Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KONSTRUKSI MEDIA SOAL KEMATIAN SOEHARTO ( studi framing pemberitaan kematian Soeharto di Majalah Tempo) oleh Indiwan seto Wahju Wibowo.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KONSTRUKSI MEDIA SOAL KEMATIAN SOEHARTO ( studi framing pemberitaan kematian Soeharto di Majalah Tempo) oleh Indiwan seto Wahju Wibowo."— Transcript presentasi:

1 KONSTRUKSI MEDIA SOAL KEMATIAN SOEHARTO ( studi framing pemberitaan kematian Soeharto di Majalah Tempo) oleh Indiwan seto Wahju Wibowo

2 LATARBELAKANG Perubahan politik yang terjadi mendorong media ke dalam ruang gerak yang lebih leluasa untuk menyampaikan fakta dan pandangan secara terbuka, berani dan independen.[1][1] [1] Bimo Nugroho, Eriyanto dan Frans Surdiasis, Politik Media Mengemas Berita, LKiS, 1999, hlm. 1[1]

3 LATAR BELAKANG Maka tidak heran bila kemudian media massa [surat kabar] seperti berlomba – lomba menawarkan dirinya melalui penyajian berita kepada para pembacanya.

4 LATAR BELAKANG Di sisi yang lain, kemerdekaan dan kebebasan berpendapat yang menimbulkan eforia baru sehingga wartawan bebas memberitakan sesuatu yang kadang-kadang melanggar etika jurnalistik. Kasus yang peneliti angkat adalah pemberitaan kematian Soeharto di majalah Tempo.

5 LAYAK JUAL Dalam konteks ekonomi, Berita termasuk juga berita seputar kematian Soeharto adalah komoditi yang dijual bebas. Sesuai konsep dagang, terkadang apapun dilakukan, demi urusan ’komoditi’ inilah terkadang pers terjebak dalam kebebasan mereka sendiri tidak mau peduli terhadap nilai-nilai moral atau nilai-nilai yang dianut kelompok-kelompok masyarakat.

6 Contoh yang paling hangat adalah kontroversi pemuatan cover dan berita Soeharto tak lama setelah kematian mantan orang kuat negeri ini. Sampul depan majalah tersebut mirip lukisan The Last Supper (perjamuan terakhir) karya Leonardo da Vinci. Dalam lukisan aslinya, gambar itu adalah gambar Yesus dan murid-muridnya

7 Cover Soeharto di Tempo

8 Komunikasi simbol Komunikasi simbol ini bisa berdampak negatif apabila ditanggapi secara radikal oleh mereka yang merasa tersinggung, sebagaimana yang terjadi pada kasus pemuatan cover majalah Tempo beberapa waktu lalu

9 Cover edisi no 50 Dalam cover edisi no 50/XXXVI/ Februari 2008, majalah berita mingguan, Tempo memuat laporan khusus mengenai meninggalnya mantan presiden Soeharto. Pada sampul depan dengan judul laporan utama Setelah Dia Pergi itu, digambarkan Soeharto duduk di sebuah meja dikelilingi anak-anaknya. Ilustrasi posisi duduk keluarga Cendana dalam sampul halaman depan Tempo tersebut mirip dengan lukisan Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci. Yakni, ketika Yesus Kristus duduk dikelilingi murid-muridnya, menjelang penyaliban

10 Rumusan Masalah Berangkat dari latar belakang masalah, maka penelitian yang masuk dalam ranah komunikasi politik ini berupaya menjawab permasalahan sebagai berikut : Bagaimana Media Mengkonstruksi kematian Soeharto sebagai mantan presiden di era Orde Baru ? Bagaimana Tempo menggambarkan sosok Seoaharto di saat-saat akhir hidupnya lewat berita dan gambar yang termuat dalam cover majalah Tempo edisi no 50/XXXVI/ Februari 2008 ?

11 Tujuan Penelitian mengetahui bagaimana media mengkonstruksi peristiwa kematian Soeharto Untuk mengetahui bagaimana media mengkonstruksi sosok soeharto sebagai mantan orang kuat di era Orde Baru

12 KERANGKA PEMIKIRAN Hakekat Konstruksi Realitas ” Realitas menurut Berger tidak dibentuk secara ilmiah. Tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi dibentuk dan dikonstruksi. Dengan pemahaman ini realitas berwujud ganda/prural. Setiap orang mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas, berdasarkan pengalaman, preferensi, pendidikan dan lingkungan sosial, yang dimiliki masing-masing individu.

13 Kontesk berita konteks berita harus dipandang sebagai konstruksi atas realitas. Karenanya sangat potensial terjadi peristiwa yang sama dikonstruksi secara berbeda. Setiap wartawan mempunyai pandangan dan konsepsi yang berbeda atas suatu peristiwa. Hal ini dapat dilihat bagaimana wartawan mengonstruksi peristiwa dalam pemberitaannya

14 Berita dalam pandangan konstruksi sosial bukan merupakan fakta yang riil. Berita adalah produk interaksi wartawan dengan fakta. Realitas sosial tidak begitu saja menjadi berita tetapi melalui proses. Diantaranya proses internalisasi dimana wartawan dilanda oleh realitas yang ia amati dan dia serap dalam kesadarannya

15 Dari penjabaran ini jelas bahwa berita tentang kematian Soeharto yang disajikan oleh media massa,bisa merupakan konstruksi dari media massa. Para editor, pemimpin redaksi dan para pekerja media lainnya dapat memasukan realitas-relitas pilihannya untuk dikonstruksikan melalui pemberitaan medianya. Media, khususnya tentang sosok Orde Baru yang pernah berkuasa selama 32 tahun di Indonesia sangat mungkin merupakan realitas yang telah dikonstruksikan

16 Mengapa berita begitu ? Selanjutnya sebagaimana ditunjukkan oleh Shoemaker dan Reese (1991), terdapat banyak variabel yang mempengaruhi isi media. Faktor- faktor itu terbagi atas dua bagian besar, yaitu faktor di dalam media dan di luar media. Faktor di dalam media berkaitan dengan karakteristik individu pekerja media (komunikator) dan rutinitas yang berlangsung dalam organisasi media (media routine).

