Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

MARI BELAJAR.. MATERI PERPAJAKAN PPh Pasal 21, 22, dan 23.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "MARI BELAJAR.. MATERI PERPAJAKAN PPh Pasal 21, 22, dan 23."— Transcript presentasi:

1 MARI BELAJAR.. MATERI PERPAJAKAN PPh Pasal 21, 22, dan 23

2 PEMOTONGAN DAN PEMUNGUTAN PPh PPh PASAL 21 Pemotongan atas penghasilan yg dibayarkan kepada orang pribadi sehubungan dengan pekerjaan jabatan jasa & kegiatan

3 Pegawai Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, THT, JHT, termasuk ahli warisnya Bukan pegawai : Tenaga ahli Seniman/pekerja seni, pembawa acara Olahragawan Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh dan moderator Pengarang, peneliti, penerjemah Pemberi jasa dalam segala bidang Agen iklan Pengawas dan pengelola proyek Pembawa pesanan/yang menemukan langganan/perantara Petugas penjaja barang dagangan Petugas dinas luar asuransi Distributor MLM, Direct Selling Peserta kegiatan Peserta perlombaan Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, kunjungan kerja Peserta/anggota kepanitiaan Peserta pendidikan, pelatihan dan magang Peserta kegiatan lainnya Penerima Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 21/26

4 Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 21/26 Penghasilan Pegawai Tetap baik teratur maupun tidak teratur Penghasilan Penerima Pensiun secara teratur Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan sehubungan pensiun yang diterima sekaligus Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas yang dibayarkan secara bulanan Imbalan kepada bukan pegawai Imbalan kepada peserta kegiatan Bukan Wajib Pajak Wajib Pajak PPh FinalWajib Pajak Norma Penghitungan Khusus TERMASUK Natura/Kenikmatan dari :

5 PTKP KeteranganSetahunSebulan Untuk diri Wajib Pajak Tambahan pegawai kawin Tambahan anggota keluarga sedarah & semenda dlm grs keturunan lurus, anak angkat, maximum 3 orang Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami

6 Status PTKP WP Tidak KawinKodeJumlah 0 TanggunganTK/ TanggunganTK/ TanggunganTK/ TanggunganTK/ WP KawinKodeJumlah 0 TanggunganK/ TanggunganK/ TanggunganK/ TanggunganK/ WP Kawin + Penghasilan Istri DigabungKodeJumlah 0 TanggunganK/I/ TanggunganK/I/ TanggunganK/I/ TanggunganK/I/

7 PTKP UTK KARYAWATI HANYA UTK DIRI SENDIRI HANYA UTK DIRI SENDIRI STATUS KAWIN STATUS TDK KAWIN - UTK DIRI SENDIRI SEBAGAI WP - TANGGUNGAN MAKS 3 ORANG SYARAT: MENUNJUKKAN KET. TERTULIS DARI PEMERINTAH DAERAH SETEMPAT SERENDAH-RENDAHNYA KECAMATAN BAHWA SUAMI TIDAK MENERIMA/ MEMPEROLEH PENGHASILAN SYARAT: MENUNJUKKAN KET. TERTULIS DARI PEMERINTAH DAERAH SETEMPAT SERENDAH-RENDAHNYA KECAMATAN BAHWA SUAMI TIDAK MENERIMA/ MEMPEROLEH PENGHASILAN STATUS KAWIN SUAMI TDK MENERIMA/ MEMPEROLEH PENGHASILAN - UTK DIRI SENDIRI SEBAGAI WP - STATUS KAWIN - TANGGUNGAN MAKS 3 ORANG

8 BIAYA JABATAN & BIAYA PENSIUN SETAHUN (MAKSIMAL) SETAHUN SEBULAN (MAKSIMAL) SEBULAN BIAYA JABATAN BIAYA PENSIUN 5 % x PENGHASILAN BRUTO (GAJI) 5 % x PENGHASILAN BRUTO (PENSIUN)

9 9 TARIF BERDASARKAN PASAL 17 AYAT (1) A UU NO.36/2008 ( UU PPh) NO Lapisan Penghasilan Tarif 1. S.d. Rp % 2. Di atas Rp s.d. Rp % 3. Di atas Rp s.d.Rp % 4. Di atas Rp % KETENTUAN BARU (Mulai tahun pajak 2009):

