Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PERCOBAAN (POGING) PASAL 53 (1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PERCOBAAN (POGING) PASAL 53 (1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya."— Transcript presentasi:

1 PERCOBAAN (POGING) PASAL 53 (1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. (2) Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dalam hal percobaan dikurangi sepertiga. (3) Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama 15 tahun. (4) Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan kejahatan selesai. Pasal 54 Mencoba melakukan pelanggaran tidak dipidana PASAL 53 (1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. (2) Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dalam hal percobaan dikurangi sepertiga. (3) Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama 15 tahun. (4) Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan kejahatan selesai. Pasal 54 Mencoba melakukan pelanggaran tidak dipidana

2 POGING (PERCOBAAN)  Permulaan kejahatan yang belum selesai  Poging bukan suatu delik, tetapi poging dilarang dan diancam hukuman oleh undang-undang  Poging adalah perluasan pengertian delik  Suatu perbuatan dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang sebab perbuatan itu melanggar kepentingan hukum atau membahayakan kepentingan hukum  Permulaan kejahatan yang belum selesai  Poging bukan suatu delik, tetapi poging dilarang dan diancam hukuman oleh undang-undang  Poging adalah perluasan pengertian delik  Suatu perbuatan dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang sebab perbuatan itu melanggar kepentingan hukum atau membahayakan kepentingan hukum

3  KUHP tidak memberi perumusan/ definisi  Harus diketahui kapan suatu delik dianggap selesai  Delik selesai berbeda antara delik formil dan delik materiil  Pada delik formil : delik selesai apabila perbuatan yang dilarang telah dilakukan  Pada delik materiil : delik selesai apabila akibat yang dilarang telah timbul atau terjadi  KUHP tidak memberi perumusan/ definisi  Harus diketahui kapan suatu delik dianggap selesai  Delik selesai berbeda antara delik formil dan delik materiil  Pada delik formil : delik selesai apabila perbuatan yang dilarang telah dilakukan  Pada delik materiil : delik selesai apabila akibat yang dilarang telah timbul atau terjadi

4 SYARAT PERCOBAAN YANG DAPAT DIPIDANA  Niat  Permulaan Pelaksanaan  Tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri  Niat  Permulaan Pelaksanaan  Tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri

5 NIAT (VOORNEMEN)  Menurut doktrin dan yurisprudensi :”voornemen” harus ditafsirkan sebagai kehendak, “willen” atau “opzet”  Seseorang harus mempunyai kehendak, yaitu kehendak melakukan kejahatan  Menurut doktrin dan yurisprudensi :”voornemen” harus ditafsirkan sebagai kehendak, “willen” atau “opzet”  Seseorang harus mempunyai kehendak, yaitu kehendak melakukan kejahatan

6 PERMULAAN PELAKSANAAN  “Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan pelaksanaan”  een begin van uitvoering  Harus ada suatu perbuatan(handeling)  apa yang dimaksud “perbuatan sebagai permulaan pelaksanaan” ?  Undang-undang tidak merumuskan pelaksanaan atau”uitvoering” dan bagaimana bentuknya  Perlu digunakan penafsiran  “Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan pelaksanaan”  een begin van uitvoering  Harus ada suatu perbuatan(handeling)  apa yang dimaksud “perbuatan sebagai permulaan pelaksanaan” ?  Undang-undang tidak merumuskan pelaksanaan atau”uitvoering” dan bagaimana bentuknya  Perlu digunakan penafsiran

7 PELAKSANAAN KEHENDAK ATAU PELAKSANAAN KEJAHATAN Secara gramatika, harus dihubungkan dengan kata yang mendahuluinya yaitu “voornemen”/ niat/kehendak  Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan pelaksanaan. Jadi : pelaksanaan itu ditafsirkan sebagai “pelaksanaan kehendak”  TEORI POGING SUBYEKTIF Tetapi, jika dihubungkan dengan anak kalimat berikutnya “… tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri” maka secara sistematis ditafsirkan sebagai “pelaksanaan kejahatan”  TEORI POGING OBYEKTIF Secara gramatika, harus dihubungkan dengan kata yang mendahuluinya yaitu “voornemen”/ niat/kehendak  Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan pelaksanaan. Jadi : pelaksanaan itu ditafsirkan sebagai “pelaksanaan kehendak”  TEORI POGING SUBYEKTIF Tetapi, jika dihubungkan dengan anak kalimat berikutnya “… tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri” maka secara sistematis ditafsirkan sebagai “pelaksanaan kejahatan”  TEORI POGING OBYEKTIF

8 CRIMINAL ATTEMPT Preparation Criminal Preparation, Criminal Attempt, and Crime Commission. 8


Download ppt "PERCOBAAN (POGING) PASAL 53 (1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google