Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pertumbuhan yang Tersandera “Fiscal Sustainability” Ceramah Umum Dies Natalis ke-57 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 10.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pertumbuhan yang Tersandera “Fiscal Sustainability” Ceramah Umum Dies Natalis ke-57 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 10."— Transcript presentasi:

1 Pertumbuhan yang Tersandera “Fiscal Sustainability” Ceramah Umum Dies Natalis ke-57 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 10 September 2012 A. Tony Prasetiantono, Ph.D. Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM

2 “Outline” Presentasi Transmisi krisis zona euro ternyata lebih cepat Solusi krisis zona euro menjadi tanda tanya, sehingga rupiah pun cenderung melemah Pendahuluan Krisis utang zona euro Krisis utang Amerika Serikat Pilihan kebijakan yang terbatas ‘Update’ Ekonomi Global Pertumbuhan ekonomi akan melambat Neraca transaksi berjalan tertekan Inflasi, BI rate Kinerja industri perbankan ‘Update’ Ekonomi Indonesia Defisit anggaran Subsidi BBM Analisis Kebijakan Publik Kesimpulan Proyeksi ekonomi 2012 dan 2013 Outlook

3 Pendahuluan  Rupiah dalam beberapa pekan ini terus tertekan menjadi Rp per USD.  Pelemahan rupiah merupakan dampak krisis ekonomi global yang tetap tidak menentu. Ketidakpastian besar menyebabkan investor global lebih suka “memegang” USD, sepanjang pilihan untuk “memegang” Chinese yuan tidak cukup tersedia. “Memegang” mata uang euro terasa riskan, karena ketidakpastian penyelesaian krisis zona euro.  Perekonomian Indonesia Q melambat menjadi 6,3%. Ini sangat logis, karena semua negara juga melambat, misalnya China (7,6%) dan India (5,2%).  Masa depan zona euro tidak menentu. Bailout terhadap Yunani memang sudah cukup memadai. Namun masalahnya, sejumlah negara lain juga memerlukan bailout, seperti Spanyol dan Portugal. Menurut The Economist (18-24 Agustus 2012), Grexit saja tidak cukup, pembubaran euro barangkali akan lebih efektif.  Kebijakan yang diharapkan sekarang adalah quantitative easing (QE), baik di AS maupun zona euro. Sejauh ini, AS sudah melakukan dua kali QE sebesar USD 2,1 triliun. Ke depan USD dan euro diproyeksikan melemah karena QE.

4  Greece € 300 billion  Ireland € 150 billion  Portugal € 160 billion  Spain € 640 billion  Italy € 1,8 trillion As comparison, in the previous crisis, total debt of Lehman Brothers was USD 613 billion in Krisis Zona Euro: Semua Bermula dari “Welfare State”

5  Krisis zona euro disebabkan oleh welfare state yang “terlalu baik hati” (Paul Krugman).  Program bailout (talangan) merupakan solusi jangka pendek.  Selanjutnya, austerity atau disiplin fiskal dan penghematan fiskal (“mengencangkan ikat pinggang”) merupakan solusi jangka menengah dan panjang.  Krugman menyarankan pembubaran euro.  Yunani mesti belajar dari krisis Indonesia (1998): bailout harus dilakukan tepat waktu dan tepat dosis. Indonesia harus sacrifice dengan pelemahan rupiah. Namun ini juga menjadi opportunity bagi penguatan competitiveness. Krisis Zona Euro: “Welfare State” yang Overdosis

6 “Yield” Bonds Zona Euro Terus Meningkat

7  China merevisi target pertumbuhan ekonomi 2012 menjadi 7,5%.  Pertumbuhan ekonomi China 7,6% pada Q  Akankah China mengalami hard landing?  Perekonomian China menjadi sound karena liberalisasi dan pembangunan infrastruktur yang masif.  China tidak membiarkan yuan menjadi matauang internasional.  Lemahnya yuan membantu competitiveness produk-produk China. Prof. Justin Lin Chief Economist Bank Dunia, Ph.D. dari University of Chicago Perekonomian China: Akankah Terjadi “Hard Landing”?