10 10 TIDAK TERMASUK PENGHASILAN YANG DIPOTONG PPh PASAL 21 PENGHASILAN PEMBAYARAN MANFAAT ATAU SANTUNAN ASURANSI DARI PERUSAHAAN SEHUBUNGAN DGN ASURANSI KESEHATAN, ASURANSI KECELAKAAN, ASURANSI JIWA, ASURANSI DWIGUNA, DAN ASURANSI BEASISWA PENERIMAN DLM BENTUK NATURA DAN/ATAU /KENIKMATAN DLM BENTUK APAPUN YG DIBERIKAN OLEH WAJIB PAJAK ATAU PEMERINTAH (Contoh PPh 21 yg ditanggung Pemberi Kerja atau yg ditanggung Pemerintah) IURAN PENSIUN YANG DIBAYARKAN KEPADA DANA PENSIUN YG PENDIRIANNYA TLH DISAHKAN MENKEU,IURAN TUNJANGAN HARI TUA ATAU IURAN JAMINAN HARI TUA KEPADA BADAN PENYELENGGARA TUNJANGAN HARI TUA/JAMSOSTEK YANG DIBAYAR OLEH PEMBERI KERJA ZAKAT YG DITERIMA OLEH ORANG PRIBADI YG BERHAK DARI BADAN/ LEMBAGA AMIL ZAKAT YG DIBENTUK ATAU DISAHKAN PEMERINTAH, ATAU SUMBANGAN KEAGAMAAN YG SIFATNYA WAJIB BAGI PEMELUK AGAMA YG DIAKUI DI INDONESIA YG DITERIMA OLEH ORANG PRIBADI YG BERHAK DARI LEMBAGA KEAGAMAAN YG DIBENTUK ATAU DISAHKAN PEMERINTAH BEASISWA YG DITERIMA WNI DLM RANGKA MENGIKUTI PENDIDIKAN FORMAL/NON FORMAL (TERSTRUKTUR DAN BERJENJANG) DI DLM NEGERI DAN/ATAU DI LUAR NEGERI DGN SYARAT PEMBERI DGN PENERIMA BEASISWA TDK MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA

11 PEMOTONGAN / PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 OLEH BENDAHARA - GAJI/PENSIUN - TUNJANGAN TERKAIT PENGHASILAN SEHUBUNGAN PEKERJAAN, JABATAN, JASA, KEGIATAN YANG DIBEBANKAN KEPADA KEUANGAN NEGARA/DAERAH HONORARIUM IMBALAN LAIN DGN NAMA APAPUN PEJABAT NEGARA/PNS/ ANGGOTA TNI/POLRI/ PENSIUNANNYA BUKAN PEJABAT NEG/PNS/ANGGOTA TNI/ANGGOTAPOLRI/PENSIUNANNYA DIBAYARKAN KEPADA TARIF PS.17 X PENGHASILAN KENA PAJAK DITANGGUNG PEMERINTAH UPAH HARIAN/ MINGGUAN/ BORONGAN HONOR, U.SAKU HADIAH, KOMISI, BEASISWA, PEM- BAYARAN LAIN SEHUBUNGAN DGN PEKERJAAN JASA KEGIATAN TARIF PS.17 X PH. BRUTO TENAGA AHLI : PENGACARA AKUNTAN ARSITEK DOKTER KONSULTAN NOTARIS PENILAI AKTUARIS TARIF PS.17 X DASAR PEMOTONGAN DAN PEMUNGUTAN

12 12 Penghitungan PPh Pasal 21 ATAS PENGHASILAN BERUPA UPAH HARIAN, MINGGUAN, SATUAN, BORONGAN, DAN UANG SAKU HARIAN PKP SEBULAN PPh SETAHUN DIBAYAR BULANAN DIKURANGI PTKP SEBULAN PKP DISETAHUNKAN X TARIF PPh Ps.17 PPh SEBULAN JIKA WP TDK MEMILIKI NPWP MAKA TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI

13 CONTOH PERHITUNGAN PPh 21 LAMPIRAN PER-31/2012

14 14 CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 Contoh 1 Dr. Iqbal (bukan PNS), menerima honorarium pembicara di Kemdiknas sebesar Rp ,- Penghitungan PPh Pasal 21 5% x (50%Rp ) = Rp ,- Jika Dr. Slamet tidak punya NPWP 5% x (50%Rp )x 120% = Rp ,- Contoh 2 Ditha Setiadhi (status TK/0)mempunyai NPWP, menerima honorarium sebesar Rp ,- / tiap bulan selama 6 bulan sebagai pelatih Di Mabes Polri. Ditha Setiadhi menyatakan dirinya hanya menerima penghasilan dari Mabes Polri saja. Penghitungan PPh Pasal 21: = ((Rp x 50%) – PTKP sebulan) x tarif Pasal 17 ayat (1) hurruf a = (Rp – ) x 5% =Rp x 5% =Rp ,-

