Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pertemuan 6 HUKUM D itinjau Dari Agama Buddha Bagian 2.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pertemuan 6 HUKUM D itinjau Dari Agama Buddha Bagian 2."— Transcript presentasi:

1 Pertemuan 6 HUKUM D itinjau Dari Agama Buddha Bagian 2

2 Kesalah Pahaman Mengenai Hukum Karma a.Penggunaan kata “karma” ini pada umumnya ditujukan utk menggambarkan hal-hal yg tidak baik. b.Kepercayaan bahwa segala sesuatu merupakan hasil dari perbuatan di kehidupan sebelumnya c.Kepercayaan bahwa segala sesuatu merupakan hasil penciptaan oleh sesuatu pencipta tertinggi d.Kepercayaan bahwa segala sesuatu timbul tanpa alasan atau sebab.

3 Apakah Kamma Itu? “O, Para Biku, KEHENDAK ( cetana ) itulah yang Ku-sebut KARMA. Angutara Nikaya III, 415

4 Apakah Kamma Itu? Kamma, secara harfiah berarti tindakan atau perbuatan. Setiap jenis tindakan yang disengaja (baik atau buruk) apakah mental, verbal atau fisik dianggap sebagai Kamma. Dalam arti utamanya Kamma berarti semua kehendak baik dan buruk (kusala akusala cetana). Beberapa agama (tapi bukan Buddhisme) mempertimbangkan tindakan yang tidak disengaja sebagai Kamma juga.

5 Apakah Kamma Itu? Buddha berkata "Saya menyatakan, O Bikkhu, bahwa kehendak (cetana) adalah Kamma. Setelah menghendaki seseorang bertindak dengan jasmani, ucapan dan pikiran. “ ( Angutara Nikaya III, 415) Setiap tindakan yang disadari orang, kecuali yang dari seorang Buddha dan Arahat, disebut Kamma. Tindakan disengaja, tidak disengaja atau tidak sadar bukan merupakan Kamma karena kehendak, faktor yang paling penting menentukan Kamma, tidak ada.

6 Pentingnya Pikiran Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya - Dhammapada Syair 1 Ketika pikiran ini tak dijaga, tindakan jasmani, ucapan dan pikiran semua tak dijaga. Ketika pikiran dijaga, tindakan jasmani, ucapan dan pikiran semua dijaga. Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya - Dhammapada Syair 2 Dalam hukum Kamma, hal yang paling penting adalah pikiran. Semua kata dan perbuatan kita diwarnai oleh pikiran atau kesadaran yang kita alami pada saat-saat tertentu

7 Kamma dan Vipaka

8 Kamma = perbuatan Vipaka = Buah / hasil / reaksi Setiap aktivitas kehendak pasti disertai dengan efek / akibat. Kamma bisa baik atau buruk, demikian pula vipaka bisa baik atau buruk. Seperti Kamma adalah mental, begitu juga vipaka adalah mental, ini adalah pengalaman kebahagiaan atau kenikmatan dan ketidakbahagiaan atau penderitaan.

9 Kamma dan Vipaka Vipaka baik disertai dengan kondisi-kondisi material secara bersamaan yang menguntungkan (Anisamsa) seperti kemakmuran, kesehatan dan umur panjang. Vipaka buruk disertai dengan kondisi-kondisi material secara bersamaan yang merugikan (adinava) seperti kemiskinan, keburukan, penyakit, umur pendek, dll Kamma baik dan karma buruk didasari kesadaran biasa/duniawi (kusala akusala citta lokiya) dan vipaka yang dihasilkan juga berupa kesadaran duniawi (lokiya vipakacitta).

10 Kamma dan Vipaka Hukum Kamma bekerja secara alami dan independen tanpa campur tangan pihak lain (Tuhan?). Dalam Kamma, kemelekatan merupakan potensi yang menghasilkan efek /akibat. Penyebab menghasilkan akibat, akibat menjelaskan penyebab. Menurut hukum alam ini, tindakan seseorang akan membawa pahala dan hukuman bagi pelaku sendiri. Inilah keadilan sejati bagi manusia.

