Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

JURNAL PERKIM Kampung Tomangpulo – Kel. Jatipulo – H.02 Revitalisasi Kota Tua bagi Peruntukan Per- mukiman Mixed-Strata – H.03 Urgensi adanya IPAL di Kampung.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "JURNAL PERKIM Kampung Tomangpulo – Kel. Jatipulo – H.02 Revitalisasi Kota Tua bagi Peruntukan Per- mukiman Mixed-Strata – H.03 Urgensi adanya IPAL di Kampung."— Transcript presentasi:

1 JURNAL PERKIM Kampung Tomangpulo – Kel. Jatipulo – H.02 Revitalisasi Kota Tua bagi Peruntukan Per- mukiman Mixed-Strata – H.03 Urgensi adanya IPAL di Kampung Hijau– H.04 Gerakan 3R di Kampung Hijau – H.05 Sistem Daur Hidrologik Mandiri – H LK Kebutuhan tempat tinggal sementara di Jakarta ini cukup tinggi, baik berupa rumah kontrakan atau rumah sewa, maupun kamar kosan ● Hunian sewa ini ada yang dibangun secara formal berupa Rusunawa, apartemen sewa, atau perumah-an yang disediakan oleh perusahaan atau instansi dengan memotong gaji pekerja ● Secara swadaya jauh lebih banyak jumlah, kelas, jenis dan ragam- nya. Mulai dari lapak-lapak atau gubug-gubug bagi squatter di bantaran kali atau rel, atau di lahan sengketa, kamar kos di rumah-rumah warga kam- pung atau rumah di area elite, rumah khusus kos- kosan, deretan rumah petakan, rumah sewa dalam kompleks town-house, hingga rumah-rumah ge- dongan yang dilengkapi kolam renang ● Harganya pun sangat beragam, tergantung lokasi, luasan dan kondisi hunian dan fasilitasnya. Sebagai gambaran, sepetak gubug ukuran 2x2.5 m² kondisi semi permanen berlokasi di bantaran rel kereta yang paralel dengan Jl. Citarum, Jatibaru dan Kali Banjir Kanal, disewakan 150 ribu sebulan. Penghuninya mandi, cuci, kakus di kali atau kalau sedikit ber- kecukupan bisa ke MCK di kampung seberang kali dengan bayar Rp 500 sampai Rp 1000 ♦ ASA Okt 09 Sambungan dari hal. 9 salah pembangunan Rusun di Kalibata yang tidak menunjukkan tanda-tanda penyeimbangan kebutuh- an air dan debet air yang dipertahankan. Pak Alim menegaskan lagi perlunya upaya mitigasi bencana alam dan bencana sosial yang serius. Penanya dan pemberi masukan lainnya adalah Sdr. Edi dari LBH Jakarta, Seorang ibu dari Walhi, lalu ada Bupati Kepulauan Seribu yang mengeluhkan tentang pencemaran perairan Kepulauan Seribu dari karbol yang 9 tahun belum selesai penangan- annya, juga Kawasan Taman Laut Nasional yang melingkupi 78 pulai dari jumlah seluruhnya (110 pu- lau), hal mana menyebabkan Pemda sangat berkurang kewenangannya. Sang Bupati menyaran- kan agar LSM dari Kepulauan Seribu juga diundang pada kesempatan berikutnya. Ada juga Ibu Aisa Tobing bicara mengenai mitigasi dan lo-karbol. Peserta lainnya yang ikut angkat bicara antara lain, Ibu Riana Ka Bid Kelautan dari Dinas Kelautan, juga yang mewakili Kota Admistrasi Jakarta Utara yang bernada serupa, yaitu : Penge- lolaan daerah pesisir agar mengutamakan pena- nganan limbah industri, tanggunjawab terutama di pihak Pelindo dan Pemda. Masih dari Pemda Jakar- ta Utara mengungkapkan pentingnya penanaman kembali tanaman laut, seperti bakau, karena produksi oksigen 70% dari tanaman laut. Ibu Sarwo Handayani Kepala Bappeda Provinsi DKI Jakarta menaggapi dengan menjawab beberapa pertanyaan yang bersifat makro dan menyatakan bahwa semua masukan akan dimatangkan sesuai isu strategisnya guna penyempurnaan RTRW DKI Jakarta Adapun masukan yang cukup rinci akan dijadikan bahan bagi penyusunan RDTR atau peta skala 1:1000 ♦ ASA hal NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I EKONOMI & BISNISSELASA| NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I | 12 HALAMAN hal.01 MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI PERMUKIMAN JAKARTA HUNIAN SEWA Berita dan Jurnal lainnya disajikan di