Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Diskusi Kasus Poli Geriatri Liesta. Fienda. Vito. Aslam. Fachrul. Dina.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Diskusi Kasus Poli Geriatri Liesta. Fienda. Vito. Aslam. Fachrul. Dina."— Transcript presentasi:

1 Diskusi Kasus Poli Geriatri Liesta. Fienda. Vito. Aslam. Fachrul. Dina.

2 Identitas Pasien  Nama: Tn. G  Usia: 73 tahun  Tanggal Lahir: 23 Desember 1939  Jenis Kelamin: Laki-Laki  Suku: Tionghoa  Agama: Katolik  Status Perkawinan: Menikah  Nama Istri :Yohana  Alamat: Gunung Sahari, Sawah Besar

3 Identitas Pasien  Pekerjaan: Pensiunan  Nama Kerabat Terdekat: Y  Nama Caregiver: Y  No. Rekam Medik:  Tgl. Pertama Berobat: 5 November 2012  Jaminan Kesehatan: Askes  Diperiksa di : Poliklinik Geriatri, RSCM

4  Anamnesis dilakukan ke pasien langsung (autoanamnesis) dan istri pasien (alloanamnesis) pada 23 Desember Anamnesis Keluhan Utama  Pasien datang dengan keluhan batuk yang memberat sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit (SMRS).

5 Riwayat Penyakit Sekarang  Pasien mengeluhkan batuk yang memberat sejak 1 minggu SMRS. Batuk berdahak berwarna putih dan tidak berdarah. Warna dahak agak berubah jadi kekuningan beberapa hari terakhir. Batuk tidak dipengaruhi cuaca dan aktivitas. Batuk hilang timbul. Ketika malam hari pasien sering batuk dan terbangun karena batuk. Batuknya dinyatakan cukup menganggu aktivitas. Nafsu makan menurun (biasanya makan setengah piring saja, bahkan hanya 3 sendok makan saja). Berat badan dikatakan ada sedikit penurunan. Terdapat keringat malam. Demam tidak ada. Mual tidak ada. Muntah tidak ada. Sesak napas tidak ada.

6 Riwayat Penyakit Sekarang  3 tahun SMRS, pasien mengeluhkan sesak nafas yang memberat. Sesak seperti ditekan dan hilang timbul sepanjang hari. Sesak tidak dipengaruhi cuaca. Pasien sering terbangun karena sesak. Jika beraktivitas pasien menjadi lebih sesak. Pasien membutuhkan bantal tambahan untuk tidur. Bengkak di tungkai tidak ada. Sesak diobati dengan istirahat. Dengan itu pasien merasa lebih baik namun tidak sembuh sepenuhnya.

7 Riwayat Penyakit Sekarang  Sesak disertai dengan nyeri dada. Nyeri dada seperti ditusuk dan menjalar ke punggung. Nyeri hilang timbul sepanjang hari. Nyeri tidak dipengaruhi aktivitas dan cuaca. Durasi nyeri bersamaan dengan sesak. Nyeri diobati dengan istirahat. Setelah pasien merasa kondisnya semakin memberat pasien memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Pasien dinayatakan menderita penyakit jantung. Pasien diberikan pengobatan. Dengan itu obat itu pasien merasa lebih baik. Pasien rajin kontrol.

8 Riwayat Penyakit Sekarang  1 tahun SMRS, pasien masih sering sesak nafas dan nyeri dada dengan karakterisktik seperti sebelumnya. Hanya saja frekuensinya lebih jarang. Selain itu, pasien mengeluh pusing seperti berputar. Pusing di seluruh lapang kepala. Pusing berlangsung hilang timbul dan dipengaruhi posisi. Ketika pasien bangun dari tidur pusing langsung seperti berputar.

