SURVEI INDUSTRI MIKRO DAN KECIL (IMK)

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
KOORDINASI BAWAS - BPKP : PENINGKATAN KUALITAS LK TA.2011
Advertisements

PENGEMBANGAN SILABUS.
Statistik Konstruksi Direktorat Statistik Industri
ENTREPRENEURSHIP KEWIRAUSAHAAN BAB 14 Oleh : Zaenal Abidin MK SE 1.
1. 1. Reviu Besaran Angka Dasar TA 2012 : a)Penggunaan Laporan (aplikasi) untuk Menganalisis Angka Dasar; b)Memastikan volume angka dasar sudah benar;
Survei Struktur Ongkos Usaha Tani Tanaman Pangan
PENGATURAN LABEL PRODUK PANGAN DAN NON PANGAN DALAM RANGKA PENGUATAN PASAR DOMESTIK dr. Bayu khrisnamurti wakil menteri KEMENTERIAN PERDAGANGAN RI 11.
Teknik penarikan sampel
TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Statistik Konstruksi Direktorat Statistik Industri
Umum Pengenalan Tempat Kol (1) dan (2) Kol (3) dan (4) Kol (5) Kol (6)-(9) Kol (10) dan (11) Kol (12) dan (13) Kol (14) dan (15) Baris Penjumlahan 100%
3D BLOCKS UU RI No. 20/2003 Ps. 29 Ayat 1, menyebutkan tugas tenaga kependidikan melaksanakan: 1. Administrasi Pengelolaan Pengembangan Pengawasan Pelayanan.
1suhardjono waktu 1Keterkatian PKB dengan Karya Inovatif, Macam dan Angka Kredit Karya Inovatif (buku 4 halaman ) 3 Jp 3Menilai Karya Inovatif.
PENILAIAN KINERJA PENGAWAS SEKOLAH
MODEL PENGEMBANGAN KTSP SMA
PSAP 12 LAPORAN OPERASIONAL
KETENTUAN SOAL - Untuk soal no. 1 s/d 15, pilihlah salah satu
TINJAUAN UMUM DATA DAN STATISTIKA
THE RATIO ESTIMATOR VARIANCE DAN BIAS RATIO PENDUGA SAMPEL VARIANCE
TABEL INPUT OUTPUT REGIONAL.
PROBABILITY PROPORTIONAL TO SIZE (PPS) SAMPLING
Kerangka Dasar dan Manfaat Tabel I-O, asumsi dan Keterbatasannya
STATISTIK PETERNAKAN.
PERIKANAN DAN KEHUTANAN
Kegiatan Statistik Kehutanan
SUBDIT STATISTIK HARGA PRODUSEN
Menentukan Perilaku Biaya
Kuliah ke-3 MATERI SURVEI.
SURVEI CONTOH Kuliah 2: Langkah-Langkah Melaksanakan Survei Contoh Dosen: Dr. Hamonangan Ritonga, MSc Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta Tahun.
PP Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif
Sistem Pengkodean Wilayah Administrasi BPS
3). Klaster dengan jumlah unit tidak sama (unequal cluster)
STANDAR SISTEM MANAJEMEN KEADAAN DARURAT MODUL 3 1.

