Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 Pertemuan 2 Sistem Bilangan Matakuliah: Bahasa Rakitan Tahun: 2014 Pertemuan ke 2Sistem Bilangan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 Pertemuan 2 Sistem Bilangan Matakuliah: Bahasa Rakitan Tahun: 2014 Pertemuan ke 2Sistem Bilangan."— Transcript presentasi:

1 1 Pertemuan 2 Sistem Bilangan Matakuliah: Bahasa Rakitan Tahun: 2014 Pertemuan ke 2Sistem Bilangan

2 2 Learning Outcomes Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : menjelaskan format data dan sistem bilangan yang digunakan pada bahasa rakitan. Sistem Bilangan

3 3 Outline Materi Ukuran data (bit, nibble, byte, word) Kode data (ASCII, BCD) Bilangan biner Bilangan oktal Bilangan desimal Bilangan heksadesimal Konversi sistem bilangan Komplement-1 dan komplement-2 Bilangan signed dan unsigned Carry, borrow, overflow Sistem Bilangan

4 4 > FORMAT DATA Bit (Binary digit) – Bagian terkecil dari data digital – Nilai : 0 atau 1 Nibble – Ukuran : 4 bit – Jika digunakan untuk merepresentasikan bilangan Sign maka range nya mulai dari : -8 s/d 7, – Jika digunakan untuk merepresentasikan bilangan unsign maka range nya mulai dari : 0 s/d 15 Sistem Bilangan

5 5 > Byte –Ukuran : 8 bit –Jika digunakan untuk merepresentasikan bilangan Sign maka range nya mulai dari : -128 s/d 127, –Jika digunakan untuk merepresentasikan bilangan unsign maka range nya mulai dari : 0 s/d 255 Sistem Bilangan

6 6 > Word –Ukuran : 16-bit –Jika digunakan untuk merepresentasikan bilangan Sign maka range nya mulai dari : s/d –Jika digunakan untuk merepresentasikan bilangan unsign maka range nya mulai dari : 0 s/d Sistem Bilangan

7 7 > ASCII –Ukuran : 8-bit –Mulai dari Bilangan ASCII 0 s/d 255 BCD (Binary Code Decimal) –Ukuran : 8- bit –unpacked BCD : Rangenya mulai 0 s/d 9 –packed BCD : Rangenya mulai 0 s/d 99 Sistem Bilangan

8 8 > Sistem Bilangan Bilangan Biner –Berbasis : 2 –Lambang Bilangannya : 0, 1 –Cara penulisannya : (1010) 2 –Dalam bahasa rakitan ditulis : 1010B Bilangan Octal –Berbasis : 8 –Lambang Bilangannya : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 –Cara penulisannya : (167) 8 –Dalam bahasa rakitan ditulis :167O Sistem Bilangan

9 9 > Bilangan Desimal –Berbasis : 10 –Lambang Bilangannya : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 –Cara penulisannya : (197)10 –Dalam bahasa rakitan ditulis : 197D atau 197 Bilangan Hexa-Decimal –Berbasis : 16 –Lambang Bilangannya : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F –Cara penulisannya : (9A7)16 –Dalam bahasa rakitan ditulis : 9A7H Sistem Bilangan

10 10 > Konversi Sistem Bilangan Konversi Bilangan Desimal ke Bilangan Biner –Contoh : (19)10 = ( ) 2 –Caranya: 19 : 2 = 9 sisa 1 9 : 2 = 4 sisa 1 4 : 2 = 2 sisa 0 2 : 2 = 1 sisa 0 1 : 2 = 0 sisa 1 –Setelah hasil bagi sama dengan 0 => Selesai, dan hasil konversinya adalah sisanya dan dibaca dari bawah ke atas. –Jadi hasilnya : (19) 10 = ( ) 2 Sistem Bilangan

11 11 > Konversi Bilangan Biner ke Bilangan Desimal –Contoh : (10011) 2 = ( ) 10 –Caranya: 1x x x x x = 19 –Pangkat adalah nomor bit dihitung dari kanan dan dimulai dengan bit nomor 0. –Jadi hasilnya : (10011) 2 = ( 19 ) 10 Sistem Bilangan

12 12 > Konversi Bilangan Desimal ke Bilangan Octal –Contoh : (39) 10 = ( ) 8 –Caranya: 39 : 8 = 4 sisa 7 4 : 8 = 0 sisa 4 –Setelah hasil bagi sama dengan 0 => Selesai. Dan hasil konversinya adalah sisanya dan dibaca dari bawah ke atas. –Jadi hasilnya : (39) 10 = ( 47 ) 8 Sistem Bilangan

13 13 > Konversi Bilangan Desimal ke Bilangan Hexadecimal –Contoh : (49) 10 = ( ) 16 –Caranya: 49 : 16 = 3 sisa 1 3 : 16 = 0 sisa 3 –Setelah hasil bagi sama dengan 0 => Selesai. Dan hasil konversinya adalah sisanya dan dibaca dari bawah ke atas. –Jadi hasilnya : (49) 10 = ( 31 ) 16 Sistem Bilangan

14 14 > Konversi Bilangan Biner ke Bilangan Octal –Contoh : (10011) 2 = ( ) 8 –Caranya: kelompokkan bilangan biner menjadi tiga bit, tiga bit dari kanan (LSB), kemudian koversikan 3-bit tersebut ke bilangan Octal. –Hasil pengelompokkannya sbb: (10) dan (011) –(10) 2 = (2) 8 dan (011) 2 = (3) 8 –Jadi: (10011) 2 = ( 23 ) 8 –Gunakan tabel berikut : Sistem Bilangan

