERDAYA NIRHAYATI Arah kebijakan; – Meningkatkan pengetahuan dan informasi tentang sumberdaya kelautan, limnologi, dan kebencanaan. Untuk itu: – Akan dibangun Pusat Penelitian Kelautan di Pantai Penajam – Kalimantan Selatan; – Akan dikembangkan model pengelolaan danau dan situ; – Akan dikembangkan teknologi mitigasi bencana. 31

32 PENGINDERAAN JAUH ARAH KEBIJAKAN: (1) Pemanfaatan data penginderaan jauh; (2) Pengembangan satelit; dan (3) Pengembangan roket sipil. 32

33 PENINGKATAN HASIL PENELITIAN SOSIAL, BUDAYA DAN KEMASYARAKATAN UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN MASYARAKAT INDONESIA MENUJU KEHIDUPAN GLOBAL YANG MAJU DAN MODERN ARAH KEBIJAKAN: Menyelenggarakan riset sosial dan kemanusiaan yang mencakup seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia. Untuk itu akan dibangun kerjasama antara universitas negeri dengan LIPI sebagai pusatnya dengan membentuk 6 simpul (hub) penelitian sosial kemasyarakat di seluruh Indonesia, serta: 1.Meningkatkan kapasitas pelaku riset (peneliti dan lembaga litbang sosial kemanusiaan ) yang berada dalam jejaring penelitian; 2.Meningkatkan kualitas penelitian sosial dan kemanusiaan di seluruh Indonesia melalui jejaring riset; 3.Mengembangkan kapasitas penyimpanan dan pengolahan data di lembaga- lembaga penelitian. ARAH KEBIJAKAN: Menyelenggarakan riset sosial dan kemanusiaan yang mencakup seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia. Untuk itu akan dibangun kerjasama antara universitas negeri dengan LIPI sebagai pusatnya dengan membentuk 6 simpul (hub) penelitian sosial kemasyarakat di seluruh Indonesia, serta: 1.Meningkatkan kapasitas pelaku riset (peneliti dan lembaga litbang sosial kemanusiaan ) yang berada dalam jejaring penelitian; 2.Meningkatkan kualitas penelitian sosial dan kemanusiaan di seluruh Indonesia melalui jejaring riset; 3.Mengembangkan kapasitas penyimpanan dan pengolahan data di lembaga- lembaga penelitian. 33

34 SDM DAN SARANA IPTEK FAKTOR INPUT

35 PEMBANGUNAN SDM: TARGET 2015-2019 No.KegiatanOutputOutcome Target 20152016201720182019 1.RISET-PRO (Bank Dunia) GelarS2 (LN)50 orgMeningkatnya jumlah sdm iptek berpendidikan Master dan Doktor 1211 - S3 (LN)223 Org7053 Non GelarTailor made (LN)225 OrgMeningkatnya keterampilan dan jejaring aktor inovasi 10540 - Tailor made (DN)150 Org7525 - Off-the-shelf (LN)150 Org7525 - Off-the-shelf (DN)150 Org7525 - Work Placement (LN)83 Org3815 - Work Placement (DN)83 Org3815 - Visiting scholar 90 Org4216 - 2.Pinjaman Luar Negeri (Usulan) Atau Rp Murni GelarS2 (DN/LN)370 OrgMeningkatnya jumlah sdm iptek berpendidikan Master dan Doktor 70 80 S3 (DN/LN)360 Org30 100 Non GelarKapasitas Liguistik150 OrgMeningkatnya keterampilan dan jejaring aktor inovasi 30 Training650 Org100 250 Pemagangan250 Org 50 PendukungConference250 Org 50 Jurnal100 Org 20 NB. Adanya kenaikan target kegiatan no. (2) dengan asumsi bahwa beasiswa LN (RISET-Pro) digantikan pendanaan DN

