Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Dr. Ave Olivia Rahman, M.Sc Bagian Farmakologi FKIK UNJA.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Dr. Ave Olivia Rahman, M.Sc Bagian Farmakologi FKIK UNJA."— Transcript presentasi:

1 dr. Ave Olivia Rahman, M.Sc Bagian Farmakologi FKIK UNJA

2 Efek Terapi Kadar yg dihasilkan harus berada dalam rentang terapi. Uji mengenai fluktuasi kadar obat per satuan waktu Farmakokinetik Kuantitatif Tujuan Mempelajari Farmakokinetik Kuantitatif Penentuan Dosis obat & Frekuensi pemberian

3

4 Pengaruh dosis terhadap efek

5 Perbedaan Drug concentration – Time Curve : setiap rute pemberian

6 Perubahan kecepatan eliminasi pada kondisi klinis tertentu dapat menyebabkan perubahan kadar obat dalam darah

7 Akumulasi: Perbedaan dosis, interval pemberian dan fluktuasi kadar obat dlm darah

8 Kondisi Individu Bervariasi Sifat fisiokimiawi Obat Pengaruhi kadar obat dalam tubuh Perlu TDM (Therapeutic Drug Monitoring) Mendapatkan efek terapi yang diingikan Personalized Drug Therapy

9 Waktu Kerja Obat Ket : time-action curve  T = waktu pemberian obat (t=0)  Z = waktu obat telah hilang dari tubuh  Waktu untuk obat mulai bekerja (ONSET kerja obat) = waktu yang diperlukan dari mulai pemberian obat sampai munculnya efek  T-U  Waktu untuk timbul efek maksimal (Tmax) = waktu yang diperlukan dari mulai pemberian obat sampai muncul efek maksimal  T-W  Lama kerja obat (DURASI kerja obat) = waktu yang diperlukan dari mulai efek obat muncul sampai efek hilang  U-Y Ket : time-action curve  T = waktu pemberian obat (t=0)  Z = waktu obat telah hilang dari tubuh  Waktu untuk obat mulai bekerja (ONSET kerja obat) = waktu yang diperlukan dari mulai pemberian obat sampai munculnya efek  T-U  Waktu untuk timbul efek maksimal (Tmax) = waktu yang diperlukan dari mulai pemberian obat sampai muncul efek maksimal  T-W  Lama kerja obat (DURASI kerja obat) = waktu yang diperlukan dari mulai efek obat muncul sampai efek hilang  U-Y

10 UJI FARMAKOKINETIK Obat dengan dosis tertentu diberikan pada individu  dilakukan pengukuran kadar obat dalam darah  diplotkan dalam kurva  didapatkan kurva kadar obat per satuan waktu  penentuan MODEL FARMAKOKINETIk  pengukuran nilai parameter farmakokintetik (Vd, Cl, t1/2, Cmax, Tmax dll)

11 Model Farmakokinetik Kurva kadar obat didalam tubuh terhadap waktu yg terjadi setelah pemberian obat tidak dapat diterangkan menjadi nilai parameter ADME tanpa bantuan model. Tujuan modeling : menyederhanakan struktur tubuh yg komplek menjadi model matematik sederhana untuk menerangkan ADME obat dlm tubuh Model 1-kompartemen terbuka, 2-kompartemen terbuka, 3-kompartemen terbuka, non- kompartemen, dll Kurva kadar obat didalam tubuh terhadap waktu yg terjadi setelah pemberian obat tidak dapat diterangkan menjadi nilai parameter ADME tanpa bantuan model. Tujuan modeling : menyederhanakan struktur tubuh yg komplek menjadi model matematik sederhana untuk menerangkan ADME obat dlm tubuh Model 1-kompartemen terbuka, 2-kompartemen terbuka, 3-kompartemen terbuka, non- kompartemen, dll

12 1 kompartemen: intravaskuler 1 kompartemen: ekstravaskuler 2 kompartemen: intravaskuler 2 kompartemen: ekstravaskuler

13 Order Kinetik Zero order kinetic Jumlah obat berkurang dengan kecepatan tetap. First order kinetic Jumlah obat berkurang dengan kecepatan yg sebanding dg jumlah obat yan tersisa. Ket :  dD/dt = kecepatan pengurangan jumlah obat per waktu D 0 = jumlah obat pada t 0. D = jumalh obat pada t tertentu K 0 = tetapan/konstanta kecepatan zero order. K = tetapan kecepatan first order Ket :  dD/dt = kecepatan pengurangan jumlah obat per waktu D 0 = jumlah obat pada t 0. D = jumalh obat pada t tertentu K 0 = tetapan/konstanta kecepatan zero order. K = tetapan kecepatan first order Atau