9 Riwayat Penyakit Sekarang  Pasien juga merasa ada gangguan pendengaran. Pendengaran seperti terasa penuh dan berdengung. Telinga kanan tidak dapat mendegar secara jelas dibandingkan telinga kiri. Tidak pernah keluar cairan dari telinga dan tidak pernah merasa sakit telinga. Pasien jarang membersihkan telinga dengan cotton-bud. Tidak ada riwayat terpajan lama suara bising. Pasien memakai alat bantu dengar tapi sering dilepas karena merasa tidak nyaman.  Setelah merasa pusingnya cukup mengganggu aktivitas pasien memeriksakan diri ke poli saraf. Pasien diberikan obat. Dengan itu pasien merasa lebih baik. Pasien juga rajin kontrol. 1 minggu SMRS, sesak nafas berkurang, nyeri dada juga berkurang, pusing berputar berkurang.

10 Riwayat Penyakit Sekarang  Pasien juga mengeluh gangguan penglihatan. Saat ini pasien menggunakan kacamata silindris. Jika tidak menggunakan kacamata penglihatan pasien menurun. Pasien juga mengeluh gangguan berjalan. Pasien berjalan menggunakan tongkat. Jika tidak menggunakan tongkat pasien harus dibantu berjalan. BAB normal dn BAK normal. Kelemahan sisi tubuh tidak ada.

11 Riwayat Penyakit Dahulu  Pasien memiliki riwayat hipertensi, diabetes mellitus, dan kolesterol tinggi sejak 3 tahun yang lalu. Tekanan darah sekitar 180/90 mmHg. Riwayat stroke tidak ada. Katarak tidak ada. Osteoporosis tidak ada Penyakit hati tidak ada. Pasien tidak merokok.

12 Riwayat Penyakit Keluarga  Keluarga pasien tidak ada yang menderita Hipertensi, Diabetes Melitus, Kolesterol Tinggi. Di keluarga juga tidak ada riwayat stroke.

13 Riwayat Aktivitas dan Riwayat Sosial  Pasien sudah tidak bekerja, merupakan pensiunan guru. Pasien biasanya di rumah dan beraktivitas seperti: membersihkan rumah, menonton, membantu pekerjaan rumah tangga. Pasien memiliki banyak murid sehingga beberapa muridnya sering datang mengunjungi dan mengobrol dengan pasien.

14 Riwayat Obat-obatan  Pasien mengonsumsi clopidogrel 1 x 75 mg, amlodipin 1 x 10 g, neurodex 1 x 1 mg, simvastatin 1 x 20 g, furosemide 2 x 40 g, asam folat 1 x 3, Bicnat 3 x 1, B complex 3 x 1, Humalog.

15 Riwayat Kebiasaan  Pasien tidak pernah merokok maupun minum alkohol. Pasien juga jarang mengonsumsi kopi maupun jamu. Pasien rutin mengonsumsi obat yang telah diberikan.

16 Riwayat Finansial dan Jaminan  Pasien berobat dengan asuransi kesehatan (ASKES). Penghasilan pensiunan pasien sekitar 2,5 juta rupiah per bulan. Istrinya sebagai ibu rumah tangga. Penghasilan pensiunan itu dinilai cukup untuk mebiayai kehidupan sehari-harinya.

17 Pola Makan  Ketika pasien lagi berselera untuk makan, pasien mengonsumsi 1 piring nasi, 1 potong ikan, 1 telur, dan sayur secukupnya. Pasien makan 3 kali sehari (pagi, siang, malam). Sesekali pasien makan daging dan ikan, namun tidak terlalu sering, tergantung keuangan. Pasien juga sesekali makan mie namun tidak terlalu sering.  Ketika pasien tidak berselera pasien biasanya makan ½ piring nasi, ½ potong ikan, dan sayur secukupnya. Pasien makan 1-2 kali sehari. Lauk juga biasanya diganti dengan daging atau ikan. Pasien makan lauk tergantung selera dan nafsu makan

18 Mini Nutritional Assesment (MNA)  Total skor penapisan : 12  Pasien normal dan tidak berisiko

19 Kemampuan berkomunikasi  Pasien dapat berkomunikasi dengan baik. Jawaban pasien sesuai pertanyaan yang diajukan. Pasien juga mampu menceritakan riwayat perjalanan penyakitnya. Pasien mengatakan kemampuan berpikirnya agak menurun. Ketika masih mengajar, sekali membaca buku, pasien bisa menangkap maksud dari isi dari buku. Namun sekarang pasien sulit untuk melakukan itu.

