Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

BAHASA INDONESIA KALIMAT EFEKTIF NAMA : RESTON RAH TIMUR NPM : 1315011095 TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS LAMPUNG 2013.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "BAHASA INDONESIA KALIMAT EFEKTIF NAMA : RESTON RAH TIMUR NPM : 1315011095 TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS LAMPUNG 2013."— Transcript presentasi:

1 BAHASA INDONESIA KALIMAT EFEKTIF NAMA : RESTON RAH TIMUR NPM : TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS LAMPUNG 2013

2 KALIMAT EFEKTIF Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan penutur atau penulis secara singkat, jelas dan tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar atau pembaca secara tepat pula sesuai dengan maksud pembicara atau penulis.

3 Jelas berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca. Singkat berarti hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata. Tepat berarti sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.

4 Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar atau pembaca memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan legkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.

5 Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan kata (diksi) yang tepat, hubungan antar bagiannya logis dan ejaannya harus benar. Dalam hal ini harus dipahami juga bahwa situasi terjadinya komunikasi sangat berpengaruh.

6 Kalimat yang dipandang cukup efektif dalam pergaulan, belum tentu dipandang efektif jika dipakai dalam situasi resmi, demikian pula sebaliknya. Misalnya adalah sebagai berikut: “ Bang ke pasar Rebo berapa?” Kalimat tersebut jelas lebih efektif daripada kalimat lengkap sebagai berikut: “Berapa saya harus membayar, Bang, bila saya menumpang becak Abang ke pasar Rebo?”.

7 Susunan kata yang tidak teratur dan berbelit- belit, penggunaan kata yang tidak tepat makna dan kesalahan ejaan dapat membuat kalimat tidak efektif. Kalimat dikatakan tidak efektif apabila kalimat tersebut tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.

8 Ciri-ciri Kalimat Efektif Untuk dapat mencapai keefektifan suatu kalimat, kalimat efektif harus memiliki minimal ciri-ciri sebagai berikut: 1. Korehensi/Kepaduan. 2. Kesatuan Gagasan. 3. Keparalelan. 4. Kesejajaran. 5. Kehematan. 6. Penekanan/Penegasan. 7. Kecermatan. 8. Kevariasian. 9. Kelogisan

9 1. Koherensi / kepaduan Kepaduan ialah informasi yang disampaikan itu tidakterpecah-pecah.  Kallimat tidak bertele-tele dan harus sistematis.  Kalimat yang padu menggunakan pola aspek- agen-verbal atau aspek-verbal-pasien.  Diantara predikat kata kerja dan objek penderita tidak disisipkan kata daripada/tentang.

10 Yang dimaksud dengan koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Bagaimana hubungan antara subyek dan predikat, hubungan antara predikat dengan obyek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur pokok tadi. 

11 Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kerusakan koherensi yaitu: 1) Tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat  Benar : Saudara saya yang paling kecil kemarin sore menendang bola di lapangan, dengan sekuat tenanganya.  Salah : Saudara saya yang paling kecil menendang dengan sekuattenaganya kemarin sore di lapangan bola.

12 2) Salah mempergunakan kata-kata depan, kata penghubung dan sebagainya  Benar : mengharapakan belas kasihan  Salah : mengharapkan akan belas kasihan 3) Pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih, atau hakikatnya mengandung kontradiksi. Contoh:  Banyak para peninjau yang menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung itu merupakan Perang Dunia di Timur Tengah (atau banyak peninjau atau para peninjau; makna banyak dan para tidak tumpang tindih).

13 4) Salah menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum, dsb) pada kata kerja tanggap. Contoh: Baik : Saya sudah menonton film itu hingga tamat.  Kurang Baik : Saya sudah nonton film itu hingga tamat.  Tidak Baik : Film itu saya sudah tonton hingga tamat.

14 2. Kesatuan Gagasan Kalimat efektif harus memiliki kesatuan gagasan dan mengandung satu ide pokok (satu pengertian lengkap). Kalimat dikatakan memiliki kesatuan gagasan jika memiliki subjek, predikat dan fungsi-fungsi kalimat lainnya saling mendukung dan membentuk kesatuan tunggal.