14 Ilustrasi Perbedaan Order Kinetics First Order Kinetics Waktu setelah pemberi an obat Jumlah obat di dlm tbh Jumlah obat yg dielimin asi pd jam sblmnya Fraksi obat yg dielimin asi pd jam seblmny a , , , , , ,10 Zero Order Kinetic Waktu setelah pemberi an obat Jumlah obat di dlm tbh Jumlah obat yg dielimin asi pd jam sblmnya Fraksi obat yg dielimin asi pd jam seblmny a , , , , , ,20

15 Persamaan tetapan kecepatan first order (harga k)

16 Persamaan: Perubahan kadar obat terhadap waktu Atau

17 Waktu paruh eliminasi Waktu paruh (T1/2) adalah waktu yang diperlukan untuk kadar obat berkurang menjadi setengahnya. Dalam pemberian obat berulang, waktu paruh eliminasi bermanfaat untuk menentukan interval pemberian obat untuk mencegah akumulasi yang membahayakan atau mencegah timbulnya ketiadaan obat. Waktu paruh (T1/2) adalah waktu yang diperlukan untuk kadar obat berkurang menjadi setengahnya. Dalam pemberian obat berulang, waktu paruh eliminasi bermanfaat untuk menentukan interval pemberian obat untuk mencegah akumulasi yang membahayakan atau mencegah timbulnya ketiadaan obat.

18 Persamaan untuk menentukan T1/2 Zero orderFirst order

19 contoh perhitungan Zero order Waktu setelah pemberian obat Kadar obat dalam plasma mg/mL First order Waktu setelah pemberian (h) Plasma concentration (ug/mL) 018 0,510 15,8 24,6 33, ,4 61,9 81,3  Kadar obat berkurang 10 mg/dL setiap 2 jam  K0 = 10/2 = 5 mg.jam/mL.  Waktu paruh = tidak konstan  tidak dipakai dlm farmakokinetik  Pada 2 jam setelah pemberian  kadar 4,6 menjadi setengahnya (2,4) pada 5 jam setelah pemberian  waktu paruh = 3 jam (5-2)

20 T1/2 juga dapat diketahui dg melihat kurva

21 Contoh soal : Jika suatu obat diberikan intravena bolus. Segera setelah penyuntikan kadar obat C 0 = 40 mg/L. dan waktu paruh obat adalah 5 jam. (1) Berapa harga K dan (2) Berapa lama waktu yg diperlukan utk obat mencapai kadar 5 mg/L? 1. 2.

22 Persamaan untuk menentukan Volume Distribusi Ket :  Vd = volume distribusi  Div = jumlah obat  C0 = kadar obat segera setelah obat disuntikan

23 Klirens Pembersihan obat dari volume darah per satuan waktu Volume darah yang dibersihkan dari obat dalam satu periode waktu. Jika klirens obat diketahui, maka kecepatan eliminasi obat dapat dihitung dg mengalikan kadar obat dlm darah dg klirens. Pembersihan obat dari volume darah per satuan waktu Volume darah yang dibersihkan dari obat dalam satu periode waktu. Jika klirens obat diketahui, maka kecepatan eliminasi obat dapat dihitung dg mengalikan kadar obat dlm darah dg klirens.

24 Persamaan untuk menentukan Klirens (Cl)

25 Penentuan AUC AUC trapezoid AUC model  dihitung berdasar persamaan berikut :

26 Apabila Cl dan Vd diketahui maka tetapan kecepatan eliminasi & T1/2 first order dpt dihitung dg rumus berikut :

27 Model 1 kompartemen Terbuka Tubuh dianggap sebagai satu sistem tunggal (satu ruang/kompartemen) Terbuka karena obat yg masuk tubuh mengalami metabolisme dan pada akhirnya diekskresi keluar dari tubuh. Diasumsikan : perubahan kadar obat didalam darah mencerminkan perubahan kadar obat dalam jaringan. Asumsi : eliminasi obat dari tubuh mengikuti first order kinetics. Tubuh dianggap sebagai satu sistem tunggal (satu ruang/kompartemen) Terbuka karena obat yg masuk tubuh mengalami metabolisme dan pada akhirnya diekskresi keluar dari tubuh. Diasumsikan : perubahan kadar obat didalam darah mencerminkan perubahan kadar obat dalam jaringan. Asumsi : eliminasi obat dari tubuh mengikuti first order kinetics.

