Assalamualaikum. Wr. wb.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Logika Bahasa Ilmiah - 6 -
Advertisements

PEMANFAATAN ALAT PERAGA MATEMATIKA DALAM PEMBELAJARAN DI SD
Konstruktivisme dalam Pembelajaran Oleh: Tim Penelitihan dan Pengembangan Pendidikan Kopertis Wilayah VII Jawa Timur.
Materi 14 Penelitian Ilmiah dan Non Ilmiah
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
PENDEKATAN DALAM PENGAJARAN MATEMATIKA
Teori Belajar Konstruktivisme
PENGANTAR RISET KEPERAWATAN
ILMU ALAMIAH DASAR (IAD)
METODOLOGI PENELITIAN BISNIS
PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA ( PMRI)
Analisis Kurikulum Matematika
SAINS – TEKNOLOGI - MASYARAKAT
Dra. Entri Sulistari, M.Si
PEMBELAJARAN IPA SD.
Mengembangkan Pengetahuan
KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN
PENGETAHUAN Knowledge
TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME
TUGAS PEMBELAJARAN IPA di SD
HAND OUT METODE PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR
RENCANA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD
Sifat- Sifat Bangun Datar
Teori Belajar Kognitivisme
TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
PERTEMUAN 4 HARLINDA SYOFYAN, S.Si., M.Pd
HAND OUT METODE PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR
KARAKTERISTIK MATEMATIKA
SYARAT DAN TUJUAN PENELITIAN Dwiyati Pujimulyani 2015
STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
RUMUS LUAS BANGUN DATAR UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN GEBOG
TEORI BELAJAR Teori Keterampilan Proses Oleh : Iswadi, M. Pd.
PERTEMUAN 2 HARLINDA SYOFYAN, S.Si., M.Pd
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN TEORI BANDURA Oleh : Casutri
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING BERBANTUAN BENDA KONKRET SISWAKELAS 5 SDNEGERI01.
Hubungan Etika dan Ilmu
LOGIKA.
REFLEKSI TENTANG PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
KARAKTERISTIK MATEMATIKA
BERPIKIR COMMEN SENSE VERSUS BERPIKIR ILMIAH
HAKIKAT PEMBELAJARAN IPA DI SD
Pelatihan komputer Padang 26 s/d 31 Juli 2009 By
Variabel Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai atau yang menjadi pembeda. Variabel penelitian  segala sesuatu yang.
RUMUS LUAS DAN KELILING BANGUN DATAR
SALAH NALAR RINI ASTUTI S.I.Kom.
Assalamu’alaikum Wr.Wb
PENDEKATAN SCIENTIFIC
TEORI KOGNITIVISME.
Sarana Berfikir ilmiah
Sarana Ilmiah Dian Rahmawati F
STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
Tujuan Membuat indikator dari SK dan KD tentang segiempat
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yg tidak dapat dipisahkan
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
ASESMEN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA
TEORI BELAJAR Teori Keterampilan Proses Oleh : Iswadi, M. Pd.
PENGGUNAAN ALAT PERAGA CHART DAN ABACUS DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG PENGURANGAN BILANGAN CACAH DI KELAS III SDN 353 PATALA BUNGA.
PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ( CTL ). Latar Belakang Dasar pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar.
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yg tidak dapat dipisahkan
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
RUMUS LUAS BANGUN DATAR
L persegi panjang = …….., Sehingga :
SALAH NALAR Karina Jayanti.
RUMUS LUAS BANGUN DATAR
INDIKATOR PETA KONSEP MATERI LATIHAN SELESAI PENGANTAR Program Studi Magister Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas.
MENEMUKAN RUMUS LUAS BANGUN DATAR. PENURUNAN RUMUS LUAS BANGUN DATAR Luas persegipanjang Luas persegi Luas segitigaLuas jajar genjang Luas trapesium Luas.
Transcript presentasi:

Assalamualaikum. Wr. wb

Pendekatan Pembelajaran Matematika (1) Kelompok 3 Anggota Kelompok : Tri Kurnia Setiya Ningrum Rizqi Tafip Riyadi Ayu Oktafia Purbi

A. Pendekatan Induktif Pendekatan induktif menurut filosof Inggris Prancis Bacon (1561) yang menghendaki agar penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang konkrit sebanyak mungkin, berpikir induktif ialah suatu proses berpikir yang berlangsung dari khusus menuju ke umum

Tepat atau tidaknya cara berpikir yang diambil secara induktif ini menurut Purwanto (dalam Sagala, 2003 :77) bergantung pada representative atau tidaknya sample yang diambil mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sample yang diambil berarti makin refresentatif dan makin besar pula taraf dapat dipercaya dari kesimpulan itu dan sebaliknya.

