Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN (PKSC) Oleh : Elly Ismiyah, ST., MT. 1.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN (PKSC) Oleh : Elly Ismiyah, ST., MT. 1."— Transcript presentasi:

1 PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN (PKSC) Oleh : Elly Ismiyah, ST., MT. 1

2 Supply Chain Excellence Mendukung strategi bisnis organisasi Penyesuaian terhadap Perubahan strategi Keseimbangan matrik & tujuan performansi Fokus pada tujuan operasional Memfokuskan sumber daya Peran manajer supply chain Memastikan praktek SC sesuai strategi Konsep Supply Chain Excellence

3 Pengukuran kinerja SC  Fungsi pengukuran kinerja: i. Melakukan monitoring dan pengendalian ii. Mengkomunikasikan tujuan organisasi ke fungsi-fungsi pada SC iii. Mengetahui dimana posisi suatu organisasi relatif terhadap pesaing maupun tujuan yang hendak dicapai iv. Menentukan arah perbaikan untuk menciptakan keunggulan dalam bersaing  Sistem pengukuran kinerja SC harus memiliki alat ukur yang bisa digunakan untuk memonitor kinerja secara bersama-sama antara satu organisasi dengan organisasi lainnya pada sebuah SC 3

4 Hanfield dan Nichols, 2002 menyatakan bahwa suatu sistem pengukuran kinerja dikatakan efektif jika: 1. menyediakan dasar untuk memahami sistem 2. mempengaruhi tingkah laku sistem secara keseluruhan 3. menyediakan informasi mengenai hasil dari usaha sistem kepada anggota supply chain dan stakeholder di luar perusahaan Harus bersifat “actionable”,  tidak hanya mengidentifikasi tetapi juga mengeliminasi penyebab permasalahan operasional supply chain Pengukuran kinerja SC

5 Gambar Siklus Pengukuran Kinerja Supply Chain (Lee dan Amaral, 2002) pengukuran kinerja supply chain adalah suatu siklus yang terdiri dari identifikasi masalah, memahami akar penyebab masalah, merespon dengan tindakan yang korektif, dan secara kontinyu memvalidasi data, proses, dan tindakan (Lee dan Amaral, 2002) Pengukuran kinerja SC

6 Struktur sistem pengukuran kinerja  Suatu sistem pengukuran kinerja biasanya mengandung (Melnyk, dkk, 2004) : 1. Individual metrics 2. Metric sets 3. Overall performance measurement systems  Individual metrics berada pada tingkat paling bawah dengan cakupan yang paling sempit  Metrik : suatu ukuran yang bisa diverifikasi, diwujudkan dalam bentuk kuantitatif ataupun kualitatif, dan didefinisikan terhadap suatu titik acuan tertentu 6

7  Agar suatu metrik bisa efektif : a. Harus diwujudkan dalam bentuk yang masuk akal dan dimengerti dengan baik oleh mereka yang menggunakan b. Harus value-based : dikaitkan dengan bagaimana organisasi menciptakan value ke pelanggan atau memenuhi kepentingan stakeholder yang lain c. Harus bisa menangkap karakteristik atau hasil dalam bentuk numerik maupun nominal d. Sedapat mungkin tidak menciptakan konflik antar fungsi pada suatu organisasi e. Harus bisa melakukan destilasi terhadap data yang banyak tanpa kehilangan informasi yang terkandung di dalamnya 7

8  Jumlah metrik pada sebuah sistem pengukuran kinerja bisa cukup banyak  Untuk menghindari tumpang tindih atau kerancuan antar metrik, dapat digunakan metric definition template sbb: 8 AtributPenjelasan Nama Gunakan nama metrik yang tepat Tujuan Harus jelas hubungan antara metrik dg tujuan organisasi Target Perlu target sebagai benchmark Formula Perlu formula yang jelas bagaimana nilai kinerja diperoleh Satuan Perlu definisi satuan metrik tersebut Frekuensi Frekuensi pengukuran perlu didefinisikan Sumber Data Sumber data pengukuran perlu didefinisikan Pemilik (owner) Pihak yang bertanggung jawab untuk mengukur

9 Menurut Melnyk, dkk (2004) metrik bisa diklasifikasikan berdasar fokus dan waktu (tense) A. Berdasarkan fokus  Metrik bisa berfokus pada kinerja finansial maupun operasional  Metrik operasional mengukur kinerja dalam satuan waktu, output, dsb  Banyak proses dalam SC yang memang lebih baik diukur dalam satuan non-finansial :  Lead time dan waktu setup diukur dalam satuan waktu  Tingkat persediaan diukur dalam unit  Kualitas sebuah proses diukur dalam prosentase output yang di luar batas spesifikasi 9