Pertemuan ke – 6 TEORI HUKUM PENDAFTARAN TANAH
Luas Daerah ( Integral ).
PEMINDAHAN HAK DENGAN INBRENG
SUNSET POLICY.
KULIAH KE-7 PERSIAPAN LAPANGAN DAN UJI COBA.
PROGRAM PERCEPATAN AKUNTABILITAS KEUANGAN PEMERINTAH
MATA KULIAH PAKET PROGRAM PENGOLAHAN DATA STATISTIKA
S. Happy Hardjo Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat
POPULASI DAN SAMPEL.
LANGKAH-LANGKAH melaksanakan SURVEI CONTOH
PERSIAPAN PENYUSUNAN DIPA TAHUN ANGGARAN 2007
Sosialisasi KLUI/KBLI/ISIC
Subdit Statistik Industri Kecil dan Rumahtangga
Penarikan sampel dua fase ( Two phase / Double sampling )
SURVEI CONTOH PERTEMUAN KE-5.
Tujuan SSU Mendapatkan data statistik upah yang lebih rinci, yaitu upah menurut jenis kelamin dan jenis jabatan/ pekerjaan untuk : - karyawan non produksi/pelaksana.
Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH
METODOLOGI R ISET K ESEHATAN D ASAR 2010 (RISKESDAS 2010)
Selamat … Hari Raya Idul Fithri 1424 H Mohon Maaf Lahir Batin
KOTA SEHAT BERAWAL DARI LINGKUNGAN YANG SEHAT
SURVEI CONTOH PERTEMUAN KE-4.
THREE STAGE SAMPLING (SAMPLING TIGA TAHAP)
Pengelolaan Dana Hibah
PERIKANAN DAN KEHUTANAN
KEGIATAN EKONOMI KESEHATAN Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH.
BAB IV LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN (…lanjutan...) IV – 1e
BADAN PUSAT STATISTIK INTEGRASI SISTEM UPDATING DIREKTORI
METODOLOGI SUSENAS 2010 Kerangka sampel yang digunakan dalam Susenas 2010 terdiri dari 2 jenis, yaitu: 1.Kerangka pemilihan sampel primer (primary sampling.
PENDAFTARAN TANAH Pendaftaran Tanah (Pasal 1 angka 1 PP No.24 Th 1997)
SURVEI CONTOH KADARMANTO.
BERITA RESMI STATISTIK
KINERJA SEKTOR INDUSTRI TRIWULAN II TAHUN 2015
Pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2016 Kota Surabaya
PERTUMBUHAN INDUSTRI AGRO SAMPAI DENGAN PERIODE TW III 2016
TATA LAKSANA STATISTIK SEKTORAL.
Desain Sampling Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program (SKAP) BKKBN Tahun 2018 Pelatihan Fasilitator dan Supervisor Direktorat Pengembangan Metodologi.
Transcript presentasi:

SURVEI INDUSTRI MIKRO DAN KECIL (IMK)

PENDAHULUAN (1) Pengumpulan data Statistik Industri Mikro dan Kecil (IMK) memiliki arti penting bagi pembangunan. Data Statistik IMK memberi andil terhadap kebijakan pemerintah yang difokuskan pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan, khususnya usaha IMK. Pada awalnya pengumpulan data IMK hanya dilakukan secara periodik melalui sensus atau survei.

PENDAHALUAN (2) Dimulai dari sensus industri tahun 1974/1975. Kemudian survei Industri Kecil dan Kerajinan Rumahtangga (IKKR) tahun 1982 Sensus Ekonomi tahun 1986 (SE’ 86), kemudian survei IKKR di tahun 1991,1993, 1994, 1995, Sensus Ekonomi tahun 1996 (SE’96), Tahun 1998-2005 data IMK dikumpulkan melalui Survei Usaha Terintegrasi (SUSI), Sedangkan data tahun 2006 dikumpulkan melalui Sensus Ekonomi tahun 2006 (SE’06). Mulai tahun 2009 Survei IMK dilakukan secara rutin setiap tahun

PENDAHULUAN (3) 7. Pada tahun 2011, Survei Industri Mikro dan Kecil 2011 (VIMK11) diselenggarakan secara triwulanan. 1. Triwulan I periode Januari-Maret, 2. Triwulan II periode April-Juni, 3. Triwulan III periode Juli-September, 4. Triwulan IV periode Oktober-Desember. VIMK11 diselenggarakan untuk mendata keberadaan, penyebaran, aktivitas, dan karakteristik kegiatan IMK. Pendekatan pencacahan VIMK11 dilakukan melalui pendekatan perusahaan/usaha.