28 Model 1 kompartemen Pemberian Intravaskuler Tunggal Pemberian Intravaskuler Tunggal

29 Pemberian Intravaskuler Tunggal : Drug concentration – Time Curve Kurva di atas dalam bentuk Ln shg garis linear tersebut memiliki slope =-k dan intercep pada sumbu y = Ln Co. Jika kurva dlm bentuk Log maka garis is tersebut memiliki slope = - k/2,303 dan intercep pada sumbu y = Log C0

30 Persamaan untuk menentukan kadar obat terhadap waktu Ket : C 0 = kadar obat dalam darah segera setelah pemberian obat

31 Contoh soal Suatu obat diberikan secara intravena dosis tunggal 1 mg/kgBB pada subyek dengan BB 50 kg. Setelah data dicuplik secara serial pada interval tertentu dan dilakukan penetapan kadar obat diperoleh data sbb : Waktu (jam)Kadar Obat dlm darah (ug/mL ,5

32 Pertanyaan : 1.Apakah Drug concentration – Time Curve menunjukkan model 1 –kompartemen? 2.Tulislah persamaan yg menerangkan perubahan kadar obat thd waktu 3.Hitung nilai parameter k, C0, Vd, AUC, Cl, T1/2 eliminasi 4.Berapakah jumlah obat yg berada dlm tubuh, 10 jam setelah penyuntikan IV 5.Berapa lama waktu yg diperlukan agar kadar obat dlm darah menjadi 5 ug/mL

33 Jawab no 1 & 2 Masukkan data tersebut kedalam excel sehingga diperoleh grafik sbb: Y = -0,054x +2,148 Kurva menunjukkan model 1 kompartemen Persamaan perubahan kadar per waktu : Y = -0,054x +2,148

34 Jawaban no. 3  Slope = -k/2,303  -0,054 = -k/ 2,303 k = - 0,054 x 2,303 = 0,124 jam -1  Intercept pd sb. Y = log C0  2,148 = Log C0 C0 = 140,8 ug/mL  Vd Vd = 5000/140,8 = 355,11 mL  AUC AUC = 140,8/0,124 = 1135,48 ug.jam/mL  Cl Cl = 5000/1135,48 = 44,03 mL/jam  T1/2 T1/2 = 0,693/0,124 = 5,5 jam

35 Jawaban no. 4 Persamaan yg menerangkan perubahan kadar obat dalam darah terhadap waktu : Kadar obat yg berada dlm tubuh, 10 jam setelah penyuntikan IV : Log C t = 2, ,124.t 2,303 Log C 10 = 2,148 – (1,24/2,303) = 1,60 C 10 = 40 ug/mL Jumlah obat yg berada dlm tubuh, 10 jam setelah penyuntikan IV : Dt = Ct. Vd  D10 = ,11 = 14204,4 ug = 14,2 mg

36 Jawaban no. 5 Lama waktu yg diperlukan agar kadar obat dlm darah menjadi 5 ug/mL : Log C t = 2, ,124.t 2,303 Log 5 = 2,148 – (0,124.t) 2,303 0,698 = 2,148 – (0,124.t) 2,303 t = (2,148-0,698).2,303 0,124 t = 26,9 jam