11 Sabda Buddha : “Sesuai benih yang ditabur, Demikian buah yang diperoleh, Pelaku kebaikan akan mengumpulkan kebaikan / kebahagiaan, Pelaku keburukan, memperoleh keburukan/penderitaan. Taburlah biji dan kamu akan merasakan buah darinya” (Samyutta Nikaya I:227)

12 Kamma dan Vipaka Namun Kamma bukanlah sebuah nasib atau takdir yang ditimpakan kepada kita oleh suatu kekuatan misterius yang tidak diketahui, di mana kita tanpa daya harus menyerahkan diri kita sendiri. Ini adalah hukum aksi –reaksi. Namun seseorang memiliki kekuatan untuk mengendalikan jalannya Kamma sampai batas tertentu. Seberapa jauh seseorang mengendalikan, itu tergantung pada diri sendiri. Yahooo o!!

13 Penyebab Kamma

14 Kebodohan batin (avijja) atau tidak mengetahui hal- hal sebagaimana adanya, adalah penyebab utama dari kamma. Bergantung pada ketidaktahuan timbul aktivitas kamma (avijja paccaya sankhara), menyatakan Buddha dalam Paticca samuppada (Sebab musabab yang saling bergantungan). Terkait dengan ketidaktahuan adalah sekutu dari nafsu keinginan (tanha), akar lain dari Kamma. Tindakan jahat dikondisikan oleh dua penyebab. Kebodohan Batin Nafsu Keinginan

15 Penyebab Kamma Semua perbuatan baik dari orang biasa (puthujjana), meskipun terkait dengan 3 akar bajik dari kemurahan hati (alobha), tanpa membencil (adosa) dan pengetahuan/kebijaksanaan (Amoha), tetap saja dianggap sebagai Kamma karena dua akar kebodohan dan keinginan yang tidak aktif ada di dalamnya. Jenis kesadaran moral Jalan supra-duniawi (maggacitta) tidak dianggap sebagai Kamma karena mereka cenderung untuk membasmi dua akar penyebab. Kebodohan batin Nafsu keinginan

16 Pelaku Kamma

17 Siapa pelaku Kamma? Siapa menuai buah dari Kamma? Kehendak atau keinginan (cetana) inilah yang disebut pelaku. Perasaan (vedana) inilah yang merasakan buah/akibat perbuatan. Selain dari kondisi mental murni (suddhadhamma) tidak ada seorang pun yang menabur tapi tidak menuai.

18 Dimanakah Kamma?

19 “Bhante dimanakah kamma disimpan? Raja Milinda bertanya keada bhikkhu Nagasena. "O Maharaja, Kamma tidak dikatakan disimpan di suatu tempat dalam kesadaran atau di bagian lain dari tubuh. Tapi tergantung pada pikiran yang memanifestasikannya dari saat ke saat, seperti buah mangga tidak dikatakan disimpan di pohon mangga, tetapi tergantung pada waktunya akan bermunculan” jawab Bhikkhu Nagasena..

20 Dimana Kamma? Baik angin atau api tidak disimpan di tempat tertentu, demikian pula Kamma tidak disimpan di mana saja di dalam atau luar tubuh. Kamma merupakan kekuatan individu, dan ditularkan dari satu keberadaan ke keberadaan lain. Ia memainkan bagian penting dalam membentuk karakter dan menjelaskan fenomena yang luar biasa seperti kejeniusan, keajaiban bayi dan sebagainya.

21 Apakah Kamma dapat Dirubah?

22 Batin-Badan= gelas Karma baik= air Karma buruk= garam AIR & GARAM  Saat lahir Saat mati

23 Jangan menganggap remeh kebaikan, dengan berkata: "Hal ini tidak akan berguna bagiku." Bahkan dengan jatuhnya tetes demi tetes, seguci air akan penuh. Seperti halnya orang bijaksana, mengumpulkan sedikit demi sedikit, memenuhi dirinya dengan kebajikan. (Dhammapada 122)

24 Jaga PIKIRAN, Pikiran jadi PERKATAAN. Jaga PERKATAAN, Perkataan jadi PERBUATAN. Jaga PERBUATAN, Perbuatan jadi KEBIASAAN. Jaga KEBIASAAN, Kebiasaan jadi WATAK. Jaga WATAK, Watak jadi “NASIB”. “Nasib” = apa yang kita alami dan apa yang terjadi dalam diri kita.