paruh kedua media ini, yaitu: Herianti dan Kerajian Sampah Kemasan– H.08 KLHS RTRW Prov. DKI Jakarta 2030 – H.09 Bisnis Rumah Sewa – H.10 Penilaian JCG dan PHBS di Kampung Hijau Kurang Terpadu dan Menyeluruh (Opini Warga) – H.11 Bahwa prinsip-prinsip RTRW DKI Jakarta 2030 adalah (I) Pengelolaan Pertumbuhan (Growth Management), bukan ‘Pembangunan’ biasa; (II) Basis Perencanaan Fungsional adalah Megalopolitan Jabodetabekpunjur; (III) Pergeseran dari Stakeholders Ke Shareholders, menjadi dasar yang kuat bagi upaya peremajaan kam- pung secara menyeluruh, terpadu dan diwarnai ke- mandirian atau keswadayaan masyarakatnya. Kam- pung-kampung di Kota DKI Jakarta ini adalah tempat di mana sebagian besar warga bermukim, baik yang menetap maupun yang berstatus penduduk sementara atau musiman. Upaya ini perlu dibarengi dengan penanganan serius atas salah satu aspek terpenting dalam hidup, kehidupan dan penghidupan. Air. Sistem Daur Hidrologik Mandiri dalam Peremajaan Kampung Mandiri diulas lebih dalam,secara aktual dan ber- imbang pada halaman 06 – 07 sebagai jurnal utama edisi perdana ini ♦

2 Penilaian JCG dan PHBS Kurang Terpadu dan Menyeluruh Salah seorang tokoh masyarakat di RW 02 Psr. Minggu mengungkapkan bahwa predikat yang di- raih RW 02 Kelurahan Pasar Minggu (Kampung Hijau) sebagai pemenang Jakarta Clean & Green dan juga pemenang Pola Hidup Bersih & Sehat sebenar tidak sepenuhnya pantas. Jika penilaian itu lebih terpadu dan menyeluruh, kemungkinan besar predikat itu belum diraih. Salah satu aspek penting bagi kebersihan dan kesehatan serta “hijau” lingkungan adalah aspek sanitasi lingkungan. Air buangan bersama limbah tinja dan limbah lemak dapur pada dasarnya perlu melalui treatment sebelum dialirkan ke saluran ling- kungan dan/atau saluran drainase kota. Di kampung ini juga tidak ada MCK umum, mungkin disebabkan warganya tidak begitu padat. Ada 925 KK atau jiwa dalam wilayah 15 Ha. Jadi, kepadatannya hanya 261,5 jiwa/Ha. Menurut keterangan seorang tokoh masyarakat lainnya di RW yang sama, kebanyakan rumah- rumah yang letaknya di pinggir atau berbatasan dengan saluran drainase lingkungan/kota tidak mempunyai tangki septik. Limba tinja dan limba cair lainnya langsung dialirkan ke saluran drainase lingkungan dan kota. Warga lainnya di RW 03 mengatakan bahwa bau yang ditimbulkan dari genangan air limbah di saluran terbuka cukup mengganggu ♦ ASA KAMPUNG TOMANGPULO – KEL. JATIPULO Pada zaman dulu di Batavia, sarana transportasi hanya ada Kereta Api jurusan Kota – Angke – Tanah Abang – Palmerah – Rangkas – Banten – Merak – La-buan, ada juga jurusan Tanah Abang – Jawa melalui stasiun Manggarai. Selain jalur kereta api, ada juga jalan untuk delman. Biasanya, jalan delman ini hanya diperuntukkan dan dilalui oleh para penguasa, orang-orang Belanda. Perkampungan di sebelah timur jalur rel kereta api jurusan Tanah Abang – Kota yang merupakan da- ratan daratan adalah Kelurahan Petojo, Kecamatan Gambir. Sedangkan di sebelah kirinya adalah rawa- rawa dan persawahan. Pada tepian jalan delman tidak jauh dari stasiun KA Tanah Abang, terdapat pemakaman atau kuburan- kuburan khusus bagi warga keturunan Cina, yang disebut Sentiong. Kelihatannya kuburan-kuburan ini adalah keluarga orang-orang cina yang cukup berada, ukurannya besar-besar, dan setiap kuburan ada satu rumah penunggu yang merawat makam itu. Di antara kuburan-kuburan itu ditanam pohon- pohon bamboo yang membuat area pemakaman itu terasa sejuk. Pusat pemerintahan ada di sekitar Kota (sekarang Kota Tua, red.), yang disebut juga Daerah Pasar Ikan. Perkembangan penduduk di Kota menjadi padat. Mulailah ada perkembangan penduduk ke- luar kota atau pinggiran kota. Karena perkembang- an itu menyebabkan resapan air menjadi