Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

FOTOMETRI BINTANG II: Magnitudo bolometrik Koreksi bolometrik Magnitudo bolometrik dan temperatur efektif Diagram Hertzsprung – Russell Kompetensi Dasar:

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "FOTOMETRI BINTANG II: Magnitudo bolometrik Koreksi bolometrik Magnitudo bolometrik dan temperatur efektif Diagram Hertzsprung – Russell Kompetensi Dasar:"— Transcript presentasi:

1 FOTOMETRI BINTANG II: Magnitudo bolometrik Koreksi bolometrik Magnitudo bolometrik dan temperatur efektif Diagram Hertzsprung – Russell Kompetensi Dasar: Memahami sistem fotometri bintang Judhistira Aria Utama, M.Si. Lab. Bumi & Antariksa Jur. Pendidikan Fisika FPMIPA UPI

2 Magnitudo Bolometrik Berbagai magnitudo yang telah dibicarakan sebelumnya hanya diukur pada λ tertentu saja.  Perlu didefinisikan magnitudo yang diukur dalam seluruh panjang gelombang, yang disebut magnitudo bolometrik. Rumusan Pogson untuk magnitudo semu bolometrik dituliskan sebagai: m bol = -2,5 log E bol + C bol tetapan Fluks bolometrik E = L 4  d (4-14)

3 Magnitudo mutlak bolometrik diberi simbol M bol  Darinya dapat diperoleh informasi mengenai energi total yang dipancarkan bintang per detik (luminositas) melalui hubungan: M bol – M bol  = -2,5 log L/L  M bol : magnitudo mutlak bolometrik bintang L : Luminositas bintang M bol  : magnitudo mutlak bolometrik Matahari = 4,75 L  : Luminositas Matahari = 3,86 x erg/det (4-15)

4 Magnitudo bolometrik sukar ditentukan karena beberapa panjang gelombang tidak dapat menembus atmosfer Bumi. Cara tidak langsung untuk memperoleh magnitudo bolometrik adalah dengan mem- berikan koreksi pada magnitudo visual bintang. Magnitudo visual: V = -2,5 log E V + C V Magnitudo bolometrik: m bol = -2,5 log E bol + C bol

5 Dari dua persamaan di atas diperoleh: V – m bol = -2,5 log E V / E bol + C Atau V – m bol = BC BC disebut koreksi bolometrik (bolometric correction) yang harganya bergantung pada temperatur atau warna bintang (4-16) Koreksi bolometrik dapat juga dituliskan sebagai: m v – m bol = BC (4-17) M v – M bol = BC (4-18)

6 Untuk bintang yang sangat panas atau sangat dingin:  sebagian besar energinya dipancarkan pada daerah ultraviolet atau inframerah, hanya sebagian kecil saja dipancarkan pada daerah visual.  koreksi bolometriknya besar. Untuk bintang yang temperaturnya sedang, seperti Matahari:  sebagian besar energinya dipancarkan dalam daerah visual hingga perbedaan antara m bol dan V kecil.  koreksi bolometriknya mencapai harga terkecil.

7 Hubungan BC dengan (B – V) Koreksi bolometrik bernilai minimum (BC = 0) terjadi pada harga B – V = 0,30 Untuk bintang lainnya, apabila B – V diketahui, maka nilai BC dapat ditentukan. Bintang Deret Utama Bintang Maharaksasa B - V 0,00 -0,20 0,40 0,80 1,20 0,00 0,05 1,00 1,50 2,00 BC

8 m bol dan Temperatur Efektif  L = 4  R 2  T ef 4 E = L 4  d 2 E =  T ef 4 R d 2 R d E =  2  T ef 4 Radius sudut bintang (4-21)  = = R d (4-20) (4-19) Subtitusikan pers. (4-20) ke pers. (4-19) diperoleh:

9  R d   = 2  Garis tengah sudut Untuk Matahari:  E  =  T ef  4 2 E =  T ef 4  (4-24) R Subtitusikan pers. (4-22) ke pers. (4-21): E =  2  T ef 4 diperoleh: (4-22) (4-23)

10 Bandingkan fluks bintang dengan fluks Matahari: E =  T ef 4  2 2   1/2 E EE 1/4 T ef T ef  = Jika dilogaritmakan, diperoleh: log (T ef /T ef  ) = 0,25 log (E /E  ) + 0,5 log (   /  ) …… (4-25) E  =  T ef  4  2 2 Fluks bintang: Fluks Matahari: Dengan menggunakan rumus Pogson, didapatkan: m bol - m bol  = - 2,5 log (E/E  ) (4-26) Substitusikan pers. (4-26) ke pers. (4-25) untuk memperoleh bentuk: log T ef = log T ef   0,1 (m bol - m bol  ) + 0,5 (log    log  ) (4-27)

11 Bila nilai-nilai untuk Matahari disubstitusikan ke pers. (4-27), dapat diperoleh bentuk yang lebih sederhana, yaitu: log T ef = 2,73 – 0,10 m bol – 0,50 log  dinyatakan dalam detik busur ……(4-28) Latihan 1.Dari pengamatan diperoleh bahwa magnitudo semu sebuah bintang adalah m v = 10,4 dengan koreksi bolometrik BC = 0,8. Jika paralaks bintang tersebut adalah p = 0”,001, tentukan luminositas bintang! 2.Sebuah bintang memiliki T ef = 8700 K, M bol = 1,6 dan m bol = 0,8. Berapakah jarak, radius, dan luminositas bintang tersebut? 3.Magnitudo semu visual bintang  Aql adalah 0,78 dengan temperatur efektif 8400 K. Jika paralaks bintang ini adalah 0”,198 dan diameter sudutnya 2,98x10 -3 detik busur, tentukanlah: (i) BC (ii) M bol (iii) L dan (iv) R!

12 Diagram Hertzsprung - Russell Ejnar Herztprung (1873 – 1967) Henry Norris Russel (1877 – 1957) Pada tahun 1911, seorang astronom Denmark bernama Eijnar Hertzsprung membandingkan hubungan antara magni- tudo & indeks warna di dalam gugus Pleiades dan Hyades. Kemudian pada 1913, Henry Norris Russell, seorang Ph.D dari Universi-tas Prince- ton, membuat plot hubungan antara magnitudo mutlak & spektrum bin- tang.

13 Hasil yang mereka peroleh sekarang dikenal sebagai diagram Hertzsprung-Russell atau diagram HR. Diagram HR menunjukkan hubungan antara luminositas (atau besaran lain yang identik, seperti magnitudo mutlak) dan temperatur efektif (atau besaran lain, seperti indeks warna (B - V) atau kelas spektrum). “Dari diagram HR terlihat bahwa bintang yang mempunyai temperatur sama dapat memiliki luminositas yang berbeda”

14

15


Download ppt "FOTOMETRI BINTANG II: Magnitudo bolometrik Koreksi bolometrik Magnitudo bolometrik dan temperatur efektif Diagram Hertzsprung – Russell Kompetensi Dasar:"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google