LANDASAN HUKUM Undang-Undang No. 16 Tahun 1997 tentang Statistik. PP. RI No. 51 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik. Peraturan Presiden RI No. 86 Tahun 2007 tentang Badan Pusat Statistik

SASARAN Sasaran pencacahan IMK adalah perusahaan/ usaha berskala mikro dan kecil. Dari hasil kegiatan ini diharapkan dapat diperoleh: data mengenai pertumbuhan produksi IMK secara triwulanan, struktur pendapatan dan pengelu- aran serta berbagai karakteristik usaha lainnya

TUJUAN (1) Untuk mengetahui profil Industri Mikro dan Kecil (IMK ) daerah potensi di Indonesia yang dapat digunakan sebagai bahan perencanaan kegiatan ekonomi secara makro. Untuk menyajikan data tentang kegiatan perusahaan/usaha berskala mikro dan kecil yang rinci dan mutakhir menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) pada tingkat nasional

TUJUAN (2) Secara khusus tujuan survei ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan produksi IMK, selain itu juga untuk mendapatkan informasi dasar tentang berbagai informasi mengenai kegiatan ekonomi menurut 2 digit KBLI berupa persentase/rata-rata proporsi,seperti: banyaknya usaha, banyaknya tenaga kerja,pengeluaran untuk tenaga kerja, struktur input dan output, kendala dan prospek usaha,keterangan lain yang berkaitan dengan usaha IMK

RUANG LINGKUP DAN CAKUPAN Survei ini dilaksanakan di beberapa kabupaten/kota daerah potensi seluruh provinsi di Indonesia dengan jumlah blok sensus terpilih sebanyak 2.683 blok sensus. Blok Sensus VIMK11 merupakan subsampel blok sensus VIMK10 dan mencakup 18.000 perusahaan/usaha mikro dan kecil untuk setiap triwulan. Sasaran pencacahan meliputi perusahaan/ usaha industri mikro dengan banyaknya tenaga kerja 1-4 orang dan industri kecil dengan banyaknya tenaga kerja 5-19 orang termasuk pengusaha/pemilik

METODOLOGI (1) Kerangka sampel blok sensus yang digunakan pada kegiatan Survei Industri Mikro dan Kecil 2011 (VIMK11) adalah Daftar Blok Sensus terpilih pada Survei Industri Mikro dan Kecil 2010 (DBS-VIMK10). Dengan demikian sampel blok sensus VIMK2011 adalah merupakan sub sampel blok sensus VIMK2010. DBS-VIMK10 adalah daftar blok sensus terpilih pada Survei Industri Mikro dan Kecil 2010 yang dilengkapi dengan muatan jumlah usaha industri mikro dan kecil hasil pengolahan Daftar VIMK10-L. Walaupun pada saat pelaksanaan IMK2010 blok sensusnya sudah distratakan, namun untuk proses updating, sebelum digunakan perlu dilakukan proses re-stratifikasi lagi berdasarkan data hasil listing dan survei sampel VIMK 2010.  

METODOLOGI (2) Re-stratifikasi ditujukan untuk mengelompokkan unit-unit area (blok sensus) menurut komposisi jumlah relatif usaha Industri Mikro dan Kecil (IMK) menurut jenis Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Untuk setiap jenis KBLI, strata konsentrasi yang bersesuaian dengan jenis usaha adalah merupakan sekelompok blok sensus dengan komposisi jenis usaha yang dominan (menonjol). Mengingat jumlah alokasi sampel blok sensus per-Propinsi relatif tidak banyak maka, stratifikasi dilakukan pada level Propinsi.  

