Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

SANTI KARTIKASARI,dr.  Sistem yang berfungsi untuk berkembang biak  Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "SANTI KARTIKASARI,dr.  Sistem yang berfungsi untuk berkembang biak  Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun."— Transcript presentasi:

1 SANTI KARTIKASARI,dr

2  Sistem yang berfungsi untuk berkembang biak  Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi suatu manusia berhenti, manusia tersebut masih dapat bertahan hidup

3  reproduksi baru dapat berlangsung setelah manusia tersebut mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh  bagian dari proses tubuh yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan suatu generasi.

4  organ-organ reproduksi  spermatogenesis  hormon pada pria.

5 Organ reproduksi pria terdiri atas  organ reproduksi dalam  organ reproduksi luar Organ Reproduksi Dalam  testis,  saluran pengeluaran  kelenjar asesoris

6 Organ Reproduksi Luar  penis  skrotum

7 Penis terdiri dari: - Akar (menempel pada dinding perut) - Badan (merupakan bagian tengah dari penis) - Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut

8  Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di ujung glans penis.  Dasar glans penis disebut korona.  Pada pria yang tidak disunat (sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona menutupi glans penis

9  Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil: - 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut corpus cavernosus, terletak bersebelahan. - Rongga yang ketiga disebut corpus spongiosum, mengelilingi uretra.  Jika rongga –rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi).

10 Scrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis. Scrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, Testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.

11  Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehingga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).

12  Testis berjumlah sepasang(testes = jamak). Testis kiri dan kanan dibatasi olehsuatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan otot polos. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan  Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak di dalam skrotum.  Ukuran testis pada orang dewasa adalah 4 x 3 x 2,5 cm, dengan volume 15 – 25 ml berbentuk avoid

13  Testis menghasilkan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) juga hormon testosterone  Secara umum berfungsi membentuk sperma

14  Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di Tubulus seminiferus.  Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interstitial.  Testis memiliki 2 fungsi, yaitu: Pembentukan sperma oleh tubulus seminiferus. Pembentukan hormon testosteron oleh sel leydig

15 Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari:  epididimis,  vas deferens,  saluran ejakulasi  uretra.

16  Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis.  Saluran ini berjalan ke bagian belakang prostat lalu masuk ke dalam uretra dan membentuk ductus ejakulatorius.  Struktur lainnya (misalnya pembuluh darah dan saraf) berjalan bersama-sama vas deferens dan membentuk corda spermatika.

17  Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis.  Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat.  Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).

18  Saluran ejakulasi Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra.

19  Fungsi Uretra: - Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih - Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.

20  Kelenjar Asesoris Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris.  Getah-getah ini berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakakan sperma.  Kelenjar asesoris merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper.

21  Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih di dalam pinggul dan mengelilingi bagian tengah dari uretra.  Biasanya ukurannya sebesar walnut dan akan membesar sejalan dengan pertambahan usia  Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.

22  Prostat mengeluarkan sekret cairan yang bercampur secret dari testis, perbesaran prostate akan membendung uretra dan menyebabkan retensi urin.  Kelenjar prostat, merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari kelenjar yang terbagi atas  4 lobus yaitu: Lobus posterior Lobus lateral Lobus anterior Lobus medial

23  Fungsi Prostat: Menambah cairan alkalis pada cairan seminalis yang berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap sifat asam yang terdapat pada uretra dan vagina.  Di bawah kelenjar ini terdapat Kelenjar Bulbo Uretralis yang memilki panjang 2-5 cm. fungsi hampir sama dengan kelenjar prostat

24  Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

25  Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma. Cairan ini merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan lainnya yang membentuk semen berasal dari vas deferens dan dari kelenjar lendir di dalam kepala penis. Fungsi Vesika seminalis : Mensekresi cairan basa yang mengandung nutrisi yang membentuk sebagian besar cairan semen

26  Merupakan saluran halus yang panjangnya ± 6 cm terletak sepanjang atas tepi dan belakang dari testis.  Saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri  Epididimis terdiri dari kepala yang terletak di atas katup kutup testis, badan dan ekor epididimis sebagian ditutupi oleh lapisan visceral, lapisan ini pada mediastinum menjadi lapisan parietal.

27 Saluran epididimis dikelilingi oleh jaringan ikat, spermatozoa melalui duktuli eferentis merupakan bagian dari kaput (kepala) epididimis. Duktus eferentis panjangnya ± 20 cm, berbelok-belok dan membentuk kerucut kecil dan bermuara di duktus epididimis tempat spermatozoa disimpan, masuk ke dalam vas deferens Fungsi dari epididimis yaitu  sebagai saluran penghantar testis, mengatur sperma sebelum di ejakulasi, dan memproduksi semen.  tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens

28  Merupakan kelanjutan dari epididimis ke canalis inguinalis, kemudian ductus ini berjalan masuk ke dalam rongga perut terus ke kandung kemih  Di belakang kandung kemih akhirnya bergabung dengan saluran vesica seminalis dan selanjutnya membentuk ejaculatorius dan bermuara di prostate.  Panjang duktus deferens cm.

29  a. FSH Menstimulir spematogenesis. b. LH Menstimulir Sel Interstitiil Leydig untuk memproduksi Testosteron. c. Testosteron Bertanggung jawab dalam perubahan fisik laki-laki terutama organ seks sekundernya.