8  Perekonomian India mulai nervous.  Kurs rupee merosot 20% dalam setahun, terutama dalam 6 bulan pertama  Pertumbuhan ekonomi quarter I/2012 hanya 5,1%, biasanya > 8%.  Inflasi 10,4%.  Pengangguran 9,8%  Defisit APBN 5,7% terhadap PDB  Suku bunga 8,4%  Utang LN korporasi tinggi.  Infrastruktur payah, listrik blackout. Nuklir ditentang.  Bagaimana prospek India? Lucknow, Uttar Pradesh, India India: Mulai Rentan terhadap Krisis

9  Indonesia dipuji oleh Nouriel Roubini, profesor dari Stern, NYU. Katanya, “Goodbye China, Hello Indonesia”. Benarkah?  Apa persamaan dan (terutama) perbedaan Indonesia dengan China?  Hint: leadership Deng Xiaoping menjadi kunci/faktor pembeda.  Indonesia negara autopilot? Apa artinya? Indonesia Rising: Is This True?

10 Krisis Minyak 2012  Supply dan demand minyak dunia kini amat berimpit di level 80-an juta barrel per hari. Akibatnya, sedikit insiden saja bisa menimbulkan kenaikan harga minyak.  Arab Saudi adalah produsen terbesar dengan 10 juta barrel/hari.  Terdapat misleading bahwa Indonesia adalah produsen yang besar. Itu dulu, tahun 1980-an. Kini lifting hanya barrel per hari dengan penduduk 240 juta orang. Tahun 1980-an, lifting pernah 1,6 juta barrel per hari dengan penduduk hanya 140 juta orang.  Harga minyak beberapa pekan terakhir ini menurun drastis, karena demand turun tajam, seiring dengan kekhawatiran krisis ekonomi zona euro yang segera tertransmisikan ke seluruh dunia.  Di satu pihak, penurunan harga minyak dunia (Brent dan West Texas Intermediate) memberi jaminan harga BBM bersubsidi tak akan dinaikkan. Namun ini juga berarti hilangnya momentum untuk mendorong energi alternatif.  Harga komoditas lain ikut turun, ekspor Indonesia tertekan cukup hebat. Neraca perdagangan defisit dua bulan terakhir.

11 Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara, 2011  Perekonomian Indonesia tumbuh paling cepat di Asia Tenggara.  Penyebab: (1) konsumsi domestik yang didukung oleh fenomena middle-class; (2) komoditas primer menjadi unggulan di saat krisis, sebagaimana krisis 2009; (3) rendahnya ketergantungan terhadap perekonomian global; (4) sehatnya sektor finansial, terutama perbankan, dibanding saat the years of living dangerously.

12  Indonesia termasuk sangat prudent dalam pengelolaan fiskal, terutama dalam hal utang. Yunani bangkrut karena rasio utang pemerintah terhadap PDB mencapai 170%. Indonesia cuma 25,7%.  Meski rasio Jepang tinggi (200%), namun perekonomian Jepang stabil. Mungkin hal ini disebabkan Gross National Product (GNP) Jepang lebih tinggi daripada Gross Domestic Product (GDP). Indonesia sebaliknya. Kebijakan Fiskal yang Berhati-hati

13 Indikator Ekonomi Makro Utama

14 Harga Komoditas Primer Dunia Makro Utama

15 Indikator Ekonomi Makro Utama

16 BI Rate and Headline Inflation

17 Inflasi Masih Rendah karena Subsidi BBM Besar 17  Inflasi terkendali, hingga akhir Agustus inflasi year on year 4,56%. Sampai akhir tahun, inflasi diperkirakan 5%. Namun hal ini terjadi karena pengorbanan subsidi BBM yang sangat besar diperkirakan mencapai Rp 200 triliun sampai akhir 2012.

18 Pola Inflasi Bulanan 18  Inflasi Juli dan Agustus 2012 sebesar 0,7% dan 0,95% masih normal. Diperkirakan menjadi puncak inflasi Rendahnya inflasi 2012 mestinya bisa menjadi modal untuk mengantisipasi kondisi terburuk 2013, karena harga BBM dan TDL perlu dinaikkan. %

19 Neraca Perdagangan Tertekan Sangat Hebat  Untuk pertama kalinya neraca perdagangan mengalami defisit USD 600 juta (April), dan USD 486 juta (Mei) dan USD 1,32 miliar (Juni). Penyebabnya: penurunan harga komoditas primer dan kenaikan impor barang modal dan impor minyak.