20 Pemeriksaan Fisik Tanda Vital  Keadaan umum:Tampak sakit sedang  Kesadaran:Kompos mentis  Tekanan darah:124/66 mmHg  Frekuensi nadi:82 kali/menit (isi cukup, reguler)  Frekuensi napas: 18kali/menit  Suhu:36.7 o C Status Gizi  Tinggi badan:156cm  Berat badan:53,2kg  IMT:21,8kg/m 2  Status gizi:Baik

21 Pemeriksaan Fisik  Kulit: Biasa, turgor baik, dan tidak ada ulkus dekubitus.  Kepala:Normosefal, tidak ada deformitas dan nyeri tekan.  Rambut:Hitam, persebaran merata, dan tidak mudah dicabut  Wajah:Simetris, tidak ada nyeri tekan sinus  Mata:Konjungtiva normal, sklera normal, kornea tampak jernih.  Telinga:Liang telinga lapang, membran timpani intak,  Hidung:Tidak ada deformitas dan sekret, serta deviasi septum  Gigi dan mulut:Higiene baik  Tenggorokan:Faring dan uvula normal  Leher:Tidak ada bekas luka operasi, tidak ada massa, tidak teraba pembesaran KGB dan kelenjar tiroid. Trakea di tengah

22 Pemeriksaan Fisik Paru  Inspeksi:Simetris saat statis dan dinamis  Palpasi:Palpasi umum normal, ekspansi simetris, fremitus kiri=kanan  Perkusi:Sonor/sonor  Auskultasi:Vesikuler/Vesikuler, tidak ada rhonki dan mengi

23 Pemeriksaan Fisik Jantung  Inspeksi:Iktus kordis tidak terlihat  Palpasi:Iktus kordis teraba, tidak terdapat thrill, heaving, maupun lifting  Perkusi:Batas jantung kanan linea sternalis kanan sela iga 5, batas jantung kiri 1 jari medial linea midklavikularis kiri sela iga 5, batas pinggang jantung di linea sternalis kiri sela iga 2  Auskultasi:BJ I-II irregular, tidak ada murmur dan gallop

24 Pemeriksaan Fisik Abdomen  Inspeksi: tidak ada massa, terdapat bekas capd  Palpasi:tidak ada nyeri tekan di regio epigastrium, hepar dan limpa tidak teraba  Perkusi:Shifting dullness (-)  Auskultasi:Bising usus normal  Ekstremitas:Edema tungkai (-), akral hangat (+)

25 Pemeriksaan Fisik  CN I:Tidak dinilai  CN II:Lapang pandang sama dengan pemeriksan Bisa mengenali wrna  CN III, IV, VI : Proptosis(-), logoftalmus (-), eksoftalmus (-), blefarospasme (-), Gerakan bola mata normal, refleks cahaya langsung (+/+),refleks cahaya tak langsung (+/+), konvergen (normal), refleks akomodasi (+)  CN V:Sensorik dan motorik normal  CN VII:normal (tidak ada paresis)  CN VIII:Tes berbisik  telinga kanan kurang bisa mendengar dibandingkan kiri  CN IX, X:Arkus faring dan uvula simetris  CN XI: Motorik otot trapezius dan sternokleidomastoideus baik  CN XII:tidak ada deviasi lidah, atrofi (-), fasikulasi (-)

26 Pemeriksaan Fisik Motorik  Kekuatan otot  Tonus:Eutoni  Trofi:Tidak ada atrofi Refleks  Biseps:+2/+2  Triseps:+2/+2  Patela:+2/+2  Achiles:+2/

27 Pemeriksaan Fisik PanggulLutut Prglgn & jari kaki BahuSiku Prglgn & jari tgn Deformitas Tidak ada Nyeri tekan Tidak ada Gerak terbatas Tidak ada Benjolan/r adang Tidak ada ROM Pasif Normal ROM Aktif Normal

28 Pemeriksaan Status Fungsional Activities of Daily Living (ADL) Barthel  Skor Indeks Barthel pasien yaitu 19, artinya pasien mengalami ketergantungan ringan.