Industri Pengolahan Tembakau 13 Industri tekstil 14 No KODE JUDUL KBLI 2009 1 10 Industri Makanan 2 11 Industri Minuman 3 12 Industri Pengolahan Tembakau 4 13 Industri tekstil 5 14 Industri Pakaian Jadi 6 15 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki 7 16 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus (Tidak Termasuk Furnitur) dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya 8 17 Industri Kertas dan Barang Dari Kertas 9 18 Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman 19 Industri Produk Dari Batu Bara dan Pengilangan Minyak Bumi 20 Industri Bahan Kimia Dan Barang Dari Bahan Kimia 21 Industri Farmasi, Produk Obat Kimia Dan Obat Tradisional

No KODE JUDUL KBLI 2009 13 22 Industri Karet, Barang Dari Karet Dan Plastik 14 23 Industri Barang Galian Bukan Logam 15 24 Industri Logam Dasar 16 25 Industri Barang Logam, Bukan Mesin Dan Peralatannya 17 26 Industri Komputer, Barang Elektronik Dan Optik 18 27 Industri Peralatan Listrik 19 28 Industri Mesin Dan Perlengkapan ytdl 20 29 Industri Kendaraan Bermotor, Trailer Dan Semi Trailer 21 30 Industri Alat Angkutan Lainnya 31 Industri Furnitur 32 Industri pengolahan lainnya 33 Jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan

RANCANGAN PENARIKAN SAMPEL (1) Rancangan penarikan sampel yang digunakan yaitu rancangan penarikan sampel dua tahap terstratifikasi. Tahap pertama, adalah memilih sejumlah blok sensus pada setiap strata secara PPS (Probability Proportional to Size) dengan size banyaknya IMK hasil listing Survei IMK 2010. Penarikan sampel blok sensus antar strata dilakukan secara independent. Kerangka sampel yang digunakan yaitu daftar blok sensus hasil re-stratifikasi dalam satu propinsi.

RANCANGAN PENARIKAN SAMPEL (2) Tahap kedua, adalah mengambil seluruh industri kecil (kecuali jika ada Propinsi dengan jumlah Industri Kecilnya melebihi jumlah target sampel maka dilakukan pemilihan sampel) dan memilih sejumlah industri mikro dari hasil listing secara sistematik linier untuk setiap jenis usaha sesuai KBLI pada blok sensus terpilih. Perusahaan/usaha yang terpilih disalin ke Daftar VIMK11-DS dan selanjutnya petugas melakukan pencacahan pada perusahaan/usaha tersebut.

RANCANGAN PENARIKAN SAMPEL (3) Pengalokasian target pencacahan untuk industri mikro dan industri kecil dilakukan berdasarkan hasil listing. Khusus untuk industri kecil, seluruh usaha dalam tiap blok sensus terpilih dilakukan pencacahan lengkap (take all) kecuali jumlahnya melebihi target sampel atau industrinya homogen dilakukan pemilihan sampel, sedangkan industri mikro dilakukan pencacahan hanya pada usaha terpilih.

RANCANGAN PENARIKAN SAMPEL (4) Alokasi jumlah usaha Industri Mikro dan Kecil (IMK) dilakukan oleh BPS Propinsi berdasarkan rekapitulasi jumlah IMK hasil listing per kabupaten/kota. Alokasi Industri mikro (IM) per kabupaten/kota dilakukan setelah sebelumnya mengurangi target sampel IMK propinsi dengan jumlah industri kecil (IK) untuk seluruh kabupaten/kota di propinsi tersebut. Alokasi IM dilakukan secara square root proporsional terhadap jumlah square root IM di masing-masing kabupaten/kota. Hasil alokasi IM perkabupaten/kota dikembalikan ke masing-masing kabupaten/kota untuk selanjutnya dilakukan alokasi menurut KBLI.

RANCANGAN PENARIKAN SAMPEL (5) Alokasi sampel industri mikro menurut KBLI pada setiap blok sensus terpilih memperhatikan jumlah IMK hasil listing. Pengalokasian sampel industri mikro menurut KBLI per blok sensus dilakukan di BPS Kabupaten/Kota.  