37

38 Model 1 kompartemen Pemberian Intravaskuler Berulang Pemberian Intravaskuler Berulang

39 Pemberian Berulang  Akumulasi Obat Dimaksudkan adar kadar obat dalam darah selalu berada dalam kadar terapeutik yaitu kadar obat didalam kisar terpaeutik yang secara klinis telah dibuktikan berkorelasi dengan efek terapeutik obat. Jika obat diberikan berulang kali dg dosis dan interval tetap, kadar obat dalam darah semakin meningkat dan akhirnya mencapai keadaan tunak. Peningkatan ini disebbakan obat yg masih berada dlm tubuh pada pemberian sebelumnya belum semuanya tereliminasi  akumulasi gradual. Apabila pemberian obat berikutnya dilakukan setelah semua obat tereliminasi maka tidak terjadi akumulasi. Meskipun tidak menutup kemungkunan masih ada sejumlah kecil obat yg terikat pd komponen jaringan. Dimaksudkan adar kadar obat dalam darah selalu berada dalam kadar terapeutik yaitu kadar obat didalam kisar terpaeutik yang secara klinis telah dibuktikan berkorelasi dengan efek terapeutik obat. Jika obat diberikan berulang kali dg dosis dan interval tetap, kadar obat dalam darah semakin meningkat dan akhirnya mencapai keadaan tunak. Peningkatan ini disebbakan obat yg masih berada dlm tubuh pada pemberian sebelumnya belum semuanya tereliminasi  akumulasi gradual. Apabila pemberian obat berikutnya dilakukan setelah semua obat tereliminasi maka tidak terjadi akumulasi. Meskipun tidak menutup kemungkunan masih ada sejumlah kecil obat yg terikat pd komponen jaringan.

40 Lanjutan... Dari segi farmakokinetik, Hilangnya obat dari tubuh berdasarkan tolok ukur waktu paruh eliminasi yaitu setelah 7 kali waktu paruh tersebut obat diasumsikan telah hilang dari tubuh. Apabila suatu obat diberikan berulang dengan interval lebih pendek dari waktu paruhnya  terjadi akumulasi obat di dalam tubuh. semakin pendek intervalnya (relatif terhadap waktu paruh eliminasi)  semakin besar pula akumulasinya. Dari segi farmakokinetik, Hilangnya obat dari tubuh berdasarkan tolok ukur waktu paruh eliminasi yaitu setelah 7 kali waktu paruh tersebut obat diasumsikan telah hilang dari tubuh. Apabila suatu obat diberikan berulang dengan interval lebih pendek dari waktu paruhnya  terjadi akumulasi obat di dalam tubuh. semakin pendek intervalnya (relatif terhadap waktu paruh eliminasi)  semakin besar pula akumulasinya.

41 Prinsip Superposition pada pemberian berulang Diasumsikan bahwa pemberian obat pertama tidak berpengaruh terhadap profil farmakokinetik obat pada pemberian berikutnya. AUC pada pemberian pertama sama dengan nilainya pada pemberian yang kesekian, jika dosis dan interval pemberiannya tetap. Prinsip ini berlaku jika obat dieliminsi dg first order kinetic dan profil farmakokinetik obat (nilai Vd, Cl dan T1/2 eliminasi) tidak berubah. Pada keadaan ini ketika obat diberikan dg dosis dan interval konstan  tercapai keadaan tunak (steady state) Diasumsikan bahwa pemberian obat pertama tidak berpengaruh terhadap profil farmakokinetik obat pada pemberian berikutnya. AUC pada pemberian pertama sama dengan nilainya pada pemberian yang kesekian, jika dosis dan interval pemberiannya tetap. Prinsip ini berlaku jika obat dieliminsi dg first order kinetic dan profil farmakokinetik obat (nilai Vd, Cl dan T1/2 eliminasi) tidak berubah. Pada keadaan ini ketika obat diberikan dg dosis dan interval konstan  tercapai keadaan tunak (steady state)

42 Faktor Akumulasi obat (F akum ) Ket :  K = kecepatan eliminasi first order   = interval pemberian obat  e –k.  = fraksi dosis obat yg tersisa pd akhir suatu interval pemberian obat  1- f = fraksi dosis obat yg telah terliminasi selama interval tersebut  Jika suatu obat diberikan dg interval yg sama dengan waktu paruh eliminasinya  Fakum = 2.  Jika interval pemberian lebih pendek dari t1/2 eliminasinya  faktor akumulasi obat menjadi lebih besar & sebaliknya.

43 Pemberian Berulang : infus Pemberian infus  obat diberikan dg kecepatan atau dosis tetap  proses masuknya obat ke dalam darah merupakan proses order nol sedangkan kecepatan eliminasinya mengikuti first order. Untuk obat dengan rentang terapeutik sempit  pemberian menggunakan pompa infus (dapat diatur besaran larutan obat yg masuk dalam tubuh). Lama pemberian infus agar kadar obat dlm darah mencapai kadar tunak berdasarkan harga T1/2 eliminasi dapat dilihat pada tabel berikut : Pemberian infus  obat diberikan dg kecepatan atau dosis tetap  proses masuknya obat ke dalam darah merupakan proses order nol sedangkan kecepatan eliminasinya mengikuti first order. Untuk obat dengan rentang terapeutik sempit  pemberian menggunakan pompa infus (dapat diatur besaran larutan obat yg masuk dalam tubuh). Lama pemberian infus agar kadar obat dlm darah mencapai kadar tunak berdasarkan harga T1/2 eliminasi dapat dilihat pada tabel berikut :