25 MENGAPA KITA LAHIR BERULANG-ULANG? 1.Nafsu keinginan terhadap kesenangan indrawi/duniawi (Kama-tanha). 2.Nafsu keinginan untuk tetap eksis/hidup selamanya (Bhava-tanha). 3.Nafsu keinginan untuk tidak eksis/lenyap/mati selamanya (Vibhava-tanha). Kekuatan karma yg dilandasi kegelapan batin (avijja) Kelahiran Kembali (Punabbhava)

26 Ulat  Kepompong  Kupu KELAHIRAN BERULANG YANG KASAT MATA! Apakah Ulat = Kupu? Kupu = Ulat?

27 Dimana kita akan dilahirkan?

28 CARA MENELUSUR KEHIDUPAN LAMPAU - Meditasi Samatha (Jhana, Abhiñña) - Hipnotis (menggali ingatan dalam pikiran bawahsadar) Pustaka rujukan teknik hipnotis: The Search for Bridey Murphy, oleh Morey Berenstein. The Power Within, oleh Dr. Alexander Cannon. Twenty Cases Suggestive of Reincarnation, oleh Dr. Ian Stevenson Many Lives Many Masters, oleh Dr. Brian Weiss The Successive Lives, oleh Col. Albert de Rochas. The Three Lives of Naomi Henry, oleh Henry Blythe. Who was Anne Okendan?, oleh Arnoll Bloxom. Exploration of a Hypnotist, oleh Dr. Johnathan Rodney.

29 Paticca Samuppada paticca samuppada ajaran Buddha tentang kelahiran dan kematian. Ini berkaitan dengan penyebab kelahiran kembali dan penderitaan dengan tujuan untuk membantu manusia untuk menyingkirkan penyakit kehidupan. Paticca = 'karena' atau bergantung pada’ 'Samuppada = ' timbul 'atau' asal ' Metode dari paticca samuppada harus dipahami sebagai berikut: Karena 'A' muncul 'B'. Karena 'B' muncul 'C'. Ketika tidak ada 'A', tidak ada 'B'. Ketika tidak ada 'B', tidak ada 'C'. Dengan adanya ini, adalah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak ada-lah itu

30 Paticca Samuppada Ajaran ini menjelaskan ‘secara sederhana apa yang terjadi dan penyebabnya’ Paticca-Samuppada terdiri dari 12 rantai yang saling bergantungan: 1. Avijja7.Vedana 2.Sankhara8. Tanha 3.Vinnana9. Upadana 4.Nama rupa10. Bhava 5.Salayatana11.Jati 5. Phassa12. Jara-marana

31 Paticca Samuppada Ketidaktahuan dari Empat Kebenaran Mulia adalah penyebab utama yang menentukan berputarnya roda kehidupan. Dengan kata lain, itu adalah ketidak- tahuan mengenai hal-hal sebagaimana adanya, atau mengenai hakekat diri. Inilah kabut dari pemahaman yang benar. Ketidaktahuan - Avijja "Ketidaktahuan adalah khayalan yang membuat kita berada didunia yg terus berputar" (Buddha). Bergantung pada ketidaktahuan (avijja), muncul tindakan berkehendak (sankhara). Jika saya menghasilkan lebih banyak uang, saya akan menjadi orang paling bahagia di dunia!

32 Paticca Samuppada Sankhara berarti perbuatan buruk (akusala), baik (kusala) dan netral (anenja) yang merupakan Kamma dan menyebabkan kelahiran kembali. Tindakan berkehendak - Sankhara Bergantung pada tindakan berkehendak (sankhara), muncul kesadaran (vinnana). Ini mencakup semua pemikiran baik dan tidak baik, ucapan dan perbuatan. Tindakan (baik dan buruk) yang berakar pada ketidaktahuan akan menghasilkan akibat. ?inilah penyebab kelahiran berkelanjutan (samsara).