Pada hakikatnya matematika merupakan suatu ilmu yang diadakan atas akal yang berhubungan dengan benda-benda pikiran yang abstrak. Para ahli pendidikan matematika menyadari bahwa murid-murid masih suka menggunakan akalnya dalam belajar matematika yang menggunakan pendekatan deduktif. Berdasarkan atas pertimbangan ini, dan alasan lain, maka pada program pengajaran sekarang banyak dipakai bermacam-macam pendekatan.

B. Pendekatan Deduktif Pendekatan deduktif merupakan cara menarik kesimpulan dari hal yang umum menjadi yang khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Ini terdiri dari dua macam pernyataan yang benar dan sebuah kesimpulan (konklusi). Kedua pernyataan pendukung silogisme disebut premis (hipotesis) yang dibedakan menjadi premis mayor dan premis minor

Perhatikan pernyataan berikut: “jika dua pasang sudut dari dua segitiga sama besar, maka pasangan sudutnya yang ketiga sama pula”   Silogisme yang berhubungan dengan pernyataan itu adalah : Premis mayor : Jumlah ketiga sudut segitiga adalah 1800 Premis minor : Dua pasang sudut dua segitiga itu sama.

Mengajarkan konsep dengan pendekatan deduktif dimulai dengan mengemukakan definisinya dan disusul dengan contoh-contoh yang dapat diberikan oleh guru atau dicari oleh murid. Ini merupakan sebaliknya dari mengajar dengan pendekatan induktif. Pada pendekatan induktif, contoh-contoh diberikan terlebih dahulu oleh guru dan kemudian dirumuskan definisinya. Seringkali definisi ini dapat ditemukan oleh murid.

C. PENDEKATAN SPIRAL Pendekatan ini digunakan untuk mengarjakan konsep matematika.Pada pembelajaran matematika yang menggunakan pendekaatan yang menggunakan pendekatan ini,suatu konsep tidak diajarkan dari awal sampai akhir secara sebagian-sebagian,berulang-ulang,dan dalam selang waktu yang terpisah –pisah, mula-mula konsep tersebut dikenalkan dengan cara dan dalam bentuk sederhana yang makin lama makin kompleks dan dalam bentuk abstrak dan pada akhirnya digunakan bentuk umum dalam matematika,diantara selang waktu yang terpisah itu diberikan konsep-konsep lain

Misalnya dalam pembelajaran konsep A,diselang waktu pertama konsep A dikenalkan dalam sebuah topic dengan cara intutitif melalui benda –benda konkret,atau gambar-ganbar sesuai dengan kemampuan siswa dan konsep A dinyatakan dengan notasi symbol yang sederhana. Setelah selang waktu selesai,pembelajaran dilanjutkan dengan konsep-konsep lain (misalnya,konsep B dan C), mungkin konsep A dengan notasi yang sederhana selanjutnya digunakan untuk konsep B dan konsep C. Disela-sela waktu yang terpisah selanjutnya,konsep A diajarkan lagi yang semakin lama semakin kompleks dan dalam bentuk yng lebih abtrak yang akhirnyaa menggunakan notasi yng umum digunakan matematika.

Pembelajaran dari kelas 3 SD sampai kelas 3 SMP (kurikulum 1994) Dikelas III SD,mula-mula dikenalkan dengan perbandingan luas permukaan benda dengan luas persegi atau persegi pnjang, menghitung luas persegi dan persegi panjang dengan membilang petak persegi, kemudian meluas untuk permukaan tidak teratur namun masih menggunakan cara yang sama. Dikelas IV SD,menghitung luas persegi dan persegi panjang dengan membilang petak persegi satuan atau ulangan,dilanjutkan dengan cara mengalikan banyak petak persegi pada kolom dan baris dan dikenal rumus luas persegi dan persegi panjang dan satuan bakunya. Dikelas V SD dikenalkan rumus luas segitiga Dikelas VI SD dikenalkan luas jajaran genjang dengan membandingkan luas persegi panjang yang tinggi dan alasnya sama , dikenalkan rumus lingkaran dan penggunaanya