29 Pemeriksaan Status Fungsional Instrumental Activities of Daily Living (IADL) Lawton Jenis Kegiatan Dapat menggunakan telepon 1 Mampu pergi ke suatu tempat 2 Dapat berbelanja 1 Dapat menyiapkan makanan 1 Dapat melakukan pekerjaan RT 2 Dapat melakukan pekerjaan tangan 1 Dapat mencuci pakaian 2 Dapat mengatur obat-obatan 1 Dapat mengatur keuangan 1 Keterangan: 3 = ketergantungan 2 = butuh bantuan 1 = mandiri

30 Formulir EQ-5D MOBILITAS  Saya tidak mempunyai masalah untuk berjalan  Saya ada masalah untuk berjalan  Saya hanya mampu berbaring PERAWATAN DIRI SENDIRI  Saya tidak mempunyai kesulitan dalam perawatan diri sendiri  Saya mengalami kesulitan untuk membasuh badan, mandi, dan berpakaian  Saya tidak mampu membasuh badan, mandi, atau berpakaian sendiri

31 AKTIVITAS SEHARI-HARI  Saya tak mempunyai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari saya  Saya mempunyai keterbatasan dalam melaksanaan kegiatan sehari-hari  Saya tak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari RASA NYERI / RASA TAK NYAMAN  Saya sering merasakan agak nyeri atau agak kurang nyaman  Saya tidak mempunyai keluhan rasa nyeri atau rasa tak nyaman  Saya menderita karena keluhan rasa nyeri atau tidak nyaman RASA CEMAS / DEPRESI  Saya tidak merasa cemas/gelisah atau depresi (jiwa tertekan)  Saya kadang merasa agak cemas atau depresi  Saya merasa sangat cemas atau sangat depresi Formulir EQ-5D

32 NoPertanyaan Apakah Ibu/Bapak mengalami kesulitan untuk melihat walaupun mengenakan kacamata? √ 2 Apakah Ibu/Bapak mempunyai kesulitan pendengaran walaupun mengenakan alat bantu dengar? √ 3 Apakah Ibu/Bapak mengalami kesulitan berjalan? √ 4 Apakah Ibu/Bapak mengalami kesulitan untuk mengingat sesuatu atau kesulitan berkonsentrasi? √ 5 Ibu/Bapak mengalami kesulitan untuk merawat diri sendiri (contoh: mandi, membasuh badan, berpakaian) √ 6 Apakah Ibu/Bapak mengalami kesulitan saat berkomunikasi? (Keterangan: sulit dipahami ketika bercakap-cakap dengan orang lain karena kondisi kesehatan Ibu/Bapak (fisik, mental, emosional)) √ WHO UNESCAP

33 Catatan:  1: tidak mengalami kesulitan  2: sedikit mengalami kesulitan  3 : sangat mengalami kesulitan  4 : tak mampu sama sekali

34 Pemeriksaan Psikiatri Penampilan  Penampilan pasien sesuai dengan usia, wajar, dan terawat Perilaku dan aktivitas psikomotor  Pasien tampak tenang, pasien tidak menunjukkan gerakan-gerakan yang tidak wajar, pasien tidak terlihat hiperaktif maupun hipoaktif. Sikap terhadap pemeriksa  kooperatif Suasana Perasaan/emosi  Mood : eutim, ekspresi wajah sesuai dengan suasana hati.  Afek : lua s

35 Pemeriksaan Psikiatri Pembicaraan  baik, menjawab sesuai pertanyaan Persepsi  Tidak ada halusinasi Pikiran  Proses pikir : koheren  Isi pikir: normal Kesadaran dan Fungsi Kognitif  Kesadaran kompos mentis  Fungsi kognitif: fungsi kognitif kurang baik, skor pemeriksaan MMSE 27/30  Daya nilai: tidak ada gangguan  Pengendalian impuls: tidak ada gangguan