berkurang, mulailah terjadi banjir. Untuk mengantisipasi banjir, dibuatlah kali/ saluran pengendali banjir di sebelah barat pusat kota yang kemudian disebut sebagai Kali Banjir Kanal Barat (1950) yang membantu mengendalikan aliran Sungai Ciliwung. Sungai yang membelah kota Batavia. Saluran pengendali yang letaknya di Manggarai, dibuat pintu air pe- ngendali, agar air yang datang dari Sungai Ciliwung tidak langsung menuju Kota dan di salurkan ke saluran pengendali itu yang menuju ke laut yang bermuara di Muara Karang. Bersambung ke hal. 05 hal NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I ASAL-USULOPINI WARGA 17 NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I hal.11 JURNAL PERKIM Media Permukiman – Periodik Bulanan Alamat Redaksi : Jl. Siaga IIA no. 49C JakSel Redaktur : Anita & Astaja Mobile : & Menyadari perlunya suatu media (periodik) bidang permukiman yang mudah “sampai“ kepada para- pihak berkepentingan, kami berinisiatif mengambil jalan tengah antara media konvensional (koran/ buletin /tabloid cetakan) dan website. JURNAL PERKIM ini dimaksudkan untuk meng- angkat dan mengulas permasalahan-permasalahan permukiman di Jakarta dan sekitarnya, khususnya di bidang perumahan dan permukiman swadaya yang menempati porsi 70% hingga 80% dari pembangunan perumahan/permukiman seluruhnya. Dalam Edisi perdana ini, redaksi menjadikan isu kebersihan lingkungan, khususnya air sebagai topik utama. Pencemaran yang berhulu dari rumah tang- ga berupa limbah tinja dan limbah dapur. Disadari juga urgensi mengulas upaya perlakuan yang bijak untuk mengembalikan kondisi air yang jernih bebas bakteri coli dan cemaran lainnya dengan merintis Sistem Daur Hidrologik Mandiri dalam Peremajaan Kampung Mandiri. Menjaga selokan dan saluran dari pencemaran sampah padat juga tidak kalah pentingnya. Diperlukan perubahan perilaku masya- rakat untuk tidak membuang sampah di selokan dan saluran drainase lainnya. Salahsatunya dengan melakukan upaya 3R (reuse, reduce, recycle) bagi kemasan dan barang-barang lainnya. Sebenarnya ada R yang keempat, yaitu recovery, sementara pihak menganggap R keempat adalah replant. Kampung Hijau di Kelurahan Pasar Minggu Jakarta Selatan memberi teladan mengenai upaya 3R ini. KLHS RTRW DKI Jakarta 2030 juga mewarnai edisi ini. Isu kejernihan dan kebeningan air di edisi ini cukup serasi dengan indikasi sikap pemerintah yang mengarah kepada upaya transparansi ♦ E D I T O R I A L Sambungan dari hal. 08 papan komunikasi. Jadi, setiap RT ada fasilitas ini. Seorang Ketua RT didampingi istrinya yang juga anggota TP PKK yang memaparkan informasi- informasi program di atas melanjutkan keterangannya mengenai Bank SENDU. SENDU adalah akronim dari Senang Daur Ulang. Bank Sendu adalah Bank Sampah, yaitu tempat menerima sampah yang dikelompokkan menurut jenisnya, ada kelompok kertas, kelompok botol, kelompok (kantong) plastik, dan kelompok pecah- belah. Ada juga kelompok sampah organik atau bia- sa disebut sampah basah yang berasal dari dapur dan meja makan. Sampah basah ini diolah menjadi pupuk kompos. Sesuai fungsinya sebagai bank, maka Bank Sendu merupakan media bagi warga yang menjual sam- pahnya. Hasil olahannya dijual, dan pemasukan dari penjualannya, sebagian digunakan untuk membayar jasa warga atau anggota yang terlibat dalam peng- olahan sampah, di samping sebagai kas untuk pemeliharaan lingkungan dan aset Bank Sendu ini ♦ ASA

