Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pertemuan 3: PENGERTIAN DASAR SKRIPSI

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pertemuan 3: PENGERTIAN DASAR SKRIPSI"— Transcript presentasi:

1 Pertemuan 3: PENGERTIAN DASAR SKRIPSI
Mata kuliah : SEMINAR @2009, vers 04. Pertemuan 3: PENGERTIAN DASAR SKRIPSI Bina Nusantara

2 Learning Outcomes Mahasiswa dapat memahami tentang dasar-dasar teori yang diperlukan dalam melakukan penulisan skripsi.. Bina Nusantara

3 Outline Materi: Pengertian Skripsi Penulisan Kutipan
Teknik Penulisan Daftar Pustaka Bab I. Pendahuluan Bab II. Kajian Pustaka Hipotesis Bina Nusantara

4 PENGERTIAN SKRIPSI SKRIPSI adalah karya tulis ilmiah yang dihasilkan oleh para Mahasiswa Strata satu (S-1) pada suatu lembaga Perguruan Tinggi sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelar sarjana strata satu (S-1). TESIS adalah karya tulis ilmiah yang dihasilkan oleh para Mahasiswa Strata dua (S-2). DESERTASI adalah karya tulis ilmiah yang dihasilkan oleh para Mahasiswa Strata Tiga (S-3). Bina Nusantara

5 Ukuran pengetikan dua spasi;
Pengetikan skripsi menggunakan komputer dengan ketentuan sebagai berikut : Menggunakan kertas ukuran kwarto (A-4); Margin : - Atas : 4 cm - Kiri : 4 cm - Bawah : 3 cm - Kanan : 3 cm Ukuran pengetikan dua spasi; Huruf yang digunakan : Arial 12 dan Times New Roman 12 Bina Nusantara

6 PENULISAN KUTIPAN Kutipan lansung yang melibihi 5 (lima) baris diketik dengan ukuran satu spasi, dan diletakkan pada tiga spasi dari batas margin kiri. Nama pengarang, tahun penerbitan, dan halaman kutipan disertakan dalam kutipan lansung maupun kutipan tidak lansung. Contoh : Kutipan langsung Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas kerja yang mengarah pada tenaga kerja yang profesional, maka pendidikan dan pelatihan mutlak harus dilaksanakan. H.A.R. Tilaar (1999 : 105) mengatakan : “Unsur utama di dalam program pengembangan SDM Indonesia mencapai tujuan PJP II, maka pendidikan dan pelatihan haruslah berpijak pada dua prinsip pokok, yaitu yang bersifat “komprehensif” dan bersifat “dinamik”. Komprehensif disebabkan karena seluruh program pembangunan nasional pada hakikatnya dilaksanakan oleh manusia Indonesia yang mampu untuk melaksanakannya”. Keterangan : Kutipan lansung ditulis dengan satu spasi dengan kalimat kutipan harus sama dengan bahasa/buku aslinya. Bina Nusantara

7 Contoh : Kutipan tidak langsung
Tjiptono dan Diana (1998 : 212) mengatakan bahwa diklat bersifat spesifik, praktis, dan segera. Dimaksud dengan spesifik dalam arti diklat berhubungan secara spesifik dengan pekerjaan yang dilakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan praktis dan segera adalah bahwa apa yang sudah dilatih dapat diaplikasikan dengan segera sehingga materi yang diberikan harus bersifat praktis. Keterangan : Kutipan tidak lansung ditulis dengan dua spasi dengan kalimat kutipan tidak harus sama dengan bahasa/buku aslinya, boleh dengan kalimat dan bahasa peneliti, asal maksud dan tujuannya sama dengan materi yang dikutip. Bina Nusantara

8 DAFTAR KEPUSTAKAAN Daftar kepustakaan adalah nama buku-buku, jurnal, majalah ilmiah, dan tulisan-tulisan lain yang benar-benar digunakan untuk mendukung kerangka berpikir maupun analisis serta diskusi/pembahasan. Buku yang tidak disitir seyogianya tidak dimasukkan ke dalam daftar kepustakaan. Bina Nusantara