10 10 A. Berdasarkan waktu (tense)  Metrik bisa digunakan untuk mengukur kinerja masa lalu atau memprediksi kinerja masa mendatang (predictive metrics) Tipologi metrik menurut atribut fokus dan tense Return on Assets (ROA)Biaya lembur per jam orang (untuk memprediksi kekurangan anggaran) Lead TimeJumlah sub-proses dan setup (untuk memprediksi lead time) Metric Focus OutcomePredictive Metric Tense Financial Operational

11  Kumpulan beberapa metric membentuk metric sets yang diperlukan untuk memberikan informasi kinerja sebuah sub sistem  Ex: metrik set untuk persedian, terdiri dari individual metrik: Ongkos simpan Tingkat perputaran Utilisasi sumberdaya yang terkait, dsb  Pada level tertinggi kita memiliki sistem pengukuran kinerja secara keseluruhan yang menjadi alat untuk menciptakan kesesuaian (alignment) antara metric sets dengan tujuan strategis organisasi 11

12 Pendekatan proses dalam PKSC  Menurut Chan & Li (2003) Pendekatan PKSC berdasarkan proses sejalan dengan hakekat dari SCM dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perbaikan berkesinambungan  Proses adalah kumpulan aktivitas yang melintasi waktu dan tempat, memiliki awal, akhir, dan input maupun output yang jelas  Hakekat SCM adalah mendorong terjadinya integrasi antar fungsi  Pendekatan proses pada PKSC memungkinkan kita untuk mengidentifikasi masalah pada suatu proses sehingga bisa mengambil tindakan koreksi sebelum masalah meluas 12

13 Tujuh langkah merancang sistem pengukuran kinerja berdasarkan proses (Chan & Li, 2003): 1. Identifikasi dan hubungkan semua proses yang terlibat (di dalam maupun luar organisasi) 2. Definisikan dan batasi proses inti 3. Tentukan misi, tanggung jawab, dan fungsi dari proses inti 4. Uraikan dan identifikasi sub-proses 5. Tentukan tanggung jawab dan fungsi sub-proses 6. Uraikan lebih lanjut sub-proses menjadi aktivitas 7. Hubungkan target antar hirarki mulai dari proses sampai ke aktivitas 13

14 Performance of Activity (POA)  Diusulkan oleh Chan & Li (2003)  Adalah model yang digunakan untuk mengukur kinerja aktivitas yang menjadi bagian dari proses dalam SC  Kinerja aktivitas diukur dalam dimensi : 1.Ongkos5. Produktivitas 2.Waktu6. Utilisasi 3.Kapasitas7. Outcome 4.Kapabilitas  Reliabilitas  Ketersediaan  Fleksibilitas 14

15 Model SCOR (Supply Chain Operations Reference)  Model acuan dari operasi supply chain yang mengintegrasikan tiga elemen utama dalam manajemen  Bussiness process reengineering  Menangkap proses kompleks yang terjadi saat ini (as is) dan mendefinisikan proses yang diinginkan (to be)  Benchmarking  Mendapatkan data kinerja operasional dari perusahaan sejenis  Process measurement  Berfungsi untuk mengukur, mengendalikan, dan memperbaiki proses-proses SC 15

16 SCOR membagi proses-proses menjadi 5 proses inti, yaitu : 1. Plan : proses yang menyeimbangkan permintaan dan pasokan untuk menentukan tindakan terbaik dalam memenuhi kebutuhan pengadaan, produksi, dan pengiriman 2. Source : proses pengadaan barang maupun jasa untuk memenuhi permintaan 3. Make : proses untuk mentransformasi bahan baku / komponen menjadi produk yang diinginkan pelanggan 4. Deliver : proses untuk memenuhi permintaan terhadap barang maupun jasa 5. Return : proses pengembalian atau menerima pengembalian produk karena berbagai alasan 16

17 Lima proses inti SC pada SCOR 17

18 Hirarki SCOR  SCOR memiliki tiga hirarki proses yang menunjukkan bahwa SCOR melakukan dekomposisi proses  Tiga level tersebut : 1. Level 1, level tertinggi yang mendefinisikan lima proses inti 2. Level 2, dikatakan sbg configuration level “as is” & “to be” 3. Level 3, dinamakan process element level  Dengan melakukan analisis dan dekomposisi proses, SCOR mampu:  mengukur kinerja SC secara obyektif berdasarkan data yang ada  Mengidentifikasi dimana perbaikan perlu dilakukan untuk menciptakan keunggulan bersaing  Perlu usaha yang tidak sedikit untuk mengimplementasikan SCOR 18