Tugas BPS Kabupaten/Kota 1. Seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelaksanaan dikoordinir oleh kepala BPS Kabupaten/Kota. 2. Merekrut calon petugas PMS/PCS survei IMK yang berasal dari staf BPS Kabupaten/Kota. 3. Melakukan pengawasan lapangan secara langsung pada waktu petugas melakukan pencacahan perusahaan/usaha, dan memeriksa secara sampel hasil pencacahan perusahaan/usaha tersebut. 4. Pemilihan sampel usaha dilakukan oleh pengawas di setiap BPS Kabupaten/Kota dengan dikoordinir oleh kasie produksi. 5. Pertemuan secara berkala dengan para pelaksana survei harus dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan dan pemecahan masalah lapangan. 6. Pelaksanaan administrasi dan pengolahan keuangan di BPS Kabupaten/Kota harus sesuai prosedur yang telah ditetapkan. 7. Pembuatan laporan akuntabilitas tentang penyelengaraan survei harus dibuat oleh setiap BPS Kabupaten/Kota dan dikirim ke BPS Provinsi. 8. Pengiriman dokumen hasil pencacahan yang telah diperiksa harus sesuai dengan jadual yang telah ditentukan.

Tugas Pengawas 1. Menyiapkan sketsa peta blok sensus hasil scanning, Daftar VIMK11-L, VIMK11-S untuk diteruskan kepada pencacah yang menjadi tanggung jawabnya, serta Daftar VIMK11- DSBS, VIMK11-DS dan VIMK11-RB. 2. Bersama-sama pencacah yang menjadi tanggung jawabnya, melakukan pengamatan dan penelitian lapangan terhadap ketepatan sasaran wilayah pencacahan dan mengenali batas- batas blok sensus yang menjadi tanggung jawab setiap pencacah, dengan berpedoman Daftar VIMK11-DSBS. 3. Mendampingi dan membimbing pencacah pada awal pencacahan, sehingga pencacah mampu melaksanakan pencacahan dengan benar. 4. Memantau aktivitas pencacah di lapangan, untuk menjamin pekerjaan pencacah dapat selesai tepat waktu dan membantu memecahkan masalah jika pencacah menghadapi kesulitan di lapangan. 5. Melakukan pertemuan dengan pencacah yang menjadi tanggung jawabnya secara periodik, untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang mungkin dijumpai di lapangan dan mencari jalan keluar untuk mengatasi permasalahan tersebut.

6. Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan,. kebenaran dan 6. Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan, kebenaran dan konsistensi isian Daftar VIMK11-L, dan menanyakan kepada pencacah apabila ditemui isian yang meragukan untuk dilakukan pembetulan dan pendaftaran ulang ke lapangan, kalau perlu bersama-sama dengan pencacah. 7. Apabila setiap pencacah telah selesai melakukan pendaftaran bangunan/rumah tangga, maka pengawas harus segera memeriksa tanda cek (√) Daftar VIMK11-L Blok III untuk usaha industri mikro pada kolom (17) dan tanda cek (√) pada salah satu kolom (19) s.d kolom (42) sesuai jenis produksi utama kode 2 digit kolom (16). 8. Selanjutnya pengawas memeriksa Daftar VIMK11-L Blok III banyaknya usaha ke dalam baris jumlah dari halaman 1 s.d halaman terakhir.

9. Mengisi Daftar VIMK11-L Blok II Ringkasan. 10. Mengisi rekapitulasi jumlah Industri Mikro dan Kecil per Blok Sensus (VIMK11-RB ) dari VIMK11-L Blok II rincian 2 populasi industri, yaitu: 2a (industri mikro) dan 2b (industri kecil). 11. Berdasarkan target sampel usaha dari BPS Kabupaten/Kota, selanjutnya pengawas bertugas untuk melakukan pemilihan sampel dengan menggunakan Daftar VIMK11-L Blok IV Keterangan Penarikan Sampel Utama menurut masing-masing kategori lapangan usaha. 13. Pengawas harus segera menyalin sampel usaha dari hasil listing ke dalam Daftar VIMK11-DS di setiap blok sensus terpilih.