9 TEKNIK PENULISAN DAFTAR PUSTAKA
Ada beberapa teknik penulisan yang ditulis para pakar. Khusus untuk dunia pendidikan banyak disepakati mengacu pada panduan yang diterbitkan oleh American Psychological Association. Ketentuan penulisan daftar pustaka, yaitu : Semua bahan pustaka yang dijadikan sebagai sumber bagi peneliti, baik dikutip langsung maupun hanya dibaca dan diambil intisarinya wajib dicantumkan dalam daftar pustaka. Jarak penulisan antara baris satu dengan baris lain untuk satu sumber pustaka adalah satu spasi, sedangkan jarak antara satu sumber pustaka dengan sumber pustaka lainnya adalah dua spasi. Baris kedua dan seterusnya dari setiap sumber pustaka dimulai ketukan kelima sesudah margin permulaan untuk baris pertama. Bina Nusantara

10 Penulisan nama pengarang
Ditulis nama resmi Dimulai dengan nama keluarga (surname), baru nama sendiri (khusus pengarang Barat atau Negara yang menggunakan nama keluarga di depan). Untuk nama Indonesia ditulis sebagaimana biasa. Untuk nama yang menggunakan huruf-huruf singkatan misalnya nama baptis atau singkatan dari nama lain yang biasa dikenal dengan “inisial” maka inisial tersebut dituliskan di belakang nama resmi setelah diberi antara tanda koma. Kemudian inisial tersebut diikuti dengan tanda titik. Bina Nusantara

11 Contoh Penulisan Daftar Pustaka :
Suharsimi Arikunto – cara penulisannya : Suharsimi Arikunto Manajemen penelitian. Jakarta : Reneka Cipta Abizar–Agus Irianto–Chatlinas Said (untuk pengarang sebuah buku yang lebih dari satu orang) cara penulisannya : Abizar , Agus Irianto , Chatlinas Said Psikologi umum. Bandung : Pustaka Setia William G. Cochran – cara penulisannya : Cochran William G Sampling tecniques. New delhi : Wesely Eastwrn Privati Limited Jika terjemahan – cara penulisannya: Geertz Clifford (terjemahan F.B.Hardiman) Tafsir kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius Bina Nusantara

12 Catatan : Gelar yang dimiliki oleh pengarang tidak ditulis;
Tidak ada penomoran dalam pembuatan daftar pustaka; Susunan daftar pustaka harus secara alfabetis; Bina Nusantara

13 Latar Belakang Masalah
BAB. I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Latar belakang masalah merupakan landasan berpijak bagi munculnya kebutuhan untuk memahami kesenjangan antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diharapkan. Oleh karena itu dalam bagian ini diuraikan suatu kontelasi yang memunculkan permasalahan. Disamping itu, dikemukakan pula perlunya pemecahan masalah tersebut secara ilmiah. Pada sub bagian ini pembaca dibawa ke arah pentingnya masalah tersebut sehingga dapat mengetahui apa akhir dari penelitian yang akan dilakukan. Identifikasi Masalah Secara umum masalah berada pada suatu kontelasi tertentu yang dipengaruhi atau berhubungan dengan berbagai faktor tertentu. Oleh karena itu seyogianya masalah tersebut terlebih dahulu dikenali melalui hubungannya dengan berbagai faktor tersebut. Pengenalan masalah tersebut akan memunculkan berbagai pernyataan dan pertanyaan yang disebut identifikasi masalah. Berpikirlah dari variabel terikat, selanjutnya mencari faktor-faktor/ variabel-variabel yang mengelilingi atau mempengaruhinya. Bina Nusantara

14 Pembatasan Masalah Perumusan Masalah
Oleh karena pada identifikasi masalah muncul berbagai pertanyaan yang kesemuanya tidak mungkin dijawab oleh peneliti, maka peneliti perlu membatasi ruang lingkup permasalahan tersebut, misalnya dari sudut pendekatan, waktu, tempat, subjek penelitian, efisiensi, efektivitas variabel yang akan diteliti, dan lain sebagainya. Pembatasan masalah tersebut diperlukan agar peneliti dapat memfokuskan perhatian pada inti permasalahan yang diminatinya dan perlu untuk dikaji. Hal yang perlu diingat ialah bahwa pembatasan masalah pada beberapa variabel saja harus dilandasi dengan alasan yang tepat dan ilmiah. Perumusan Masalah Masalah penelitian harus dirumuskan dengan baik. Hal ini dapat dilakukan setelah masalah tersebut diidentifikasi dan dibatasi dengan jelas. Perumusan masalah lazimnya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang menyangkut hubungan antar variabel penelitian maupun adanya perbedaan, sifat hubungan harus jelas korelasional maupun kausal serta bentuk hubungannya. Bina Nusantara