15 Dengan demikian, kalimat haruslah mengandung unsur subjek dan predikat sebagai unsur inti sebuah kalimat. Kehadiran unsur-unsur lain (objek, pelengkap, ataupun keterangan) hanyalah sebagai tambahan bagi unsur inti.

16 Contoh : Kalimat yang jelas kesatuan gagasannya a. Kita merasakan dalam kehidupan sehari-hari, betapa emosi itu sering kali merupakan tenaga pendorong yang amat kuat dalam tindak kehidupan kita (Kesatuan Tunggal). b. Dia telah meninggalkan rumahnya jam enam pagi dan telah berangkat dengan pesawat satu jam yang lalu (Kesatuan Gabungan). c. Ayah bekerja di perusahaan pengangkutan itu, tetapi ia tidak senang dengan pekerjaan itu. (kesatuan yang mengandung pertentangan). d. Kau boleh menyusul saya ke tempat itu, atau tinggal saja disini (kesatuan pilihan).

17 Kalimat yang tidak jelas gagasannya Kesatuan gagasan biasanya menjadi kabur karena kedudukan subyek atau predikat tidak jelas, terutama karena salah menggunakan kata-kata depan. Kesalahan lain terjadi karena kalimatnya terlalu panjang sehingga penulis atau pembicara tidak tahu apa sebenarnya yang mau dikatakan.

18 3. Keparalelan Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, jika kata kerja, harus kata kerja semuanya; jika kata benda harus kata benda semuanya.

19 Contoh :  Salah : Harga bensin disesuaikan atau kenaikkan secara bertahap.  Benar : Harga bensin disesuaikan atau dinaikkan secara bertahap.

20 4. Kesejajaran Kesejajaran adalah penggunaan bentuk- bentuk yang sama pada kata-kata yang paralel. Agar kalimat terlihat rapi dan bermakna sama, kesejajaran dalam kalimat diperlukan.

21 Contoh :  Salah : Maskapai tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan dokumen,kerusakan ba rang, busuknya makanan dan jika hewan yang diletakkan didalam bagasi tiba- tiba mati.  Benar : Maskapai tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan dokumen,kerusakan ba rang, kebusukan makanan dan kematian hewan.

22 5. Kehematan Kehematan adalah penggunaan kata-kata secara hemat, tetapi tidak mengurangi makna atau mengubah informasi. Ada beberapa cara melakukan penghematan: 1) Menghilangkan pengulangan subjek. 2) Menghindarkan pemakaian superordinatpada hiponimi kata. 3) Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat. 4) Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.

23 1) Menghilangkan pengulangan subjek.  Salah : Karena Nina tidak diundang, Nina tidak datang ke tempat itu.  Benar : Karena tidak diundang, Nina tidak datang ke tempat itu.

24 2) Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.  Kata pipit sudah mencakupi kata burung. Contoh :  Salah : Di mana engkau menangkap burung pipit itu?  Benar : Di mana engkau menangkap pipit itu?

25 3) Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.  Kata naik bersinonim dengan ke atas. Contoh :  Salah : Roni sudah naik ke atas gunung sejak pagi tadi.  Benar : Roni sudah naik gunung sejak pagi tadi.

26 4) Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Contoh :  Salah : Para tamu-tamu memasuki aula pertemuan.  Benar : Para tamu memasuki aula pertemuan.

27 6. Penekanan / ketegasan Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu.

28 Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat, yaitu : 1) Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat). 2) Membuat urutan kata yang bertahap 3) Melakukan pengulangan kata (repetisi). 4) Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan 5) Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).

29 1) Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat). Contoh:  Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya. 2) Membuat urutan kata yang bertahap Contoh:  Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.

30 3) Melakukan pengulangan kata (repetisi). Contoh:  Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka. 4) Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan. Contoh:  Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur. 5) Mempergunakan partikel penekanan (penegasan). Contoh:  Saudaralah yang bertanggung jawab.