Tugas Pencacah 1. Mengamati wilayah kerjanya sebelum melakukan pencacahan dengan acuan sketsa peta blok sensus terpilih hasil scanning. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi lewat cacah atau ganda cacah. 2. Memberitahukan dan minta ijin aparat desa/lurah, RW dan RT sebelum melakukan pencacahan pada wilayah tersebut. 3. Melakukan pendaftaran setiap bangunan sensus dan rumah tangga dalam blok sensus terpilih yang menjadi wilayah kerjanya dengan Daftar VIMK11-L, dan menggambar bangunan pada sketsa peta blok sensus terpilih hasil scanning sesuai dengan letaknya, dan memberi nomor urut bangunan fisik pada simbol bangunan tersebut sesuai dengan nomor urut yang dicatat pada Daftar VIMK11-L.

7. Menyerahkan dokumen yang telah selesai kepada pengawas. 4. Melakukan pencacahan usaha terpilih dengan Daftar VIMK11-S yang berpedoman pada Daftar VIMK11-DS (Daftar Sampel). 5. Mengikuti pertemuan dengan pengawas untuk membahas berbagai temuan/masalah yang ditemukan di lapangan, dan cara mengatasinya. 6.Melakukan pencacahan ulang responden yang bermasalah dengan disertai pengawas. 7. Menyerahkan dokumen yang telah selesai kepada pengawas. 8.Menepati jadual pelaksanaan lapangan sesuai dengan jadual yang telah ditentukan.

KONSEP DAN DEFINISI (1) Industri Manufaktur: Kegiatan produksi yang mengubah barang dasar (bahan mentah) menjadi barang jadi/setengah jadi dan atau dari barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya. Termasuk ke dalam kategori ini adalah kegiatan jasa industri pengolahan (makloon). Perusahaan/Usaha Industri Manufaktur : Unit kegiatan ekonomi yang melakukan/ mengusahakan industri manufaktur; terletak pada suatu bangunan/lokasi tertentu serta ada seorang atau lebih yang bertanggung jawab atas usaha tersebut. Contoh: a. Usaha pembuatan pisang goreng. b. Perusahaan pembuatan sepatu dari kulit. c. Usaha pembuatan ukir-ukiran dari kayu.

KONSEP DAN DEFINISI (2) Perusahaan/Usaha Jasa Industri Manufaktur (makloon) : Unit kegiatan dari suatu industri yang melayani keperluan pihak lain. Pada kegiatan ini bahan baku disediakan oleh pihak yang dilayani dan pihak perusahaan/usaha melaksanakan proses pengolahannya dengan memperoleh pembayaran sebagai balas jasanya (nilai upah makloon).

BPS mengklasifikasikan perusahaan/usaha industri manufaktur di Indonesia ke dalam 4 (empat) skala usaha berdasarkan pekerja yang dimiliki oleh suatu perusahaan/usaha. Skala usaha tersebut adalah sebagai berikut: Industri Mikro : perusahaan/usaha industri manufaktur yang mempunyai pekerja 1-4 orang. Industri Kecil perusahaan/usaha industri manufaktur yang mempunyai pekerja 5-19 orang.

KONSEP DAN DEFINISI (3) Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) merupakan klasifikasi baku statistik mengenai kegiatan ekonomi yang terdapat di Indonesia. KBLI hanya mengelompokkan unit produksi menurut kegiatan ekonomi, tidak membedakan unit produksi menurut kepemilikan, jenis badan hukum, formal atau informal. KBLI 2009 menggunakan kode angka 5 digit yang menunjukkan struktur klasifikasi.

Terima Kasih