33 Paticca Samuppada Disebut demikian karena menyambungkan masa lalu dengan sekarang, dan itu adalah kesadaran awal pada saat pembuahan. Kesadaran penyambung - patisandhi-vinnana Janin dalam rahim ibu dibentuk oleh kombinasi dari kesadaran penyambung-dengan sel sperma dan sel telur dari orang tua. Dalam kesadaran ini adalah laten semua pengalaman masa lalu, karakteristik dan kecenderungan tertentu dari individu. Energi Kamma

34 Paticca Samuppada Kesadaran penyambung - patisandhi-vinnana Kesadaran ini dianggap murni, tanpa keserakahan, kebencian dan delusi/kebodohan (3 akar perbuatan baik). Bergantung pada kesadaran penyambung (patisandhi vinnana), muncul batin-jasmani (nama-rupa).

35 Paticca Samuppada Batin – jasmani - Nama-rupa Nama (batin) di sini yang dimaksud 3 agregrat - perasaan (vedana), persepsi (Sanna) dan keadaan mental (sankhara) yang timbul bersamaan dengan kesadaran penyambung. Rupa (jasmani) berarti 3 unsur - kaya (tubuh), bhava (seks), dan vatthu (landasan kesadaran) - yang juga muncul bersamaan dengan kesadaran penyambung-, dikondisikan oleh Kamma masa lampau.

36 Paticca Samuppada Batin - Jasmani - Nama-rupa Para unsur jasmani/tubuh terdiri dari empat elemen – padat, cair, panas dan udara; dalam empat turunannya - warna, bau, rasa, esensi nutrisi, vitalitas dan tubuh.. Jenis kelamin belum berkembang pada saat pembuahan, tetapi berupa potensi. Baik hati (heart) maupun otak telah berkembang pada saat pembuahan. Banyak orang menganggap landasan kesadaran (vatthu) terletak di dalam hati. Harus dicatat bahwa Buddha tidak menerima atau menolak teori jantung populer

37 Paticca Samuppada Enam landasan Indera - salayatana Selama periode embrio, enam landasan indri secara bertahap berevolusi. Selama periodenya, embrio kecil berkembang menjadi bayi yang kompleks inderanya. Semua enam indera (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran), bersentuhan dengan obyeknya masing2 (bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan dan objek mental) sehingga menimbulkan enam jenis kesadaran.

38 Paticca Samuppada Kontak - phassa Kontak (phassa) dari landasan indera, objek indera dan kesadaran bersifat murni, subjektif dan impersonal.

39 Paticca Samuppada Perasaan - vedana Tergantung pada kontak, perasaan (vedana) muncul. Perasaan ini adalah berupa pengalaman baik yang diinginkan dan tidak diinginkan dari tindakan yang dilakukan dari kelahiran sebelumnya. Perasaan (atau sensasi) adalah suatu keadaan mental yang umum untuk semua jenis kesadaran. Ada 3 macam perasaan - menyenangkan, tidak menyenangkan dan netral. Wow permata yang berharga!! Aku akan menjadi kaya!

40 Paticca Samuppada Bergantung pada perasaan timbul nafsu keinginan (tanha) Nafsu Keinginan juga disebut keserakahan, kehausan akan sesuatu, kemelekatan. Nafsu keinginan- tanha Aku ingin punya uang banyak

41 Paticca Samuppada Keinginan adalah tiga: Nafsu keingin - tanha Nafsu Keinginan adalah alami namun mengatasi nya sangat sulit. Tanha dan avijja merupakan faktor yang paling kuat di lingkaran samsara. Ketidaktahuan ditunjukkan sebagai penyebab dari masa lalu untuk masa saat ini, dan keinginan, penyebab saat ini untuk masa depan. 1. Kamma tanha; Keinginan untuk kenikmatan sensual 2. Bhava tanha; Keinginan untuk kenikmatan sensual yang terkait dengan pandangan eternalisme, (keabadian) 3. Vibhava tanha; Keinginan untuk kesenangan sensual dengan pandangan nihilisme, yaitu menikmati kesenangan dengan berpikir bahwa segala sesuatu binasa /lenyap setelah kematian. Adalah sudut pandang materialistik.