36 Geriatric Depresion Scale (GDS)  Pada pasien didapatkan hasil pemeriksaan GDS-nya 2 yang menunjukkan pasien kemungkinan kecil mengalami depresi  Keterangan:  0-4 kemungkinan kecil depresi;  5-9 kemungkinan besar depresi;  >10 depresi

37 Abbriviated Mental Test (AMT)  Hasil pemeriksaan AMT pada pasien bernilai 10, yang artinya fungsi ingatan pasien tidak mengalami gangguan.  Keterangan:  0-3 gangguan ingatan berat;  4-7 gangguan ingatan sedang;  8-10 normal

38 Mini Mental State Examination  Hasil MMSE menunjukkan skor 27. Dengan itu pasien tidak memiliki gangguan kognitif.  Keterangan :  normal,  gangguan ingatan ringan,  gangguan ingatan sedang,  0-9 gangguan ingatan berat

39

40 Daftar Masalah 1.Suspek Community Acquired Pneumonia (CAP) 2. Coronary Artery Disease (CAD) 3. Chronic Kidney Disease (CKD) stage 5 4. Hipertensi terkontrol 5. Diabetes Melitus tipe 2 6. Vertigo 7. Gangguan Berjalan 8.Gangguan Penglihatan 9.Gangguan Pendengaran

41 1. Suspek Community Acquired Pneumonia (CAP)

42  Pada pasien didapatkan gejala sesak nafas dan batuk yang disertai dengan dahak. Terdapat pula faktor risiko penyakit kronis seperti gagal jantung  Rencana diagnosis :  Pemeriksaan radiologi  Pewarnaan Gram sputum  Kultur dan resistensi sputum dan darah Atas Dasar

43  ditegakkan jika pada foto toraks terdapat infiltrat baru atau infiltrate progresif ditambah dengan 2 atau lebih gejala dibawah ini:  Batuk-batuk bertambah  Perubahan karakteristik dahak/purulent  Suhu tubuh >38 o C (aksila ) / riwayat demam  Pemeriksaan Fisik: Ditemukan tanda-tanda konsolidasi, suara nafas bronkial dan ronki  Leukosit > atau <4500 Diagnosis pasti Priyanti ZS. Lulu M. Bernida I. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Kmonuniti, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2003

44  Rencana terapi  Pasien rawat jalan  tanpa faktor komorbid  makrolid atau doxcycline Rencana Terapi

45 2. Coronary Artery Disease (CAD)

46 Atas Dasar  Pasien mengeluh nyeri dada seperti ditusuk-tusuk  Sesak nafas saat bekerja  Terbangun di malam hari karena sesak  Sesak saat berbaring tanpa bantal  Pasien memiliki riwayat hipertensi, diabetes mellitus, dan kolesterol tinggi sejak 3 tahun yang lalu  3 tahun SMRS: didiagnosis oleh dokter menderita penyakit jantung  berobat dengan teratur  lebih baik  Lab: Glukosa puasa 106 mg/dL, Glukosa 2 jam PP 184 mg/dL

47  Ketidakseimbangan pasok O2 dan kebutuhan O2 - Stenosis - Spasme - Aktivitas  kebutuhan ↑  Stenosis > 60%  iskemia nyeri khas (angina P.)  Ateroskelorsis koroner ~ proses umur ~ ketuaan  penebalan intima  elastisitas ↓  penumpukan kalsium  diameter intima ↑ pasok ↓

48 RENCANA DIAGNOSTIK  EKG  Foto toraks  Ekokardiografi  Magnetic resonance arteriography RENCANA TERAPI  Clopidogrel 1x75 mg/hari PO  Amlodipin 1x10 mg/hari PO

49 Modifikasi gaya hidup (pola diet, olahraga, dll) Pencegahan Sekunder

50 3. Chronic Kidney Disease (CKD) stage 5

51 4. Hipertensi terkontrol

52 Atas Dasar  Terdapat riwayat tekanan darah tinggi pada pasien. Diketahui sejak 3 tahun yang lalu sekitar 180/90 mmHg. Pasien teratur minum obat antihipertensi.  Riwayat keluarga: riwayat tekanan darah tinggi (-), riwayat penyakit ginjal (-), kolesterol tinggi (-)  Pasien termasuk hipertensi primer  Dari hasil PF: tekanan darah 126/66 mmHg  terkontrol

