Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Chapter 8 The Floor-time Approach Part II Encouraging Emotional and Intellectual Growth By: Eva Tantri Mahastri 69080083.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Chapter 8 The Floor-time Approach Part II Encouraging Emotional and Intellectual Growth By: Eva Tantri Mahastri 69080083."— Transcript presentasi:

1 Chapter 8 The Floor-time Approach Part II Encouraging Emotional and Intellectual Growth By: Eva Tantri Mahastri

2 Clip / Movie

3 6 Milestones: Self regulation and interest in the world Self regulation and interest in the world Intimacy Intimacy Two way communication Two way communication Complex communication Complex communication Emotional ideas Emotional ideas Emotional thinking Emotional thinking

4 What is Floor Time? A special play time that is set aside for the child. A special play time that is set aside for the child. a spontaneous, unstructured activity when caregiver gets down on the floor with the child and try to follow his/her lead. a spontaneous, unstructured activity when caregiver gets down on the floor with the child and try to follow his/her lead. The goal is to tune in to whatever motivates or is of interest to the child. The goal is to tune in to whatever motivates or is of interest to the child. Is used to reaffirm a rhythm and sense of connectedness and elaborate growing empathy and shared meanings Is used to reaffirm a rhythm and sense of connectedness and elaborate growing empathy and shared meanings (Essential Partnership, p.19).

5 Apakah ‘Floor Time’? Cara sistematis untuk membantu anak mengembangkan kemampuannya yang tertinggal Cara sistematis untuk membantu anak mengembangkan kemampuannya yang tertinggal Keuntungan dari sebuah ‘Floor Time’: Keuntungan dari sebuah ‘Floor Time’: Kemampuan anak meningkat Kemampuan anak meningkat Anak meendapatkan pengalaman berinteraksi dengan orang lain Anak meendapatkan pengalaman berinteraksi dengan orang lain Anak mendapatkan kepuasan dalam berinisiatif Anak mendapatkan kepuasan dalam berinisiatif Anak mendapatkan pengalaman ‘dipahami’ harapan dan kebutuhannya Anak mendapatkan pengalaman ‘dipahami’ harapan dan kebutuhannya Anak mengalami mendapatkan respon Anak mengalami mendapatkan respon Mengembangkan sebuah dialog yang panjang (bermula dari ‘tanpa dialog’, ‘dialog singkat’, lalu pengembangan imajinasi dan pikiran Mengembangkan sebuah dialog yang panjang (bermula dari ‘tanpa dialog’, ‘dialog singkat’, lalu pengembangan imajinasi dan pikiran (p.121). (p.121).

6 Apakah‘Floor Time’? Semacam interaksi natural dan permainan yang spontan dan menyenangkan Semacam interaksi natural dan permainan yang spontan dan menyenangkan Anak menjadi pemain utamanya, tugas orang tua / terapis adalah mengikuti permainannya (apa pun yang menjadi ketertarikannya saat itu) Anak menjadi pemain utamanya, tugas orang tua / terapis adalah mengikuti permainannya (apa pun yang menjadi ketertarikannya saat itu) Orang tua / terapis pada waktu yang tepat, menggiring permainan itu menjadi permainan interaktif antara 2 orang Orang tua / terapis pada waktu yang tepat, menggiring permainan itu menjadi permainan interaktif antara 2 orang (p ). (p ).

7 Apakah ‘Floor Time’? ‘Floor time’ dapat diimplementasikan baik sebagai prosedur maupun filosofi, di sekolah, di rumah, atau pun di tempat terapi ‘Floor time’ dapat diimplementasikan baik sebagai prosedur maupun filosofi, di sekolah, di rumah, atau pun di tempat terapi(p.121).

8 Bagaimana Floortime bekerja? Mulanya kita mendeskripsikan floor time sebagai pengalaman intensif dan satu lawan satu. Kemudian kita sudah mendiskusikan mengenai tim terapi dan pendekatan pendidikan. (p ). Mulanya kita mendeskripsikan floor time sebagai pengalaman intensif dan satu lawan satu. Kemudian kita sudah mendiskusikan mengenai tim terapi dan pendekatan pendidikan. (p ).

9 Bagaimana Floortime bekerja? Dengan interaksi yang melibatkan emosi, mengikuti ketertarikan dan motivasinya, kita dapat membantu dia terkoneksi dengan kita. Dengan adanya koneksi, kita dapat membuatnya masuk kedalam dialog. Kita dapat menginspirasi dia dengan ide-ide baru, hubungan sebab akibat, dan pemikiran logis, bahkan untuk memecahkan masalah. Kita dapat menghubungkan emosinya dengan tindakan dan kata-katanya. Dengan tindakan-tindakan dan perkataan-perkataan bermakna, kita dapat membangun hubungan yang lebih dekat, spontan, fleksibel, dan hangat. Dengan ini pula, anak membangun kemampuan dasar kognisinya. (p ).

10 Bagaimana Floortime bekerja? Anak berkebutuhan khusus sangat membutuhkan waktu yang banyak untuk mempraktekkan dan menghubungkan maksud dan emosinya ke dalam prilaku dan kata-katanya. Anak berkebutuhan khusus sangat membutuhkan waktu yang banyak untuk mempraktekkan dan menghubungkan maksud dan emosinya ke dalam prilaku dan kata-katanya. Floor time adalah waktu untuk melatih dan mempraktekkan itu. Floor time adalah waktu untuk melatih dan mempraktekkan itu. Dengan melakukan aktivitas-aktivitas pada ‘floortime’ anak mendapat kesempatan untuk mengeluarkan emosi, mengembangkan ekpresi sesuai dan kata-kata. Dengan melakukan aktivitas-aktivitas pada ‘floortime’ anak mendapat kesempatan untuk mengeluarkan emosi, mengembangkan ekpresi sesuai dan kata-kata.(p.123).

