Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

BEBERAPA AHLI SOSIOLOGI YANG MEMBERI KONTRIBUSI PADA PERKEMBANGAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN (SOS 223) DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "BEBERAPA AHLI SOSIOLOGI YANG MEMBERI KONTRIBUSI PADA PERKEMBANGAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN (SOS 223) DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU."— Transcript presentasi:

1 BEBERAPA AHLI SOSIOLOGI YANG MEMBERI KONTRIBUSI PADA PERKEMBANGAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN (SOS 223) DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU PENDIDIKAN

2 EMILE DURKHEIM ( ) Karya-karya Durkheim yang berkaitan dengan dunia pendidikan : (1)education and Society; (2)Moral Education; (3)Evolution of Educational Thought. BEBERAPA PERNYATAAN DURKHEIM TENTANG PENDIDIKAN: –Perubahan di bidang pendidikan merupakan hasil dari perubahan sosial. Dalam rangka itulah perubahan harus dijelaskan.  salah satu bentuk perubahan itu adalah berkembangnya sistem pembagian kerja –Terbentuknya lembaga pendidikan merupakan konsekuensi logis dari taraf perkembangan masyarakat yang sudah kompleks

3 Pokok-pokok pemikiran Durkheim : Pendidikan dianggap sebagai “social think” (pikiran sosial) karena : –Cita-cita masyarakat dapat direalisasikan melalui lembaga pendidikan; –Cita-cita masyarakat : bahwa masyarakat harus dapat bertahan hidup, untuk itu harus ada suatu keseimbangan di kalangan warganya; Pendidikanlah yang mampu melaksanakan cita-cita masyarakat  melalui proses penanaman nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat (sosialisasi moral)

4 pendidikan dapat menjadi sarana untuk menanggulangi desintegrasi sosial  akibat perubahan sosial, yaitu berkembangkan sistem pembagian kerja (division of labor). Pendidikan sebagai penjamin jalannya diferensiasi karena pendidikan melatih dan membekali masyarakat dengan beraneka ragam jenjang maupun spesialisasi pekerjaan, mengikuti banyaknya perbedaan fungsi/peran masyarakat itu sendiri.

5 Pemikiran Durkheim tentang PENDIDIKAN MORAL PENDIDIKAN MORAL : –Pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kesadaran diri sendiri (self conciousness) dan kesadaran sosial (collective conciousness), di mana perpaduan keduanya menjadikan masyarakat stabil, disiplin dan utuh. –Sekolah merupakan tempat yang paling sesuai bagi pendidikan moral, karena: Melalui sekolah, anak-anak dilatih untuk mencerna nilai dan disiplin (salah satu unsur moral) anak-anak akan lebih mengenal masyarakatnya.  sekolah berfungsi menciptakan makhluk baru yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat  MEMBENTUK KARAKTER

6 Moral memiliki tiga unsur: 1.disiplin : adalah konsistensi dan keteraturan tingkah laku, yang juga meliputi wewenang. Fungsi disiplin : a)membantu manusia untuk menetapkan cara-cara tertentu sehingga mampu memberi respon yang pantas; b)memberi jawaban kepada individu tentang arti pengekangan, yang memungkinkan individu menahan diri (untuk mendapatkan tujuan-tujuan tertentu mencapai secara bertahap) 2.Keterikatan atau identifikasi diri dengan kelompok : obyek perilaku moral adalah kelompok/masyarakat. Bertindak secara moral berarti bertindak demi kepentingan kolektif (tindakan untuk kepentingan sendiri tidak pernah dianggap bermoral).

7 3.Otonomi yang didukung oleh pengetahuan: –menyangkut keputusan-keputusan pribadi yang didasarkan atas pengetahuan tentang konsekuensi-konsekuensi dari berbagai tindakan itu. Dengan memperhatikan unsur-unsur moral tersebut (disiplin, identifikasi dengan kelompok, dan otonomi), maka Durkheim melihat, bahwa pendidikan adalah sarana untuk mencapai suatu tujuan sosial, yaitu terjaminnya kelangsungan hidup masyarakat.