53 Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7 Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmHg)TDD (mmHg) Normal< 120Dan< 80 Prehipertensi atau80-89 Hipertensi Derajat atau90-99 Hipertensi Derajat 2 > 160atau> 100

54 Rencana Diagnosis Untuk melihat komplikasi dari hipertensi 1. Otak dan mata  Anamnesis: kelemahan tungkai (-), baal (-), kesemutan (-), riwayat stroke (-), gangguan pendengaran (+), gangguan penglihatan (+), pusing berputar (+)  PF: N.VIII saat tes berbisik telinga kiri lebih terdengar dibanding telinga kanan, koordinasi baik, tes keseimbangan tidak dilakukan  Perlu dilakukan funduskopi untuk melihat ada tidaknya retinopati  Perlu dilakukan tes garputala untuk menenukan jenis tuli

55 Rencana Diagnosis (2) 2. Jantung  Anamnesis: nyeri dada seperti ditusuk-tusuk (+), sesak nafas saat bekerja (+), terbangun di malam hari karena sesak (+), sesak saat berbaring tanpa bantal (+), bengkak pada kaki/tungkai (-), keringat dingin (+). Merokok (-), alkohol (-), hipertensi (+), diabetes melitus (+), dislipidemia (+), obesitas (-), riwayat hipertensi pada keluarga (-), riwayat diabetes melitus pada keluarga (-), dislipidemia pada keluarga (-). 3 tahun yang lalu didiagnosis menderita penyakit jantung.  PF: pada inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi jantung dalam batas normal  ADHF pada pasien merupakan komplikasi dari hipertensi yang diderita pasien  Perlu dilakukan pemeriksaan EKG

56 Rencana Diagnosis (3) 3. Penyakit ginjal  Anamnesis: haus bertambah (+), poliuri (-), hematuri (-), lekas lelah/lemas (+), berkeringat (+), mual (-), muntah (-)  Lab: GDS?ureum/kreatinin?Hb?Na?K?Fosfat?Ca?Urin?  Perlu dilakukan perhitungan GFR

57 Rencana Diagnosis (4) 4. Penyakit arteri perifer - Anamnesis: ekstremitas dingin (-) - PF: akral hangat, bruit karotis(-)  Pada pasien tidak terdapat komplikasi penyakit arteri perifer

58 Rencana Terapi  Target tekanan darah: < 130/80 mmHg  Saat ini tekanan darah pasien terkontrol  Intervensi yang diberikan hanya intervensi nonfarmakologi yaitu modifikasi gaya hidup dengan cara menurunkan berat badan; memperbanyak makan buah, sayuran, makanan rendah lemak, kolesterol, dan garam.

59 5. Diabetes Melitus Tipe 2

60  Atas dasar  Pemeriksaan gula darah puasa 106 (target < 100) dan pemeriksaan gula darah 2 jam PP 186 (target < 140)  Rencana Diagnosis :  Pemantauan Glukosa Darah Mandiri  Pemeriksaan kadar glukosa darah  Pemeriksaan A1C Atas Dasar, Rencana Diagnosis

61 Diagnosis  Kecurigaan DM apabila ditemukan keluhan klasik DM :  3P : poliuri, polidipsi, polifagia  Lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi, pruritus vulva.  Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui 3 cara:  Gejala klasik DM + GPS ≥ 200 mg/dL  Gejala klasik DM + GPP ≥ 126 mg/dL  Kadar gula darah plasma 2 jam pada TTGO ≥ 200 mg/dL

62 Rencana Terapi  4 hal utama:  Edukasi  Terapi gizi medis  Latihan jasmani  Intervensi farmakologis

63 Terapi (Edukasi)  Edukasi (Promosi Perilaku Sehat) :  Perilaku sehat :  Pola makan sehat dan meningkatkan kegiatan jasmani  Menggunakan obat diabetes secara teratur  Melaksanakan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri  Perawatan kaki secara berkala  Memiliki kemampuan mengenal keadaan akut  Perubahan Perilaku :  Memberikan dukungan, nasehat dan motivasi  Memberikan informasi-informasi sederhana terkait DM  Melibatkan keluarga dalam proses edukasi