42 Paticca Samuppada Kemelekatan - upadana Tergantung pada keinginan adalah kemelekatan. Tanha adalah seperti meraba-raba dalam gelap untuk mencuri sebuah benda. Kemelekatan disebabkan oleh keterikatan dan kesalahan pandangan. Hal ini menimbulkan gagasan-gagasan palsu/ilusi “aku" dan "milikku". Kemelekatan berhubungan dg 4 hal- yaitu, nafsu indria, pandangan palsu, kepatuhan terhadap ritus-ritus dan upacara-upacara, dan Teori jiwa/diri. Saya ingin tetap menjadi ketua

43 Paticca Samuppada Tindakan menjadi - bhava Tergantung pada kemelekatan muncul kammabhava (tindakan menjadi). Hal ini dijelaskan sebagai tindakan baik dan tidak baik yang merupakan Kamma. Perbedaan antara sankhara (bentukan pikiran) dan kammabhava (tindakan menjadi) adalah bahwa sankhara berhubungan dg masa lalu dan yang terakhir ke kehidupan sekarang. Kammbhava berhubungan dg kondisi kelahiran masa depan.

44 Paticca Samuppada Kelahiran - jati Tergantung pada tindakan menjadi muncul kelahiran (jati) dalam kehidupan berikutnya. Kelahiran, tegasnya, adalah timbul dari fenomena psiko-fisik (khandhanam patubhavo). Usia tua & kematian - jaramarana Usia tua dan kematian adalah hasil tak terelakkan dari lahir.

45 ketidaktahuan kesadaran kehendak Batin / jasmani 6 Indera kontak perasaan nafsu keinginan kemelekatan pennjadian kelahiran Usia Tua / kematian Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan – Paticca-Samuppada

46 Bergantung pada ketidaktahuan (avijja), muncul tindakan berkehendak (sankhara). Bergantung pada tindakan berkehendak, muncul kesadaran (vinnana). Bergantung pada kesadaran, muncul batin-jasmani (nama-rupa). Bergantung pada batin-jasmani, muncul enam landasan indra (salayatana). Bergantung pada enam landasan indra, muncul kontak (phassa). Bergantung pada kontak, muncul perasaan (vedana). Bergantung pada perasaan, muncul nafsu keinginan (tanha). Bergantung pada nafsu keinginan, muncul kemelekatan (upadana). Bergantung pada kemelekatan, muncul proses dumadi (bhava). Bergantung pada proses dumadi, muncul kelahiran (jati). Bergantung pada kelahiran, muncul penuaan dan kematian (jara-marana). PATICCA SAMUPPADA

47 Pengakhiran ketidaktahuan menuntun pada berhentinya tindakan berkehendak. Berhentinya tindakan berkehendak menyebabkan berhentinya kesadaran. Berhentinya kesadaran menimbulkan berhentinya batin-jasmani. Berhentinya batin-jasmani menyebabkan berhentinya enam landasan indra. Berhentinya landasan indra menyebabkan berhentinya kontak. Berhentinya kontak menyebabkan berhentinya perasaan. Berhentinya perasaan menyebabkan berhentinya nafsu keinginan. Berhentinya nafsu keinginan menyebabkan berhentinya kemelekatan. Berhentinya kemelekatan menyebabkan berakhirnya proses dumadi. Berhentinya proses dumadi mengakhiri kelahiran. Berhentinya kelahiran menyebabkan berhentinya penuaan dan kematian. PENGHENTIAN (Nirodha)

48 Paticca Samuppada Proses sebab dan akibat terus berkesinambungan. Sebuah awal dari proses ini tidak dapat ditentukan karena tidak mungkin untuk membayangkan awal dari kehidupan karena ketidaktahuan (tanha-avijja). Tapi ketika ketidaktahuan ini digantikan oleh kebijaksanaan dan pandangan benar dan terealisasinya Nibbana, maka proses kelahiran kembali telah diakhiri.

49 Be Happy

50 Jawablah Pertanyaan Berikut ini! 1. Jelaskan pengertian Karma! 2. Jelaskan apakah hukum karma adil? 3. Beri contoh kelahiran kembali (punabbhava) yang kasat mata! 4. Jelaskan cara menyelidiki kebenaran hukum kelahiran kembali (punabbhava)! 5. Jelaskan pengertian paticcasamuppada! 6. Sebutkan isi paticcasamuppada !


Download ppt "Pertemuan 6 HUKUM D itinjau Dari Agama Buddha Bagian 2."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google