8 Karl Mannheim (Inggris) Pendapatnya: –Pendidikan sebagai salah satu elemen dinamis dalam sosiologi  alat pengendalian sosial; –Ahli sosiologi seharusnya tidak memandang pendidikan semata-mata sebagai alat untuk merealisasikan cita-cita abstrak masyarakat atau alat untuk mengalihkan spesialisasi teknis pekerjaan tertentu, tetapi sebagai bagian dalam proses membentuk/memengaruhi manusia. –Pendidikan hanya dapat dipahami dengan mengetahui: murid-murid dididik untuk masyarakat apa dan untuk posisi sosial mana mereka nanti akan ditempatkan  fungsi pendidikan sebagai “penempatan sosial”

9 Lanjutan… (Mannheim) Pendidikan dimaknai dalam arti luas: tidak hanya formal tetapi juga nonformal/informal: –bahwa pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat itu bahkan lebih hebat daripada pendidikan formal. Menurutnya: pendidikan adalah suatu teknik sosial: –yaitu menyediakan suatu lingkungan sosial yang dirancang untuk menghasilkan pribadi demokratis agar dapat berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat yang demokratis  apakah sekolah mampu mewujudkannya?

10 KARL MARX KARL MARX (lahir 1818, di Jerman) Marx tidak secara langsung mencurahkan perhatiannya pada masalah pendidikan, tetapi perspektif marxis pada pendidikan terletak pada penjelasan tentang konflik. KOMENTAR MARX TENTANG PENDIDIKAN : Terdapat kontradiksi di antara metode pendidikan yang digunakan masyarakat dengan sifat pekerjaan mereka nantinya.

11 Kontradiksi itu adalah: –Di sekolah: siswa diajarkan otonomi individu, kreativitas dan cara-cara merespon dunianya  (mengajarkan kebebesan dan pengembangan individu) –Di dunia kerja siswa nantinya hanya akan menjadi buruh yang harus tunduk pada keseragaman, keteraturan, tidak boleh berkreasi sekehendak hatinya  (tunduk/patuh pada majikan/pemilik modal). Penyebab kontradiksi itu menurut Marx: –terdapat hubungan-hubungan ekonomi (yang asimetris/tidak seimbang) dalam sistem produksi masyarakat; –terjadi dominasi dari satu golongan atas golongan yang lain.

12 Gagasan Marx & Engels yang berkaitan dengan pendidikan: 1.Pendidikan yang bersifat kelas harus dibongkar  sekolah tunduk kepada perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh perjuangan kelas; 2.Pendidikan harus membantu proses perubahan masyarakat  agar tercipta masyarakat tanpa kelas 3.Ketika masyarakat sudah terbentuk tanpa kelas, maka pendidikan sebagai sektor institusional yang otonom akan ‘punah’  tidak ada sekolah 4.Pendidikan dan kerja produktif hendaknya dihubungkan satu sama lain  menjadi bagian yang saling berkaitan

13 GEORGE HERBERT MEAD (1869) Karya Mead yang terkenal adalah : Mind, Self & Society Melalui karya-karyanya ia dikenal sebagai seorang behavioris sosial (yang berkembang dengan mazhab Interaksionisme Simbolik), dengan pemahaman: –dunia sosial hanya dapat dikenal melalui pengamatan perilaku  pemaknaan dan penafsiran terhadap tindakan/perilaku –individu-individu ada hanya melalui aktivitas sosial dan interaksinya dengan orang lain.

14 Konsep-konsep Mead yang banyak digunakan untuk Sosiologi Pendidikan : Generalized Other : individu dapat mengembangkan suatu pengertian tentang orang lain secara umum, terutama dengan melihat posisi-posisi sosial dan peran-peran yang dimainkan setiap individu dalam suatu “team game” –digunakannya istilah “aktor” bagi orang-orang yang terlibat di dalam sistem persekolahan (guru, kepala sekolah, murid, orangtua murid, pegawai administrasi atau pesuruh sekolah, pihak dinas pendidikan, dll) Significant Other : keberadaan orang lain dianggap bermakna di dalam kehidupan individu.  (teman sepermainan, guru yang membimbing murid, orangtua yang mendampingi belajar murid, dll) Social Setting (latar sosial/struktural) : adalah konsep di mana perilaku individu merupakan produk dari latar sosial dan interaksi dengan lingkungan sosialnya.  sekolah adalah social setting yang dapat dipelajari untuk melihat proses-proses sosial yang terjadi di sekolah.