44 Hubungan antara waktu paruh eliminasi dengan persen pencapaian kadar tunak di dlm darah T1/2 eliminasi % pencapaian Css ,5 493,75 596,88 698,44 799,22 Konsep waktu paruh eliminasi dapat digunakan utk memperkirakan berapa persen pencapaian kadar obat dlm drh terhadap kadar tunak. 97% kadar tunak (Css) dicapai ketika 5 kali T1/2 eliminasinya. Cth : obat dg T1/2 eliminasi = 2 jam  utk mencapai 97% Css diperlukan pemberian infus selama 5 x 2 jam = 10 jam

45 Persamaan untuk menentukan Perubahan kadar obat didlm tubuh setiap saat (blm mencapai kadar tunak) Atau Ket :  D inf = kecepatan infus  Vd = volume distribusi Obat  t = lama pemberian infus  Cl = klirens obat Nilai e = 2,718

46 Persamaan untuk menentukan Kadar tunak dlm darah Atau Pada keadaan tunak, kecepatan obat yg dieliminasi = kecepatan obat yg masuk ke tubuh melalui pembuluh vena, shg tidak ada perubahan kadar obat dlm darah.

47 Contoh soal (1) Suatu obat diberikan melalui infus IV dengan kecepatan tetap 50 mg/jam kepada subyek selama 4 jam. Dari pustaka diketahui waktu paruh = 8 jam dan volume distribusi obat = 5 L. berpa kadar obat dalam darah 4 jam sejak pemberian infus (C4) K = 0,693/8 = 0,086 jam -1 C4 = 50 (1 – e -0,086.4 ) 0, C4 = 47,79 mg/L

48 Contoh soal (2) Apabila diketahui kadar efektif minimum obat tersebut sebesar 10 mg/L. berapa waktu yg diperlukan agar kadar obat dalam darah mencapai kadar efektif minimum obat. 10 = 50 (1 – e -0,086.t ) 0, t = 0,959 jam

49 Contoh soal (3) Berapa kadar tunak obat tersebut? Apakah pemberian infus selama 4 jam telah menghasilkan kadar tunak obat dalam darah? Css = 50/(-0,0866.5) Css = 116,95 mg/L Jadi pemberian infus selama 4 jam terbukti belum menghasilkan kadar tunak obat dalam darah

50 Contoh soal (4) Berapa t1/2 obat tersebut dan berapa lama infus harus diberikan untuk mencapai kadar tunak dalam darah? T1/2 = 0,693/0,0866 T1/2 = 8 jam  Kadar tunak yg sempurna (99%) akan tercapai jika obat diinfuskan selama 7 kali T1/2 eliminasi obat  7 x 8 = 56 jam.  Jadi obat akan mencapai kadar tunak dalam darah setelah 56 jam

51 Persamaan untuk menentukan Klirens

52 Persamaan untuk menentukanTetapan Kecepatan eliminasi Ket :  C n = kadar obat dalam darah saat t n  t n = lama infus

53 Contoh soal Suatu obat diberikan melalui infus dg kecepatan tetap 50 mg/jam pada subyek. Delapan jam sejak pemberian infus, diambil sampel darah pertama dan diperoleh kadar 58 mg/L. setelah tercapai keadaan tunak, sampel darah kedua diambil dan ternyata kadar obat 115,5 mg/L. berapa harga CL dan K? Cl = 50/115,5 = 0,433 jam -1 K = 0,087 jam -1

54 Penghentian infus setelah keadaan tunak tercapai Pada saat penghentian ini, kadar obat dlm darah sama dg Css. Seterusnya karena tidak ada masukan obat, maka kadar obat dalam darah menurun yg diterangkan dg persamaan berikut:

55

56 Contoh soal Larutan steril diberikan melalui infus intravena dg keceptan tetap 5 mg/jam per kgBB kepada subyek dg BB 60 kg sampai tercapai keadaan tunak. Karena subyek mengalamu gejala overdosis, infus dihentikan. Pada saat ini diketahui kadar obat dalam darah 30 mg/L. waktu paruh eliminasi obat diketahui 8 jam. Berapa lama waktu yg diperlukan sejak penghentian infus agar kadar obat dalam darah mencapai kadar toksik minimum yaitu 15 mg/L K = 0,693/8 = 0,0866 jam = 30. e -0,0866.t  T = 8 jam Jadi kalau subyek tidak diinfus lagi, kadar obat dalam darah akan turun dg sendirinya mencapai kadar minimun terapeutik selama 8 jam

57 Hubungan antara T1/2dengan persen obat yg tereliminasi dan persen obat yg tersisa di dalm tbh T1/2 eliminasi % pencapaian Css% obat tersisa di dalam tubuh ,512,5 493,756,25 596,883,12 698,441,56 799,220,78

58 Penghentian infus dilakukan sebelum mencapai kadar tunak

59 Persamaan yg menerangkan kadar obat dlm darah sejak pemberian infus sebelum mencapai kadar tunak Ket :  t inf = lama pemberian infus sebelum tercapai keadaan tunak. Persamaan yg menerangkan penurunan kadar obat dlm darah setelah infus dihentikan  tpi = waktu yg dilalui setelah infus dihentikan (pasca infus)

60 Contoh soal Sediaan steril obat diinfuskan dg keceptan tetap 50 mg/jam selama 4 jam kepada subyek. Dari pustaka diketahui T1/2 eliminasi 6 jam dan volume distribusi obat 5 L, sehingga infus selama 4 jam belum mencapai kadar tunak pada subyek. Berapa perkiraan kadar obat dlm darah pd saat infus dihentikan? Dan berapa perkiraan obat dlm darah 12 jam sejak infus dihentikan? K = 0,693/6 = 0,1155 jam -1 C4 = 32 mg/L C12 = C4. e -k.t pi = 8 mg/L

61 Pemberian Infus & Dosis Muatan Intravena Lama pencapaian kadar tunak akan menjadi masalah jika onset efek dikehendaki cepat akan tetapi obat mmepunyai waktu paruh eliminasi panjang. Apabila kadar tunak harus berada dalam rentang terapi  pencapaian kadar terapeutik akan terlambat Untuk menghindari hal tsb dilakukan loading dose/initial bolus dose/dosis muatan  agar kadar obat segera berada dalam kisar terapuetik dan terjaga pada kadar tunak. Aturan umum: jika obat diberikan dengan interval yg sama dg waktu paruh eliminasinya  besar dosis muatan = 2 kali dosis maintenance. Lama pencapaian kadar tunak akan menjadi masalah jika onset efek dikehendaki cepat akan tetapi obat mmepunyai waktu paruh eliminasi panjang. Apabila kadar tunak harus berada dalam rentang terapi  pencapaian kadar terapeutik akan terlambat Untuk menghindari hal tsb dilakukan loading dose/initial bolus dose/dosis muatan  agar kadar obat segera berada dalam kisar terapuetik dan terjaga pada kadar tunak. Aturan umum: jika obat diberikan dengan interval yg sama dg waktu paruh eliminasinya  besar dosis muatan = 2 kali dosis maintenance.

62 Menentukan Loading Dose: cara 1 Cari data mengenai rentang terapeutik obat dan Vd obat dari literatur pustakan. Besar kadar tunak yg diinginkan biasanya diambil dari nilai tengah rentang terapeutik. Selanjutnya, Dosis muatan dihitung dg persamaan berikut:

63 Lanjutan.. cara ke-2 persamaan untuk menentukan Loading Dose Jika persamaan di atas disubstitusi dalam persamaan berikut, maka

64 Contoh soal Suatu obat akan diberikan dg cara infus berkecepatan tetap 10 mg/jam. Volume distribusi Obat 15 L, dengan tetapan kecepatan eliminasi first order 0,08 jam -1. Berapakah besar dosis muatan IV agar segera tercapai kadar tunak? DL = 10/ 0,08 = 125 mg

65 Persamaan untuk menentukan kadar obat dalam darah Jika dosis muatan diberikan bersama-sama pemberian infus

66 Pemberian Berulang : Intravena (bolus) Pada pemberian infus intravena menghasilkan kurva datar (plateu), sedangkan pada suntikan intravena berulang akan menimbulkan fluktuasi yaitu kadar maksimum dan minumun obat dlm darah.