31 7. Kecermatan Cermati adalah kalimat yang dihasilkan tidak menimbulkan tafsir ganda dan harustepat diksinya. Prinsip kecermatan berarti cermat dan tepat menggunakan diksi. Agartercapai kecermatan dan ketepatan diksi, harus memperhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini : 1) Hindari penanggalan awalan 2) Hindari peluluhan bunyi/ c / 3) Hindari bunyi / s /, / p /, / t /, dan/ k / yang tidak luluh 4) Hindari pemakaian kata ambigu

32 Contoh Kalimat Ambigu Contoh kalimat amigu, atau kalimat yang mengandung ambiguitas sebagai berikut:  Mayat itu diloncati kucing hidup. kalimat tersebut bisa berarti  Mayat diloncati oleh kucing hidup.  Mayat diloncati kucing kemudian hidup.  Habib berenang di laut mati. kalimat tersebut bisa berarti  Habib berenang di laut yang namanya laut mati.  Habib berenang di laut kemudian mati.

33 8. Kevariasian Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi. Repetisi atau pengulangan kata sebuah kata untuk memperoleh efek penekanan, lebih banyak menekankan kesamaan bentuk.

34 Variasi tidak lain daripada menganeka- ragamkan bentuk-bentuk bahas agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang. Macam-macam variasi : a. Variasi Sinonim Kata b. Variasi panjang pendeknya kalimat c. Variasi penggunaan bentuk me- dan di-

35 A. Variasi Sinonim Kata Variasi berupa penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakekatnya tidak merubah isi dari amanat yang akan disampaikan. Contoh :  Dari renungan itulah penyair menemukan suatu makna, suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai seluruh puisi.

36 B. Variasi panjang pendeknya kalimat Struktur kalimat akan mencerminkan dengan jelas pikiran pengarang, serta pilihan yng tepat dari struktur panjangnya sebuah kalimat dapat member tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan.

37 C. Variasi penggunaan bentuk me- dan di- Pemakaian bentuk grametikal yang sama dengan beberapa kalimat berturut-turut dapat menimbulkan kelesuan. Sebaba itu haruslah dicari variasi pemakaian bentuk gramatikal.

38 9. Kelogisan Kelogisan adalah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Contoh :  Salah : Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini.  Benar : Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini.

39 Kesalahan-kesalahan dalam menyusun kalimat efektif 1. Pleonastis 2. Kontaminasi 3. Salah pemilihan kata 4. Salah nalar 5. Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi)

40 1. Pleonastis Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu. Contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan pleonastis antara lain:  Banyak tombol-tombol yang dapat Anda gunakan. Kalimat ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.  Kita harus saling tolong-menolong.  Kalimat ini seharusnya: Kita harus saling menolong, atau Kita seharusnya tolong-menolong.

41 2. Kontaminasi Contoh : Kalimat yang mengandung kesalahan kontaminasi dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:  Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi. Kalimat tersebut akan menjadi lebih efektif apabila akhiran –nya dihilangkan.  Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.

42 3. Salah pemilihan kata Contoh : kalimat yang mengandung kesalahan pemilihan kata dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:  Saya mengetahui kalau ia kecewa.  Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa.

43 4. Salah nalar Contoh kalimat yang mengandung kesalahan nalar dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:  Bola gagal masuk gawang.  Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.

44 5. Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi) Bahasa asing Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing terlihat pada kalimat berikut:  Saya tinggal di Semarang di mana ibu saya bekerja. Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut:  I live in Semarang where my mother works. Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:  Saya tinggal di Semarang tempat ibu saya bekerja.

45 Bahasa daerah Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa daerah dapat kita lihat pada kalimat berikut:  Anak-anak sudah pada datang. Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:  Anak-anak sudah datang. Contoh lain pengaruh bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, juga dapat kita lihat pada kalimat berikut. Penulis menemukan contoh ini dari sebuah rubrik di tabloid anak-anak Yunior.  Masuknya keluar mana? (Jawa: Mlebune metu endi?)  Kita sebaiknya mengganti kalimat tersebut dengan: Masuknya lewat mana?

46 DAFTAR PUSTAKA  Zulkarnaen,Nina “Membuat Kalimat Efektif.” by.blogspot.com/2007/03/membuat- kalimat-efektif.html. 9 oktober 2013http://just-drop-  Sarlita,Merry.201o “kalimat efektif.” kalimat-efektif.html. 8 oktober  Saputra,Rahmat.2011 “kalimat ambigu (ambiguitas).”http://kafeilmu.com/kalimat -ambigu-ambiguitas/.com. 9oktober 2013.


Download ppt "BAHASA INDONESIA KALIMAT EFEKTIF NAMA : RESTON RAH TIMUR NPM : 1315011095 TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS LAMPUNG 2013."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google