3 REVITALISASI KAWASAN KOTA TUA BAGI PERUNTUKAN PERMUKIMAN Di kawasan Kota Tua cukup banyak bangunan kuno bersejarah yang dijadikan konservasi budaya. Sebagian dijadikan museum. Ada Museum Mandiri, Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia. Ada juga Kafe Batavia bekas Rumah kediaman Guber- nur sejak Zaman Kolonial yang cukup ramai di- kunjungi karena memadukan sajian kiliner dan pajangan peninggalan bersejarah serta foto-foto bernilai seni kontemporer. Kota Tua ini mudah dikunjungi dengan transportasi massal cepat: KRL dan Busway. Sudah sering para pemerhati kota dan permukiman mengangkat isu mengembalikan hunian ke tengah kota, dan dengan demikian menghidupkan wilayah- wilayah yang saat ini semakin tak terurus. Salahsatu alternatif yang bisa dijajagi adalah hotel nganggur dan lahan di sebelahnya di jl.Lada no.1, di seberang gedung BNI'46 dan sekitar 150m dari stasiun kota. Untuk mengembangkan perumahan kelas mene- ngah di sini mungkin ada minat, tapi belum di- singgung soal membangun perumahan mixed-strata di mana lower income juga turut dalam skema. hal NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I KOMUNITASSOSIAL BUDAYA17 NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I hal. 03 Ada dua kompleks Rusun di Kelurahan Tebet Barat, yaitu di RW 07 yang dinamakan Rusun “Berlian” Tebet II, dan Rusun “Harum” Tebet I yang merupa- kan RW 08. Terjadi kebakaran besar perkampungan kumuh - padat tahun 1993 di RW 07 Kelurahan Tebet Barat. Dinas Perumahan DKI dengan Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) –nya mengupayakan tempat ting- gal yang layak bagi para korban kebakaran itu yang dialokasikan di RW 08. Empat blok Rusun dibangun mulai 1994, mulai ditempati Rusun ini di- resmikan Sebagian warga korban kebakaran itu (kira-kira 30%) bertahan untuk tetap di RW 07, tidak mau masuk Rusun di RW 08. komunitas yang terdiri dari sedikitnya 100 KK ini merasa punya ikatan sosial-spiritual. Komunitas ini adalah jama’ah tetap Masjid Jami’ Al Muqarrobin yang berlokasi di RW 07 itu. Pada akhirnya dengan upaya negosiasi pemimpin komunitas ini – yang dikenal sebagai Tim Sembilan – dengan Pemda DKI, disepakati untuk membangun dua blok Rusun oleh Dinas Pe- rumahan DKI yang akan dikelola oleh Panitia Sembilan. Rumah Susun “HARUM” Tebet I Kompleks Rusun ini merupakan wilayah adminis- trasi RW 08 Kel. Tebet Barat. Rusun “Harum” Tebet Barat ini terdiri dari 4 blok (IA, IB, IC, ID), masing- masing terdiri dari 80 unit hunian di lantai 1 sd lantai 4 ber-type 21 m² tanpa sekat, masing-masing ada dapur dan toilet. Lt. Dasar diperuntukkan sebagai tempat usaha/bisnis (ada yang milik ada juga yang Komunitas Rusun Tebet sewa). Di lantai dasar ini tiap unit hanya berupa satu ruangan tanpa dapur dan toilet. Ada toilet bersama dengan 4 pintu di ujung tiap blok. Rusun “Harum” Tebet I ini difasilitasi sarana umum dan sosial berupa musholla, posyadu, tempat parkir, PIK (Pusat Informasi dan Konsultasi) Keluarga. Ada Pos PPRS tempat kegiatan administrasi pengelola- an Rusun yang berfungsi juga menjaga koordinasi dengan UPT (unit pengelola teknis – DPGP DKI). Bersambung ke Edisi berikutnya (02/I/2010) Seperti pernah dilaporkan sebelumnya, ada peluang dukungan bagi upaya membangun perumahan sederhana dengan konteks heritage dari SGHI yang bekerjasama dengan PDA (Pusat Dokumen- tasi Arsitektur). Jadi, memang ada niat mengem- bangkan lokasi itu tapi belum punya gambaran kon- krit bagaimana caranya. Terutama karena bangun- an hotel yang di depan itu tidak boleh diubah karena termasuk dalam obyek cagar budaya DKI. Mungkin banyak lokasi lain pula milik BUMN atau swasta yang terlantar, berciri heritage tapi sekaligus dapat dikembangkan menjadi perumahan, dengan mempertahankan facade dan mengubah sebagian interior. Hal ini masih taraf gagasan dan lebih didorong oleh uneg-uneg "mestinya semua lapisan warga bisa tinggal di kota, 'kan?". Bila tidak, pusat kota akan menampung mereka yang higher income saja, atau bahkan tumbuh bagian-bagian kota yang sangar pada malam hari seperti sudah banyak kita lihat. Kaitan