36 SARANA PRASARANA REVITALISASI DAN PENGEMBANGAN PUSPIPTEK 1. Revitalisasi: mem-vital-kan kelembagaan, sumberdaya dan jaringan yang telah ada, untuk memperkuat produktivitas dan pelayanan Puspiptek sesuai fungsinya saat ini. 2. Pengembangan: mengembangkan kelembagaan, sumberdaya, dan jaringan untuk mendukung pengembangan fungsi-fungsi baru Puspiptek, antara lain sebagai I-STP. MENJADI PUSAT IPTEK DAN INOVASI KELAS DUNIA DI TAHUN 2025

37 RENCANA TAPA PENGEMBANGAN PUSPIPTEK 2015-2019

38 1. KERANGKA PENDANAAN 2. KERANGKA KELEMBAGAAN KAIDAH PELAKSANAAN 38

39 KERANGKA PENDANAAN 39 Identifikasi Isu-isu Strategis IPTEK Lima Tahun Kedepan yang digunakan untuk mendorong agar anggaran IPTEK meningkat Menjaga agar IPTEK menjadi prioritas bagi Pemimpin RI dalam 5 tahun kedepan. 1. Peningkatan Efektivitas Anggaran Litbang Pemerintah Riset Kemitraan Skema PPP 2.Menggunakan Anggaran Pemerintah Untuk Mendorong Swasta Melakukan Kegiatan Litbang PP no.93 thn 2010 KMK no.76 thn 2010 Permenkeu 231/2001 Permenkeu 143/1997 Permenkeu 51/2007 3.Insentif Fiskal Bagi Swasta Melakukan Riset

40 KEMEN - TERIAN LAIN D R N AIPI LEMLIT KEMEN- TERIAN K I N PERGURUAN TINGGI ARN 1.Pangan 2.Energi 3.Kesehatan Obat 4.Transportasi 5.Manufaktur 6.ICT 7.Material Maju 1.Pangan 2.Energi 3.Kesehatan Obat 4.Transportasi 5.Manufaktur 6.ICT 7.Material Maju Litbangyasa Studi Kebijakan Tridarma Perguruan Tinggi DEUP U TI MEN TERI RISTEK Kebijakan Iptek KEMEN DIKBUD SEKRE - TARI AT NEGARA LEMBAGA RISET PEMERINTAH UU No. 18 Th 2002 UU No. 8 Th 1990 PerPres No. 32 Th 2010 KEMENTRIAN KEUANG AN LPDP INDONESIA RESEARCH FUND Dana Riset BPPT LIPI BATAN LAPAN BSN BAPETEN B I G Penelitian Pengembangan Perekayasaan (Litbangyasa) Layanan / Dukungan Sektor EIJKMAN

41 LITBANG KEMENTERIAN JAJARAN DITJEN memiliki tupoksi sebagai pelaksana pembangunan dan / atau penyedia layanan ke masyarakat, karenanya jajaran ini mengetahui permasalahan nyata di lapangan dan teknologi apa yang dibutuhkan (konwledge on needs); JAJARAN LITBANG bertugas untuk mengembangkan dan menemukan teknologi (knowledge on technology) 41 MENTERI DIRJEN DIR 1 DIR 2 DIRJEN DIR 1 DIR 2 KEPELA BALITBANG KAPUS 1 KAPUS 2 SEKJEN KEDUA JAJARAN INI SEHARUSNYA BERADA DALAM SATU DITJEN MEMBENTUK “COLLECTIVE MIND” DENGAN INTERAKSI YANG INTENSIF SEHINGGA MAMPU MEMICU INOVASI Sekat Kewenangan

42 PERGURUAN TINGGI Dengan tridarmanya, perguruan tinggi juga adalah unsur lembaga litbang dari SIN; Memiliki “pool resources” yang sangat besar dan beragam; Karena selalu silih berganti, mahasiswa berpotensi sebagai pembangkit ide-ide segar pengembangan iptek; Negara maju memiliki mekanisme memanen ide-ide segar dari mahasiswa  sumber invensi; Oleh karena itu perlu ada kebijakan agar Perguruan Tinggi lebih terintgrasi dalam SIN;

43 TERIMA KASIH SEKIAN DAN 43


Download ppt "Oleh: Direktur Industri, Iptek, dan Parekraf IPTEK DAN INOVASI DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google