30  Efek hormon testoteron pada pria: Sebelum lahir: a. Maskulinasi saluran reproduksi dan genital eksterna b. Mendorong penurunan testis ke skrotum  Efek reproduksi c. Pertumbuhan dan pematangan organ reproduksi d. Penting dalam spermatogenesis

31  Perkembangan spermatogonia menjadi spermatozoa.  Berlangsung 64 hari.  Spermatogonia berkembang menjadi spermatozit primer.  Spermatozit primer menjadi spermatozit sekunder.  Spermatozit sekunder berkembang menjadi spermatid.  Tahap akhir spermatogenesis adalah pematangan spermatid menjadi spermatozoa.  Ukuran spermatozoa adalah 60 mikron. Spermatozoa terdiri dari kepala, badan dan ekor

32  Ereksi merupakan peristiwa neurofisiologis yang kompleks. Peristiwa ini terjadi ketika darah dengan cepat mengalir kedalam penis dan terperangkap di dalam rongga spongiosum. Terdapat 3 sistem yang terlibat langsung dengan ereksi penis :  Corpus Cavernosum yang memiliki struktur menyerupai spons (busa)  Persarafan otonom penis  Pasokan darah ke penis

33  Kekakuan penis terutama akibat perananan corpus cavernosum Corpus Spongiosum juga kencang saat ereksi namun tidak kaku  Fisiologi dasar ereksi yang paling mudah difahami adalah dengan memperhatikan bahwa setiap corpus cavernosum dibayangkan sebagai ruang lakunar secara terpisah

34  Arteri (helikan) yang kecil mengalirkan darah kedalam rongga lakukar yang dikelilingi otot polos didalam dinding trabekular.  Arteri ini memiliki dinding muskular yang kaku.  vena kecil yang keluar dari rongga lakunar berubah menjadi venule (subtunika) yang lebih besar.  Venula subtunika mengalirkan darah ke tunika albuginea dan membentuk vena emisaria. Tak seperti halnya dengan arteri, vena memiliki dinding yang amat fleksibel dan dapat di kompresi

35  Saat penis dalam keadaan kendor, otot polos pada dinding lakunar berada dalam keadaan kontraksi.  Kontraksi ini dipertahankan oleh serat saraf simpatis noradrenergik. Tonus noradrenergik di blok akibat aktivasi sistem parasimpatis sehingga otot intralakunar mengalami relaksasi.  Reflek ereksi dapat dibangkitkan oleh sinyal aferen dari ujung saraf sensoris pada glans penis yang dimediasi pada lokasi setinggi medula spinalis  Peranan testosteron pada fungsi ereksi masih belum diketahui dengan pasti.

36  Saat ejakulasi hampir terjadi, turgor penis meningkat lebih kuat. Otot polos dalam prostat, vas deferen dan vesikula seminalis berkontraksi secara berurutan untuk mengeluarkan cairan semen dan spermatozoa kedalam urethra pada suatu proses yang disebut emisi

37  Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiferus.  Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional.  Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis.

38  Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium = tunggal). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.

39  Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A.  Spermatogenia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid.  Setelah melewati beberapa minggu, setiap spermatosit primer membelah secara meiosis membentuk dua buah spermatosit sekunder yang bersifat haploid

40  Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis membentuk empat buah spermatid.  Spermatid merupakan calon sperma yang belum memiliki ekor dan bersifat haploid (n atau mengandung 23 kromosom yang tidak berpasangan).  Setiap spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa (sperma). Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi.

41  Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.  Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit sitoplasma. Pada bagian membran permukaan di ujung kepala sperma terdapat selubung tebal yang disebut akrosom.  Akrosom mengandung enzim hialuronidase dan proteinase yang berfungsi untuk menembus lapisan pelindung ovum

42  Pada ekor sperma terdapat badan sperma yang terletak di bagian tengah sperma.  Badan sperma banyak mengandung mitokondria yang berfungsi sebagai penghasil energi untuk pergerakan sperma.  Semua tahap spermatogenesis terjadi karena adanya pengaruh sel-sel sertoli yang memiliki fungsi khusus untuk menyediakan makanan dan mengatur proses spermatogenesis.

43 Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon:  Testoteron,  LH (Luteinizing Hormone),  FSH (Follicle Stimulating Hormone),  Estrogen  Hormon pertumbuhan.(Growth Hormon)

44 Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder.

45 LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi sel-sel Leydig untuk mens sekresi testoteron FSH (Follicle Stimulating Hormone) FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi.

46 Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma.

47 Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

61  Hipogonadisme Hipogonadisme adalah penurunan fungsi testis yang disebabkan oleh gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen dan testoteron. Gangguan ini menyebabkan infertilitas, impotensi dan tidak adanya tanda-tanda kepriaan. Penanganan dapat dilakukan dengan terapi hormon.

62  Kriptorkidisme Kriptorkidisme adalah kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam skrotum pada waktu bayi. Hal tersebut dapat ditangani dengan pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang testoteron. Jika belum turun juga, dilakukan pembedahan

63  Uretritis Uretritis adalah peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering buang air kecil. Organisme yang paling sering menyebabkan uretritis adalah Chlamydia trachomatis, Ureplasma urealyticum atau virus herpes,Neisseria Gonorrhea

64  Prostatitis Prostatitis adalah peradangan prostat. Penyebabnya dapat berupa bakteri, seperti Escherichia coli maupun bukan bakteri. Epididimitis Epididimitis adalah infeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi pria. Organisme penyebab epididimitis adalah E. coli dan Chlamydia. Orkitis Orkitis adalah peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus parotitis. Jika terjadi pada pria dewasa dapat menyebabkan infertilitas.

65


Download ppt "SANTI KARTIKASARI,dr.  Sistem yang berfungsi untuk berkembang biak  Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google