dengan heritage muncul karena (a) tawaran SGHI untuk mengembangkan perumahan dengan konteks heritage, dan (b) kota tua ini memang penuh bangunan tua nganggur sementara Pemda dan pemiliknya pun bingung bagaimana mem- buatnya hidup kembali. Nampaknya banyak lokasi lain yang potensial untuk dihidupkan. Kalau berbagai pihak yang terkait sepakat mengem- bangkan area ini, barangkali bisa dirancang sebuah rintisan. Maksudnya, melibatkan pengelola gedung tua dan lahannya, Pemda DKI, dan kelompok pemeduli. Pada tahap awal akan sulit sekali dari segi biaya. Biaya meretrofit bangunan kuno (tergan- tung umurnya) menjadi hunian akan mahal sekali. Namun gagasan ini bisa saja diintegrasikan dengan program revitalisasi Kota Tua. Kenapa tidak? (Diskusi Milis “Rumah Bersama” : Sri Probo, Marco Kusumawijaya, Shanty, Anita Arif – Maret 2010) ♦

4 KLHS RTRW DKI JAKARTA 2030 Pada Selasa/16 November 2010 diadakan Seminar Awal Kajian Lingkungan Hidup Strategis bagi Ra- perda Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta. Pihak penyelenggara, yaitu PPGT UI bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, atas nama Sekretariat Daerah mengundang 62 lemba- ga/Individu terkait bidang tata ruang dan lingkungan hidup. Para undangan seminar terdiri dari lembaga pemerintah, perguruan tinggi, LSM, organisasi ma- syarakat, pers, dan forum lintas pihak. Ada bebe- rapa undangan yang tidak hadir. KLHS ini adalah suatu proses sistematis untuk menjamin bahwa konsekuensi atau dampak ling- kungan yang timbul akibat suatu usulan kebijakan, rencana, atau program telah dipertimbangkan dan dievaluasi sedini mungkin dalam proses peng- ambilan keputusan, paralel dengan pertimbangan sosial dan ekonomi. Dalam hal ini, KLHS di- maksudkan sebagai penyempurnaan RTRW DKI Jakarta (yang sedang diverifikasi di DPRD) dalam konteks lingkungan hidup. “KLHS adalah analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana dan/atau program.” (UU no.32/th.2009 ttg PPLH Pasal 1 butir 10). Ada sambutan dari Deputi Bidang Tata Lingkungan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, Direktur Per- kotaan Ditjen Penataan Ruang, Direktur Fasilitas Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup Ditjen Bina Bangda, Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Prov. DKI Jakarta, dan Deputi Gubernur Bidang Industri Perdagangan dan Trans- portasi Prov. DKI Jakarta. Materi KLHS sendiri dipresentasikan oleh Bp. Rudi Tambunan dari UI. Di antara yang hadir, ada cukup banyak pertanyaan maupun masukan berupa saran dan kritik. Terjadi tanya jawab dan diskusi, antara lain: Pak Yan (Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indone- Belum diteliti benar penyebab ‘ngembeng’nya air buangan di saluran di RW 06, apakah karena posisi saluran drainase lingkungan RW 03 yang lebih rendah daripada saluran-saluran drainase di seki- tarnya atau ada tumpukan lumpur sampah yang menyumbat di saluran arah alirannya, yang jelas tampak jelas adanya penumpukan lumpur tinja di belokan saluran dari RW 02, dan bagian saluran selanjutnya. Belum ada laporan adanya kasus anak balita meninggal karena diare, namun kondisi di atas jika dibiarkan terus berlangsung bisa jadi hal-hal yang merugikan kesehatan masyarakat bisa terjadi. Demikian jurnal ini mengemukakan urgensi di- adakannya IPAL di lingkungan ini. ♦ ASA URGENSI IPAL DI KAMPUNG HIJAU Kampung Hijau di RW 02 Kelurahan Pasar Ming-gu Kota Administrasi Jakarta Selatan yang menjadi salah satu kampung binaan PT. Unilever melalui CSR-nya, ternyata rupanya mempunyai suatu persoalan lingkungan yang tidak sepele. Di kampung yang berkepadatan 261,5 jiwa/Ha ini, masih banyak rumah (terutama yang berdiri di batas saluran drainase kota) tidak dilengkapi tangki septik. Air limbah