15 CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 Contoh 3 Willy SH, LLM (memiliki NPWP-bukan PNS) menerima uang rapat sebagai peserta rapat di Mabes Polri sebesar Rp ,- Penghitungan PPh Pasal 21 : 5% x Rp = Rp50.000,- 5% x (Rp ) = Rp Jika Willy tidak memiliki NPWP, maka atas uang rapat yang diterima dipotong PPh Pasal 21 sebesar : 5% x 120% x Rp =Rp60.000

16 Contoh Kasus 1.NamaADI SAPUTRO 2.AlamatJl. Sakti No Jabatan Kabag Keuangan, Kementerian BUMN 4.Status/TanggunganKawin/2 Anak 5.Pangkat/GolonganPembina (IV/a) 6.NPWP Masa KerjaJanuari – Desember Penghasilan Bruto 1 thn Rp ,-

17 Data Wajib Pajak Orang Pribadi Tahun /Th, /Bln BIAYA JABATAN = 5% x Penghasilan Bruto (Maksimal : /Th, /Bln IURAN PENSIUN = 4.75% x (Gaji Pokok+Tunjangan Keluarga) = 4.75% x IURAN PENSIUN = 4.75% x (Gaji Pokok+Tunjangan Keluarga) = 4.75% x

18 Data Wajib Pajak Orang Pribadi Tahun 2013 Ribuan Penuh (000) Pembulatan Penghasilan Kena Pajak adalah Ribuan Penuh (000)

19 19 PPh Pasal 22

20 DEFINISI DAN OBJEK PPh ps. 22  Impor Barang  Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan oleh DJA, bendaharawan pemerintah pusat/daerah.  Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan oleh BUMN/D yang dananya dari belanja negara/daerah.  Penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh Pertamina dan badan usaha lainnya yang bergerak di bidang bahan bakar jenis Pertamax, Pertamax Super dan gas.  Dan lain-lain ditentukan dengan UU. Pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang dan kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang lainnya.

21 BUKAN OBJEK PPh PASAL 22  Impor barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan Keputusan Dirjen Pajak tidak terutang PPh. Dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas (SKB) PPh pasal 22.  Impor Barang yang dibebaskan dari Bea Masuk.  Impor sementara jika akan di ekspor kembali.  Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp dan tdk meru- pakan pembayaran yang terpecah-pecah.  Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, air minum/PDAM, dan benda pos.  Atas impor emas batangan yg akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan emas untuk tujuan ekspor dinyatakan dengan SKB.  Pembayaran/pencairan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) oleh KPN.  Re-impor barang-barang yg telah diekspor utk tujuan perbaikan, penger- jaan dan pengujian.

22 PEMUNGUT PPh PASAL 22 Pemungut PPh pasal 22:  Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang;  Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Bendahara Pemerintah baik di tingkat Pusat ataupun di tingkat Daerah, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang;  Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, yang melakukan pembelian barang dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN) dan/atau belanja daerah (APBD), kecuali badan-badan tersebut pada angka 4;  Bank Indonesia (BI), PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Perum Badan Urusan Logistik (BULOG), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau Steel, PT Pertamina, dan bank-bank BUMN yang melakukan pembelian barang yang dananya bersumber dari APBN maupun non-APBN;  Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri kertas, industri baja, dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri;  Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas.  Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul.

23 TARIF PPh PASAL 22 Importir yang memiliki API (angka pengenal importir); tarif 2.5% – PPh pasal 22 = 2.5% x Nilai Impor Importir yang tidak memiliki API, tarif 7.5% – PPh pasal 22 = 7.5% x Nilai Impor Barang impor yang tidak dikuasai; tarif 7.5% dari harga jual lelang – PPh pasal 22 = 7.5% x Harga Jual Lelang Atas pembelian barang yang dananya dari APBN/D; tarif 1.5% – PPh pasal 22 = 1.5% x Pembelian dalam negeri Penebusan premium, solar, pertamax o/ SPBU swasta; tarif 0.3% – PPh pasal 22 = 0.3% x Penjualan Penebusan premium, solar, pertamax o/ SPBU Pertamina; tarif 0.25% – PPh pasal 22 = 0.25% x Penjualan Atas penjualan minyak tanah, gas LPG, pelumas; tarif 0.3% – PPh pasal 22 = 0.3% x Penjualan