11 Bagaimana Floortime bekerja? Mengikuti arahan anak bukan berarti secara pasif menurut melainkan ikut bermain bersama anak, yang memancing anak membuka komunikasi, dan berhenti dari aktivitasnya yang berulang-ulang (keluar dari dirinya). Mengikuti arahan anak bukan berarti secara pasif menurut melainkan ikut bermain bersama anak, yang memancing anak membuka komunikasi, dan berhenti dari aktivitasnya yang berulang-ulang (keluar dari dirinya). Baru setelah komunikasi terbuka, kita dapat menggiring dia ke tonggak-tonggak berikutnya. Baru setelah komunikasi terbuka, kita dapat menggiring dia ke tonggak-tonggak berikutnya.

12 Seberapa sering? Anak berkebutuhan khusus sering membutuhkan banyak sesi floor time dalam sehari. Anak berkebutuhan khusus sering membutuhkan banyak sesi floor time dalam sehari. Bagi anak yang sangat parah, sesi dengan durasi menit sehari adalah ideal. (p.129). Bagi anak yang sangat parah, sesi dengan durasi menit sehari adalah ideal. (p.129).

13 Bagaiman Floortime bekerja? Dengan menaruh boneka di atas mobil-mobilan yang sedang didorongnya, membawa anak kepada permainan yang lebih kompleks. Dengan menaruh boneka di atas mobil-mobilan yang sedang didorongnya, membawa anak kepada permainan yang lebih kompleks. Dengan memerankan karakter yang di’sutradarai’nya, kita dapat meneruskan interaksi sambil pelan-pelan memberkenalkan kata. Dengan memerankan karakter yang di’sutradarai’nya, kita dapat meneruskan interaksi sambil pelan-pelan memberkenalkan kata. Ketika permainan semakin kompleks dan kemampuan berbahasanya meningkat, kita dapat membantunya untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata dan menggiringnya ke arah komunikasi dua arah. Ketika permainan semakin kompleks dan kemampuan berbahasanya meningkat, kita dapat membantunya untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata dan menggiringnya ke arah komunikasi dua arah. Dengan cara ini, kita dapat secara bertahap menghubungkan dia ke dunia yang penuh ide dan pemikiran-pemikiran logis. (p.124). Dengan cara ini, kita dapat secara bertahap menghubungkan dia ke dunia yang penuh ide dan pemikiran-pemikiran logis. (p.124).

14 Empat Tujuan Tujuan 1: Menarik perhatian dan membangun keintiman. Dimulai dengan kemampuan untuk merasakan ketenangan, fokus, dan keintiman, membina ‘saling perhatian’ dan ikatan. Tujuannya adalah membantu anak merasa cocok dan menikmati kehadiran orang tua/ terapis. (Tujuan ini mendukung tonggak perkembangan 1 dan 2.)

15 Empat Tujuan Tujuan 2: Komunikasi 2 arah. Selanjutnya orang tua/terapis akan membuka tutup lingkaran komunikasi. Awalnya dimulai dengan ekpresi wajah dan tatapan mata, komunikasi tanpa kata. Tugas utama orang tua/terapis adalah mengembangkan komunikasi dengan membantu anak menggunakan emosi, tangan, wajah, dan tubuhnya untuk mengkomunikasikan harapan, kebutuhan, dan maksudnya. (Pencapaian ini akan memenuhi tonggak perkembangan 3 dan 4).

16 Empat Tujuan Tujuan 4: Memancing expresi dan penggunaan perasaan dan ide-ide anak Dengan menggunakan permainan drama mengembangkan kepercayaan, sehingga anak dapat mengekspresikan kebutuhan, maksud dan perasaannya, dan pada akhirnya membantunya mengekspresikannya dengan kata-kata. (Ini mendukung tonggak perkembangan 5)

17 Empat Tujuan Tujuan 4: Pemikiran Logis. Akhirnya, orang tua/ terapis dapat membantu anak untuk menghubungkan ide-ide dan perasaannya ke dalam pengertian logis yang dapat diterima. Fokusnya adalah membantunya untuk berpikir secara logis. (Kemampuan ini sesuai tonggak perkembangan 6)

18 Bab 9, 10, 11, dan 12 berturut-turut akan menjelaskan keempat tujuan: Floor Time I: Floor Time I: Perhatian, Ikatan, Keintiman. Membantu anak menjadi tertarik dengan dunia sekitar dan tertarik dengan orang. Floor Time II: Floor Time II: Komunikasi 2 arah. Membantu anak berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan ekspresi Floor Time III: Floor Time III: Perasaan dan Ide. Membantu anak membangun dan mengekspresikan perasaan dan ide. Floor Time IV: Floor Time IV: Pemikiran logis. Membantu anak menghubungkan ide dan membentuk pemahaman logis tentang dunia sekitarnya.


Download ppt "Chapter 8 The Floor-time Approach Part II Encouraging Emotional and Intellectual Growth By: Eva Tantri Mahastri 69080083."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google