20 Impor Membesar karena “Overheating”?  Indonesia harus mencari pasar global baru, misalnya Afrika yang sekarang juga tengah mengalami booming kelas menengah baru. Upaya mengerem kredit bank juga merupakan salah satu upaya menghindari overheating.

21 Rasio Elektrifikasi 2011 (Data PLN) NAD 87,21% Sumut 80,11% Sumbar 71,44 % Riau 54,98% Riau 54,98% Sumsel 56,90% Bengkulu 64,48 % Babel 66,18% Lampung 61,88% Jakarta 106,47% Banten 74,07% Jabar 70,47% Jateng 78,91% Jambi 58,85% Jambi 58,85% DIY 77,43% Jatim 73,65% Bali 68,63% NTB 47,20% NTB 47,20% NTT 34,52% NTT 34,52% Kalbar 64,86% Kalteng 52,97% Kalteng 52,97% Kalsel 73,95% Kaltim 58,75% Kaltim 58,75% Sulut 77,99% Gorontalo 67,38% Sulteng 62,03% Sultra 51,08% Sultra 51,08% Sulsel 71,97% Malut 53,48% Malut 53,48% Maluku 61,73% Papua 33,52% Papua 33,52% Sulbar 33,56% Sulbar 33,56% Kepri 71,35% Papua Barat 46,28 %

22 NAD 89,79 % Sumut 87,01% Sumbar 80,19% Riau 79,09% Sumsel 74,83% Bengkulu 73,23% Babel 83,39% Lampung 72,88% Jakarta 99,99% Banten 69,53% Jabar 72,77% Jateng 80,74% Jambi 78,17% DIY 77,96% Jatim 74,98% Bali 71,56% NTB 54,77% NTT 44,49% Kalbar 67,87% Kalteng 69,20% Kalsel 77,70% Kaltim 64,02% Sulut 75,68% Gorontalo 55,88% Sulteng 66,60% Sultra 57,90% Sulsel 76,86% Malut 71,68% Maluku 72,01% Papua 35,89% Category : > 60 % % % Sulbar 65,26% Kepri 91,68% Papua Barat 60,78% Target Rasio Elektrifikasi 2012 (Kementerian ESDM)

23 Perkembangan “Energy Mix”,

24 Harga Minyak dan Batubara,

25 10 Golongan Tarif Penerima Subsidi Terbesar 2011 (Audit BPK)

26 Realisasi dan Proyeksi Kebutuhan Listrik Indonesia Jawa-Bali Indonesia Barat Indonesia Timur Kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan tumbuh rata-rata 8,46% per tahun (Jawa-Bali 7.8%, Indonesia Barat 10,2% dan Indonesia Timur 10,8%) 328 TWh 241 TWh 55 TWh 31 TWh

27 27 Pacific Place1.1 Senayan Trikarya1.1 Artha Gading1.2 Ngurah Rai1.2 Metro Kentj1.3 Gandaria City1.3 Senayan City1.6 Mulia Inti Pelangi1.8 Supermal Karawaci2.0 Angkasapura5.6 SUMBER: PLN; Analisis tim SLA Shopping mall Airport Subsidi 1, Rp Miliar Shopping mall Airport Top 10 Pelanggan B3 Indonesia 1 Diestimasikan berdasarkan konsumsi bulanan dan tingkat rata-rata subdsidi 100% = B1 B2 B3 Subsidi Rp 9 tn 29.8% 25.4% 44.8% Pelanggan 1.98 jt pelanggan. 85.3% 14.5% 0.2% Segmen Bisnis Bisnis: Fokus pada analisis dampak dari kenaikan tarif konsumen dengan energi intensif Pelanggan dan proporsi subsidi 2011, persen Aktivitas dari top 200 pelanggan B3 dari segmen Bisnis Others 10% Condo. HQ 17% Publik/ airport 10% Hotel 11% Mall 45% Persen konsumsi Top 200 pelanggan memperoleh 34% subsidi B3 Ketidakadilan Subsidi Energi Beberapa konsumen bisnis besar memperoleh jumlah subsidi yang signifikan