19 Metrik pada Model SCOR  SCOR menggunakan beberapa dimensi umum yaitu :  Reliability  Responsiveness  Flexibility  Cost, dan  Asset  Metrik dikelompokkan menjadi  Customer-facing : penting bagi pelanggan  Internal-facing : penting untuk memonitoring internal tetapi tidak langsung menjadi perhatian pelanggan 19

20 Performance metrics level 1 20 Performance Attribute Customer-FacingInternal-Facing ReliabilityResponsivenessFlexibilityCostAssets Delivery PerformanceX Fill RateX Perfect order fulfillmentX Order fulfillment lead timeX Supply chain-response timeX Production flexibilityX Supply Chain management costX Cost of goods soldX Value-added productivityX Warranty cost or return processing cost X Cash to cash cycle timeX Inventory days of supplyX asset turnsX

21 Benchmarking Kinerja  Benchmarking adalah membandingkan proses maupun kinerja suatu organisasi relatif terhadap proses maupun kinerja perusahaan referensi (best in class)  Bertujuan untuk :  mengetahui dimana posisi perusahaan relatif terhadap kompetitor atau perusahaan acuan  Mengidentifikasi pada aspek mana perusahaan lebih baik dan pada aspek mana membutuhkan perbaikan  Dari beberapa studi menunjukkan bahwa perusahaan yang tergolong best in class memiliki kinerja supply chain ayang secara signifikan lebih bagus dibanding perusahaan rata-rata 21

22 Sumber: Supply chain council 22 MetrikPenjelasan Best in Class Rata- rata Delivery performance % order terkirim sesuai jadwal93%69% Fill rate by line item % jumlah permintaan dipenuhi tanpa menunggu, diukur tiap jenis produk (line item) 97%88% Perfect order fulfillment % oreder yang terkirim komplit dan tepat waktu92,4%65,7% Order fulfillment lead time Waktu antara pelanggan memesan sampai pesanan diterima 135 hari225 hari Warranty cost as % of revenue % pengeluaran untuk warranty terhadap nilai penjualan 1,2%2,4% Inventory days of supply lamanya persediaan cukup untuk memenuhi kebutuhan kalau tidak ada pasokan lebih lanjut 55 hari84 hari Cash to cash cycle time waktu antara perusahaan membayar material ke supplier dan menerima pembayaran dari pelanggan untuk produk yang dibuat dari material tersebut 35,6 hari99,4 hari Asset turns berapa kali suatu asset bisa digunakan untuk memperoleh revenue dan profit 4,7 kali1,7 kali

23 Inventory days of supply  Inventory days of supply (IDS), yaitu lamanya persediaan cukup untuk memenuhi kebutuhan kalau tidak ada pasokan lebih lanjut. Untuk performansi ini, akan dibedakan antara raw material dan finish good.  Contoh : perusahaan rata-rata menyimpan komponen sebanyak 150 unit. Kebutuhan rata-rata per tahun unit (250 hari). Berapa IDS ? 23

24 Cash-to-cash cycle time  Cash-to-cash cycle time, yaitu waktu antara perusahaan membayar material ke supplier dan menerima pembayaran dari pelanggan untuk produk yang dibuat dari material tersebut  Cash-to-cash cycle time = inventory days of supply + average days of account receivable – average days of account payable  Average days of account receiveable : adalah ukuran seberapa cepat pelanggan membayar barang yang sudah diterima  Average days of account payable : adalah ukuran seberapa cepat perusahaan membayar ke pemasok untuk material/komponen yang sudah diterima 24

25 Contoh :  Nilai penjualan selama 30 hari adalah Rp. 300 juta  Account receivable pada akhir bulan Rp. 60 juta  Nilai persediaan akhir bulan Rp. 120 juta  Cost of sales besarnya 60% dari nilai penjualan  Account payable di akhir bulan Rp. 45 juta 25

26 Jawab  Nilai penjualan per hari Rp. 10 juta (300 juta/30 hari)  Account receivable adalah 6 hari (60 juta/10 juta per hari)  Cost of sales per hari 60% x Rp. 10 juta = 6 juta  Account payable adalah 7,5 hari (45 juta/6 juta per hari)  Inventory days of supply adalah 20 hari (120 juta/6 juta per hari)  Sehingga cash-to-cash cycle time = – 7,5 = 18,5 hari 26


Download ppt "PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN (PKSC) Oleh : Elly Ismiyah, ST., MT. 1."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google