64 Terapi (Nutrisi)  Komposisi Makanan  Karbohidrat :  Total yang dianjurkan % total asupan energi  Pembatasan karbohidrat < 130 g/hari tidak dianjurkan  Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi  Makan tiga kali sehari  Lemak :  Asupan lemak dianjurkan % dari kebutuhan kalori  Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori  Lemak tidak jenuh ganda < 10 %  Konsumsi kolestrol <200 mg/hari

65 Terapi (Nutrisi)  Protein  Dibutuhkan % total asupan energi  Pada pasien nefropati perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kgBB/hari atau 10% dari kebutuhan energi  Natrium  Asupan natrium yang dianjurkan tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 gram garam dapur  Bagi pasien hipertensi dibatasi sampai 2400 mg  Serat  Dianjurkan cukup konsumsi serat dari kacang-kacangan, buah, sayuran  Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/hari

66 Terapi (Nutrisi)  Kebutuhan kalori : Kebutuhan kalori basal besarnya kalori/kgBB ideal, ditambah atau dikurangi yang bergantung beberapa faktor

67 Terapi (Nutrisi)  Berat Badan ideal :  Broca  Berat badan ideal : 90% x (TB – 100) x 1 kg  Pada pria < 160cm dan wanita < 150 cm  (TB – 100) x 1 kg  Normal : BB ideal ± 10 % Kurus : < BBI – 10% Gemuk : > BBI + 10%

68 Terapi (Nutrisi)  Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori:  Jenis Kelamin : Wanita (25 kal/kgBB) dan Pria (30 kal/kgBB)  Umur : (-5%), (-10%), >70 (-20%)  Aktivitas Fisik : +10% (istirahat), +20% (ringan), +30% (sedang) dan +50% (sangat berat)  Berat Badan : Kegemukan (kurangi 20-30%), kekurusan (tambahkan 20-30%), penurunan berat badan (wanita ( kkal/hari) pria ( kkal/hari)

69 Terapi (Jasmani)  Latihan Jasmani :  Dilakukan 3-4x seminggu kurang lebih 30 menit  Hindari : menonton, main komputer dan aktivitas sedenter  Persering : jalan cepat, golf, otot, bersepeda, sepak bola atau olahraga lain dengan aktivitas tinggi  Kebiasaan : berjalan kaki ke tujuan dekat, menggunakan tangga, bersosialisasi.

70 Terapi (Farmakologis)  Obat Hipoglikemi oral :  Pemicu sekresi insulin : sulfonil urea dan glinid  Peningkat sensitivitas insulin : metformin dan tiazolidindion  Penghambat glukoneogenesis : metformin  Penghambat absorpsi glukosa : glukosidase alfa  DPP-IV inhibitor

71 Target Pengendalian DM ParameterRisiko KV (-)Risiko KV (+) IMT (kg/m 2 )18,5 - <23 Tekanan darah sistolik (mmHg) < 130 Tekanan darah diastolik (mmHg) < 80 Glukosa darah puasa (mg/dL) < 100 Glukosa darah 2 jam PP ( mg/dL) < 140 HbA1c (%)< 7 Kolestrol LDL (mg/dL)< 100 Kolestrol HDL (mg/dL)Pria > 40 Wanita > 50 Pria > 40 Wanita > 50 Trigliserid (mg/dL)< 150

72 Terapi (Farmakologis)  Obat Hipoglikemi oral :  Pemicu sekresi insulin : sulfonil urea dan glinid  Peningkat sensitivitas insulin : metformin dan tiazolidindion  Penghambat glukoneogenesis : metformin  Penghambat absorpsi glukosa : glukosidase alfa  DPP-IV inhibitor