15 15 > Sistem Bilangan

16 16 > Konversi Bilangan Biner ke Bilangan Hexadecimal –Contoh : ( ) 2 = ( ) 16 –Caranya: kelompokkan bilangan biner menjadi 4-bit, 4-bit dari kanan (LSB), kemudian koversikan 4-bit tersebut ke bilangan Hexadecimal –Hasil pengelompokkannya sbb: (101) dan (1101) –(101) 2 = (5) 16 dan (1101) 2 = (D) 16 –Jadi: ( ) 2 = ( 5D ) 16 –Gunakan tabel berikut : Sistem Bilangan

17 17 > Sistem Bilangan

18 18 > Konversi Bilangan Octal ke Bilangan Desimal –Contoh : (176) 8 = ( ) 10 –Caranya: 1x x x8 0 = = 126 –Pangkat adalah nomor bilangan dihitung dari kanan dan dimulai dengan nomor 0. –Jadi hasilnya : (176) 8 = (126) 10 Sistem Bilangan

19 19 > Konversi Bilangan Octal ke Bilangan Biner –Contoh : (345) 8 = ( ) 2 –Caranya: Setiap digit bilangan octal dikonversi ke 3-bit bilangan biner, kemudian gabung bilangan biner tersebut. (3) 8 = (011) 2 (4) 8 = (100) 2 (5) 8 = (101) 2 –Jadi: (345) 8 = ( ) 2 Sistem Bilangan

20 20 > Konversi Bilangan Octal ke Bilangan Hexadecimal –Caranya: Rubah bilangan octal ke biner dulu, kemudian biner tersebut dirubah ke Hexadecimal. Konversi Bilangan Hexadecimal ke Bilangan Desimal –Contoh : (1B6) 16 = ( ) 10 –Caranya: 1x x x16 0 = = 438 –Pangkat adalah nomor bilangan dihitung dari kanan dan dimulai dengan nomor 0. –Jadi hasilnya : (1B6) 16 = (438) 10 Sistem Bilangan

21 21 > Konversi Bilangan Hexadecimal ke Bilangan Biner –Contoh : (1F5) 16 = ( ) 2 –Caranya: Setiap digit bilangan Hexadecimal dikonversi ke 4-bit bilangan biner, kemudian gabung bilangan biner tersebut. (1) 16 = (0001) 2 (F) 16 = (1111) 2 (5) 16 = (0101) 2 –Jadi: (1F5) 16 = ( ) 2 Sistem Bilangan

22 22 > Konversi Bilangan Hexadecimal ke Bilangan Octal –Caranya: Rubah bilangan Hexadecimal ke biner dulu, kemudian biner tersebut dirubah ke Octal. Komplement-1 (one's Complement) –Setiap bit-0 dirubah menjadi bit-1, dan setiap bit-1 dirubah menjadi bit-0. –Contoh: Komplement-1 dari ( ) 2 adalah ( ) 2 Sistem Bilangan

23 23 > Komplement-2 (two's Complement) –Adalah komplement-1 ditambah 1. –Contoh: Komplement-2 dari ( ) 2 adalah ( ) 2 Bilangan Unsigned –Bilangan tak bertanda (selalu positif). –Semua bit digunakan untuk menghitung bobot bilangan. –Contoh : ( ) 2 = (227) 10 Sistem Bilangan

24 24Sistem Bilangan

25 25 > Bilangan Signed –Bilangan bertanda (nilainya bisa negatif bisa positif). –MSB (most significan bit) menunjukkan tanda (sign). Bila MSB=1 berarti bilangan tsb, negatif dan bila MSB=0 berarti bilangan positif. –Contoh: ( ) 2 = (55) 10 ( ) 2 = (-29) 10 Sistem Bilangan

26 26Sistem Bilangan

27 27Sistem Bilangan

28 28Sistem Bilangan

29 29Sistem Bilangan

30 30 > Carry –Terjadi saat operasi penjumlahan dimana hasilnya lebih besar dari range basis bilangan yang digunakan, sehingga ada nilai yang dikirim ke digit di sebelah kirinya yang bobotnya lebih besar Borrow –Terjadi saat operasi pengurangan (a-b), dimana b > a sehingga harus meminjam dari digit di sebelah kirinya (yang berbobot lebih besar) Sistem Bilangan

31 31 > Overflow –Terjadi pada bilangan signed –Terjadi apabila: Penjumlahan dua buah bilangan positif menghasilkan bilangan negatif Penjumlahan dua buah bilangan negatif menghasilkan bilangan positif Bilangan negatif dikurangi bil. postip menghasilkan bil. postip Bilangan positip dikurangi bilangan negatif menghasilkan negatif Sistem Bilangan

32 32 > Contoh : Penjumlahan bilangan sign 4-bit (0101) 2 + (0100) 2 = (1001) 2 Overflow karena dua buah bilangan positif dijumlahkan menghasilkan bilangan negatif. Operasi Bilangan –Penjumlahan –Pengurangan –Perkalian –Pembagian Sistem Bilangan

33  Practice conversions: Binary Decimal Octal Hex  Practice conversions: Decimal Binary Octal Hex  Convert into a hexadecimal number.  Convert into a hexadecimal number. Exercise 33Sistem Bilangan

34 Any Questions ???????? End of Session Pertemuan ke 234Sistem Bilangan


Download ppt "1 Pertemuan 2 Sistem Bilangan Matakuliah: Bahasa Rakitan Tahun: 2014 Pertemuan ke 2Sistem Bilangan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google