67 Pemberian IV bolus berulang

68 Persamaan untuk menentukan Kadar obat dalam darah setiap waktu dlm suatu interval pemberian obat (sebelum tercapai keadaan tunak) Ket :  n = jumlah suntikan yg telah diberikan.  t = waktu setelah pemberian ke –n.   = interval pemberian

69 Persamaan untuk menentukan kadar obat dalam darah pada satu interval pada keadaan tunak atau Persamaan untuk menetukan Kadar rata-rata obat dalam darah pada keadaan tunak

70 Contoh soal Seorang pasien disuntik antibiotik 1000 mg secara IV bolus setiap 6 jam dan volume distribusi obat 20L. Waktu paruh eliminasi 3 jam. Berapakah kadar obat dlm darah 3 jam setelah suntikan kedua? Cari harga K  k= 0,693/3 = 0,231 jam -1 = 31,25 mg/L

71 Model 1 kompartemen Pemberian ekstravaskuler Tunggal Pemberian ekstravaskuler Tunggal

72 Kurva kadar obat dalam darah per satuan waktu pada pemberian ekstravaskuler tunggal

73 Persamaan yg menerangkan perubahan kadar obat setelah pemberian ekstravaskuler

74 Model 1 kompartemen Pemberian ekstravaskuler Berulang Pemberian ekstravaskuler Berulang

75 Persamaan kadar perubahan kadar obat dalam darah terhadap waktu pada pemberian ekstravaskuler berulang Ket :  Dev = dosis pemeliharaan  F = ketersediaan hayati  Ka = tetapan kecepatan absorbsi  K = tetapan kecepatan eliminasi  Vd = volume distribusi  n = jumlah pemberian obat (sudah berapa kali diberikan)   = interval tiap pemberian obat  t = waktu yg dilalui setelah pemberian ke-n

76 Pada keadaan kadar tunak

77 Model 2 Kompartemen Terdiri dari 2 kompartemen yaitu : Kompartemen 1 = darah dan jaringan dg perfusi baik = kompartemen sentral. Kompartemen 2 = jaringan yg perfusinya lambat = kompartemen jaringan/perifer. Sesudah obat dimasukkan ke dlm sistem sirkulasi dg suntikan IV  obat akan terdistribusi ke dalam seluruh jaringan  selama proses distribusi berlangsung, kadar obat dalam darah pada awal waktu menurun  akan tercapai kesetimbangan semu antar 2 kompartemen. Terdiri dari 2 kompartemen yaitu : Kompartemen 1 = darah dan jaringan dg perfusi baik = kompartemen sentral. Kompartemen 2 = jaringan yg perfusinya lambat = kompartemen jaringan/perifer. Sesudah obat dimasukkan ke dlm sistem sirkulasi dg suntikan IV  obat akan terdistribusi ke dalam seluruh jaringan  selama proses distribusi berlangsung, kadar obat dalam darah pada awal waktu menurun  akan tercapai kesetimbangan semu antar 2 kompartemen.

78 Model 2-kompartemen pada pemberian Intravaskuler Sebagian besar jenis obat yg diberikan IV bolus, penurunan kadar obat dlam darah terhadap waktu berbentuk bifase  kurva dua- eksponensial Bentuk kurva ini merupakan indikasi bahwa profil farmakokinetik obat setelah pemberian intravena dapat diterangkan dengan model 2 kompartemen. Sebagian besar jenis obat yg diberikan IV bolus, penurunan kadar obat dlam darah terhadap waktu berbentuk bifase  kurva dua- eksponensial Bentuk kurva ini merupakan indikasi bahwa profil farmakokinetik obat setelah pemberian intravena dapat diterangkan dengan model 2 kompartemen.

79 Keterangan Kurva 2 kompartemen pemberian IV tunggal  Menunjukkan model 2 kompartemen  Garis linear a (fase distribusi/disposisi cepat)menggambarkan proses distribusi obat setelah pemberian IV. Setelah distribusi komplit pada semua jaringan  equilibrium (keseimbangan kadar pada seluruh jaringan tubuh)  Garis linear b (fase eliminasi/terminal/disposisi lambat)menggambarkan proses eliminasi obat.  Selama proses distribusi awal berlangsung, sebagian obat mengalami eliminasi namun fraksi yg tereliminasi masih jauh lebih kecil dibandingkan yg terditribusi.  Selama fase eliminasi masih ada frkasi obat yg mengalami redistribusi dari jaringan ke dalam darauh namun porsi ini sudah sangat kecil.  Menunjukkan model 2 kompartemen  Garis linear a (fase distribusi/disposisi cepat)menggambarkan proses distribusi obat setelah pemberian IV. Setelah distribusi komplit pada semua jaringan  equilibrium (keseimbangan kadar pada seluruh jaringan tubuh)  Garis linear b (fase eliminasi/terminal/disposisi lambat)menggambarkan proses eliminasi obat.  Selama proses distribusi awal berlangsung, sebagian obat mengalami eliminasi namun fraksi yg tereliminasi masih jauh lebih kecil dibandingkan yg terditribusi.  Selama fase eliminasi masih ada frkasi obat yg mengalami redistribusi dari jaringan ke dalam darauh namun porsi ini sudah sangat kecil.