73 6. Vertigo

74 1 tahun SMRS, pasien mengeluh pusing seperti berputar. Pusing di seluruh lapang kepala. Pusing berlangsung hilang timbul dan dipengaruhi posisi. Ketika pasien bangun dari tidur pusing langsung seperti berputar. Pasien juga merasa ada gangguan pendengaran. Pendengaran seperti terasa penuh dan berdengung. Setelah merasa pusingnya cukup mengganggu aktivitas pasien memeriksakan diri ke poli saraf. Pasien diberikan obat. Dengan itu pasien merasa lebih baik. Pasien juga rajin kontrol. 1 minggu SMRS, sesak nafas berkurang, nyeri dada juga berkurang, pusing berputar berkurang. Atas Dasar

75 Rencana Diagnosis  CT Scan kepala  MRI kepala  Tes Nistagmus  Dix Hallpike  Tes Fukuda, Romberg, Tandem Gait Rencana Terapi  Skopolamin  Epley Mannuver

76 7. Gangguan Berjalan

77 Atas Dasar  Pasien mengeluh gangguan berjalan. Pasien berjalan menggunakan tongkat. Jika tidak menggunakan tongkat pasien harus dibantu berjalan.  Hasil pengkajian form risiko jatuh ≥ 4 (risiko jatuh tinggi)

78 RENCANA TERAPI (NONFARMAKA)  Mengkomunikasikan risiko jatuh pasien kepada dokter dan perawat, serta kepada pasien dan keluarga pasien agar keluarga pasien selalu menjaga pasien agar tidak jatuh dan selalu menemani pasien  Memberikan terapi fisik dan penyuluhan berupa latihan cara berjalan, latihan keseimbangan berupa sitting balance dan standing balance, penguatan otot, memberikan alat bantu ketika pasien berjalan, menganjurkan pemakaian sepatu dan sandal yang sesuai,  Mengubah lingkungan menjadi lebih aman (tidak licin), pencahayaan rumah yang cukup, mengganti kloset jongkok di rumah pasien dengan kloset duduk jika memungkinkan

79 8. Gangguan Penglihatan

80 9. Gangguan Pendengaran

81 Atas Dasar  Pasien mengeluhkan penurunan fungsi pendengaran pada telinga kanan sejak 1 tahun yang lalu. Telinga seperti terasa penuh dan berdengung. Tidak pernah keluar cairan dari telinga dan tidak pernah merasa sakit telinga. Pasien jarang membersihkan telinga dengan cotton-bud. Tidak ada riwayat terpajan lama suara bising. Pasien memakai alat bantu dengar tapi sering dilepas sendiri karena merasa tidak nyaman

82 Rencana Diagnosis  Memeriksa liang telinga dengan otoskop  Melakukan pemeriksaan rinne dan weber  Pemeriksaan audiometri

83 Rencana Terapi  Bertujuan untuk menghindari terjadinya disabilitas dan gangguan psikologis pada pasien. Diharapkan pasien bisa berkomunikasi lebih baik dengan lingkungan sosialnya Menggunakan alat bantu dengar (ABD) pada telinga kanan Rehabilitasi auditorik: latihan persepsi, latihan mendengar aktif, latihan membaca mulut dan membaca ekspresi wajah. Edukasi keluarga pasien untuk selalu mengajak pasien berbicara dan tidak meninggalkan pasien sendirian.

84 Daftar Pustaka  Buku neuro ttg vertigo  i JC & Epley J. Benign Paroxysmal Positional Vertigo. [online] 2013 [cited: 28 Desember 2013]. Available from:  Setiati S, Laksmi PW. “Gangguan Keseimbangan, Jatuh dan Fraktur” dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5 Jakarta : Interna Publishing h  Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Pedoman tatalaksana penyakit kardiovaskular di Indonesia. 2 nd Ed. Jakarta: PERKI,  Setiati S, Laksmi PW. “Gangguan Keseimbangan, Jatuh dan Fraktur” dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5 Jakarta: Interna Publishing h. 1394


Download ppt "Diskusi Kasus Poli Geriatri Liesta. Fienda. Vito. Aslam. Fachrul. Dina."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google