24 24 DIKECUALIKAN DARI PEMUNGUTAN PPh PSL 22 PEMBAYARAN ATAS PENYERAHAN BARANG YANG JUMLAHNYA PALING BANYAK Rp ,- DAN TIDAK MERUPAKAN PEMBAYARAN YANG TERPECAH- PECAH DILAKUKAN OTOMATIS TANPA SKB PEMBAYARAN UNTUK PEMBELIAN BAHAN BAKAR MINYAK, LISTRIK, GAS, AIR MINUM / PDAM, DAN BENDA BENDA POS DILAKUKAN OTOMATIS TANPA SKB

25 25 SAAT PEMUNGUTAN TARIF 1,5% DARI HARGA/NILAI PEMBELIAN BARANG PADA SETIAP PELAKSANAAN PEMBAYARAN ATAS PENYERAHAN BARANG OLEH REKANAN JIKA REKANAN TDK MEMILIKI NPWP MAKA TARIFNYA 100% LEBIH TINGGI

26 26 CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 22 Drs. Delta, Bendahara Madrasah Negeri Depok membeli komputer Rp , (harga yg tertulis di kuitansi) -. Penghitungan PPh Pasal 22 Harga yg tertulis di kuitansi adalah nilai barang termasuk PPN, maka Rp ,- x 100/110 x 1,5% = Rp ,- *Utk mencari harga barang tanpa PPN maka nilai tertera di kuitansi tsb dikalikan 100/110 Apabila rekanan tidak memiliki NPWP maka PPh pasal 22 terutang : Rp ,- x 100/110 x 1,5% x 200% =Rp ,-

27 27 PPh Pasal 23

28 PEMOTONG PPh PASAL 23  Badan Pemerintah.  Subjek Pajak Dalam Negeri.  Penyelenggara Kegiatan.  Badan Usaha Tetap (BUT)  Perwakilan Perusahaan Luar Negeri Lainnya.  Orang Pribadi sebagai WP yang ditunjuk oleh Kepala KPP.

29 PEMOTONG PPh PASAL 23/26 29 BENDAHARA PEMERINTAH PUSAT BENDAHARA PEMERINTAH DAERAH BADAN YANG MELAKUKAN PEMBAYARAN ATAS OBJEK PPh Pasal 23 Peraturan Menkeu No.244/PMK.03/2008

30 PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PEMOTONGAN 30 PPh PASAL 23 HADIAH DAN PENGHARGAAN SEHUBUNGAN DENGAN KEGIATAN SELAIN YANG TELAH DIPOTONG PPh. 21 SEWA DAN PENGHASILAN LAIN SEHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN HARTA IMBALAN SEHUBUNGAN DENGAN: JASA TEKNIK; JASA MANAJEMEN; JASA KONSULTAN HUKUM, JASA KONSULTAN PAJAK, JASA LAIN SELAIN JASA YG TELAH DIPOTONG PPh PSL 21 YANG BERASAL DARI MODAL : DEVIDEN BUNGA ROYALTI

31 TARIF DAN DASAR PEMOTONGAN 31 PPh PASAL 23 SEWA DAN JASA LAINNYA TARIF 15 % DASAR PEMOTONGAN HADIAH DAN PENGHARGAAN, DEVIDEN, BUNGA DAN ROYALTI TARIF 2 % JIKA REKANAN TDK MEMILIKI NPWP MAKA TARIFNYA 100% LEBIH TINGGI JUMLAH BRUTO

32 Objek Pemotongan PPh Pasal 23 NoObjekTarifDasar Penghitungan SifatBatas waktu penyetoran Batas waktu pelaporan 1jasa teknik, jasa manajemen, jasa Konstruksi, jasa konsultan 2%Jumlah Bruto*Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 1.Dividen, Bunga, Royalti, Hadiah15%Jumlah Bruto*Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 2.Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta kecuali Sewa Tanah dan/atau Bangunan 2%Jumlah Bruto*Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 3.Imbalan Jasa Lain 1. Jasa Penilai (appraisal)2% Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 2. Jasa Aktuaris2% Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 3. Jasa Akuntansi,pembukuan dan atestasi laporan keuangan 2% Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 4. Jasa Perancanag (design)2% Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 5. Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan migas,kecuali yg dilakukan BUT 2% Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 6. Jasa penunjang di bidang penambangan Migas 2% Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 32 *tidak termasuk PPN 