28 Dalam beberapa tahun terakhir, subsidi aktual berada di atas perkiraan awal secara signifikan Perbandingan subsidi rencana dan aktual dari Kementerian Keuangan SUMBER: Kementerian Keuangan, RUPTL SUBSIDI LISTRIK Rp Triliun, % % % ) ) APBN-P APBN Hasil Audit BPK 1)Pada tahun 2008, terjadi kenaikan harga minyak sebesar 65% dari tahun sebelumnya. 2) Pada tahun 2011, terjadi kenaikan harga minyak sebesar 35% dari tahun sebelumnya dan terjadi kenaikan pemakaian BBM. 28

29 Perkiraan beban subsidi dalam 5 tahun ke depan berisiko membengkak hingga ~Rp 590 Triliun SUMBER: Proyeksi Finansial PLN (Mei 2012), Analisis tim Perkiraan total subsidi yang dibutuhkan PLN untuk mendukung pertumbuhan industri tenaga listrik Rp Triliun 2016E15E14E E 74 12E Rp Tn 590 Rp Tn Skenario dasar PLN Skenario “Pessimistic” Est. subsidi Di tahun 2012, anggaran subsidi disetujui hanya Rp 65 Triliun – jika berkelanjutan akan membahayakan sustainability PLN juga penjaminan Pemerintah 29

30 PDB Dunia (nominal dan PPP), 2011 Source: World Economic Outlook IMF, 2012

31 PDB Asia Tenggara, 2010

32  Iklim bisnis di Indonesia terutama ditentukan oleh 3 faktor, yakni: (1) keberadaan infrastruktur, (2) korupsi, dan (3) birokrasi.  Pemerintah tidak boleh bangga bahwa APBN defisitnya kecil, karena tidak didukung dengan belanja infrastruktur yang memadai. Idealnya, belanja infrastruktur minimal 5 persen terhadap PDB. Determinan Berbisnis di Indonesia

33 APBN 2011 dan 2012 (Rp miliar) APBN-P 2011 RAPBN 2012 A. Pendapatan Negara dan Hibah , ,7 I. Penerimaan Dalam Negeri , ,6 1. Penerimaan Perpajakan , ,4 a. Pajak Dalam Negeri , ,8 b. Pajak Perdagangan Internasional46.939, ,6 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak , ,2 II. Hibah4.662,1825,1 B. Belanja Negara , ,7 I. Belanja Pemerintah Pusat , ,8 1. K/L , ,2 2. Non K/L , ,7 II. Transfer ke Daerah , ,9 1. Dana Perimbangan , ,6 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian64.969, ,3 III. Suspen0,0 C. Keseimbangan Primer(44.252,9)(2.548,1) D. Surplus/Defisit Anggaran (A-B)( ,7)( ,0) % terhadap PDB(2,1)(1,5) E. Pembiayaan , ,0 I. Pembiayaan Dalam Negeri , ,3 II. Pembiayaan Luar Negeri (netto)(2.776,6)(292,3)

34  Problem besar APBN adalah ketidakberdayaan aparat birokrasi membelanjakan APBN secara tepat waktu. Akibatnya, stimulus fiskal menjadi lemah. Pertumbuhan ekonomi menjadi tidak optimal. Absorpsi Belanja APBN Amat Lemah

35  Belanja infrastruktur Indonesia hanya 3% terhadap PDB setahun. Jauh di bawah belanja yang dilakukan China sebesar 10% terhadap PDB setahun. Indonesia: Poor Infrastructure Spending

36 Fenomena Kelas Menengah Indonesia: Sebuah Peluang  Kini terdapat 56,5% penduduk middle class (konsumsi USD 2-20/orang/hari) dan 0,2% high class (konsumsi di atas USD 20/orang/hari).  Penduduk yang konsumsinya > USD 6/orang/hari mencapai 6,5% atau 16 juta orang. Yang konsumsinya > USD 4/orang/hari mencapai 18,2% atau 45 juta orang.ClassUSD2003(%)2003(%)2010(%)2010(%) Low < Middle High>