80 Waktu paruh Waktu paruh distribusiWaktu paruh eliminasi Ket :  Kb = tetapan kecepatan eliminasi obat dari tubuh ketika proses distribusi awal selesai.  Ka = tetapan kecepatan distribusi. Atau

81 Pemberian Ekstravaskuler

82 Kurva perubahan kadar obat setiap waktu pada pemberian ekstravaskuler : model 2- kompartemen

83 Persamaan untuk menentukan ketersediaan hayati setelah pemberian per oral Ket :  Eh = rasio ekstraksi hepatik  Cl h = klirens hepatik  Qh = Kecepatan aliran darah hepatik

84 Kadar Obat pada Pemberian Ireguler

85

86 Tugas kelompok 1 kelompok beranggotakan maks 10 orang Masing-masing kelompok mengerjakan semua soal yang diberikan. Setiap anggota kelompok membuat hasil diskusi kelompoknya. Dikumpul senin minggu depan

87 Tugas : 1. Berapakah dosis infus yg harus diberikan kepada subyek dg berat badan 70 Kg, jika dikehendaki kadar tunak dalam darah 15 mg/L sedangkan klirens obat pada subyek telah diketahui yaitu 0,4L/jam per kgBB? 2. Larutan steril diberikan melalui infus intravena dg keceptan tetap 5 mg/jam per kgBB kepada subyek dg BB 60 kg sampai tercapai keadaan tunak. Karena subyek mengalamu gejala overdosis, infus dihentikan. Pada saat ini diketahui kadar obat dalam darah 30 mg/L. waktu paruh eliminasi obat diketahui 8 jam. Apabila setelah hilang gejala overdosis, ingin mengatur kadar tunak obat dalam darah berada dalam kisar terapeutik sebesar 10 mg/L. Berapa dosis infus (koreksi) yg harus diberikan pada subyek?

88 Tugas..lanjutan 3. Suatu antibiotik mempunyai Volume distribusi 5 L dan tetapan kecepatan eliminasi 0,20 jam-1. berapa dosis infus yang akan diberikan jika diinginkan kadar tunak dalam darah 15 mg/L ? 4. Suatu obat akan diberikan dg cara infus berkecepatan tetap 20 mg/jam. Volume distribusi Obat 15 L, dengan tetapan kecepatan eliminasi first order 0,08 jam -1. Berapakah besar dosis muatan IV agar segera tercapai kadar tunak?dan berapa kadar tunaknya?

89 Tugas...lanjutan 5. Seorang pasien mendapatkan suntikan antibiotik dengan IV bolus berulang, dosis 1000 mg tiap 6 jam. Volume distribusi 20L dan waktu paruh eliminasi 3 jam. Suntikan diberikan sampai terjadi keadaan tunak. Berapa kadar antibiotik 3 jam setelah suntikan terakhir?berapa kadar obat maksimum dan minimum serta kadar obat rata-rata pada keadaan tunak? 6. Seorang pasien berat badan 45 kg diberi siprofloksasin 250 mg per oral 4 kali sehari selama 4 minggu. Ketersediaan hayati sebesar 70% dengan volume distribusi 2,3 L/kg dan waktu paru eliminasi 4 jam dan tetapan kecepatan absorbsi sekitar 0,9 jam-1. hitunglah (a) kadar maksimum dan minimum dalam darah setelah pemberian pertama, (b) kadar obat dalam darah 4 jam setelah pemberian ke-12, (c) kadar maksimum dan minimum dalam darah pada keadaan tunak !


Download ppt "Dr. Ave Olivia Rahman, M.Sc Bagian Farmakologi FKIK UNJA."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google