15 ALFRED SCHUTZ (lahir 1889, di Wina, Austria) Schutz adalah peletak dasar teori-teori sosiologi Fenomenologi, yang kemudian berkembang menjadi mazhab Etnometodologi (yang diperluas Harold Garfinkel). Di dalam pemahaman fenomenologi: dunia sosial bersifat inter-subyektif.  Artinya: dipahami bahwa benda-benda (hal-hal) di dunia mempunyai makna yang sama (saling terkait) bagi saya dan bagi anda. Konsep inter-subyektif dapat diterapkan dalam dunia pendidikan, melalui konsep indeksikalitas (proses sosial yang ditempuh melalui bicara)

16 Indeksikalitas: makna yang disampaikan seseorang yang tidak atau jarang diartikulasikan dalam proses berbicara itu sendiri. Yang terjadi : yang berbicara beranggapan bahwa antara dirinya dengan lawan bicaranya memiliki persamaan dalam hal makna, sehingga kata-kata yang diucapkan ditafsirkan di dalam konteks yang dimaksudkan atau “diindekskan” oleh bahasa.  ada prosedur interpretatif. Indeksikalitas banyak dimanfaatkan dalam studi sosiologi pendidikan, misalnya : –Di ruang kelas, murid harus memahami indeksikalitas dalam ucapan guru, agar murid dapat menangkap pesan-pesan guru. –Guru dan murid berusaha mencari prosedur-prosedur intepretatif  fungsinya untuk ketertiban dan terlaksananya proses belajar-mengajar. –Sekolah mempunyai standar tipifikasi (pen-tipe-an atau pengkategorian) yang kemudian diintepretasikan murid dengan berbagai jenis perilaku: “baik”, “dapat diterima” atau “menyimpang”

17 Pemikiran tentang indeksikas juga dikembangkan oleh Basil Bernstein ( : Inggris) –Karya Bernstein tentang sistem pengkodean bahasa/kata: kode yang diperluas (elaborated codes) dan kode yang dipersempit (restricted codes). Pembedaaan antara bahasa formal dan bahasa publik  anak-anak kelas menengah dapat menggunakan dua bahasa itu, sedangkan anak-anak kelas pekerja terbatas pada penggunaan bahasa publik.

18 MAX WEBER (lahir 1864, di Jerman Timur) Konsep Weber yang banyak dikutip oleh para ahli sosiologi pendidikan : Kelompok kelas : adalah kumpulan individu yang berada dalam posisi sosial yang sama (misalnya: kesamaan derajat ekonomi, kesamaan agama, kesamaan tingkat pendidikan, dsb.) dianggap berada dalam kelompok kelas yang sama. Kelompok status : adalah kelompok kelas yang memiliki prestige (gengsi/wibawa) yang sama atau memiliki gaya hidup yang sama, mereka sadar akan hal itu dan menggunakan gaya hidup tersebut dalam bermasyarakat  melalui gaya hidup tersebut dapat membedakan diri mereka dengan kelompok kelas yang lain). Organisasi dan birokrasi dapat digunakan untuk menganalisis struktur sosial di sekolah.

19 TALCOTT PARSONS (lahir 1902, di USA) Teori Parsons yang terkenal adalah Fungsional Struktural (grand theory/teori makro). Parsons melihat realitas sosial sebagai suatu sistem sosial di mana bagian- bagian berkaitan/berhubungan dengan keseluruhannya (the parts are related to the whole)  di mana bagian-bagian itu dapat dijelaskan dalam konteks fungsi/manfaatnya ntuk keseluruhan.

20 Lanjutan… (T.Parsons) Konsep sistem sosial dalam konteks pendidikan antara lain: –Ruang kelas dijelaskan berdasarkan fungsinya bagi sekolah –Sekolah dijelaskan berdasarkan sistem pendidikan –Sistem pendidikan dijelaskan berdasarkan fungsinya bagi masyarakat

21 Lanjutan… (Parsons) Teori besar (grand theory) dari Parsons dimulai dengan suatu penjelasan tentang perilaku individu. Bahwa semua tindakan individu tujuannya diorientasikan, atau dicari dan dikejar untuk kepentingan- kepentingan (menjadi bagian dari) orang-orang lain.

22 Lanjutan… (Parsons) Dalam setiap tindakan sosial, kita akan dihadapkan pada lima dilema (atau variabel- variabel pola): 1.Afektivitas dan netralitas afektif  pilihan antara memandang tujuan pribadi/diri sendiri atau sebagai bagian dari rencana yang lebih luas; 2.Specifity (kekhususan) & diffuseness (kebauran) 3.Universalism (menyeluruh) & particularism(istimewa/khusus) 4.Self orientation (terarah pada diri sendiri) and collectivity orientation (terarah kepada kolektivitas/kelompok) 5.Achievement (prestasi) & ascription (pemberian)

23


Download ppt "BEBERAPA AHLI SOSIOLOGI YANG MEMBERI KONTRIBUSI PADA PERKEMBANGAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN (SOS 223) DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google