15 Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian mengemukakan apa yang ingin dicapai dengan penelitian ini. Oleh karena itu tujuan penelitian harus dapat dinyatakan secara jelas dan ringkas. Seyogianya tujuan penelitian tidak menyimpang dari masalah yang diteliti. Manfaat Penelitian Perlu dikemukakan secara singkat dan jelas manfaat apa yang dipetik dari penelitian ini, yang dapat berupa sumbangan yang dapat diberikan terhadap pengembangan iptek, institusi atau pengembangan. Manfaat dapat merupakan obsesi peneliti dengan dipecahkannya masalah tersebut. Bina Nusantara

16 BAB. II KAJIAN KEPUSTAKAAN Kajian/ Landasan Teori disesuaikan dengan variable dan sub variable.
Masing-masing variabel yang akan diteliti perlu didefinisikan secara lugas. Pendefinisian variabel oleh peneliti akan bijaksana jika didasarkan pada beberapa pendapat para ahli. Definisi seluruh variabel yang akan diteliti lugas dan tidak tendensius pada pendapat pribadi dimungkinkan hilangnya kecongkaan peneliti. Disamping itu indikator masing-masing variabel akan objektif dan membantu dalam penyusunan instrumen. Teori Pendukung Untuk mengkaji masalah penelitian dalam hubungan yang lebih luas diperlukan teori-teori yang relevan. Teori-teori tersebut disamping diperlukan untuk pemecahan masalah yang diteliti juga sangat diperlukan sebagai dasar pembenaran gagasan dan argumentasi keilmuan yang diajukan. Jika penelitian mengambil berbagai teori, maka peneliti harus melakukan analisis yang cermat sehingga diperoleh konklusi yang dapat diandalkan. Setiap variabel harus dapat diuraikan secara jelas dan ilmiah (didukung oleh pendapat para ahli) sebelum peneliti membuat kesimpulan tentang masing-masing variabel. Bina Nusantara

17 Kajian/ Hasil Penelitian Terdahulu
Pada bagian ini sedapat mungkin dikemukakan hasil-hasil penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini. Usahakan temuan-temuan/hasil penelitian orang lain yang dilakukan sebelum penelitian adalah yang terbaru. Mengingat banyaknya penelitian dewasa ini, maka penelitian yang relevan sudah dimungkinkan untuk dicari. Kajian ini akan memperjelas kaitan variabel yang akan diteliti. Kerangka Pemikiran Kajian teoritik secara analisis dan konklusif harus membuahkan premis-premis bagi penelitian yang menganut model hipotesis deduktif. Pada kerangka berpikir tersebut, peneliti mengajukan argumentasi ilmiah yang mengarah pada jawaban permasalahan secara deduktif. Kerangka berpikir mengarah pada perumusan hipotesis. Oleh karena itu kerangka berpikir disusun untuk setiap rumusan hipotesis. Untuk memperjelas uraian perlu digambarkan kerangka berpikir tersebut pada suatu model sehingga alur pikir peneliti dapat dengan mudah dipahami pembaca. Bina Nusantara

18 Hipotesis Penelitian Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian. Jawaban sementara tersebut diperoleh melalui kerangka berpikir yang didasarkan pada kajian secara analisis dan konklusif. Jika dalam kajian teoritik diambil teori-teori yang sudah mapan, maka peneliti memiliki landasan berpijak yang kuat untuk menyusun kerangka berpikir bagi perumusan hipotesis. Hipotesis seperti ini disebut hipotesis asumsi yaitu hipotesis yang dapat dirumuskan sebelum data terkumpul. Jika teori-teori mengenai variabel penelitian masih baru atau belum mapan maka peneliti belum memiliki dasar yang kuat untuk menyusun kerangka berpikir bagi perumusan hipotesis. Bina Nusantara

19 JENIS-JENIS HIPOTESIS
1. Hipotesis nol (Ho ) : yaitu tidak terdapat hubungan antar variable; Hipotesis alternative (Ha) :yaitu terdapat hubungan antar variable. Catatan : Untuk penelitian dengan metode deskriptif, histories, filosofis, pelacakan, evaluasi dan tindakan, tidak memerlukan hipotesis. Adapun untuk penelitian yang menggunakan satu variable boleh menggunakan atau tidak menggunakan hipotesis. Bina Nusantara

20 Terima Kasih, Semoga berhasil.. Bina Nusantara


Download ppt "Pertemuan 3: PENGERTIAN DASAR SKRIPSI"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google