Di SMP kelas 1 Cawu 2 mengingat kembali mengenai luas persegi dan persegi panjang(ulangan), dilanjutkan menentukan luas bidang kubus dan balok. Di SMP kelas I Cawu 3 mengingat kembali mengenai luas persegi panjang dan persegi (ulangan),dilanjutkan menemukan rumusanya,kemudian menghitung luas bangun datar lain (jajaran genjang,segitiga)menggunakan luas persegi pajang, dan dalam selang lain baru dikenalkan menemukan rumus segitiga. Di SMP kelas II Cawu 3, dikenalkan menemukan rumus belah ketupat,layang-layang dan trapezium. Di SMP kelas II Cawu 3, mengingat pengertian luas lingkaran,menggunakan pendekatan luas lingkaran dengan menggunakan persegi satuan,menemukan rumus luas lngkaran dan menggunakannya.

Dari pebahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan spiral merupakan suatu prosedur pembahasan konsep yang dilalui dengan cara sederhana dari konkret ke abstrak,dari cara intutif ke analisis,dari pendidikan (eksplorasi) ke penguasaan dari tahap paling rendah hingga tahap paling tinggi,dalam selang waktu yang cukup lama dan dalam waktu yang terpisah-pisah.

D. PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME Konstruktivise merupkan ladasan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba.Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep,atau kaidah yang siap untuk diambil dan diangkat. Tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui nengalaan nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan suatu yang berguna bagi dirinya, bergelut dengan ide-ide, yaitu pembelajaran berdasarkan konstruktiv siswa harus mengkonstruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri.

Adapun prinsip konstrakstifisme piaget menurut De friaes dan Kohleberg(Suparno,1997:70).yang perlu diperhatikan dalam pebelajaran matematika antara lain adalah: Struktur psikologi harus dikembangkan dulu sebelum persoalan bilangan dikembangkan dulu. Bila siswa mencoba menalarkan bilangan sebelum mereka struktur logika yang cocok dengan persoalanya tidak akan ada jalan. Struktur psikologi(skemata) harus dikembangkan lebih dulu sebelum symbol formal diajarkan.Simbol adalah bahasa matematis suatu konsep, tetapi bukan konsepnya sendiri.

Siswa harus mendapatkan kesempatan untuk menemukan (membentuk) relasi matematis sendiri, dan hanya selalu dihadapkan pada pemikiran orang dewasa yang sudah jadi. Suasana berpikir harus diciptakan.Sering pengajaran matematika hanya menstransfer apa yang dipunyai guru terhadap siswa dalam wujud perlimpahan fakta matematis dan prosedur perhitungan dan bukan penalaran sehingga banyak siswa menghafal belakang

1. Belajar Matematika menurut Paham Konstruktifisme Konsep pembelajaran konstruktivis didasarkan kepada kerja akademik. Para ahli psikologi dan peneliti yang perduli dengan konstruktivisme. Para ahli konstruktivisme mengatakan bahwa ketika siswa menyelesaikan tugas-tugas dikelas,maka pengetahuan siswa dikonstruksi secara aktif (Wood ,1990;Coob 1992).

2. Pembelajaran Konstruktivisme dalam Matematika Implementasi pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran, meliputi 4 tahap yaitu: 1. Apersepsi, 2. Eksplorasi, 3. Diskusi dan penjelasan konsep dan 4. Pengembangan dan aplikasi

3. Sebagai Pembelajaran menurut konstriktivisme Untuk mendeskripsikan evaluasi pembelajaran, perlu diklarifikasi seberapa bedakah antara asesmen dan evaluasi. Menurut webb(1992) evaluasi dalam pendidikan adalah: suatu investigasi matematis tentang nilai suatu tuuan. Termasuk dalam evaluasi adalah sekumpulan bukti-bukti secara sistematis untuk membantu membuat keputusan tentang (1). Siswa belajar (ikuti), (2). pengembangan materi, (3). program .WOOD (1987,dalam weeb, 1992).

Sekian, terima kasih. . . . Wassalamualiakum. Wr. Wb