33 NoObjekTarifDasar Penghitungan SifatBatas waktu penyetoran Batas waktu pelaporan 7. Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas 2% Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 8. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara 2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 9. Jasa penebangan hutan2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 10. Jasa pengelolaan limbah2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 11. Jasa penyediaan tenaga kerja (outsourcing service) 2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 12. Jasa perantara atau keagenan2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 13. Jasa di bidang perdagangan surat- surat berharga, kecuali yg di lakukan Bursa Efek, KSEI dan KPEI 2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 14. Jasa kostodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yg dilakukan KSEI 2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 15. Jasa pengisian suara (dubbing dan/atau sulih suara 2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 33 *tidak termasuk PPN  Objek Pemotongan PPh Pasal 23 …lanjutan

34 NoObjekTarifDasar Penghitungan SifatBatas waktu penyetoran Batas waktu pelaporan 16. Jasa mixing film2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 17. Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan 2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 18. Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, dan/atau TV Kabel, selain yg dilakukan oleh Wajib Pajak yg ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikat sbg pengusaha konstruksi 2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 19. Jasa perawatan/perbaikan /pemeliharaan mesin, peralatan, listrik telepon, air, gas, AC, dan/atau TV Kabel, alat transportasi/kendaraan dan/atau bangunan, selain yg dilakukan Wajib Pajak yg ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai sertifikat sbg pengusaha konstruksi 2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 20. Jasa maklon2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 21. Jasa penyelidikan dan keamanan2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 34 *tidak termasuk PPN  Objek Pemotongan PPh Pasal 23 …lanjutan

35 NoObjekTarifDasar Penghitungan SifatBatas waktu penyetoran Batas waktu pelaporan 22. Jasa penyelenggara kegiatan2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 23. Jasa pengepakan2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 24. Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media masa, media luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi 2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 25. Jasa pembasmi hama2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 26. Jasa kebersihan atau cleaning service2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 27. Jasa katering atau tata boga2%Jumlah Bruto* Tgl 10 bln berikutnya Tgl 20 bln berikutnya 35 *tidak termasuk PPN Objek Pemotongan PPh Pasal 23

36 36 CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 23 Contoh 1 Drs. Delta, Bendahara Madrasah Negeri Depok menggunakan jasa pemeliharaan komputer Rp , (harga yg tertulis di kuitansi) -. Penghitungan PPh Pasal 23 Harga yg tertulis di kuitansi adalah nilai barang termasuk PPN, maka Rp ,- x 100/110 x 2% = Rp ,- *Utk mencari harga barang tanpa PPN maka nilai tertera dikuitansi tsb dikalikan 100/110 Apabila rekanan tidak memiliki NPWP, maka PPh Pasal 23 terutang : Rp x 100/110 x 2% x200%= Rp ,- Contoh 2 Drs. Yaumin, Bendahara Depdiknas menggunakan jasa biro Iklan untuk memasang Iklan di Media massa dan elektronik dengan total pembayaran Rp , (harga yg tertulis di kuitansi) -. Penghitungan PPh Pasal 23 Harga yg tertulis di kuitansi adalah nilai barang termasuk PPN, maka Rp ,- x 100/110 x 2% = Rp ,- *Utk mencari harga barang tanpa PPN maka nilai tertera dikuitansi tsb dikalikan 100/110 Apabila rekanan tidak memiliki NPWP, maka PPh Pasal 23 terutang : Rp x 100/110 x 2% x200%= Rp ,-

37 Batas Waktu Penyetoran dan Pelaporan Pajak Jenis PajakBatas Waktu Penyetoran Batas Waktu Pelaporan PPh Pasal 21Selambat-lambatnya tgl 10 bulan berikut Selambat-lambatnya tgl 20 bulan berikut PPh Pasal 22Pada hari yang sama dg pelaksanaan pembayaran Selambat-lambatnya 14 hari setelah masa pajak berakhir PPh Pasal 23/FinalSelambat-lambatnya tgl 10 bulan berikut Selambat-lambatnya tgl 20 bulan berikut PPNSelambat-lambatnya tgl. 7 bulan berikutnya Selambat-lambatnya akhir bulan berikutnya

38 Jenis PajakTidak/terlambat Setor Tidak/terlambat Lapor PPh Pasal 21Sanksi bunga 2 % Sanksi denda Rp PPh Pasal 22Sanksi bunga 2 % Sanksi denda Rp PPh Pasal 23/Final Sanksi bunga 2 % Sanksi denda Rp PPNSanksi bunga 2 % Sanksi denda Rp

39 39


Download ppt "MARI BELAJAR.. MATERI PERPAJAKAN PPh Pasal 21, 22, dan 23."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google