37 Loan Growth and Nominal GDP

38 Cadangan Devisa Indonesia (US$ juta) Sumber: Bank Indonesia

39 Economic indicators * 2013* GDP growth (%) Inflation (%) Exchange rate (Rp/USD) 8,600-8,8009,400-9,5009,200 BI rate (%) Loan growth (%) “Economic Outlook”

40 Indikator Utama Ekonomi Indonesia Indicator Total GDP ∞ Rp 7,800 trillion Population 245 million Per capita GDP USD 3,500/person/year Economic growth 4.5% (2009), 6.1% (2010) 6.5% (2011), 6.3% (projected,2012) Inflation rate 2.78% (2009), 6.96% (2010) 3.79% (2011), 4.56 (yoy end of July 2012) Interest rate (BI rate) 5.75% (July 2012) International reserve USD 106 billion (September 2012) Trade surplus (X-M) USD 22.6 billion (2009); USD billion (2010) USD 23.6 billion (2011) Government budget 2012 Rp 1,418 trillion (USD 150 billion)

41  Sampai sekarang, ketidakpastian (uncertainties) tentang krisis zona euro masih tinggi. Penyebabnya, solusi krisis tetap tidak jelas. Terutama soal kesediaan Yunani menjalani “diet ketat”, fiscal austerity/discipline, sacrifice.  Bailout untuk Yunani, mungkin cukup jelas magnitude-nya. Namun bagaimana halnya dengan krisis Italia, lalu Spanyol, Portugal, dan lain-lain?  Salah satu ide penyelesaian krisis adalah membubarkan euro. Bisakah ini diterima oleh Jerman dan Perancis? Tampaknya sulit.  Karena ketidakpastian masa depan ekonomi global inilah maka akan menyebabkan volatilitas euro, USD, dan akhirnya juga rupiah yang cenderung melemah. K e s i m p u l a n ( 1 )

42  Pemerintah harus lebih giat mendorong stimulus fiskal. Defisit APBN bisa dinaikkan menjadi 2-3% terhadap PDB, agar bisa mendorong aggregate demand.  Perlu disiplin tinggi untuk merealisasikan belanja fiskal, agar penyerapan capital expenditure (capex) tinggi.  Neraca perdagangan dan neraca traksaksi berjalan tertekan hebat. Harus ada inisiatif untuk menetralisasikannya.  Bank Indonesia menyerukan pengendalian ekspansi kredit agar tidak terjadi overheating (perekonomian “kepanasan”).  Indonesia perlu lebih aktif meninjau kembali kebijakan liberalisasi. Liberalisasi tidak berarti tanpa batas (limitless). Semuanya ada batasnya. Sedikit violating peraturan WTO kini menjadi necessary. K e s i m p u l a n ( 2 )

43  Subsidi BBM dan listrik semakin tidak rasional, ketika angkanya mencapai Rp 200 triliun (BBM) dan Rp 100 triliun (TDL). Ini akan sangat mengganggu fiscal sustainability. Karena itu, kenaikan harga BBM bersubsidi dan TDL pada 2013 menjadi sebuah keharusan. Inilah tahun terakhir dan terbaik, karena 2014 akan riskan secara politis.  Kenaikan harga BBM dan TDL harus diformulasikan sedemikian rupa agar inflasin 2013 masih terkendali pada level 6%.  Berdasarkan pengalaman selama ini, inflasi 6% masih affordable (secara ekonomis) dan tolerable (secara politis) bagi masyarakat. Perekonomian Indonesia saya yakini masih bisa tumbuh 6,5% pada 2013, atau sedikit naik dari 6,3% tahun ini. ©tonyprasetiantono. K e s i m p u l a n ( 3 )

44 ©tonyprasetiantono.


Download ppt "Pertumbuhan yang Tersandera “Fiscal Sustainability” Ceramah Umum Dies Natalis ke-57 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 10."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google