tinja dan limbah lemak dapur langsung dibuang ke saluran drainase lingkungan dan kota. Bahkan, beberapa warga memperluas daerah basah rumahya di atas saluran. Kondisi ini menyebabkan warga di RW 03 di lokasi di mana aliran air limbah ini sampai – sebagian mengalir dan lebih banyak menggenang dan me- numpukkan lumpur tinja – merasa cukup resah, terganggu oleh bau tak sedap dari saluran lingkungannya. hal NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I SANITASI MASYARAKATINFO KEBIJAKAN PUBLIK17 NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I hal. 09 sia : menghimbau agar memprioritaskan upaya pe- nanganan perairan bisa bening kembali. Hal Senada dari Ibu Tias (Asdep Lingkungan Hidup): Agar air dieman-eman, setiap tetes diolah dan ba- dan air menjadi satu kesatuan dalam perencanaan Green and Blue. Bp. Abdul Alim Salam menyampaikan masukan dengan nada yang cukup prihatin : Mengenai visi pembangunan Jakarta yang tidak mencakup kata “aman” yang ada hanya “Jakarta sebagai Ibukota NKRI yang nyaman, berkelanjutan dan dihuni oleh masyarakat yang sejahtera”. Walaupun dalam butir Misi disebutkan “mengarusutamakan pembangunan berbasis mitigasi bencana”. Beliau memaparkan bahwa bencana bukan saja berupa bencana alam, tetapi juga bencana sosial. Juga menyinggung ma- Bersambung ke hal. 12

5 Salah seorang dari tiga Srikandi yang memfasilitasi program JCG di Kampung Hijau, RW 02 Kelurahan Pasar Minggu Kota Administrasi Jakarta Selatan, adalah Bu Yanti. Figur yang ceria dan cekatan ini adalah kelahiran Medan/15 April 1970, pendidikan formil SMA, dikaruniai seorang putra dan dua orang putri dari suami bernama Nuryatim. Bentuk pelatihannya mencakup : Kegiatan produksi kerajinan tangan dari sampah anorganik/bekas kemasan pelastik. Juga kegiatan Bank Sampah dan produksi pupuk kompos dari sampah basah/orga- nik. Tahapan dan memproduksi kerajinan adalah: (1) mengumpulkan sampah anorganik (kemasan- kemasan isi ulang atau sachet); (2) membersihkan dengan mencuci dan menjemur; (3) memilah dan memilih lalu disimpan menurut kelompoknya; (4) menyambung dengan jahitan mesin; (5) menggun- ting lembaran sambungan sesuai pola produk yang akan dibuat. Produk-produknya ada berupa tas laptop, tas jinjing, dompet, payung, dan tikar-tikar. Kegiatan ini memberi nilai ekonomi rumah tangga secara luas, misalnya beberapa warga mengambil sampah per kg untuk dibersihkan. Jasa ini dibayar Rp 6000 – Rp 8000 per kg ♦ ASA menjalankan Program PHBS (pola hidup bersih dan sehat), dan kampung ini pernah memenangkan penilaian PHBS pada Pokja 3 dengan indikator berfungsinya Taman HATINYA PKK. Hatinya, akro- nim dari Hijau, Asri, Tertib, Indah, dan NYAman. Dalam gerakan ini, Pokja 3 menghimbau dan memfasilitasi agar setiap rumah tangga menanam 5 pohon/tanaman. Memang, memasuki gang utama di kampung ini sangat terasa kesejukan yang ditimbul- kan oleh hijau dedaunan dan tentunya oksigen yang dilepaskannya. Asri juga kata yang tepat untuk kesan yang diberikan kampung ini. Tertib, demikian juga. Tak ada sampah yang berceceran di jalan. Saluran drainase di pinggir jalan bebas dari sampah anorganik maupun dedaunan. Indah, terutama ditimbulkan oleh beragam bentuk dedaunan di kiri kanan jalan, dan di banyak tempat dinaungi oleh rambatan pohon anggur. Nyaman, juga terasa di RW 02 ini. Di sepanjang gang utama kampung ini ada beberapa pasang tong sampah basah-kering, juga Bersambung ke hal. 11 GERAKAN 3R DI KAMPUNG HIJAU RW 02 Kelurahan Pasar Minggu Kecamatan Pasar Minggu Kota Administrasi Jakarta Selatan yang disebut juga Kampung Hijau merupakan teladan dalam pengelolaan sampah padat dengan pen- dekatan 3R (reuse, reduce, recycle). PT. Unilever dengan Program JCG (Jakarta Clean and Green) memberi pembinaan