17 Faktor di luar media Sedangkan faktor di luar media adalah variabel ekstramedia yang antara lain adalah sumber-sumber informasi media, pengiklan, khalayak sasaran, kontrol pemerintah atau pasar media. Sementara itu, variabel di tingkat idiologi (worldview) mempersoalkan berbagai sistem kepercayaan, nilai dan makna yang digunakan oleh media massa untuk menentukan isi yang ditampilkan

18 HAKIKAT TEORI FRAMING Konsep framing atau frame sendiri bukan berasal dari ilmu Komunikasi, melainkan konsep yang dipinjam dari ilmu Kognitif. Alex Sobur dalam bukunya Analisis Teks Media, menjelaskan dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta

19 Strategi wacana Framing merupakan strategi pembentukan dan operasionalisasi wacana media, karena media massa pada dasarnya adalah wahana diskusi atau konservasi tentang suatu masalah yang melibatkan dan mempertemukan tiga pihak, yakni wartawan, sumber berita dan khalayak.

20 METODOLOGI PENELITIAN “Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan sejumlah deskriptif baik yang tertulis maupun lisan dari orang-orang serta tingkah laku yang diamati”

21 Penelitian kualitatif Denzin dan Lincoln mengatakan penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat interpretatif [ menggunakan penafsiran ] yang melibatkan banyak metode, dalam menelaah masalah penelitiannya. Penggunaan berbagai metode ini – sering disebut trianggulasi – dimaksudkan agar peneliti memperolah pemahaman yang komprehensif [holistik] mengenai fenomena yang akan diteliti.

22 Teknik analisis teks Penelitian teks media ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dan memakai teknik penelitian teks yaitu analisis framing dengan meminjam model kerangka framing Pan dan Kosicki untuk mengetahui konstruksi dan bingkai berita dalam media.

23 Framing Pan Kosicki Eriyanto memaparkan framing model Pan dan Kosicki yang menilai teks berita bukan sebagian rangsangan psikologis yang disertai dengan makna yang teridentifikasi secara objektif. Sebaliknya, teks berita terdiri dari berbagai symbol yang disusun lewat perangkat simbolik yang dipakai yang akan dikonstruksi dalam memori khalayak. Di sini, teks berita dilihat sebagai seperangkat kode yang membutuhkan interpretasi.

24 PARADIGMA PENELITIAN Paradigma adalah basis kepercayaan utama dari sistem berpikir: basis dari ontology, epistemology, dan metodologi. Paradigma dalam filosofis, memuat pandangan awal yang membedakan, memperjelas dan mempertajam orientasi berpikir seseorang. Dengan demikian membawa konsekuensi praktis perilaku, cara berpikir, interpretasi dan kebijakan dalam pemilihan terhadap masalah

25 Paradigma konstruktivisme Penelitian teks media ini menggunakan paradigma konstruktivisme, dimana paradigma konstruktivis berusaha untuk memberi taksir dengan rinci terhadap setting kehidupan keseharian. Paradigma konstruktivisme menekankan bahwa realitas merupakan konstruksi sosial, konsekuensinya realitas dipandang sebagai sesuatu yang bersifat relatif: hanya eksis dalam bentuk konsepsi mental/konstruksi, tersebar secara sosial, lokal dan tentu saja spesifik serta bergantung pada definisi subjektif seseorang, bagaiman seseorang memahami dan menafsirkannya

26 OBJEK PENELITIAN Obyek penelitian ini adalah majalah Tempo edisi yang memuat berita kematian Soeharto dengan cover berjudul Setelah Dia Pergi

27 UNIT ANALISIS Unit analisis adalah setiap unit yang akan dianalisa, digambarkan atau dijelaskan dengan peryataan-peryataan deskriptif.Yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah kalimat dalam paragraf dari berita-berita tentang kematian Soeharto. Setiap berita memiliki Head lines/kepala berita dan isi berita yang terdiri dari paragraf-paragraf. paragraf-paragraf tersebut terdiri dari kalimat-kalimat. Penelitian ini difokuskan pada isi masing-masing kalimat

28

29 Makna cover Selain berita, peneliti juga melihat makna simbolik cover majalah Tempo menggunakan teknik framing Pan Kosjiki.

30 TEKNIK ANALISIS DATA Dalam pendekatan ini perangkat framing dibagi menjadi empat struktur besar. Pertama, struktur sintaksis, Kedua, struktur skrip, Ketiga, struktur tematik; dan Keempat, struktur retoris.

31 SEKIAN DAN TERIMA KASIH


Download ppt "KONSTRUKSI MEDIA SOAL KEMATIAN SOEHARTO ( studi framing pemberitaan kematian Soeharto di Majalah Tempo) oleh Indiwan seto Wahju Wibowo."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google