kepada fasilitator di kampung ini sejak Bagi RW 02 ini yang terdiri dari 11 RT, ada 3 orang fasilitator, yaitu Ibu Etii, warga RT. 009, Ibu Hj. Zuleha, warga RT. 008 dan Ibu Yanti Simarmata, warga RT.006. Ketiga Srikandi ini selain melatih warga RW 02 atau Kampung Hijau untuk mengelola sampah, juga melatih di lokasi-lokasi lain daerah binaan PT. Unilever. Dalam program ini diadakan lomba Bersih dan Hijau antar RT bagi seluruh daerah binaannya se-Jakarta Selatan. Pada 2007, RT.010/02 di Kampung ini menjadi pemenang Harapan I. Sebelum masuknya Program JCG warga dengan dimotori oleh Tim Penggerak PKK Kelurahan telah hal NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I PENGHIJAUAN LINGKUNGANPROFIL TOKOH17 NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I hal. 05 Sambungan dari hal. 2 KAMPUNG TOMANGPULO… Area berawa-rawa dan persawahan mulai menjadi sasaran perumahan dan permukiman. Kebanyakan para migran berasal dari daerah-daerah asal dan jalur KA, yaitu, Rangkas, Banten, Merak, Labuan, yang masuk dalam wilayah Jawa Barat, dan juga Jawa Tengah. Urbanisasi, disini terjadi bukan saja karena tingkat in-migrasi yang tinggi, namun wilayah kota juga jadi makin meluas. Karena area berawa-rawa di sebelah kiri Kali Banjir Kanal, yang kemudian, secara administrasi disebut sebagai wilayah Kelurahan Kota Bambu Utara, Kelurahan Jatipulo, dan Kelurahan Tomang, diurug secara swadaya untuk membangun rumah-rumah bagi dan oleh para migran, kemudian tumbuh menjadi permukiman kampung. Perkampungan ini lebih rendah daripada level Kali Banjir Kanal. Kare- na itu dibuatlah Kali Penghubung yang levelnya lebih rendah daripada permukiman perkampungan ini, yaitu pada tahun Kali Penghubung ini pada mulanya cukup memadai untuk mengatasi banjir di musim hujan di perkampungan ini. Ada rumah pompa di Rawa Kepak yang mengalihkan debet air ke Kali Banjir Kanal. Namun Kali Penghubung seringkali tidak memadai lagi karena sudah lama tidak dilakukan normalisasi secara terpadu. Saat ini, warga kampung adalah penduduk tetap yang merupakan generasi kedua, ketiga dan keempat dari para migran “penemu” kampung ini, di samping itu, ada sekira 30% penduduk sementara yang menyewa kamar/rumah ♦ AS – SEPT-09 Herianti dan Kerajinan Sampah Kemasan

6 bangan sistem pengelolaan air limbah permukiman yang berbasis masyarakat; (5f) Potensi yang ada dalam masyakarat dan dunia usaha terkait sistem pengelolaan air limbah permukiman belum sepe- nuhnya dapat dimanfaatkan. Berdasarkan uraian di atas (yang bersumber dari KLHS RTRW DKI Jakarta 2030), maka dipandang sangat perlunya mengakomodasi terobosan inovatif, terutama yang muncul dari masyarakat sebagai pe- laku utama dalam pembangunan berkelanjutan. Wujud solusi integral dari berbagai permasalahan mengenai air ini disebut SISTEM DAUR HIDROLO- GIK MANDIRI, bisa berskala RT hingga RW (jika tidak terlalu padat). Sistem ini juga perlu terintegrasi dengan penataan perumahan, terutama jika itu di kampung kumuh-padat-miskin. Hal ini dengan per- timbangan sistem daur hidrologik yang mencakup sanitasi masyarakat dan penyediaan air bersih ini akan lebih efektif jika ada aspek pembangunan vertikal, berupa rumah bersusun atau kampung susun atau tanah susun. Gagasan solusi ini secara lebih menyeluruh bisa disebut “Peremajaan Kampung Mandiri”. Air sebagai aspek utama kehidupan, yang merupakan 70% unsur penyusun tubuh manusia, yang adalah 70% bagian bumi ini perlu dipelihara dalam skala-skala yang lebih kecil untuk mengurangi beban badan air perkotaan. Secara alamiah, air mengalami daur hidrologik. Air merupakan unsur penting alam yang senantiasa terjaga keseimbangannya. Artinya, begitu meng- alami eksploitasi berlebihan, alam akan bergejolak untuk mencari keseimbangan baru. Gejolak inilah yang berwujud bencana. Banjir, krisis air bersih, hujan asam, bahkan tsunami yang bisa menelan ribuan jiwa manusia para pemanfaat air. Untuk kembali bersahabat dengan alam dalam pemanfaatan air, tidak berlebih jika para pihak ber- kepentingan, baik secara langsung atau tidak lang- sung untuk bahu-membahu berbuat sesuatu bagi realisasi sistem daur hidrologik mandiri ini. Kam- pung Tomangpulo Kel. Jatipulo siap jadi model ♦ AS & ASA Nov 09 pengolahan; (4c) Lebih dari 40% jarak septick tank dan sumur kurang dari 10 m; (4d) Pemasangan pipa untuk sistem terpusat perlu metoda jacking yang relatif sulit dan mahal; (4d) IPAL yang ada saat ini (waduk Setiabudi) masih bercampur dengan fungsi waduk sebagai pengendali banjir; (5) Kesulitan pengem-bangan system air limbah yang baik: (5a) Bentuk topografi DKI Jakarta yang relatif datar megakibatkan perlunya pemompaan; (5b) Air tanah tinggi, terutama di daerah Jakarta bagian Utara, menjadikan penerapan bidang resapan sistem on- site menjadi tidak layak; (5c) Utilitas bawah tanah relatif padat dan kemacetan lalu lintas yang tinggi akan menyulitkan dalam pemasangan pipa air limbah; (5d) Kesadaran masyarakat akan penting- nya pengelolaan air limbah permukiman masih ren- dah; (5e) Terbatasnya penyelenggaraan pengem- J Sistem Daur Hidrologik Mandiri dan Isu Strategis ke-8 RTRW DKI Jakarta 2030 Air adalah media utama di mana perubahan iklim mempengaruhi ekosistem bumi dan karena itu juga mempengaruhi mata pencaharian masyara- kat dan kesejahteraannya. Perlakuan yang tidak/ kurang bijak terhadap air (SDA) merupakan cikal bakal bencana alam maupun bencana sosial. Bahwa prinsip-prinsip RTRW 2030 adalah : (I) Pe- ngelolaan Pertumbuhan (Growth Management), bukan ‘Pembangunan’ biasa; (II) Basis Perencana- an Fungsional adalah Megalopolitan Jabodetabek- punjur; (III) Pergeseran dari Stakeholders Ke Shareholders. Bahwa lima dari 16 butir Strategi Pe- nataan Ruang ada bersangkutan dengan masalah air. Dan bahwa isu strategis ke-8 RTRW 2030 ada- lah Keterbatasan Penyediaan Air Bersih, Limbah dan Sampah. Maka disadari perlunya memberi per- hatian khususnya pada masalah air bersih dan lim- bah, dengan butir-butir sbb: Air Bersih  (a) Kuan- titas dan kualitas sumber air baku yang terus me- nurun; (b) Cakupan layanan yang masih rendah; (c) Kebocoran air yang relatif tinggi; (d)Tarif rata-rata air yang tinggi (RP. 7,224/M3); (e) Kualitas Air yang masih belum layak minum; (f) Ekstraksi air tanah dalam yang semakin tinggi, namun kualitas re- charge nya masihrendah; (g) Kualitas air tanah dangkal yang tercemar limbah cair; (h)Tarif air tanah yang masih rendah. Air Limbah  (1) Pe- ngembangan suatu sistem pengelolaan air limbah yang baik yang mampu melayani penduduk Jakarta sangat mendesak ; (2) Tingkat cakupan sistem pengelolaan limbah terpusat baru mencapai 0.85% (560 Ha dari luas Jakarta) dengan tingkat cakupan pelayanan sebesar 3,37% total penduduk; (3) Sebagian besar fasilitas pengolahan air limbah setempat/komunal masih belum memenuhi standar teknis, sementara penyedotan tinja pada sistem individual masih berbasis on call; (4) Kelemahan sistem air limbah yang ada saat ini : (4a) Sistem on-site atau individual belum mampu mengolah black dan Grey water sekaligus; (4b) Sarana sistem on-site yang ada tidak layak 7% dan sebanyak 18% air limbah dibuang langsung tanpa melalui sarana hal NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I JURNAL UTAMAJURNAL UTAMA17 NOVEMBER 2010 | NO. 01 | TAHUN I hal. 07


Download ppt "JURNAL PERKIM Kampung Tomangpulo – Kel. Jatipulo – H.02 Revitalisasi Kota Tua bagi Peruntukan Per- mukiman Mixed-Strata – H.03 Urgensi adanya IPAL di Kampung."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google